Seperti biasa semenjak tidak ada Gar aku kembali melakukan aktivitas ku sendirian, tanpa bantuan dari siapapun lagi seperti beberapa bulan lalu. Seperti yang di katakan Gar, saat ini aku harus menjadi perempuan mandiri untuk sementara waktu dan setelah Gar kembali nanti aku bisa kembali melakukan semuanya dengan Gar.
Seperti pagi ini, aku berangkat sekolah menggunakan bus. Jika sebelumnya ada Gar atau Bima namun kali ini tidak karena aku memutuskan untuk sendiri saja.
Entah kenapa setelah kemarin disaat ayah mengatakan pada ku perihal kedekatan ku dengan Bima, aku jadi terus memikirkan hal itu dan setelah berpikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk menjauh dari Bima. Hal tersebut ku lakukan agar Gar tidak kecewa padaku dan satu-satunya cara adalah menjauh dari Bima.
Selama di perjalanan menuju sekolah aku fokus mendengarkan musik dari earphone, lagu-lagu yang biasa aku dan Gar dengarkan bahkan Gar juga membuatkan playlist khusus untuk itu, agar baik aku maupun dia tidak perlu mencari ulang ketika mau mendengar musik.
Sesekali mulutku ikut bernyanyi beberapa bait, dan pandangan fokus melihat ke arah jalan. Tiba-tiba tanpa sengaja pandangan ku menangkap sosok lelaki yang sangat ku tanda—Bima—ku lihat dia tengah berdiri di samping sebuah pohon, dengan rokok yang di menyelip di antara jarinya. Sepertinya ia sedang menunggu bus, tetapi anehnya ia tidak memberhentikan bus yang saat ini ku tumpangi padahal bus ini berjalan tepat di depannya.
Ah, aku tak perlu memikirkan hal itu, lagi pula 'kan bukanya itu bagus karena saat ini aku juga akan menjauhi Bima, jadi setidaknya ini adalah hal baik untuk awal menjauh.
Setelah beberapa menit berjalan, menyusuri jalan ibu kota, saatnya bus berhenti tepat di depan sekolah ku dan tanpa menunggu aku langsung turun dan tak lupa membayar ongkosnya.
Kaki ku melangkah masuk menuju gedung sekolah, namun tiba-tiba saat di depan gerbang seseorang memanggilku. Sontak aku langsung berbalik untuk memastikan siapa orang tersebut.
"Bima ..." ucapku pelan. Sungguh aku sangat kaget, padahal jelas-jelas tadi aku masih melihat Bima merokok di samping pohon dan mungkin sekalian menunggu bus, tetapi sekarang aku malah melihatnya sedang bersandar di balik tembok gerbang sekolah dan saat ini ia sedang berjalan ke arah ku.
"Kamu kenapa, Rhea?" tanyanya.
Mendadak aku gugup, terlebih ketika Bima menatap mataku tanpa berkedip.
"Kenapa?" bukannya menjawab aku malah balik bertanya, karena aku juga tidak mengerti maksud dari pertanyaan Bima.
"Kamu seperti menghindar dari ku, Rhea." Bima menjeda kalimatnya dan kini jarak kami semakin dekat. "Rhea, apa aku punya salah dengan mu? Atau kamu punya masalah sehingga memilih untuk menjauh dariku?"
Pertanyaan Bima sangat menohok ku, bagaimana bisa secepat itu ia tahu bahwa aku berniat menjauhinya padahal rencana itu baru saja akan ku jalankan hari ini.
"Rhea ..."
Panggilnya lagi, sontak aku kaget dan langsung menatap Bima dan saat itu juga pandangan kami bertemu, Bima menatapku lekat sementara aku yang ditatap seperti itu mendadak gugup.
"Enggak papa, kok, Bim. Aku juga nggak menjauh dari kamu, itu hanya perasaanmu aja."
"Dari ucapanmu saja aku tahu kalau kamu berbohong."
"Enggak, Bim."
"Enggak salah lagi maksudnya?"
Aku terdiam, ucapan Bima berhasil menohok ku.
"Aku ada buat salah sama kamu, Rhea? Atau kamu sedang punya masalah sehingga memilih menjauh dariku? Bilang ke aku Rhea, aku bakalan ngerti, kok."
Sungguh aku benar-benar bingung harus menjawab apa, perkataan Bima seolah memberitahu bahwa aku tidak boleh menjauh darinya— ah, entah lah aku tidak mengerti dengan Bima.
