Tetaplah menjadi dirimu, walau dengan sejuta kekurangan sekali pun. Sebab, suatu saat nanti kekurangan yang engkau miliki akan menjadi perhiasan paling berharga di dalam hidupmu.
~~~~~
Setelah lama mengobrol dengan nenek akhirnya aku memutuskan untuk menemui Gar di depan karena hari sudah semakin sore juga. Tadi aku mengajak nenek juga untuk ke depan, namun ternyata nenek tidak bisa karena tubuhnya masih sangat lemah.
Sesampainya di depan aku melihat Gar yang tengah memasukkan beberapa barang yang mungkin ia beli dari toko kakek, seperti; beras, gula, minyak, dan ada beberapa telur juga. Aku tahu sebenarnya jika Gar mau ia bisa beli di tempat lain, namun ia memilih beli di sini karena ingin membantu kakek dan nenek.
"Rhe, sudah selesai ngobrolnya sama nenek?" tanyanya ketika menyadari kehadiran ku di sana.
"Sudah, Gar. Tadi aku ngajak nenek ke sini juga tapi nenek nggak bisa karena badannya masih lemas."
"Iya, nenek belum bisa banyak bergerak dan masih sangat butuh istirahat," timpal kakek.
Aku dan Gar mengangguk sebagai bentuk jawaban.
Semua barang-barang Gar sudah masuk ke dalam karung dan diikat di bagian depan Vespa Gar. Untungnya tidak terlalu banyak jadi masih bisa dibawa menggunakan motor.
"Sudah semua ni. Kakek, Gar dan Rhe balik dulu, ya. Insya Allah nanti kalau ada waktu lagi kami kesini," ucap Gar.
"Iya, Gar. Terima kasih banyak, ya. Sering-sering main ke sini, Bawak Rhe juga."
"Iya, kek, Insya Allah," jawab Gar, lalu kami menyalim tangan kakek. "Oh iya, kita pamit sama nenek dulu ya, Rhe."
"Tapi nenek kayaknya tidur deh, Gar. Soalnya tadi pas aku keluar nenek juga udah ngantuk-ngantuk."
"Oalah, begitu ya. Yaudah, deh. Kek, sampaikan salam Gar dan Rhe, ya, Kek. Semoga nenek segera sembuh."
"Terima kasih banyak ya, Nak Gar. Kamu sudah banyak membantu kakak dan nenek."
Gar tersenyum, "Tidak perlu bilang makasih, Kek. Ini memang sudah kewajiban Gar, kok."
Kakek tersenyum dengan sangat tulus, dari wajahnya sangat terlihat jelas bahwa ia senang Gar datang ke tempatnya. Entah kebaikan apa yang di berikan pada Gar untuk kakek dan nenek, namun yang pasti bantuan Gar itu sangat membantu mereka.
Begitulah Gar, ia punya sejuta kebaikan yang tidak di ketahui oleh orang lain. Di balik diamnya ada sejuta ketulusan dan di setiap langkahnya selalu ada doa-doa dari orang-orang yang mendapatkan bantuannya.
Setelah itu aku dan Gar langsung naik ke motor, lalu pergi meninggalkan kakek yang tersenyum bahagia karena kehadiran kami.
Saat ini kami melewati jalanan sempit namun ramai orang berlalu-lalang dan karena itu Gar sengaja memperlambat laju motornya agar tidak membahayakan kami maupun orang lain. Selama di perjalanan aku dan Gar banyak bercerita, untungnya motor melaju dengan lambat sehingga membuat obrolan kami lebih mudah untuk di dengar.
"Gar, nenek dan kakek itu tidak punya anak atau keluarga lain gitu?" tanyaku, sedari tadi pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku.
"Tidak ada, Rhe. Tetapi waktu itu nenek pernah bilang kalau mereka pernah punya seorang anak perempuan, namun saat anaknya berumur dua belas tahun ia meninggal karena kecelakaan."
"Oh begitu, kasihan ya nenek dan kakek, di masa tuanya mereka harus berjuang sendiri tanpa bantuan seorang anak."
"Iya, Rhe, makanya itu saya rutin belanja di toko kelontong mereka karena dengan begitu saya bisa membantu perekonomian mereka walaupun tidak banyak."
"Tapi kenapa tokonya sepi banget ya, Gar. Malah lokasinya enggak strategis jadi orang-orang tidak tau keberadaannya dan karena sepi orang-orang bisa berpikir kalau toko itu sudah mau tutup."
"Dulu toko mereka sangat ramai dan ketika pertama kali aku mengenal mereka toko mereka tetap ramai. Namun, tepat setahun yang lalu, toko kakek sama nenek mendadak sepi karena ada toko baru yang jauh lebih lengkap dan murah, pelayanannya juga cepat sehingga pelanggan kakek sama nenek berpindah ke sana semua. Belum lagi ada beberapa pelanggan yang komplain karena produk kakek sama nenek sudah mau kadaluarsa, ya mau gimana lagi namanya juga sudah lama tidak ada yang beli dan mereka juga tidak tahu. Karena itu lah tokonya jadi sepi sampai sekarang."
"Terus kenapa mereka nggak beralih? Maksud aku itu kayak buka usaha lain gitu loh, Gar. Kan kemungkinan besar bisa laku lagi."
"Kalau itu saya tidak tahu, Rhe. Dulu saya juga pernah menyarankan hal yang sama, namun kakek tidak mau karena katanya ia hanya cocok berjualan toko kelontong seperti ini, mungkin karena budget mereka yang kurang cukup juga."
"Kasian ya, berarti mereka makan dari penghasilan toko itu saja?"
"Tidak, Rhe. Untungnya nenek punya pensiunan karena dulunya itu nenek Pegawai Negeri, ya lumayan lah untuk makan mereka berdua walaupun gaji pensiunannya juga tidak terlalu besar dan mereka juga harus memutar uang itu ke toko mereka."
"Oalah, begitu ya. Tapi lumayan juga sih, Gar, setidaknya mereka jadi punya jaminan tua juga."
"Iya, Rhe, benar. Tapi kamu tahu tidak Rhe, sebenarnya kakek itu seorang atlet, loh."
"Ha kamu serius, Gar?"
"Iya, kakek itu atlet bulu tangkis dan pernah beberapa kali menang kejuaraan internasional. Tapi sayangnya karena perlombaan itu tidak di sorot media, pemerintah jadi enggan memberi penghargaan untuk kakek, apalagi waktu itu media masih sedikit dan tidak terlalu berfokus ke sana. Jadi ya begini, kakek. hanya di berikan penghargaan sekedarnya aja."
"Kasihan ya, kakek. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan ya kayak gini kan Gar, karena mereka udah ikut mengharumkan nama bangsa. Tapi sayangnya pengorbanan mereka malah nggak di ketahui, jadinya ya gini."
"Ya, begitu lah, Rhe. Terkadang untuk dapat di bantu kita harus di kenal dulu. Dan untuk di kenal kita harus melakukan sesuatu yang di sukai banyak orang. Terkadang hidup memang nggak adil, Rhe. Kita dituntut untuk mengikuti apa yang di mau orang lain tapi kita lupa bahwa kebahagiaan orang lain belum tentu menjadi kebahagiaan kita. Makanya itu saya selalu bilang ke kamu, Rhe, jadilah diri kamu sendiri, jangan dengarkan omongan orang lain karena kalau kita dengarkan nggak bakalan ada habisnya.
"Dan, satu lagi. Sebisa mungkin jangan bergantung dengan orang lain, karena pada dasarnya manusia hanya mau berhubungan dengan seseorang yang menguntungkannya juga. Jadi jika nanti kamu berada di titik terendah sehingga tidak bisa menguntungkannya, bisa jadi orang itu akan meninggalkan kamu. Jadi mulai lah untuk hidup di bawah kaki sendiri, walaupun sulit tetapi yakin saja bahwa kamu bisa. Sebab yang namanya bunga butuh waktu untuk mekar sama seperti perubahan butuh waktu untuk berkembang," jelas Gar panjang lebar. Jujur aku merasa sedikit tersindir dengan ucapannya yang mengatakan bahwa aku tidak boleh bergantung dengan orang lain, tanpa ia sadari saat ini aku sudah bergantung dengannya.
"Tapi, kalau aku bergantungnya denganmu Gar?" tanyaku takut.
Dari kaca spion ku lihat Gar tersenyum, dengan pelan tangannya memindahkan tanganku ke pinggangnya.
"Kalau dengan saya justru itu keharusan, Rhe. Kamu tidak boleh bergantung dengan lelaki lain selain ayah kamu dan saya."
Aku tersenyum, lagi-lagi Gar berhasil membuat hatiku ingin loncat dari tempatnya. Lelaki dengan sejuta ucapan manisnya yang selalu berhasil membuat gadis lugu ini tersenyum bahagia sebab telah menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Tak lama kami sampai di rumahku, hari semakin sore dan langit juga terlihat mendung. Gar menurunkan bahan-bahan pokok yang di beli tadi, lalu langsung membawanya masuk ke rumahku.
"Loh Gar, kok di bawak masuk?" tanyaku heran.
"Ya karena ini memang untukmu."
"Tapi Gar—"
"Sttt, udah diam. Ayah kamu mana? Saya mau langsung pamit ni, karena udah mau hujan."
"Kayaknya ayah lagi di kamar mandi."
"Oh, yasudah deh kalau gitu saya langsung pulang ya, Rhe. Takut keburu hujan, sampaikan salam saya sama ayah kamu."
"Umm iya iya... Oh iya Gar sebentar."
"Kenapa Rhe?"
"Tadi Bima bilang kalau besok dia mau seharian denganku," ucapku takut.
"Ha? maksud kamu, Rhe?"
"Bima bilang, besok dia mau aku temenin dia mulai dari jam istirahat terus pulangnya juga. Aku juga enggak tahu kenapa dia minta itu, tapi dari wajahnya Bima kayak lagi ada masalah dan butuh teman."
"Terus?"
"Umm ... Ya, aku mau izin sama kamu. Tadi Bima juga nyuruh gitu."
"Terus kalau saya tidak mengizinkan?"
"Tapi Bima kasihan, sepertinya dia punya masalah."
"Terus kalau punya masalah kenapa harus sama kamu? Kan dia masih punya teman lain?"
"Aku enggak tahu, Gar. Tapi dia bilang setelah ini dia enggak akan ganggu aku lagi, Gar. Aku jadi kasian sama Bima."
Ku lihat raut wajah Gar berubah, ia seperti tidak suka aku membahas Bima.
"Gimana Gar?" tanyaku lagi.
"Lihat besok ... Sudah ya, saya pulang. Kirim salam sama ayah."
"Tapi, Gar—"
"Assalamualaikum." Gar langsung naik ke motornya, menyalakan mesin lalu melaju dengan kecepatan tinggi.
"Waalaikumsalam," ucapku setelah tubuh Gar sudah tidak terlihat lagi.
Dari raut wajah Gar sepertinya ia tidak suka dengan permintaan Bima itu. Ah, entah lah apa yang akan ku jawab pada Bima besok, sungguh aku tidak tega melihat Bima seperti ini.
Gar, kenapa kamu mendadak menjadi posesif seperti ini, sih.
[][][][]