30. Penjelasan

1045 Kata
Kamu itu candu, membuat orang-orang ingin terus melihatmu. ~~~ Sore perlahan mulai menyapa, menjadi alarm manusia sekaligus pengingat bahwa waktu beraktivitas telah selesai dan sekarang saatnya untuk pulang dan beristirahat. Hal itu dapat kita lihat dari jalanan yang sudah mulai padat dengan kendaraan, suara klakson, asap yang mengepul di udara, orang-orang yang berteriak karena tak tahan dengan kemacetan. Mereka seolah berlomba-lomba untuk agar bisa sampai duluan. Namun, beda halnya dengan aku dan Gar. Disaat orang-orang sudah berlomba-lomba untuk pulang, kami justru masih memilih untuk berada di rooftop sekolah, menatapi jalanan dengan segala kepadatannya— tanpa berbicara atau hanya sekedar menegur. Baik aku maupun Gar belum ada yang memulai, kami sibuk dengar pikiran masing-masing yang justru malah jika di biarkan akan membuat semuanya menjadi berantakan. Dan kini aku kembali merasakan suasana sekitarku yang ramai, tetapi tidak dengan diriku dan Gar yang justru merasa sepi. "Mau sampai kapan segala bentuk kemarahan itu kamu pendam, Rhe?" Aku melirik ke arah Gar, "Maksud kamu?" tanyaku. Gar tersenyum tipis, bukan senyum ceria tetapi senyum yang di paksa. "Baru beberapa hari Rhe dan kamu sudah hampir melupakan tentangku." Sungguh aku tidak mengerti maksud Gar, ia berkata seperti itu seolah ingin menyudutkan ku dan menyalahkan ku. "Gar, maksud kamu apa, sih? Kamu mau lepas dari tanggung jawab mu untuk menjelaskan semuanya padaku dengan cara menyudutkan ku seperti ini?" "Enggak, Rhe, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya menyatakan apa yang saya rasakan dan apa yang saya lihat sudah itu saja." "Emang apa yang kamu rasakan? Sesakit yang aku rasain nggak?" Gar diam, ia tidak menjawab sepatah kata pun namun matanya terus menatapku tanpa berkedip. "Jawab Gar! Kamu tahu enggak gimana keadaan aku setelah kamu pergi? Kamu tahu enggak aku yang tiba-tiba nangis karena ingat kamu, marah, kecewa, kesal, rindu, itu jadi satu Gar. Kamu ngerasain hal yang sama ga? Enggak kan, Gar, bahkan kemarin ketika aku mengirim pesan ke kamu, kamu sama sekali nggak balas jangankan balas kamu bahkan nggak membacanya Gar. "Dan sekarang, bisa-bisanya kamu lupa sama janji kamu untuk kita bertemu disini. Kamu enggak pernah kayak gini Gar, kamu berubah." aku benar-benar mengungkapkan segala amarahku, dengan air mata yang mengalir di kedua pipi aku masih mencoba untuk kuat walau rasanya sangat susah. Sungguh ini adalah kali pertama aku merasa sakit hati seperti ini. Gar masih sama— memilih diam dengan tatapan yang tak bisa ku artikan. "Gar, kamu kenapa malah diam, sih? Kamu nggak terima aku marah-marah kayak gini, iya?!" "Sudah?" Menyebalkan, sungguh Gar sangat menyebalkan. Bisa-bisanya ia hanya merespon seperti itu padahal aku sudah sangat emosi. "Masih ada yang mau di sampein? Atau mau marah lagi? nangis? teriak? Gapapa, Rhe, saya dengerin kok." "Nggak," jawabku singkat. Karena memang hanya itu yang ingin ku katakan dan kini aku merasa jauh lebih lega karena telah meluapkan semuanya. "Udah lega?" Deg, saat itu aku langsung mengingat telepathy Gar. s**l, bisa-bisanya aku lupa dengan keistimewaan Gar itu, pantas saja tadi Gar menyindirku seperti itu ternyata Gar mengatakan hal yang sebenarnya dan aku malah marah-marah seperti ini padahal tanpa harus marah-marah Gar pasti tahu apa yang aku rasain. Semesta, kenapa aku sebodoh ini. "Sudah jangan menyalahkan dirimu." Tuh kan benar, tanpa berbicara Gar sudah tau lebih