Sepanjang pelajaran di kelas aku benar-benar tidak fokus, pikiran ku tak henti memikirkan Gar. Segala pertanyaan muncul di kepala ku, Gar kenapa? Ia mau bicara apa? apakah di marah? kecewa? atau bahkan benci denganku. Sungguh segala pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, sehingga untuk belajar pun aku jadi tidak fokus.
Tadi ketika jam istirahat aku datang ke kelas Gar, mencarinya sebab aku benar-benar sudah tidak tahan, aku berencana untuk langsung bertanya pada Gar. Namun, ternyata tidak ada hasil. Gar tidak ada di kelasnya, aku juga sudah bertanya pada teman-teman Gar tetapi mereka juga mengatakan tidak tahu Gar ada di mana.
Aku juga mencoba mencari di rooftop, kantin, taman, perpustakaan, dan UKS, namun tetap saja Gar tidak berhasil ku temukan. Entah lah, semakin hari Gar semakin misterius. Masih di kawasan sekolah saja aku tidak berhasil menemukannya bagaimana di luar sekolah. Sungguh, Gar benar-benar misterius.
Ternyata walaupun sudah mengenalnya lama, tidak membuatku mengetahui karakter asli Gar, tidak mengetahui tempat-tempat mana yang akan ia datangi di saat ia punya masalah, masalah apa saja yang ia hadapi, dan bagaimana caraku agar bisa membantu menyelesaikan masalahnya, aku bahkan sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
Atau yang lebih dekat saja yaitu keluarganya, hingga saat ini aku bahkan tidak pernah bertemu dengan keluarga Gar, tidak tahu bagaimana mereka, wajahnya, karakternya, aku benar-benar tidak tahu karena selama ini Gar tidak pernah mengajakku untuk bertemu mereka, ia hanya menceritakan sedikit mengenai keluarganya dan lain dari itu tidak pernah. Padahal yang ku ketahui jika seseorang benar-benar mencintai wanitanya ia pasti akan mengenalkan kepada keluarganya terlebih dahulu lalu teman-temannya, namun hal tersebut tidak berlaku untuk hubungan ku dan Gar. Sebab hingga saat ini pun aku tidak tahu apa status kami.
Bel pulang berbunyi beberapa menit lagi dan aku sudah benar-benar tidak sabar, ingin rasanya berlari keluar dan segera bertemu dengan Gar, namun hal tersebut tidak mungkin ku lakukan karena hanya akan buat masalah.
Tak lama bel berbunyi dan tanpa menunggu lagi aku langsung bergegas keluar. Seperti yang di katakan Gar tadi, ia ingin bertemu dengan ku di rooftop dan aku langsung menuju ke sana.
Sesampainya di sana, aku tidak melihat Gar. Rooftop benar-benar kosong, tidak ada seorang pun hanya suara burung yang berkicau. Aku memilih untuk menunggu Gar di sana, barangkali ia belum keluar dari kelasnya atau mungkin masih berjalan kesini, aku saja yang terlalu cepat dan tidak sabaran.
Setelah kurang lebih lima belas menit menunggu, aku mendengar suara sepatu seseorang yang melangkah ke sini lantas aku langsung berbalik karena itu pasti Gar.
"Gar —" Aku terdiam ketika melihat orang tersebut yang ternyata bukan lah Gar.
"Tidak ada Gar disini, Rhea."
"Bima ... kamu ngapain di sini?" aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa malah Bima yang datang bukan Gar. Lalu kemana Gar? Apa dia lupa dengan ucapannya tadi.
"Tadi aku tidak sengaja melihat kamu berjalan ke sini dan aku ikutin dong. Dari tadi tuh aku liatin kamu dari tangga, aku tau kamu nunggu seseorang makanya aku tidak mau mengganggu. Tapi setelah lima belas menit nggak ada juga yang datang, makanya aku menghampiri mu, Rhea," jelasnya.
Tanpa ku sadari air mataku terjatuh. Sebelumnya Gar tidak pernah seperti ini, biasanya jika ingin bertemu dia yang selalu sampai duluan ke tempat yang di janjikan, namun sekarang ia benar-benar berbeda. Aku juga tidak tahu mengapa Gar jadi seperti ini.
"Rhea, kamu kenapa nangis? Kamu enggak suka aku disini? Kalau nggak suka bilang Rhea, biar aku pergi tapi kamu jangan nangis gini."
Bima terlihat sangat cemas karena aku yang menangis secara tiba-tiba, sejujurnya aku juga tidak mau menangis di depan Bima seperti ini, tetapi aku benar-benar tidak bisa menahan lagi.
"Rhea, aku mohon jangan seperti ini. Kamu tidak perlu menangisi lelaki yang bahkan tidak menghargai kamu."
"Apa kamu bilang, Bim? Gar tidak menghargai ku? tahu apa kamu tentang kedekatan aku sama Gar? Perlakuan Gar terhadap ku? Cara dia mengistimewakan ku, menghargai ku? Kamu tahu apa, Bim? Kamu bahkan nggak mengetahui apapun tentang itu dan sekarang dengan gampangnya kamu bilang Gar tidak menghargai ku? Asal kamu tahu, ya, Bim, aku adalah perempuan yang sangat beruntung karena sudah di pertemukan dengan Gar. Kamu ingat itu dan aku harap kamu tidak sembarangan berbicara lagi "
Ketika mendengar perkataan Bima tadi aku langsung emosi, aku tahu betul bagaimana Gar menghargaiku, memperlakukan ku layaknya ratu, bersama Gar aku benar-benar menjadi perempuan yang sangat beruntung. Dan kini dengan gampangnya Bima mengatakan bahwa Gar tidak menghargai ku, padahal dia sendiri tidak tahu apapun tentang Gar.
"Oke, aku minta maaf kalau aku salah. Rhea, aku memang tidak mengetahui apapun tentang hubungan kamu dengar Gar, perlakuan Gar terhadap mu, cara dia bersikap denganmu, tapi kamu harus tahu Rhea kalau Gar adalah laki-laki dan sesama laki-laki aku tahu betul mana yang benar-benar serius dan mana yang hanya main-main dalam menjalin hubungan."
"Enggak, Bim, enggak. Kamu enggak bisa menyamakan Gar dengan lelaki lain, Gar itu berbeda, dia nggak kayak laki-laki pada umumnya, dia—"
"Mau berbeda atau gimana pun, intinya dia tetap manusia, Rhea. Dia hanya menjalankan tugasnya sementara ada Tuhan yang mengatur segalanya. Mungkin kemarin dia memang benar-benar cinta sama kamu, tapi kamu nggak boleh lupa bahwa ada Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Itu yang harus kamu ingat, Rhea."
Perkataan Bima benar-benar membuatku tertohok, Bima memang benar tetapi tetap saja aku yakin bahwa Gar tidak mungkin seperti itu. Aku tahu Gar tidak sejahat itu.
"Rhea ..." Bima mendekat padaku lalu perlahan memeluk ku. Tangannya mengusap-usap pundak ku, mencoba untuk menenangkan dan meminta agar aku tidak menangis lagi.
Perlahan aku bisa meredakan emosi dan tangisanku, semua itu berkat Bima. Pelukan Bima membuatku lebih tenang, walaupun rasanya jauh lebih tenang ketika aku berada di pelukan Gar.
"Kamu mau tetap disini atau pulang?" tanya Bima setelah tangis ku benar-benar sudah mereda.
"Aku masih mau menunggu Gar disini, Bim."
"Tapi sampai kapan, Rhea. Bahkan sekarang sudah hampir sejam kita disini dan Gar juga enggak datang."
"Aku enggak tahu, Bim, tapi aku yakin Gar pasti akan datang. Dia nggak mungkin lupa dengan ucapannya, aku tahu betul gimana Gar."
"Rhea, tapi mungkin saja tiba-tiba dia ada urusan sampai dia lupa sama ucapannya. Gar itu cuma manusia biasa dan nggak luput dari salah dan lupa."
"Enggak, Bim, Gar berbeda. Dia bukan manusia biasa, dia istimewa."
Ku lihat Bima menghembuskan napasnya, sepertinya ia kesal dengan kerasnya kepalaku.
"Aku tidak meminta kamu untuk tetap disini, kok, kalau kamu mau pergi silahkan. Aku tidak melarang."
Bukannya pergi Bima malah duduk, mengambil sebuah rokok dan mancis dari sakunya.
"Aku akan menemani kamu disini," ucapnya lalu mengisap rokok yang sudah di bakar dengan mancis.
Mendengar ucapannya membuatku sedikit tersenyum, Kalau ku lihat-lihat Bima memiliki karakter yang hampir sama dengar Gar yaitu bertanggung jawab dan tidak tegaan. Aku beruntung mengenal Bima disaat Gar tidak ada bersamaku, karena dengan kehadiran Bima aku jadi merasa lebih aman walau tidak ada Gar bersamaku.
[][][][]