Hanya lelaki beruntung yang bisa mendapatkan gadis lembut yang selalu bisa menuduhkan hati seseorang
~~~
Setelah mendengar semua penjelasan Gar semalam, akhirnya aku dan Gar kembali berhubungan baik, Gar tidak pergi lagi dan ia akan kembali bersamaku.
Tadi juga Gar sempat memperlihatkan foto Disty— adik perempuannya. Ternyata Disty sangat cantik, wajahnya terlihat sangat tenang dan ia begitu mirip dengan Gar apalagi bagian mata dan bibirnya benar-benar sangat mirip.
Pagi ini aku dan Gar kembali berangkat sekolah bareng. Seperti biasa Gar menjemput ku dengan Vespa oranye miliknya dan seperti biasa juga sebelum Gar datang aku harus sudah membuka pintu jika tidak Gar tidak akan memanggilku sampai aku yang keluar sendiri.
Tak lama setelah aku siap sepenuhnya Gar juga sampai, ia langsung turun untuk pamitan dengan ayah lalu kami langsung berangkat.
Hari ini aku dan Gar tidak lagi canggung seperti kemarin, kami sudah seperti biasa tertawa, Gar membuat lelucon lalu aku tertawa, Gar bernyanyi ketika jalanan macet hingga orang-orang di dekat kami melihat ke arahnya, dan banyak hal lucu lainnya yang di buat Gar dan selalu berhasil membuat aku tertawa.
Hingga tak lama kami sampai, entah mengapa ketika bersama Gar waktu seolah berjalan begitu cepat padahal aku ingin lebih lama dengannya tetapi waktu malah tidak berpihak kepada ku.
Setelah memarkir motornya, Gar langsung mengantarkan ku ke kelas seperti yang biasa ia lakukan.
Namun, sewaktu perjalanan ke kelas, kami bertemu dengan Bima tepat di persimpangan menuju kelas ku. Entah apa yang ia lakukan, mencoba menemui ku atau hanya lewat. Tetapi yang ke ketahui kelas Bima jauh dari kelasku dan tidak melewati juga.
Gar pun juga melihat kehadiran Bima, ia melihat Bima yang tengah melihat ke arahku.
"Kamu temuin dia dulu," ucap Gar sembari menghentikan langkah kami.
"Untuk apa, Gar?"
"Kamu tidak boleh begitu, Rhe. Selama ini sewaktu saya tidak bersamamu dia kan yang menemani kamu? dia menjaga kamu?" Jadi, kamu tidak boleh lupa begitu saja."
"Tapi kamu—"
"Saya tidak papa, Rhe. Tenang saja saya mengerti, kok," ucapnya.
Aku melihat matanya, matanya yang sejuk dan mencoba meyakinkan ku bahwa ia benar-benar tidak papa. Lalu, aku melihat ke arah Bima, wajahnya terlihat lesu berbeda dari biasanya. Gar benar, aku tidak boleh seperti ini karena mau gimana pun Bima sudah menjadi temanku disaat masa-masa sulit dan aku tidak boleh melupakannya begitu saja.
"Yasudah, kamu temuin dia, ngobrol sama dia, saya ke kelas ya karena saya tidak mau membuatnya merasa canggung."
"Tapi kamu beneran tidak apa-apa kan, Gar?"
"Saya tidak apa-apa, Rhe gausah khawatir. Kamu berhak untuk berteman dengan siapa pun dan saya tidak akan membatasi kamu untuk berkembang," ucapnya lalu mengusap puncak kepalaku.
"Saya ke kelas, ya. Mumpung bel masuk masih lama, cepat kamu temuin dia."
Aku mengangguk dan setelahnya Gar pergi menuju kelasnya, lalu aku langsung menemui Bima.
"Hei ..." ucapku sambil tersenyum.
Bima hanya membalas dengan senyuman namun senyumnya berbeda, seperti sedikit terpaksa.
"Are you okay?" tanyaku.
Bima hanya mengangguk. Entah mengapa aku merasa dia sedikit berbeda tidak seperti kemarin-kemarin. Wajahnya juga pucat dan terlihat tidak bersemangat.
"Bohong. Kamu sakit, Bim?"
Bima menggeleng.
"Tapi wajah kamu pucat gitu."
"Aku tidak apa-apa, Rhea," ucapnya setelah beberapa kali memilih untuk diam.
"Kamu yakin?"
"Iya. Oh iya, aku kesini sebenarnya ingin menemui kamu." tuh kan sudah kuduga.
"Untuk apa, Bim?"
Kulihat Bima tersenyum, senyumnya berbeda seperti terpaksa.
"Jadi aku tidak boleh lagi menemui kamu?"
"Hah, maksudnya?"
"Ya, begini. Kamu bertanya aku ngapain kesini dan secara tidak langsung kamu mengatakan bahwa aku tidak boleh menemuimu kalau tidak ada yang penting. Begitu kan?"
"Enggak, Bim. Enggak kayak, gitu. Aku nanya karena kan kamu—"
"Udah, Rhea, nggak papa jujur aja. Aku ngerti kok sekarang keberadaan aku tidak perlu lagi kan, karena Gar sudah kembali?"
"Enggak, Bim. Mau Gar sudah kembali atau belum kamu tetap temanku."
Bima terkekeh pelan, "Aku nggak mau merusak hubungan kamu dengan Gar, Rhea."
"Enggak, Bim. Justru Gar yang menyuruhku untuk tetap berteman dengan kamu," jelas ku.
Bima mengangguk. "Berarti dia pengertian, pantas kamu sangat cinta dengannya."
Aku hanya tersenyum kikuk.
"Rhea ..." panggilnya.
"Iya, Bim?"
"Aku boleh minta tolong sesuatu nggak?"
"Minta tolong apa, Bim? Selama aku bisa bantu pasti akan ku bantu."
"Benar?"
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Aku minta tolong untuk kamu temani aku seharian ini, mulai dari jam istirahat dan pulang."
Mendengar permintaannya membuatku kaget. Apa maksud Bima? Mengapa dia meminta hal itu.
"Kenapa kamu minta itu, Bim?"
"Karena aku membutuhkan kamu."
Aku terdiam, benar-benar tak tahu harus mengatakan apa lagi. Segala pertanyaan muncul di kepalaku; kenapa Bima seperti ini? apa dia punya masalah? atau dia hanya sengaja ingin membuatku dan Gar bertengkar.
"Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa, kok, Rhea. Aku mengerti, apa lagi saat ini Gar sudah kembali."
"Umm, enggak gitu, Bim. Tapi, aku butuh izin dari Gar dulu, karena kan tadi aku pergi dengan dia dan ayah juga sudah menitipkan ku pada Gar."
Bima tersenyum.
"Iya, Rhea, tidak apa-apa, aku ngerti. Yasudah gimana kalau besok saja? Jadi nanti kamu bisa izin dengan Gar dan juga ayahmu dulu. Gimana, Rhea, bisa?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk pelan. "Oke, nanti aku bicara dengan Gar dan ayah," ucapku setelahnya.
"Terima kasih, ya, Rhea. Setelah ini aku janji tidak akan merepotkan mu," ucap Bima.
"Tapi kamu memang tidak pernah merepotkan ku, Bim. Justru aku yang merepotkan mu."
"Repotnya kamu justru membuatku senang, Rhea ... yasudah aku ke kelas, ya. Kirim salam sama Gar dan sampaikan dia beruntung mendapatkan perempuan seteduh kamu," ucapnya lalu berlari menuju kelasnya.
Jujur aku merasa sedikit bingung dengan Bima, seperti ada yang aneh dan tidak biasnya ia seperti itu. Tetapi ya sudah lah, setidaknya dengan menuruti permintaannya aku bisa membalas segala kebaikan Bima selama ini walaupun mungkin itu masih belum cukup. Tetapi tidak apa-apa, karena aku percaya bahwa selama ini Bima juga ikhlas menjadi temanku dan aku juga akan iklhas menjadi temannya.
[][][][]