Untuk hati yang dipaksa mati, untuk letih yang dipaksa pulih, dan untuk rasa yang dipaksa musnah, bertahan lah.
~~~
Seperti yang telah ku katakan tadi bahwa jam istirahat ini aku akan bersama Bima, menemaninya, mengobrol, dan hal lainnya yang tentunya seru.
Tadi, ketika bel istirahat berbunyi ternyata Bima sudah menungguku di depan kelas. Entah alasan apa yang ia berikan kepada guru sehingga ia di perbolehkan keluar lebih dulu dan saat ini lelaki itu berada di depan ku.
"Kamu kok bisa cepat banget ke sini?"
"Bisa, dong. Apa, sih, yang enggak bisa oleh seorang Bima," ucapnya sembari menaik turunkan alisnya.
"Heleh, gaya banget."
Bima terkekeh pelan.
"Terus sekarang kita mau ke mana?" tanyaku lagi.
"Rooftop," jawab Bima
"Yakin, Bim? Rooftop bukan cuma kita doang loh yang tahu, tapi Gar juga. Dan bisa jadi Gar malah udah di sana karena itu markas dia dari dulu banget."
"Yahh, terus kemana, dong? Di sekolah kita cuma itu yang sepi dan enggak ada yang berani ke sana."
"Taman?"
"Tetap saja ramai, Rhea. Bahkan udah kayak kantin, banyak yang makan di sana."
"Perpustakaan?"
"No! Aku mau merokok dan di perpustakaan jangankan merokok berbicara aja enggak boleh."
Aku terkekeh. "Enggak usah merokok dulu, deh, Bim. Entar ketauan bahaya loh."
"Makanya itu, Rhea, aku nyari tempat yang sepi."
"Di mana lagi coba? Enggak ada tempat yang benar-benar sepi di sekolah ini selain rooftop."
"Coba deh kamu hubungi Gar, tanyain dia di sana apa enggak. Karena untuk hari ini aku mau ambil alih dulu tempatnya."
"Yasudah, deh, bentar aku telpon dulu." Aku langsung menelpon Gar, namun sayangnya Gar tidak menjawab.
"Gar enggak angkat teleponnya."
"Oalah."
Tak lama satu pesan w******p masuk, dan ternyata itu dari Gar.
Gar-anteng ❤️?
Ada apa, Rhe? Saya lagi rapat di ruang OSIS.
Gar, aku sama Bima mau ke
rooftop, kamu jangan ke sana,
ya. soalnya takut Bima nya
enggak nyaman dan dia juga
mau merokok.
Ngapain di sana, Rhe? Enggak usah deh. Enggak bagus laki-laki dan perempuan berduaan di tempat sepi kayak gitu. Pokoknya jangan ya, Rhe. Bilang sama Bima.
Tapi kan Gar, biasanya juga
kita berduaan di sana.
Beda, Rhe. Kamu tidak bisa menyama ratakan semua laki-laki. Pokoknya jangan.
Iyaiya.
Aku langsung memasukkan ponsel ke saku lalu melihat ke arah Bima.
"Gimana, Rhe?" tanyanya.
"Umm, itu, Bim. Gar enggak bolehin."
"Maksudnya?"
"Katanya enggak boleh, karena rooftop kan sepi dan dia enggak mau kita cuma berduaan aja."
Kulihat Bima berdecak kesal, sepertinya ia kurang terima karena Gar terlalu mengatur ku. Tetapi ya mau gimana lagi, ucapan Gar benar dan aku tidak mau melanggar sesuatu yang memang benar, apalagi aku juga belum terlalu mengenal Bima berbeda dengan Gar yang sudah sangat ku percaya.
"Yasudah, deh, Rhea, kita ke taman aja," ucap Bima setelahnya.
"Oke, tapi sebelum itu kita ke kantin, ya. Aku lapar hehe."
"Oke." Kami langsung menuju ke kantin untuk membeli beberapa makanan yang bisa mengganjal perut.
Entah mengapa aku merasa Bima sedikit berbeda, ia tidak seceria kemarin-kemarin. Jika biasanya Bima selalu membuat lelucon, kali ini tidak. Ia lebih banyak diam, wajahnya terlihat gusar, dan Bima seperti tidak tenang. Benar-benar sangat berbeda.
"Bim ..." panggilku pelan.
"Ha? Iya, Rhea?"
"Are you okey?"
Bima hanya mengangguk lalu mengatakan, "Ya." sesingkat itu, benar-benar sangat berbeda dengan Bima yang ku kenal.
Sepertinya Bima sedang memiliki masalah dan ia butuh teman untuk bercerita, makanya ia memintaku untuk menemaninya. Melihat Bima seperti ini aku jadi tidak tega, selama mengenalnya Bima tidak pernah menceritakan perihal keluarganya, tapi dari penampilan dan tingkah lakunya aku menyimpulkan bahwa keluarga Bima tidak begitu harmonis. Tetapi aku juga tidak yakin, mungkin nanti akan kutanyakan padanya.
Setelah memesan makanan dan minuman, aku dan Bima langsung menuju taman. Kami tidak bisa berlama-lama karena jam istirahat hanya tiga puluh menit saja.
Setelah sampai taman, kami memilih sudut yang tidak terlalu ramai agar aku dan Bima bisa mengobrol tanpa gangguan dan untungnya hari ini taman memang lumayan sepi jadi kami tidak terlalu susah mencari tempat yang sunyi.
Kami berdua duduk bersandar di bawah pohon Ketapang sembari meneguk es teh untuk menghilangkan rasa haus. Sedari tadi Bima tidak banyak ngomong dan sepertinya aku yang harus memulai percakapan agar Bima mau menceritakan masalahnya padaku.
