Kamu adalah tempat ternyaman yang selalu menjadi pilihan utamaku.
~~~~
Kira-kira sudah dua jam lebih aku dan Bima berada di rooftop ini, tetapi Gar tidak juga datang. Sejujurnya aku benar-benar merasa sedih, ternyata Gar tidak datang dan melupakan ucapannya tetapi untungnya ada Bima disini. Dia menghiburku, membuatku tertawa hingga kesedihan itu perlahan terlupakan karena lelucon-leluconnya.
"Bim ...," panggilku.
"Iya, Rhea, kenapa?"
"Terima kasih, ya."
"Terima kasih untuk?"
"Ya, makasih aja."
"Tapi makasih untuk apa dulu, Rhea," tanyanya sambil mengacak puncak kepalaku.
Aku tersenyum kikuk, "Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi teman ku dan selalu menghiburku," ucapku setelahnya.
Bima tersenyum, "Enggak perlu bilang makasih, toh aku juga senang berteman denganmu. Jadi anggap saja kita sedang melakukan hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan," ucap Bima sambil terkekeh. Mendengar kekehannya membuatku ikut tertawa. Garing memang, tapi cukup untuk menghibur.
"Kita pulang saja yuk, Bim."
"Kamu yakin?"
Aku menjawab dengan anggukan.
"Enggak mau menunggu beberapa menit lagi?"
"Percuma, kayaknya Gar memang enggak datang. Lagian kan enggak mungkin sudah dua jam lebih tapi dia masih di sekolah. Pasti dia sudah pulang lah."
Bima tampak terdiam sejenak. "Coba kamu telepon dulu, deh," ucapnya.
Aku menggeleng pelan.
"Kayaknya enggak perlu— sudah lah kita pulang saja." aku langsung berdiri dari tempat ku, berlama-lama disini juga tidak ada gunanya toh yang di tunggu lupa dengan janjinya.
"Aku malas banget ni, Rhea. Bantu aku berdiri, dong. Kayaknya b****g aku udah nyaman banget duduk disini," ucap Bima sambil menjulurkan tangannya.
Aku tertawa mendengar leluconnya yang tidak seberapa itu, tetapi entah mengapa terdengar lucu di telinga ku.
"Kamu tuh udah kayak ibuk-ibuk hamil tau gak, sih."
"Beda lah, kalau ibu hamil berat di perut kalau aku berat di dosa."
sial, lagi-lagi aku tertawa mendengar leluconnya.
Tak mau berlama-lama, aku pun menolong Bima untuk berdiri dengan cara menarik tangannya, tetapi tak ku sangka badan Bima yang tidak begitu besar ternyata sangat berat.
"Bim, badan kamu enggak kekar-kekar banget, tapi kok berat gini ya."
"Kan sudah aku bilang, aku ini keberatan dosa."
Lagi-lagi Bima berhasil membuatku tertawa. Kami berjalan menuju tangga dengan Bima yang tak henti melontarkan leluconnya dan anehnya selalu berhasil membuatku tertawa.
Baru setengah kami berjalan menuruni anak tangga, tiba-tiba Gar muncul dengan napas ngos-ngosan. Ia terlihat begitu kelelahan dengan keringat yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.
Jujur saja ketika melihat Gar membuat mood ku berubah dalam hitungan detik, rasanya seperti campur aduk; marah, senang, kecewa, khawatir, bercampur menjadi satu. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, begitu pun dengan Gar. Kami hanya saling berpandangan satu sama lain, namun tidak ada yang memulai percakapan atau hanya sekedar menyapa duluan.
"Lo yang namanya, Gar? seolah tahu situasi kami yang sudah sangat canggung, Bima memulai percakapan duluan. Aku tahu sebenarnya Bima tahu bahwa itu adalah Gar, tetapi ia hanya sekedar basa-basi menanyakan hal tersebut.
"Iya," jawab Gar singkat dengan tatapan yang terus menatapku.
"Rhea udah dua jam lebih bahkan mau tiga jam disini dan gue nggak tega ngeliatnya nunggu sendirian di tempat sepi kayak gini, jadi gue memutuskan untuk nemani dia sampe lo datang." Bima menjeda kalimatnya, lalu menatap ke arahku. "Rhea, aku balik, ya," ucapnya sambil menepuk pundak ku.
