Setiap detik yang ku lalui denganmu akan sangat berarti untuk hidupku, sekecil apapun itu.
~~~~
Selama di perjalanan pulang, tanganku sama sekali tidak lepas dari pinggang Gar. Aku terus memeluknya, erat, benar-benar sangat erat hal itu kulakukan agar Gar mengerti bahwa aku sangat merindukannya dan tidak mau kehilangannya lagi.
Selama di perjalanan suasana antara kami berdua masih terasa canggung berbeda seperti sebelum-sebelumnya. Jika dulu setiap di perjalanan Gar selalu mengajakku berbicara, bernyanyi, atau menggodaku namun sekarang tidak. Kami hanya diam hingga tanpa terasa kami sampai di rumahku.
Untungnya begitu kami sampai barulah hujan turun, jadi kami tidak perlu meneduh lagi sebab telah sampai di tempat tujuan.
Seperti biasa ketika aku pulang sedikit terlambat, ayah akan menungguku di depan pintu hingga aku pulang terlebih tadi aku juga tidak mengabari ayah kalau aku pulang agak telat.
Awalannya ku lihat ayah sedang duduk dengan wajah cemas, namun ketika melihat motor Gar berhenti tepat di depan rumah wajah ayah langsung sumringah, ia tersenyum sangat lebar.
Aku dan Gar langsung turun dari motor lalu menyalim ayah dan tanpa kuduga tiba-tiba ayah langsung memeluk Gar, menepuk-nepuk pundaknya lalu berkata, "Akhirnya kamu datang lagi." Sepertinya ayah benar-benar sangat merindukan Gar, hal itu terlihat jelas dari matanya.
"Iya, Om, saya sudah kembali karena kebetulan urusan saya juga sudah selesai walaupun belum selesai sepenuhnya."
"Syukurlah kalau gitu, Gar. Semoga n nanti semuanya selesai ya, Gar."
Gar tersenyum lalu mengangguk.
Kemudian aku pamit sebentar untuk ke belakang, bersih-bersih, menyiapkan makanan lalu kembali melanjutkan obrolan dengan Gar yang belum selesai.
Selama aku di belakang Gar dan ayah bercerita panjang lebar, seolah melepas rindu karena sudah beberapa Minggu tidak bertemu. Aku juga mendengar ayah bercerita tentangku, mengatakan bahwa aku menangis karena rindu dengan Gar, suka melamun, dan tidak bersemangat. Ah, bisa-bisanya ayah menceritakan semuanya. Jika seperti ini Gar pasti sangat senang karena punya bahan untuk meledekku.
Tak mau ayah semakin menceritakan secara detail mengenai keadaanku ketika tidak ada Gar, akhirnya setelah memastikan semuanya selesai aku langsung menemui mereka dan memotong obrolan tersebut.
"Sudah dulu ngobrolnya, waktunya makan," ucapku cepat.
Gar dan ayah melihat ke arahku secara bersamaan, lalu keduanya tersenyum. Senyum yang mencurigakan.
"Om, kemarin ada yang nangis, ya, om, karena rindu. Tapi pas di tanya rindu apa enggak dia bilangnya enggak."
"Ah, iya, Gar. Maklum namanya juga perempuan ya pasti gengsi lah."
Tuh kan benar dugaan ku, mereka berdua bahkan bersekongkol untuk meledekku.
"Apaan sih, Ayah, Gar, sudah ayo makan. Kalau nggak mau yaudah biar Rhea saja yang menghabiskan semuanya."
"Eh, enggak-enggak." Keduanya langsung bangkit dari tempat masing-masing, lalu langsung berjalan menuju meja makan.
Aku tersenyum melihat kedekatan ayah dan Gar— dua lelaki yang sangat aku cintai dan berharga untukku. Melihat mereka sangat dekat seperti ini aku sangat bahagia dan tak henti berdoa semoga kami tidak berpisah karena hanya dengan mereka lah aku merasa bahagia dan aman.
***
Setelah selesai makan, aku dan Gar memilih untuk duduk di luar untuk melanjutkan obrolan yang tadi belum selesai. Sebenarnya tadi ayah meminta untuk ikut duduk bersama kami, namun aku tidak mengijinkan karena saat ini aku masih membutuhkan penjelasan langsung dari Gar.
Rintik-rintik hujan masih turun dan membasahi pepohonan, aroma khas setelah hujan tercium menusuk ke dalam hidung. Aku dan Gar duduk di bangku masing-masing, menghirup udara yang masih sangat segar, berusaha menetralkan perasaan masing-masing, dan bersiap untuk kembali masuk ke dalam cerita-cerita Gar.
"Rhe ..." panggilnya pelan.
Aku melihat ke arahnya, jujur saja jantungku berdetak jauh lebih kencang dari biasanya.
"Iya, Gar?"
"Masih mau mendengar penjelasan saya 'kan?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Tentu," jawabku.
Gar tersenyum, menarik napas sebentar lalu mulai bercerita.
"Empat hari Disty mulai kembali membaik, ia bisa tertawa, bercanda denganku, mendengarkan musik, bercerita panjang, kemajuan itu membuat saya sama mama senang. Tapi sayangnya itu nggak berlangsung lama, Rhe." ku lihat wajah Gar yang kembali bersedih, matanya memerah dan berlinang seperti ingin menangis.
"Hari ini, Rhe, lima menit sebelum jam istirahat Mama menelepon memberitahu bahwa Disty kembali tidak sadarkan diri. Pihak rumah sakit juga hampir tidak bisa menangani kalau Disty harus di rawat disana lagi dan akhirnya mama memutuskan untuk membawa Disty ke Toronoto salah satu kota yang ada di Kanada. Nenek juga tinggal di sana, Rhe, sebelumnya saya juga pernah cerita tentang ini ke kamu kan?"
Aku mengangguk. Memang Gar pernah menceritakan tentang neneknya yang tinggal di Kanada dan aku masih mengingatnya.
"Selama ini Disty memang tinggal di sana dan di rawat di salah satu rumah sakit di sana. Baru beberapa Minggu saja loh, Rhe, Disty disini padahal saya berniat untuk mengenalkan kamu ke dia tetapi ternyata belum kesampaian. Kayaknya Tuhan belum kasih izin, Rhe.
"Mendengar kabar itu, saat itu juga saya langsung izin ke guru kesiswaan untuk pulang karena saya mau mengantar mama dan Disty ke bandara. Sebenarnya bisa saja minta antar supir, tetapi tidak bisa Rhe, karena saya harus bertemu Disty, saya takut dia kenapa-kenapa. Dan itulah penyebab saya datang terlambat ke rooftop, sebenarnya itu saya dari bandara. Maafkan saya, ya, Rhe."
Mendengar penjelasan Gar membuatku merasa sangat bersalah. Sungguh, jika aku tahu seperti ini ceritanya aku tidak akan marah pada Gar, sungguh aku sangat menyesal.
"Gar, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu punya hak untuk melakukan itu, apalagi ini mengenai keluarga kamu dan aku tidak mungkin melarang itu Gar. Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak mengerti keadaan kamu."
"Tidak, Rhe, kamu tidak perlu minta maaf. Wajar kok kamu begini, karena kamu khawatir dan kamu juga tidak tahu masalahnya. Jadi ini bukan salah kamu, Rhe."
"Tetap saja, Gar, aku merasa bersalah."
"Enggak papa, Rhe. Enggak perlu merasa bersalah, ya."
Aku terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Gar, kenapa dari awal kamu menyembunyikan dari aku. Padahal kan jika kamu memberitahu aku siap membantu, seenggaknya aku bisa menghibur Disty."
" Sebenarnya saya juga ingin memberitahu ke kamu, tapi saya belum siap Rhe untuk memperkenalkan Disty ke orang lain. Karena Disty punya trauma dan membuatnya susah beradaptasi dengan manusia lain selain keluarganya. Dan itulah yang membuat saya memilih untuk tidak mengenalkan kamu pada Disty, setidaknya tunggu ia benar-benar pulih dulu."
Mendengar penjelasan Gar membuat ku kasihan pada Disty, sungguh aku sangat ingin bertemu dengannya, bercerita, mengajak bermain, pasti akan sangat seru. Tapi sepertinya tidak segampang itu, seperti yang di katakan Gar bahwa Disty berbeda
"Kamu tenang saja ya, Rhe, kalau sudah waktunya saya pasti akan mengenalkan mu pada Disty dan keluarga."
Aku tersenyum lalu mengangguk, aku percaya pada Gar karena ia tidak mungkin mengingkari janjinya.
"Berarti sekarang kamu sudah tidak marah kan?" tanyanya.
Aku tersenyum lalu menggeleng. Begitu pun dengan Gar yang ikut tersenyum. Setelahnya Gar merangkul ku, rangkulan yang sangat aku rindukan.
Semesta, sungguh tak henti aku mengucapkan terimakasih karena engkau telah mempertemukan ku dengar Gar, lelaki misterius yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta padanya.
[][][][]