Terkadang aku terlalu sibuk memperhatikan kehidupan orang lain yang kurasa lebih sempurna dari pada hidupku, hingga aku lupa bahwa hidupku lebih sempurna dari pada mereka. Aku lupa bahwa selama ini Tuhan telah memberikan nikmat yang mungkin tidak di berikannya pada orang lain. Dari sekian banyaknya umat manusia di bumi ini, mungkin aku adalah salah satu orang yang beruntung karena masih bisa merasakan kebahagiaan yang tidak terkira, bertemu dengan orang-orang baik dan yang tulus dengan ku.
Seperti halnya aku di pertemukan dengan Gar, itu merupakan salah satu nikmat yang tidak terhingga dan mungkin tidak ada tandingannya. Gar mengajar kan ku banyak hal, dari hal kecil hingga hal besar sekali pun. Seperti saat ini, Gar mengajak ku untuk berkunjung ke sekolah pinggiran yang di mana sekolah itu ialah tempat anak-anak pinggiran yang tidak punya uang untuk menuntut ilmu.
Di sana ada dua orang mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di jenjang universitas, mereka menjadi guru di sana bahkan mereka juga lah yang mendirikan sekolah pinggiran itu. Bukan hanya mereka, ternyata Gar juga ikut di dalamnya. Gar menjadi guru di sana dan ia juga merupakan orang yang ikut membangun sekolah pinggiran ini.
"Kenalin Rhe ini kak Fika dan Kak Dika" ucap Gar memperkenalkan ku pada dua mahasiswa itu.
Aku tersenyum ke arah mereka lalu menjulurkan tanganku untuk bersalaman.
"Kenalin kak, aku Rhe teman Gar."
"Salam kenal Rhe, teman apa teman ni?" Kak Dika tersenyum meledek lalu memainkan matanya ke arah Gar, entah kode apa yang di berikannya.
Kak Fika pun ikut tersenyum meledek. "Iya ni Gar, baru kali ini kamu bawak cewek ke sini."
"Ha? Em maksudnya kak?" Tanya ku yang mulai kebingungan.
"Iya, Rhe, selama empat tahun Gar bergabung bersama kami dan ini adalah kali pertama dia ngajak cewek main kesini. Kamu tau kan Rhe artinya apa?"
"Kamu spesial." Belum sempat aku menjawab bang Dika sudah menyeletuk duluan dan berhasil membuatku sedikit malu.
"Sudah lah kak, doain saja yang terbaik buat kami."
"Aamiin," ucap kak Fika dan Dika bersamaan. Aku hanya tersenyum, ternyata mereka seseru ini ya, ah andai saja aku mengenal Gar dari dulu mungkin hidup ku akan jauh lebih berwarna seperti saat ini.
Setelah perbincangan panjang, kami memutuskan untuk membagi tugas, untuk kak Dika dan Gar mengajarkan anak lelaki sementara aku dan kak Fika mengajarkan anak perempuan. Sebenarnya biasanya mereka di gabungkan tetapi karena hari ini ada aku dan pelajaran mereka pun pelajaran olahraga jadi di putuskan untuk hari ini kelas di pisah dulu.
Gar dan kak Dika mengajak anak lelaki untuk bermain bola sementara aku dan kak Fika membebaskan mereka untuk bermain apa saja selama itu masih berhubungan dengan olahraga.
Dari tempat aku duduk saat ini, banyak sekali hal-hal indah yang bisa kulihat, hal sederhana tapi begitu istimewa.
Anak-anak kecil disini bermain begitu ceria, mereka terlihat sangat bahagia layaknya seperti anak-anak lainnya yang mungkin hidup lebih sempurna dari mereka. Tetapi mereka terlihat tidak mempermasalahkan itu, justru mereka malah mensyukuri nya karena bagi mereka kebahagiaan itu sederhana kita saja yang membuatnya rumit atau bahkan harus mewah.
Dari mereka aku mendapatkan banyak pelajaran, pelajaran yang mungkin tidak aku temukan di sekolah tetapi sangat berharga. Ya, para anak kecil ini berhasil menjadi guru di dalam hidupku, karena berkat mereka aku bisa menjadi seseorang yang lebih mensyukuri kehidupan ku saat ini.
"Kamu satu sekolah sama Gar?" Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuatku tersadar dari lamunan panjang, aku menatap ke arah kak Fika yang mungkin masih menunggu jawabanku.
"Hm iya, kak, tetapi Gar kakak kelas aku, dan aku masih kelas sepuluh."
"Wah serius?"
"Iya kak, emang kenapa kak?"
"Sumpah ya ini tu beneran suatu fakta yang mengejutkan tau, gak."
"Mengejutkan gimana?" Kak Fika tampak tersenyum kemudian menghela napasnya.
"Gar itu terkenal dingin dan cuek ke semua cewek, dia nggak gampang kenal apa lagi dekat sama cewek. Kayak yang kakak bilang tadi, selama empat tahun dia mengajar bersama kami tapi sekali pun dia tidak pernah membawa cewek ke sini, dan baru kamu lah yang dia bawa. Sumpah, ya kamu itu beruntung banget tau nggak."
"Seriusan kak?"
"Iya serius, makanya aku juga kaget waktu kamu bilang kamu adekan kelasnya. Ni ya Rhe, Gar sama teman sekelasnya aja nggak sedekat itu, tapi kamu yang adek kelasnya berhasil mengambil hati Gar. Sumpah kamu beruntung banget Rhe." Kak Fika mengacungkan jempolnya ke arah ku, sambil terus tersenyum.
"Kakak udah kenal Gar lama?"
"Udah lama banget malah Rhe, aku sama Gar masih ada hubungan saudara hehe dan aku sama Dika dulu juga sekolah di tempat kalian makanya kami tau semua tentang Gar. Ni ya, Rhe kakak kasih tau, dulu itu waktu kami masih sekolah Gar ya mainnya cuma sama kami dia nggak pernah main sama teman sekelasnya. Makanya tu dia jadi idaman gitu, satu sekolah pasti tau siapa dia, bahkan bukan cuma murid guru-guru juga pada tau dia."
"Padahal Gar orangnya cuek kan kak, ternyata banyak yang kenal juga ya."
"Ya justru itu Rhe, karena dia cuek itu lah makanya banyak yang tau dia, dan dia itu incaran banyak cewek. Kamu beruntung banget Rhe bisa naklukin Gar."
Aku hanya tersenyum sambil terus bertanya sama diriku apa aku pantas untuk Gar? Sungguh aku baru tau ternyata Gar seistimewa itu, selama ini dia tidak pernah menceritakan itu sama aku justru ia malah terlihat seperti murid biasa yang tidak di kagumi banyak orang. Ternyata aku salah, Gar seistimewa itu. Pantas saja kemarin aku di bully habis-habisan, ternyata mereka adalah salah satu penggemar Gar juga. Ah, jika tau begini aku jadi merasa semakin tak pantas untuk Gar.
"Rhe ..."
"Ha, eh iya?"
"Melamun lagi?"
"Enggak kok, aku lagi ngobrol sama kak Fik ... Loh kak Fika nya mana?"
Ku dengar Gar terkekeh lalu mengacak puncak kepalaku.
"Katanya nggak melamun, tapi kak Fika pergi nggak sadar," ledeknya.
Aku hanya tersenyum kaku sambil menggaruk kening ku yang tak gatal.
"Ohh mungkin kamu juga nggak sadar ya saya datang?"
"Hm sadar, kok."
"Jangan bohong, Rhe."
"Nggak bohong, udah ih. Kamu udah siap ngajarnya?" Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum, tapi anak-anak mau berhenti dulu, katanya mau di kenalin sama kamu."
"Mau kenalan sama aku?"
"Iya, Rhe. Sudah ayo kesana, kasihan mereka udah lama nunggu."
"Gar, tapi aku harus bilang apa?"
Gar terkekeh, "Ya bilang apa saja, perkenalkan diri kamu ke mereka."
"Tapi aku gugup, Gar."
Bukannya memberikan saran Gar malah semakin tertawa. "Mereka itu masih anak-anak loh Rhe, masa kamu gugup sama anak-anak."
"Nggak gitu, Gar, aku cuma--"
"Sudah, ayo ke sana, nanti saya bantu."
"Beneran?"
"Iya, Rhe." Aku mengangguk, lalu mengikuti Gar.