Aku hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban.
Lalu Bima pergi meninggalkan ku dengan Gar, sebelum pergi Gar menahannya.
"Terima kasih," ucap Gar pelan tetapi masih bisa ku dengar.
Bima tidak menjawab, hanya menyengir sedikit. "Jangan buat Rhea nangis lagi cuma karena nungguin lo yang belum pasti." ucapan itu keluar dari mulut Bima tepat di telinga Gar dan masih sangat jelas terdengar di telingaku.
Setelah mengatakan itu Bima langsung pergi, meninggalkan ku dengan Gar yang sama-sama merasa canggung. Tidak ada lagi kehangatan seperti sebelum-sebelumnya, kini hanya ada kecanggungan di antara kami berdua.
Setelah beberapa detik saling diam, akhirnya Gar mulai mencoba mencairkan suasana. Ia berjalan ke arah ku, lalu sepersekian detik kemudian langsung memelukku.
Saat itu juga, tubuhku terasa lemas, amarah dan kesal yang sedari tadi meluap-luap mendadak langsung hilang, sungguh pelukan Gar benar-benar menggugurkan segala kekesalan yang ku tahan selama ini.
Semesta, kenapa Gar begitu lihai dalam hal membuatku luluh, hanya dengan satu pelukan segala kekesalan itu benar-benar hilang begitu saja seolah tidak kejadian sebelumnya. Sungguh, aku sangat kesal dengan semua ini, aku kesal karena tidak bisa meluapkan amarahku kepada Gar tapi di satu sisi aku bahagia karena kembali merasakan pelukan ini. Pelukan terhangat kedua yang ku dapat setelah pelukan ayah.
Selama beberapa detik kami berpelukan, Gar juga belum mengatakan apapun. Sementara aku, tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menangis tepat di pundak Gar, seperti pertama kali aku menjatuhkan air mataku tepat di pundaknya— rasanya menenangkan walaupun sedikit sesak di d**a.
Gar mengusap kepalaku, pundak, mencium keningku, seolah melepaskan rindu yang tertahan selama ini. Sementara aku bahkan belum bisa membalas pelukannya, tanganku masih berada di bawah entah mengapa rasanya sulit untuk membalas pelukan itu walaupun kehangatan itu benar-benar kembali aku rasakan.
"Rhe, saya rindu." Saat itu juga tangis ku benar-benar pecah, tangan yang semula berada di sebelah pinggang ku kini langsung ku lingkarkan ke pinggang Gar. Aku memeluknya erat. benar-benar sangat erat sebagai isyarat bahwa aku tidak mau kehilangannya lagi, aku tidak mau jauh darinya lagi, tidak. Sama sekali tidak.
Seolah mengerti maksud dari pelukan ku, Gar pun sama. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menciumi kepalaku bertubi-tubi, lalu berkata.
"Maafkan saya, Rhe. Saya janji tidak akan meninggalkan mu lagi setelah ini." ucapan yang sangat ingin ku dengar akhirnya keluar dari mulut Gar, rasanya sangat bahagia mendengar ucapan tersebut sebab aku tahu bahwa Gar tidak akan mengingkarinya.
Mungkin aku terlalu egois karena hanya ingin terus bersama Gar tanpa memikirkan dirinya, sungguh aku juga tidak ingin seperti ini tetapi hatiku sama sekali tidak berpihak kepadaku. Entah lah, aku merasa Gar adalah tempat ternyaman untuk ku tidak ada yang lain selain dirinya.
Semesta, sungguh aku tidak akan sanggup jika harus kembali jauh dengan Gar. Ku mohon bantu aku agar terus bersamanya, karena saat ini aku hanya punya dia sebagai tempat ku berbagi.
Gar, maafkan jika aku selalu menyusahkan mu, maafkan jika aku selalu ingin bersama kamu. Sungguh aku juga tidak ingin seperti ini Gar, tapi aku tidak mengerti dengan hatiku. Ia benar-benar tidak bisa jika jauh dari mu Gar.
[][][][]