35. Gar Kalah

1290 Kata
Satu kekurangan mu tidak akan terlihat karena adanya sejuta kelebihan yang ada di dalam dirimu. ~~~~ Pagi ini entah mengapa aku tidak terlalu bersemangat dan alasannya kalian pasti tahu—karena Gar yang masih merajuk. Dari semalam, ia tidak ada menghubungiku bahkan ia tidak mengabari kalau ia telah sampai. Setelah aku mengirim pesan barulah dia mengatakan telah sampai. Dari situ saja aku sudah tau bahwa Gar masih merajuk. Pagi ini pun sepertinya Gar tidak menjemput ku, mungkin dia mengira aku berangkat dengan Bima. Ah, sudahlah mau gimana lagi. Kalau memang Gar tidak datang aku akan naik bus saja, toh aku juga sudah mulai terbiasa. Setelah memastikan semuanya selesai aku langsung membuka pintu dan bergegas pergi, sebelumnya tak lupa aku pamit dengan ayah dulu. Dan ketika pintu terbuka, betapa kagetnya aku melihat Gar yang tengah santai berdiri di depan pintu dengan ponsel yang menjadi fokusnya saat ini. "Gar ... Kamu, kok nggak bilang ada disini," ucapku kesal. Bagaimana tidak, Gar membuat jantungku hampir mau copot. "Sudah siap?" bukannya menjawab dia malah balik bertanya, dengan mata yang masih fokus dengan ponsel. Ah, dia pasti masih merajuk. "Sudah," jawabku singkat. "Ayah kamu mana? Mau pamit, ni." "Udah langsung pergi saja, ayah lagi di belakang." "Oh, oke deh." Gar menyimpan ponselnya di saku lalu langsung berjalan menuju motornya. Sungguh melihat Gar seperti ini aku sangat kesal, sebelumnya Gar tidak pernah begitu namun karena masalah Bima kemarin ia jadi begini. Dan satu lagi, jika biasanya Gar memakaikan ku helm, hari ini justru tidak. Jangankan memakaikan helm, memberikannya saja tidak. Dengan sengaja ia meletakkan helm di jok motornya agar aku bisa mengambilnya sendiri. Sungguh Gar sangat menyebalkan. "Gar ..." Dia tidak menjawab, malah langsung melajukan motornya. "Ih, Gar... " "Hmm." Tuh kan dia merajuk. "Ih, kamu marah sama aku?" Gar diam lagi. "Ih, Gar ..." karena kesal aku mencubit pinggangnya sehingga membuat Gar meringis kesakitan. "Rhe, jangan aneh-aneh, ini lagi di jalan. Bahaya." "Ya, makanya kamu jangan kayak gini." "Kayak gini gimana?" "Ya, kayak gini, Gar. Cuek sama aku, nggak pedulian gini." "Enggak kok, perasaan kamu aja itu, Rhe." "Halah, kayak aku enggak tahu aja." "Sudah, nanti saja di bahasnya, ini masih di jalan. Bahaya." "Umm, iya deh." Gar kembali fokus membawa motor, aku pun hanya bisa terdiam sambil melihat jalanan yang sudah mulai macet. Kurang lebih lima belas menit kami di jalan, dan kini kami telah sampai di sekolah. Gar langsung memarkirkan motornya, tetapi ia masih tidak ada mengajakku bicara. Ah, kalian pasti tahu gimana kesalnya aku. Jika biasanya kami berjalan beriringan, kini Gar malah berjalan di depan ku dan sama sekali tidak melihat ke arahku. Dia seperti tidak mengenalku, bersikap bodoh amat seolah aku adalah orang asing untuknya. Merasa semakin kesal, tanpa berpikir panjang lagi aku langsung menarik rambut Gar dengan keras, sehingga membuatnya meringis kesakitan. "Rhe, ih, kamu kenapa sih. Ini sakit loh," ucapnya sambil memegangi rambutnya. "Apa kamu bilang? Aku kenapa? Enggak salah, ni? Seharusnya aku yang nanya Gar. Sakit? Enak kan?" sungguh, aku benar-benar kesal pada Gar, bisa-bisanya masih pagi seperti ini ia malah membuatku kesal. "Kamu sakit, ya, Rhe." Semesta, kenapa Gar jadi menyebalkan seperti ini. Ada apa dengannya? Kemana Gar yang pendiam itu. Ah, sepertinya Gar ada salah memakan sesuatu, makanya dia seperti ini. "Ih, Gar, kamu sekarang nyebelin, ya. Kalau kamu enggak suka aku pergi dengan Bima, bilang Gar. Jangan kayak gini, kalau kamu kayak gini kan akunya jadi enggak tenang." setelah mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan Gar dan sengaja mempercepat langkahku. "Rhe, hei. Saya enggak maksud kayak gitu." Aku berpura-pura tidak mendengar dan terus mempercepat langkahku. Gar, mencoba untuk mengejar ku dengan mempercepat jalannya juga. Berhubung langkah kaki Gar sangat lebar berbeda denganku yang kecil, jadi tanpa perlu berusaha keras, dia berhasil menyamakan langkah kami. "Saya enggak bermaksud kayak gitu, Rhe." Aku tidak menjawab, sungguh aku sangat kesal dengannya. "Rhe ..." Lagi-lagi aku memilih untuk diam. "Sekarang malah kamu yang merajuk." "Ya, terus aku harus apa? Kamu tuh udah