"Bim ..." panggilku.
"Iya, Rhea?"
"Di makan rotinya."
"Iya, Rhea. Nanti saja."
"Oh iyaiya."
Bima hanya membalas dengan senyuman, namun dari wajahnya ia masih sangat terlihat gusar.
"Bim, kalau punya masalah dan butuh teman cerita, aku siap kok jadi pendengar kamu."
"Um, iya, Rhea. Terima kasih."
Aku mengangguk dan setelah itu kami diam lagi.
"Rhea ..."
"Iya, Bim?"
"Kamu sama orang tua kamu dekat?"
"Um, dekatnya sama ayah aja karena ibu aku pergi waktu aku masih kecil dan sampai sekarang nggak tau keberadaannya di mana."
"Oh, begitu. Sorry, ya, Rhea, aku enggak tahu.
"Enggak papa, Bim, santai aja. Memang kenapa?"
"Aku boleh cerita ni kan?" tanyanya.
"Boleh dong, justru aku senang kamu mau cerita."
Bima tersenyum kikuk. "Kemarin orang tua aku bertengkar lagi." Bima terdiam untuk beberapa saat, lalu kembali melanjutkan ceritanya.
"Sebenarnya pertengkaran mereka berdua itu udah biasa buat aku, Rhea, tapi kemarin itu benar-benar kacau.
"Papaku ketahuan sedang berselingkuh, mereka bahkan melakukan hubungan badan. Dan kamu tahu, Rhea, mereka berhubungan badan di mana? Di kamar mamaku, kamar yang di tempati orang tuaku dan posisinya berada di sebelah kamar ku. Aku dengar, Rhea, suara itu, suara p****************g dan w************n itu waktu berhubungan. Awalnya aku pikir papa melakukan dengan mama dan aku sudah terbiasa dengan itu, tapi ternyata tidak. Tiba-tiba mama datang, dia berteriak, melempar gelas, vas bunga, ke arah ayah dan simpanannya itu. Dan kamu tahu, Rhea, bukannya meminta maaf ayah malah memukul mamaku dan pergi dengan wanita simpanannya itu."
Mata Bima berkaca-kaca, ia ingin menangis tapi berusaha di tahannya. Aku berusaha menenangkannya, mengelus pundaknya agar ia tenang.
"Anjing memang. Dari kecil mental, pikiran, dan batin aku benar-benar di siksa mereka. Dan sekarang disaat aku dewasa mereka masih melakukan hal yang sama."
"Bim, kamu yang sabar, ya. Aku tahu ini berat untuk kamu, aku juga enggak bisa memberi saran apapun karena apa yang ada di pikiran aku belum tentu sejalan dengan kamu dan orang tuamu. Aku juga enggak bisa ngerasain apa yang kamu rasain, tapi aku mohon kamu tetap kuat, ya. Kamu laki-laki baik, kamu pantas untuk bahagia, dan segala bentuk kesakitan yang kamu rasakan pasti akan berbuah manis di kemudian hari.
"Tapi aku capek, Rhea. Hidup aku udah berantakan karena mereka."
"Enggak, Bim, hidup kamu enggak berantakan. Kamu hanya perlu seseorang untuk ngarahin kamu dan suatu saat nanti kamu pasti bakalan bertemu dengan orang itu, yang terpenting saat ini kamu harus tetap kuat, jalani hidup kamu seperti orang-orang pada umumnya, tetap beribadah sama yang Maha Kuasa, dan kalau kamu butuh teman untuk cerita aku siap kok nemenin kamu kapan pun kamu butuh."
"Terima kasih ya, Rhea. Aku beneran enggak tahu harus cerita ke siapa, dan dari kemarin pikiranku hanya kamu karena aku tahu kamu orang baik."
"Iya, Bim. Aku senang karena kamu percaya sama aku, jangan sungkan untuk cerita apapun sama ku ya, Bim."
Bima tersenyum, lalu tiba-tiba ia memelukku. Sungguh, aku sangat kaget. Saat ini posisinya kami sedang berada di lingkungan sekolah dan aku tidak mau malah terkena masalah.
Aku mencoba untuk melepaskan pelukan Bima, tapi ia benar-benar memelukku erat sehingga aku tidak bisa melepaskannya dan yang membuatku merasa sedikit takut ialah ketika Bima meletakkan mulutnya tepat di leherku sambil memejamkan matanya.
"Bim, balik ke kelas, yuk." ucapku sambil berusaha melepaskan pelukannya. Untuknya tak lama setelah itu bel masuk berbunyi dan Bima pun langsung melepaskan pelukannya.
"Eh, iya. Rhea, aku minta maaf, ya. Aku beneran enggak maksud apa-apa, aku kebawa suasana. Aku beneran minta maaf, Rhea."
Aku yang tadinya merasa takut dengan Bima, kini kembali luluh dan merasa kasihan dengannya.
"Iya, Bim," jawabku. "Yasudah, kita balik ke kelas, ya."
Bima mengangguk, lalu kami langsung bangkit dan beranjak dari sana.
"Rhea, sekali lagi aku minta maaf, ya," ucapnya lagi.
"Iya, Bim."
"Kamu enggak marah, kan?"
"Enggak, kok?"
"Benar?"
"Iya, Bima benar."
"Berarti nanti pulang sekolah kamu masih mau jalan sama aku kan?"
"Tentu, dong. Kan aku sudah janji."
"Terima kasih ya, Rhea."
Aku menjawab dengan senyum. Jujur saja perasaan ku mulai tidak nyaman dengan Bima, aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan meyakinkan bahwa Bima tidak bermaksud seperti itu. Ya, semoga saja.
[][][][]