dulu. "Sekarang boleh kan saya ngomong?" Aku mengangguk pelan. Sementara Gar makin mendekatkan duduknya dengan ku. Ia menatapku lalu tersenyum. "Saya akan menjelaskan semuanya satu persatu ke kamu Rhe, saya akan jelaskan berdasarkan fakta tanpa menambahkan atau mengurangkan fakta itu," jelasnya. Ia menatap mataku lalu memegang bahuku. "Jangan di potong ya, biarkan saya menjelaskan dulu dan setelah semuanya selesai kamu bisa bertanya." Lagi-lagi aku mengangguk sebagai jawaban. Gar menghela napasnya pelan. "Kamu ingat 'kan saya pernah cerita kalau saya punya adik perempuan?" Aku mengangguk. "Namanya Disty, satu-satunya adik perempuan saya, Rhe. Kamu pasti tahu sesayang apa saya padanya 'kan. Beberapa Minggu yang lalu Disty masuk rumah sakit, sebenarnya masuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa untuk Disty karena dia punya penyakit yang membuatnya harus rutin kontrol setiap Minggu. Tetapi, pada hari itu beda, Rhe. Dia ke rumah sakit bukan untuk kontrol, tetapi penyakitnya kambuh sehingga membuatnya harus di larikan ke rumah sakit dan masuk ke ruang IGD." Ku lihat Gar menangis, ia benar-benar terisak. Sungguh, aku tidak tega melihatnya. Ingin rasanya memeluk Gar tetapi aku takut Gar malah menolaknya, terlebih saat ini ia masih bercerita. "Tiga hari Disty tidak sadarkan diri, saat itu saya benar-benar sangat panik, Rhe, Saya takut suatu hal buruk terjadi pada adik kesayanganku itu." Gar semakin terisak, ia bahkan terlihat tak sanggup lagi untuk bercerita. Aku mengusap punggungnya, mencoba untuk menenangkan Gar. Sungguh, aku sangat menyesal telah marah-marah pada Gar, jika saja aku tahu situasinya seperti ini aku tidak akan seperti itu. Sungguh aku sangat menyesal. "Kalau kamu tidak sanggup untuk cerita enggak papa, kok, Gar. Aku sekarang sudah mengerti alasan utama kamu, maafkan aku ya, Gar." Gar menggeleng kencang. "Tidak, saya harus menjelaskan semuanya kepada kamu agar tidak ada kesalahpahaman lagi." "Tapi, Gar—" "Sttt, dengarkan saja." Gar menutup mulutku dengan jarinya lalu mulai bercerita lagi. "Setelah seminggu di rumah sakit akhirnya Disty sadarkan diri, saat itu aku dan mama benar-benar sangat senang. Karena Disty telah bangun aku berniat memberikan bunga kesayangannya Lily warna pink. Kamu ingatkan waktu kamu melihatku di toko bunga? Saat itulah aku membeli bunga untuk Disty. Rhe, sebenarnya aku mendengar waktu kamu memanggilku tetapi aku berpura-pura tidak dengar karena aku harus cepat sampai ke rumah sakit. Ah iya aku mengingat kejadian itu. Seperti dugaan ku bahwa Gar pasti dengar dan ternyata benar. Tetapi tidak papa aku mengerti karena ini semua demi adek kesayangan Gar. Disaat Gar ingin melanjutkan ceritanya, tiba-tiba suara geluduk mengagetkan kami. Sontak aku langsung memeluk Gar karena takut. Gar mencoba menenangkan ku dengan terus memelukku erat. "Sepertinya kita harus pulang dulu, karena hari semakin sore dan sudah mau hujan, bahaya jika kita berada di rooftop sementara geluduk bisa kapan saja datang dan mungkin menyambar. Kita pulang dulu ya, Rhe, setelah itu aku akan cerita lagi sekalian ingin bertemu dengan ayahmu." Aku mengangguk, Gar benar sangat bahaya jika kami berada disini dalam keadaan seperti ini. Akhirnya aku dan Gar memutuskan untuk pulang ke rumah, seperti yang di katakan Gar ia juga ingin bertemu dengan ayah. Aku yakin ayah pasti sangat senang melihat Gar kembali, karena sama seperti ku, ayah juga merindukan kehadiran Gar diantara kami. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN