Semesta itu adil ya, setiap kali aku merasa kesulitan selalu ada kemudahan yang menghampiri, setiap kali aku merasa kesedihan setelahnya selalu ada bahagia yang datang. Sesederhana itu ternyata cara kerjanya dan semua yang diberikan selalu saja di luar dugaan.
"Rhe, ayo kita pulang." Gar muncul dari balik pintu, satu tangannya menenteng tasku dan satunya lagi menenteng tasnya.
"Loh, kan belum pulang."
"Saya sudah minta izin ke BK kamu tenang aja."
"Terus kamu gimana?"
"Izin juga. Sudah ayo pulang." Ia berjalan ke arahku, lalu membantu ku untuk bangkit. "Masih sakit?" Tanyanya.
"Nggak, kok."
"Bisa jalan?"
"Bisa, Gar." Ia mengangguk dan setelah itu membantuku turun dari kasur. Dengan senang hati aku menerima bantuannya, karena hingga kini aku tahu setiap perlakuannya padaku murni dilakukan dengan tulus tanpa tujuan apa pun.
"Kamu tenang saja, ya, setelah ini tidak akan ada lagi yang berani melukai kamu."
"Sudah lah, Gar, aku nggak mau ngebahas itu lagi."
"Tapi itu harus dibahas, Rhe dan nanti saya akan beritahu ke ayah kamu."
"Ha, enggak usah, Gar. Aku nggak mau nanti ayah malah jadi khawatir."
"Ya itu wajar, Rhe sangat wajar. Orang tua mana yang nggak khawatir sama anaknya, tapi kamu tenang saja saya akan meyakinkan ayah kamu bahwa hal ini nggak akan terjadi lagi."
"Gimana bisa kamu yakin kalau hal ini nggak terjadi lagi."
"Karena saya sudah ngelaporin ini ke kepala sekolah, kamu nggak usah khawatir lagi."
"Ha? Kamu serius?"
"Iya, Rhe."
Aku terdiam. Sungguh? Masalah seperti ini harus sampai melibatkan kepala sekolah, ah aku tidak tahu akan sebenci apa mereka padaku nantinya.
"Gar tapi kan--"
"Sudah Rhe tidak usah tapi-tapian. Ini sudah termasuk pembulian dan pembulian harus di tangani dengan serius, nggak bisa di anggap sepele apalagi ini sudah melibatkan keselamatan orang lain."
Lagi-lagi aku kalah berdebat dengannya, Gar selalu memang saat berdebat dengan ku, dia selalu punya kata-kata jitu yang berhasil membuatku bungkam.
Tanpa terasa kami sudah sampai di parkiran, seperti biasa Gar memakai kan ku helm dan setelah dipastikan aku aman baru lah ia melakukan motornya.
"Pegangan, Rhe." Ucapnya, aku mengangguk saja, menuruti setiap ucapannya.
Jalanan terlihat sepi, tidak seramai pagi tadi. Mungkin karena semua orang sudah berangkat sejak pagi, jadi wajar saja seperti ini.
Siang ini Gar membawa motor lebih lambat dari biasanya, padahal jalan sepi seperti ini.
"Gar ..." Panggilku.
"Iya, Rhe?"
"Kenapa jalannya jadi lama? Nggak kayak biasanya."
"Iya, Rhe, saya sengaja. Karena saya tahu kondisi kamu masih lama jadi saya harus pelan-pelan membawanya. Takut kejadian yang tak di inginkan malah terjadi."
"Gar, aku baik kok. Nggak perlu sampai segitunya."
"Kamu selalu begitu, Rhe, selalu mengatakan kalau kamu baik-baik saja tetapi nyatanya tidak kan."
Aku terdiam, mungkin omongan Gar ada benarnya. Tapi ya jujur saja ini tidak separah yang dipikirkan Gar, ia tidak perlu bersikap seperti ini.
"Tapi Gar--"
"Sudah Rhe, jangan terlalu banyak ngomong dulu."
Oke, baiklah. Kali ini aku kalah berdebat lagi dengannya. Mungkin lebih baik aku diam saja, tak perlu banyak bicara lagi. Kini pandangan ku terfokus pada jalanan saja, melihat pepohonan yang hijau, udara juga lebih segar mungkin karena polusi udara sedikit berkurang.
Hingga tiba-tiba motor Gar berhenti di depan sebuah toko roti.
"Kamu tunggu disini, ya."
"Mau ngapain?"
"Sebentar." Gar masuk ke toko tersebut sementara aku menunggunya di luar. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, dan setelah itu Gar kembali dengan menenteng sebuah kantong plastik yang ku yakini isinya roti.
Gar tidak banyak bicara, ia langsung naik ke motor dan setelah itu melajukannya. Aku hanya diam, tidak mau berbicara karena takut membuatnya kesal.
Tak lama kami sampai di rumahku, Gar langsung turun dan melepas helm yang ku kenakan. Ia membantu ku berjalan, walau pun sebenarnya aku bisa berjalan sendiri tetapi ia tetap keukhe membantu. Takut aku terjatuh katanya.
Ia mengetuk pintu rumahku dan tak lama ayah membukakan pintu.
"Loh, Gar, Rhe, kenapa pulang cepat?" Ayah terlihat kaget, terlebih ketika melihatku yang terduduk lemas di bangku.
"Iya, pak, tadi ada masalah di sekolah. Nanti saya jelasin, tapi sekarang Rhe boleh istirahat dulu kan, pak?"
"Iya iya, tolong Gar antar kan Rhe ke kamarnya."
"Rhe tidak apa-apa, Yah. Nggak usah takut gitu."
"Tapi itu lutut kamu luka, wajah kamu juga merah gitu. Ada apa Gar, bisa jelasin ke ayah?" Ayah terus saja mendesak Gar untuk menjelaskan apa yang terjadi, hingga akhirnya Gar mengantarkan ku ke kamar dan setelah itu ia berbicara dengan ayah.
Dari kamar aku sedikit mengintip, ingin tahu bagaimana respon ayah. Dan ternyata ayah terlihat begitu kaget, wajahnya pun terlihat sedih. Gar menjelaskan dengan sangat tenang namun dapat terlihat ada kecemasan di sana.
Tak mau ayah semakin merasa sedih, lantas aku memilih untuk keluar. Meyakinkan ayah bahwa aku baik-baik saja.
"Ayah ..."
"Rhe, kenapa keluar?" Gar dan ayah bertanya bersamaan sehingga berhasil membuatku tersenyum geli.
"Rhe enggak apa-apa, Yah. Ayah jangan khawatir ya." Ucapku meyakinkan ayah.
"Tapi kata Gar kamu habis di bully sama kakak kelas? Bagiamana bisa Rhe, kenapa kamu tidak melawan?"
"Buat apa Rhe melawan, Yah, kalau Rhe melawan yang ada Rhe semakin di hajar sama mereka apa lagi Rhe cuma sendiri sementara mereka bertiga."
"Jadi kamu di keroyok oleh tiga orang?"
Aku terdiam, ah ternyata aku salah ngomong. Jika begini ayah pasti akan semakin cemas.
"Om tenang saja, kejadian ini nggak akan terjadi lagi kok karena Gar sudah melaporkan ke kepala sekolah dan kepala sekolah bilang akan memberi sanksi pada siswi yang melakukan pembulian itu. Jadi om tenang saja, ya."
"Nak Gar, om percaya sama kamu. Sangat percaya. Dan om harap kamu bisa menjaga Rhe ya, om tidak tahu apa yang terjadi jika suatu hal buruk terjadi samanya." Raut wajah ayah terlihat sedih, jujur saja aku tidak tega melihatnya. Aku merasa sangat bersalah karena sudah membuat ayah khawatir seperti ini.
"Iya, om, saya pasti akan menjaga Rhe. Itu janji saya."
Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Gar lantas membuat ku sedih. Sungguh aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan lelaki seperti Gar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku jika sosok Gar tidak ada disini.
"Om saya boleh ijin ke dapur?" Tanya Gar.
"Iya boleh. Memangnya mau ngapain nak Gar?"
"Sebentar, om. Saya ijin ke dapur dulu ya."
Ayah mengangguk begitu pun dengan ku.
Gar masuk dengan membawa roti yang tadi ia beli. Aku dan ayah hanya saling bertatapan, mencoba berpikir apa yang akan di lakukan Gar.
"Rhe ..." Panggil ayah..
"Iya, Yah?"
"Gar itu anak yang baik, Rhe, ayah harap kamu sama dia bisa terus bersama ya. Jangan pernah membuat dia marah."
"Hm i-iya, Yah." Aku tak tahu kenapa ayah mengatakan hal itu, tetapi aku bersyukur karena ternyata ayah sepercaya itu dengan Gar.
Tak lama Gar keluar dengan membawa sebuah nampan yang berisi segelas s**u, teh, dan roti. Ia meletakkan di meja lalu menyodorkan s**u yang di buatnya ke arah ku.
"Minum, Rhe, biar lebih enakan."
Aku hanya terdiam, lalu mengambil secangkir s**u tersebut.
Setelah itu Gar memberikan teh pada ayah dan tak lupa juga memberikan roti kepadaku dan ayah.
Aku hanya memperhatikan setiap geraknya tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. Saat ini di depan ku, ada dua lelaki yang amat aku cintai di dalam hidupku, mereka berdua sangat menyayangiku begitu pun aku yang sangat menyayangi mereka.
Semesta entah untuk ke berapa kalinya aku hanya meminta jaga Gar dan ayah, selalu. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain mereka, jadi kumohon lindungi mereka selalu, di mana pun mereka berada. Karena saat ini hanya mereka yang ku punya, tak ada lagi selain mereka.
:::