"Enggak ada, Bim, aku cuma pengen sendiri aja dan mau lebih mandiri," jawabku. Ya walaupun tidak sepenuhnya benar setidaknya ada sedikit fakta di ucapan ku.
Bima terdiam sejenak, tatapannya masih sama— melihatku sangat lekat dan tanpa berkedip. Tak lama ia menggenggam tanganku namun tak mengatakan apapun. Sontak aku bingung dengannya, apa maksud Bima seperti ini? Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ia hanya diam.
"Bim ..." panggil ku pelan.
Bima tersenyum, tangannya masih menggenggam tanganku dan tak lama setelahnya ia mengeluarkan suara.
"Jangan sungkan untuk cerita apapun denganku, nggak usah takut aku marah atau sedih karena aku lebih senang kamu jujur walaupun menyakitkan dari pada kamu berbohong seperti ini," ucapnya. Sontak aku langsung terdiam kaku, mengapa Bima berbicara seperti itu, seolah ia tahu bahwa aku berbohong. Tapi kan aku tidak sepenuhnya berbohong seperti yang dipikiran Bima.
Tak lama setelahnya Bima melepaskan genggaman tangannya, ia tersenyum menatap ku dan setelahnya berjalan pergi. Tetapi sebelum itu, ia menyempatkan untuk berbisik di telinga ku, "Kamu tidak jago berbohong, Rhea," bisiknya dan setelah itu berlalu meninggalkan ku.
Ucapan Bima sama seperti ucapan Gar kepadaku, mereka sama-sama mengatakan bahwa gadis yang bernama Rhea ini tidak pandai berbohong. Ah, entah lah mengapa semua lelaki yang kutemui seperti peramal yang handal menebak diriku.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan hal itu lagi, dan memilih untuk melanjutkan jalan. Namun, baru saja aku ingin melangkah, seseorang yang berada tepat di tengah lapangan, orang yang sangat ku kenali dan kehadirannya sangat ku rindu, kini berdiri tepat di depan ku. Matanya sayu, seolah memperlihatkan kekecewaan di dalamnya.
"Gar ..." panggilku. Aku tidak tahu sejak kapan Gar berada di sana dan apa saja yang ia dengar dari percakapan ku dengan Bima, tetapi dari raut wajahnya kekecewaan itu terlihat jelas di mata indahnya.
Gar sama sekali tidak merespon, ia terus menatap ku tanpa berkedip. Tak mau Gar malah salah paham, akhirnya aku mencoba mendekatinya berusaha menjelaskan apa yang sudah ia lihat tadi.
"Rhe, berhenti di sana." Belum sempat aku berjalan ke arahnya, Gar sudah memintaku untuk berhenti seolah ia tahu tujuanku adalah untuk memberikan penjelasan.
"Tapi Gar—"
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, Rhe ..."
"Tapi Gar, aku harus menjelaskannya. Aku nggak mau kamu salah paham."
"Tidak, Rhe. Tidak usah khawatirkan itu, saya sepenuhnya percaya denganmu, Rhe. Sekali pun hal itu salah, saya yakin kesalahan yang kamu buat adalah karena saya."
Aku benar-benar terdiam, mulutku seolah keluh dan tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Mataku mendadak panas seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari kelopaknya. Perkataan Gar memang tidak menyakitkan sebab dalam keadaan seperti ini ia masih tidak menyalahkan ku, tetapi tetap saja aku merasa sangat bersalah terlebih ketika melihat tatapan Gar yang amat sayu dan jelas terlihat di matanya bahwa ia sangat kecewa.
"Sepulang sekolah saya tunggu di rooftop ya, Rhe."
"Untuk apa, Gar?"
"Saya rindu kamu." setelah mengatakan itu Gar langsung pergi, sebelum pergi ia memberikan senyumnya kepada ku senyum yang sangat ku rindu.
Aku terus menatap tubuh Gar hingga sosok tersebut tidak terlihat lagi, sungguh aku sangat senang karena nanti aku dan Gar akan bertemu lagi tetapi ada rasa sedih dan takut yang juga ku rasakan, sedih karena aku telah membuat Gar kecewa dan takut karena pikiranku terus memikirkan hal buruk yang akan di katakan Gar padaku.
Ah entahlah, tidak tahu apa yang akan di katakan Gar, ia sungguh rindu dengan ku atau ada sesuatu yang ingin ia katakan. Terlepas dari segala kemungkinan itu, aku hanya berharap semoga tidak ada hal menyakitkan yang akan ku hadapi nantinya. Ya, semoga saja.
[][][][]