buat aku kesal, bukannya minta maaf malah bersikap seolah nggak ada kejadian gini. Ih, Gar, kamu tuh kenapa jadi nyebelin gini, sih." tanpa ku sadari air mataku menetes, aku berusaha untuk menahan agar tidak menangis tetapi sama sekali tidak bisa. Sungguh, aku sudah berusaha tetapi hati ini terlalu lemah apalagi jika sudah berhubungan dengan Gar. "Loh, Rhe, kamu nangis?" Gar mencoba memegang pipiku untuk memastikan aku menangis atau tidak, namun dengan cepat aku menepisnya. "Nggak," jawabku singkat. "Rhe ..." Aku diam. Gar meraih tanganku sehingga membuat langkahku terhenti. Aku berusaha untuk menepisnya namun tidak bisa karena tenaga Gar lebih kuat dari pada aku. "Rhe ..." panggilnya lagi. Aku hanya menjawab dengan dehaman, dan pandangan yang melihat ke bawah. "Kamu marah sama saya?" Aku tidak menjawab. "Rhe, saya minta maaf, ya. Saya enggak bermaksud seperti itu. Jujur saya memang merasa sedikit kesal karena Bima mencoba mencari kesempatan untuk dekat dengan kamu, tapi saya enggak marah sama kamu Rhe. Beneran. Justru tadi saya kepikiran untuk ngomong dengan Bima, bertanya baik-baik tujuannya apa mengajak kamu bertemu seperti itu, meminta kamu untuk menemaninya, dan jika tujuannya jelas saya pasti izinkan karena mau gimana pun Bima adalah teman kamu dan saya enggak ada hak untuk melarang kamu bertemu dengan teman kamu," jelas Gar. Mendengar penjelasannya aku merasa sedikit lega, tetapi aku tidak akan luluh begitu saja. Biarkan aja Gar merasa bersalah dulu dan setelah itu barulah aku memaafkannya. Lagian siapa suruh pagi-pagi sudah membuatku kesal. "Rhe, sudah, ya. Jangan marah lagi, saya benar-benar minta maaf." Gar menegakkan kepalaku, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pipiku. Seperti yang kalian tahu bahwa Gar sangat ahli membuatku luluh, dan ya hanya dengan begitu aku langsung luluh dengannya. "Iya deh iya," ucapku. Gar tersenyum, lalu mengusap puncak kepalaku. "Gitu, dong," ucapnya. Semesta, rasanya aku ingin terbang. Sungguh Gar benar-benar candu buatku. "Mumpung masih ada 10 menit lagi, sekarang kita ke kelas Bima, ya. Biar jelas dulu dan saya tahu harus mengijinkan atau tidak," ucapnya. Aku mengangguk setuju, lagian kebetulan kami juga berada tidak jauh dari kelas Bima. Tanpa menunggu lagi kamu langsung ke sana, dan tepat di depan pintu kelas aku melihat Bima yang tengah mengobrol dengan salah seorang temannya. "Bima ..." panggilku. Sontak Bima langsung melihat ke arahku. "Eh, Rhe... " ucapnya, lalu matanya beralih melihat ke arah Gar dan tersenyum. "Bim, begini loh. Gar mau bicara sama kamu, ada yang mau ditanya katanya. Bisa?" tanyaku langsung to the point. "Oh iya, bisa, dong. Mau bicara di mana?" "Disini—" "Di sana aja," ucap Gar memotong. "Rhe, kamu tunggu disini, ya," lanjutnya. "Loh, tapi, Gar." "Sudah, tunggu disini aja. Ini urusan laki-laki." Gar langsung berjalan ke samping kelas Bima yang kebetulan merupakan taman kelas dan agak sepi. Di sana mereka berbicara tampak serius, aku sangat ingin mendengarnya namun tidak dikasih izin oleh Gar. Jadi, ya aku terpaksa hanya melihat ekspresi wajah mereka tanpa mengetahui apa yang mereka bicarakan. Setelah lima menit akhirnya Gar dan Bima kembali. "Sudah selesai?" tanyaku penasaran. Mereka mengangguk secara bersamaan. "Ayo, saya antar ke kelas kamu. Sebentar lagi bel," ucap Gar lalu langsung menarik tanganku pelan. "Eh iya, Bim, aku ke kelas ya. Byeee," ucapku pada Bima, yang di balas dengan senyum dan lambaian tangannya. "Gar, tadi kamu sama Bima ngobrolin apa?" tanyaku. "Kamu tidak perlu tahu." "Ih, kenapa gitu?" "Kerena ini urusan laki-laki." Lagi-lagi Gar menyebalkan, sok-sokan rahasia-rahasiaan seperti ini. "Terus kamu izinin aku temenin Bima, nggak?" "Hmm." "Hmm apa Gar? "Iya, Rhea Azzaela Nadhifa." Aku tersenyum, "Terima kasih, Gar-anteng," ucapku menggodanya. Gar tersenyum malu, senyumnya sangat manis membuatku ingin terus melihatnya. Walaupun menyebalkan seperti ini, tetapi Gar tetap menjadi lelaki terfavorit di hidupku setelah ayah, terlepas dari sikapnya yang kadang-kadang menyebalkan akan ku jadikan warna di dalam hubungan kami sehingga tidak terlalu abstrak atau monoton. Karena apapun yang berhubungan dengan Gar, akan selalu membuatku bahagia. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN