Bima dan Kehidupannya

1289 Kata
Seorang anak tidak bisa memilih pada siapa dia akan di lahirkan, jadi jika tidak bisa menjadi orang tua yang baik jadilah orang tua yang memberikan contoh yang baik untuk anaknya walaupun hanya sekedar formalitas saja. ~~~~~ Sejak kejadian tadi aku jadi sedikit merasa tidak tenang, entah kenapa aku jadi takut dengan Bima. Aku merasa Bima berubah, entah memang berubah atau itu justru sikap aslinya. Aku ingin membatalkan rencana kami untuk pergi setelah pulang sekolah nanti, tapi aku merasa tidak enak dengannya dan bingung bagaimana cara mengatakannya. Aku berpikir untuk memberitahu Gar, tetapi aku juga takut nantinya Gar malah marah dan bisa jadi mereka akan bertengkar. Setelah lama berdebat dengan pikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan rencana kami saja tetapi aku akan memberitahu Gar kek manapun kami pergi bahkan akan men-share lokasi agar jika terjadi suatu hal yang tidak di inginkan Gar bisa langsung datang. Tak lama bel pulang berbunyi, saat itu juga perasaan ku jadi semakin tidak enak terlebih saat aku melihat Bima yang tengah berada di depan kelas. Dia terlalu cepat sampai sehingga aku tidak sempat untuk menghubungi Gar. Mungkin jika ada kesempatan aku akan menghubungi Gar, semoga saja Gar tidak susah di hubungin. Bima masuk ke kelasku dan langsung duduk di bangku sebelah yang kebetulan sudah kosong. "Rhea, sudah siap?" tanyanya. Aku mengangguk pelan, "Iya, Bim." "Kamu enggak ada rencana atau kegiatan kan hari ini?" Aku menggeleng pelan. "Berarti bisa pulang lama kan?" "Jangan kelamaan, ya, karena aku juga harus bantu ayah." "Iya, Rhea. Tenang aja." Aku tersenyum. Lalu kami langsung bergegas pergi. "Rhea, kita naik motor, ya." "Oh, jadi kamu bawak motor?" "Iya, dong. Masa jalan sama kamu naik bus. Nggak seru, dong." Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sungguh, Bima terlihat sangat beda. Mulai dari omongan, cara bicara, gerak, dan pandangannya, benar-benar sangat berbeda. "Rhea, sebentar ya aku mau ke toilet dulu." "Oh, oke, Bim. Yasudah aku tunggu di sini, ya." "Enggak usah, ikut aja. Kamu tunggu di depan pintu, biar nanti kita langsung jalan." "Tapi, Bim—" "Udah, Rhea, nggak papa. Kan kamu nggak masuk." Bima langsung menarik tangan ku dan mau tidak mau aku mengikutinya. Sesampainya di toilet laki-laki Bima langsung melepas tanganku. "Sebentar, ya, Rhea," ucapnya. Aku mengangguk. "Kamu mau ikut masuk?" tanyanya sambil terkekeh. "Dih, enggak." "Kenapa? Enggak papa loh, Rhea, kan nggak ada yang lihat." "Apaan sih, Bim." Bima tertawa namun dapat ku rasakan tawanya benar-benar berbeda. "Cuma bercanda loh, Rhea. Mukanya jangan ketakutan gitu." "Enggak lucu, Bim." "Hehe, iya iya maaf. Yasudah sebentar, ya." Bima langsung masuk ke kamar mandi. Ketika Bima masuk aku langsung mengambil ponselku, mengirim pesan kepada Gar bahwa perasaanku tidak enak dan aku takut pergi dengan Bima. Namun sialnya nomor Gar tidak aktif. Aku semakin tidak tenang. Aku mencoba menelponnya namun tidak di angkat. Ah, kemana perginya Gar, kenapa dia jadi susah di hubungi begini. Aku mencoba mengirim Gar pesan lagi, mengatakan bahwa aku akan men-share lokasi mana saja yang kami kunjungi dan kuharap Gar datang ke tempat yang sama juga. "Rhea ..." Aku tersentak kaget, tiba-tiba Bima muncul di belakangku tanpa ada suara langkah kaki. "Eh, Bim, ngagetin aja, sih." "Hehe, sorry, Rhea. Kamu kenapa kok kayaknya cemas gitu?" "Umm, enggak papa, kok, Bim. Tadi aku nelpon ayah tapi nggak di angkat kayaknya ayah tdur sih." "Oh, berarti aman kan? Ga ada masalah?" Aku mengangguk. Lalu kami kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir. Setelah sampai di tempat parkir, Bima memberikan helm padaku dan tanpa menunggu aku langsung memakai. "Bim, kita mau kemana?" "Ada, deh. Nanti kamu juga tahu. Yang pasti hari ini kita akan pergi ke tiga tempat." "Serius? Ntar pulangnya kelamaan, Bim." "Iya, serius. Enggak, kok, tenang aja. Yang penting kamu sudah izin sama ayah kamu, kan?" "Iya, sih, udah." "Nah, yasudah." "Tapi jangan sampai jam tujuh malam, ya. Paling enggak jam enam kita sudah pulang." "Iya, Rhea. Lihat nanti, ya." Bima melajukan motornya meninggalkan kawasan sekolah. Selama di perjalanan Bina tidak banyak berbicara, tidak juga melakukan sesuatu agar suasana di antara kami tidak hanya hening seperti bernyanyi atau membuat lelucon. Sungguh Bima sangat berbeda. Beberapa kali aku juga memergoki Bima yang sedang melihatku dari kaca spionnya yang sepertinya sengaja di arahkan tepat di wajahku. Seperti tadi, lagi-lagi aku memergokinya yang sedang melihatku dengan wajah yang tidak bisa ku artikan, dan pandangannya itu benar-benar membuatku takut. "Bim, ini sebenernya kita mau kemana?" tanyaku, sebab jalan yang kami lewati benar-benar asing untukku dan tidak pernah ku lewati sebelumnya. "Nanti kamu juga tahu, Rhea. Sebentar lagi sampai, kok," ucapnya. Aku mencoba untuk melihat lokasi dari ponselku, diam-diam aku mengambil ponsel lalu men-share lokasi kami saat ini kepada Gar walaupun nomornya masih tidak aktif. Aku berusaha untuk tetap tenang, berpikir positif bahwa Bima tidak mungkin macam-macam kepadaku seperti apa yang aku pikirkan. Tak lama kami sampai disalah satu cafe namun tertutup dan tempatnya juga seperti tersembunyi karena masuk ke g**g kecil. Tapi anehnya cafe itu ramai, hal itu dapat kulihat dari parkirannya yang penuh kendaraan, bukan hanya kendaraan roda dua tapi ada roda empat juga. "Bim, ini tempat apa?" tanyaku. "Kita masuk aja, ya, biar kamu tahu." Bima menggenggam tanganku lalu masuk ke dalam cafe tersebut. Satu kesan yang aku rasakan pada saat itu adalah takut. Sungguh aku benar-benar takut, tempat ini gelap hanya menggunakan lampu remang-remang dan yang paling membuatku takut ialah disana mayoritas adalah laki-laki. Aku hanya melihat beberapa perempuan yang mungkin tidak lebih dari sepuluh, sangat berbeda jauh dengan kamu lelaki yang jumlahnya bahkan tidak terhitung. Beberapa lelaki ada yang duduk sambil merokok, ada sebagian yang bermain bilyard, ada juga yang bermain kartu, dan masih banyak macam lagi. "Eh, Bim, gebetan baru, nih. Kenalin dong ke kita," ucap salah seorang lelaki yang tengah bermain kartu dengan beberapa temannya. "Halah, belakangan aja itu kalau gue kenalin sekarang entar lo jadiin mangsa lagi," sahut Bima dan kemudian temannya itu tertawa. "Bim, ini tempat apa?" "Ini tempat tongkrongan anak laki-laki, Rhea." "Tapi tempatnya kenapa gelap seperti ini?" "Ya, memang begini tempatnya, Rhea. Karena ini bukan tempat tongkrongan biasa." "Maksud kamu?" "Sudah lah, kamu tidak perlu memikirkannya. Oh iya, sebentar, ya, aku pesan makan dulu." "Enggak, usah, Bim. Aku masih kenyang, kok." "Udah, enggak papa. Santai aja." Bima menemui pelayan yang sedang berjaga di meja bar, dan kulihat ia memesan beberapa makanan dan setelah itu kembali duduk denganku. "Gimana, Rhea, kamu suka sama tempatnya?" Aku menggeleng pelan, sementara Bima malah tertawa. "Iya, sih, wajar. Kamu kan anak rumahan, baik-baik, mana tau tempat kayak gini." "Hehe, iya." "Mau gimana lah, Rhea. Ini adalah satu-satunya tempat yang nerima aku dan bisa menghibur aku. Jadi kalau di rumah ada mama atau papa, sepulang sekolah aku akan langsung ke sini sampai malam, seengaknya sampai mereka pergi." "Kamu nggak boleh gitu, loh, Bim. Coba sekali-kali kamu ngomong sama orang tua kamu, bilang kalau kamu enggak suka seperti ini. Mungkin mereka akan ngerti." "Percuma, Rhea. Nggak bakalan. Kamu tahu, dulu tuh Abang aku ngomong jujur ke orang tua aku, dia ceritain semua perasaannya, tapi kamu tahu apa respon mereka? Mereka malah memaki Abang ku, memukul, bahkan mengusir dari rumah. Dan, semenjak kejadian itu abngku pergi dari rumah bahkan sampai sekarang enggak kembali." "Terus sekarang abang kamu dimana?" "Abang aku ke luar negeri, kerja di sana. Orang tua aku tidak tau keberadaannya, mereka bahkan menganggapnya sudah mati. Tanpa mereka ketahui aku masih berhubungan baik dengan Abang ku, dia bahkan rutin mengirimkan uang setiap bulan untukku." Mendengar cerita Bima aku jadi semakin kasihan padanya, hidup Bima benar-benar tidak bahagia, ia tidak bisa merasakan hangatnya keluarga layaknya orang-orang. Pantas saja tampilan Bima benar-benar semrawutan ternyata ia tidak mendapatkan perhatian dari ibunya sehingga membuatnya seperti ini. Perlahan pikiran buruk ku tentangnya berusaha ku hilangkan, aku berusaha yakin bahwa Bima adalah orang baik, dia hanya butuh pendengar dan di dengar dan itulah yang akan aku lakukan untuknya. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN