Kamu adalah definisi manusia dengan hati malaikat, kebaikanmu menjadi contoh terbaik untuk orang-orang di sekitarmu, Gar.
~~~~
Sepulang sekolah aku dan Gar tidak langsung pulang seperti yang biasa ia lakukan yaitu mengajak ku berkeliling dulu dan setelah di rasa cukup barulah kami pulang.
Hari ini Gar tidak mengajakku ke tempat-tempat tersembunyi seperti yang biasa ia lakukan, kini ia justru mengajakku ke tempat ramai yaitu pasar.
Ah entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa ia membawaku ke sini.
"Gar, kenapa kita kesini? kamu mau beli sesuatu?" tanyaku heran.
"Ikut saja, Rhe," jawabnya.
Aku terdiam, ada apa dengan Gar, kenapa ia jadi misterius lagi seperti ini.
Kami menelusuri setiap sudut pasar, seperti mencari sesuatu tapi tak tahu apa karena Gar juga tidak ada memberitahu ku. Aku ingin bertanya tetapi takut Gar malah marah.
Setelah lama berkeliling akhirnya kami berhenti di salah satu toko sembako yang sangat sepi, entah kenapa Gar memilih toko ini, padahal sedari tadi kami melewati banyak toko sembako yang lebih ramai dan dekat dari pintu masuk pasar.
"Gar, kenapa memilih toko ini?" tanyaku heran, karena selain jauh dari pintu masuk dan juga sepi, toko ini juga terlihat kumuh mungkin karena itu juga jadi sepi seperti ini.
"Nanti kamu juga tahu sendiri," jawabnya. Gar masuk ke dalam toko tersebut tak lama keluar lah seorang lelaki tua yang berjalan pun tergopoh-gopoh dan dibantu dengan tongkat. Gar mencium tangan kakek tersebut lalu mereka berbicara sebentar.
"Oh iya, Kek, kenalkan ini, Rhea," ucap Gar sambil melihat ke arahku.
Aku tersenyum kepada kakek itu, lalu menyalim tangannya.
"Salam kenal nak Rhe, kamu pasti orang spesial untuk Gar 'kan," ucap sang kakek.
Aku hanya tersenyum kikuk. Kulihat keduanya begitu akrab seperti sudah kenal lama.
"Oh iya, nenek gimana keadaannya, Kek? tanya Gar.
"Ya, seperti itulah Gar. Perubahannya tidak terlalu signifikan, ia juga masih belum bisa berjalan jadi hanya berbaring di tempat tidur saja."
"Gar boleh bertemu dengan nenek?"
"Tentu boleh, nenek juga sudah lama bertanya tentangmu Gar," ucap sang kakek.
Gar tersenyum, lalu kami dituntun masuk ke dalam ruko tersebut menuju tempat di mana nenek berada. Seperti keadaan di luar, di dalam pun rukonya tidak begitu bersih; barang-barang banyak yang berada tidak di tempatnya nya, debu, dan sawang laba-laba bermuculan di sudut dinding. Dari keadaannya seperti ini dapat ku simpulkan bahwa kakek dan nenek ini hidup hanya berdua, mereka sepertinya tidak mempunyai anak makannya hidup seperti ini.
Jujur saja aku kasian melihatnya, dua pasangan yang berjanji hidup bersama hingga mau memisahkan, namun tidak dikaruniai anak sehingga mereka harus mengurus masa tua sendiri tanpa bantuan dari siapa pun.
Jika seperti ini aku jadi mengingat ayah, sungguh aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika tidak ada aku di samping ayah, ayah pasti akan mengurus semuanya sendiri dan itu pasti akan sangat menyakiti ayah. Dan sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Tak lama kami sampai di kamar sang nenek yang terbilang minimalis namun tidak seberantakan bagian depan. Ku lihat sang nenek yang sedang terbaring lemah di kasur, tubuhnya sangat kurus dan terlihat tidak terawat.
Gar duduk di samping nenek. Awalnya sang nenek memejamkan matanya namun ketika menyadari ada orang lain di sana ia langsung membuka matanya.
"Gar ..." ucap nenek.
Gar tersenyum, "Iya, Nek," jawabnya. Gar mencium tangan nenek itu dengan begitu lembut.
"Nenek gimana keadaannya?" tanya Gar lagi.
"Seperti ini lah, Gar ... oh iya itu siapa, Gar?" nenek melihat ke arahku dan merasa bingung.
"Ah, iya, Gar hampir lupa. Perkenalkan, Nek, ini Rhe," ucapnya.
Aku tersenyum, menyalim tangan nenek lalu dibalas nenek dengan mengelus kepalaku.
"Kamu pasti pacarnya Gar."
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum kikuk.
"Doakan saja ya, Nek," timpal Gar.
Nenek tersenyum, lalu mengelus tanganku dengan sangat lembut.
"Rhe, sudah lama kenal Gar?" tanya nenek padaku.
"Lumayan, Nek, hehe."
"Gar itu anak yang baik loh, sangat baik. Kamu beruntung bertemu dengannya."
"Iya, Nek. Ayah Rhea juga bilang begitu."
"Iya, benar. Dia suka sekali membantu orang-orang yang kesulitan, dan ia membantu dengan ikhlas."
Aku tersenyum, hal itu sudah tidak di pungkiri lagi karena Gar memang sebaik itu.
"Alah, Nenek bisa saja memujinya," timpal Gar.
"Memang begitu kenyataannya Gar."
"Tidak, Nek, Gar hanya melakukan apa yang seharusnya Gar lakukan saja."
"Nah, makanya itu kamu baik."
Gar terkekeh pelan. "Iya, deh, gimana nenek saja. Oh iya, Gar, ke depan dulu ya sama kakek," ucapnya. Gar melihat ke arahku, "Rhe, kamu disini dulu ya temenin nenek," lanjutnya.
Aku mengangguk sebagai jawaban dan setelahnya Gar langsung keluar.
"Kamu dan Gar sudah pacaran?" tanya sang nenek lagi. Ia terlihat begitu penasaran dengan hal itu.
"Gimana jawabnya, ya, Nek. Gar tidak secara langsung mengatakan bahwa ia ingin kami pacaran, tapi dari perlakuannya ke Rhe kayak orang pacaran. Rhe juga nggak tau status kami apa."
Nenek tertawa mendengar penjelasan ku.
"Tidak papa, yang terpenting Gar mencintai kamu."
"Ha? Maksudnya, Nek?"
"Iyaa, Gar, mencintai kamu."
"Nenek tahu dari mana?"
"Karena dulu Gar bilang sama nenek dan kakek bahwa suatu hari nanti ia akan membawa gadis yang ia cintai ke sini dan akan dikenalkan kepada kakek dan nenek. Dan baru kamu lah gadis yang di ajaknya kesini," jelas nenek.
Sontak aku langsung tersenyum, tak ku sangka Gar seniat itu.
"Nenek dan kakek saudaranya Gar?" tanyaku.
"Enggak, nenek sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Gar."
"Loh, terus kenal dari mana?"
Nenek tersenyum, "Seperti yang nenek bilang tapi, Gar itu anak yang sangat baik, ia suka membantu orang tanpa pamrih. Salah satu orang yang dibantu Gar hingga sekarang adalah nenek dan kakek."
"Maksudnya, Nek?"
"Waktu itu nenek lagi mengantarkan kakek ke Puskesmas karena saat itu kakek sedang demam tinggi. Nenek membopong kakek dari sini ke rumah sakit, namun waktu di jalan hujan turun dengan sangat deras sehingga membuat jalan licin. Nenek mencari tempat berteduh tapi enggak ada, akhirnya nenek memutuskan untuk membopong kakek sampai rumah sakit dalam keadaan hujan-hujan-hujanan. Namun belum lagi sampai rumah sakit, nenek dan kakek justru malah jatuh sampai kakek tidak bisa berdiri lagi dan tubuhnya benar-benar kaku.
"Saat ada beberapa kendaraan yang lewat di dekat kami, namun tidak ada satupun yang membantu. Hingga akhirnya Gar datang, tanpa bicara apapun ia langsung menggendong kakek masuk ke mobilnya dan menuntun nenek juga agar masuk ke mobil. Gar langsung mengantar kami ke rumah sakit, membayar semua biaya rumah sakit, lalu mengantar nenek dan kakek pulang.
"Dari situlah nenek dan kakek mengenal Gar, dan itu sudah dua tahun yang lalu. Hingga sekarang Gar masih sering berkunjung ke sini, ia masih sering membantu kakek dan nenek. Gar itu benar-benar anak yang baik, kamu beruntung mendapatkannya, Rhe."
Mendengar penjelasan nenek membuatku benar-benar sangat tertegun, Gar sungguh berhati malaikat. Ia bahkan membantu seseorang yang tidak ada hubungan darah dengannya hingga bertahun-tahun. Sungguh aku semakin salut dengannya. Segala hal yang ia lakukan selalu menjadi contoh baik untukku.
Ku harap semesta memberikan balasan yang terbaik juga untuk Gar, karena aku yakin semua bantuan yang ia berikan untuk orang lain akan menjadi tabungan kebaikan di masa yang akan datang.
Benar apa yang dikatakan nenek bahwa aku sangat beruntung memeliki Gar, hatinya begitu lembut sehingga membuat orang-orang sangat mengagumi kebaikannya. Dan sekarang ku simpulkan bahwa Gar adalah malaikat berwujud manusia dengan segala teka-tekinya dan kebaikan yang menjadi ciri khasnya.
[][][][]