Kami berjalan menuju kumpulan anak-anak tersebut, mereka sangat ceria bahkan sangat ramah. Beberapa dari mereka ada yang tidak sabar ingin berkenalan, bahkan ada juga yang berani menggoda namun akhirnya kenak semburan dari Gar. Aku terkekeh melihat kelakuan mereka yang sangat lucu.
"Hai semua, kenalin nama kakak Rhea, kalian bisa panggil Rhe dan aku temannya kak Gar." Aku tersenyum ke arah mereka, begitu pun dengan mereka.
"Teman apa teman ni kak," ucap salah satu anak perempuan sambil tersenyum menggoda. Aku membalas dengan senyuman begitu pun dengan Gar.
"Kak Rhe kok cantik banget, sih."
"Randi yang sopan kamu." Gar memberi peringatan kepada anak lelaki yang mungkin hanya ingin bercanda dengan ku.
"Hehe maaf kak, cuma becandaan kok," ucap anak yang bernama Randi itu.
Setelah perkenalan itu kami lanjut bermain, mengajak mereka bermain tebak-tebakan dan yang berhasil menjawab mendapatkan hadiah dari Gar.
Sungguh baru kali ini aku melihat Gar terlihat begitu tenang dan bahagia, ia sangat tulus menghibur, mengajar, para anak jalanan ini. Bahkan mungkin Gar sudah mengganggap mereka adik kandungnya sendiri.
Tanpa terasa waktu terus berjalan dan hari mulai sore. Para anak-anak tersebut harus segera pulang, ada yang ingin membersihkan rumah, ada yang ingin memasak untuk kedua orang tua, bahkan ada yang melanjutkan bekerja di jalanan sebagai pengaman. Aku sungguh salut dengan mereka, di usia yang sangat kecil seperti ini mereka sudah bisa bekerja keras untuk membantu kedua orang tua. Melihat perjuangan mereka aku jadi semakin percaya bahwa anak-anak seperti mereka lah yang nantinya akan mendapatkan kesuksesan yang sebenarnya, kesuksesan yang di dapat dengan perjuangan mereka sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Dan itu lah kesuksesan yang sesungguhnya.
"Rhe sekarang kita yang pulang, ini udah terlalu sore juga," ucap Gar sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Aku mengangguk dan ikut membereskan barang-barang ku.
"Gar, Rhe, kita duluan ya," ucap kak Fika dan Dika yang telah selesai terlebih dahulu.
"Oh iya kak, hati-hati ya."
"Iya siap." Mereka berdua pulang menggunakan mobil kak Dika, mungkin kak Dika mengantar jadi Fika pulang sampai rumah, tapi aku juga tidak tahu sih.
"Rhe kamu tau nggak kak Fika dan kak Dika itu udah pacaran hampir sembilan tahun tau."
"Ha, serius Gar?" Mendengar ucapan Gar sontak membuatku kaget, selama itu mereka pacaran padahal keduanya terlihat seperti biasa saja tidak seperti orang pacaran.
"Iya serius, mereka udah pacaran dari SMP, suka duka udah mereka lewati, pokoknya salut banget sama hubungan mereka. Dua-duanya sama-sama saling melengkapi."
"Tapi mereka kayak nggak orang pacaran tahu Gar, mereka kayak teman biasa. Makanya aku agak kaget sih ternyata mereka udah pacaran selama itu."
"Nah itu juga yang paling saya suka dari hubungan mereka, mereka menjalani hubungan dengan santai tapi serius, mereka nggak lebay gitu ya kayak teman biasa banyak juga yang nggak tahu kalau mereka itu pacaran karena hubungan mereka memang sesantai itu."
"Salut banget sama mereka."
"Jarang banget kan ada yang bisa bertahan selama itu, kayak mereka."
Aku mengangguk, ternyata masih ada ya cowok yang mencintai wanita apa adanya, tidak menuntut banyak, tidak memandang fisik, ya yang pasti mereka sangat tulus seperti Gar dan kak Dika.
"Sudah selesai?"
"Sudah Gar."
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal lagi, aku dan Gar segera bergegas pulang. Seperti biasa Gar memakai kan ku helm, sebelum melajukan motornya ia mengambil tanganku lalu memasukkan ke dalam saku Hoodienya.
"Hari sudah semakin sore, cuaca semakin dingin. Saya akan melajukan motor lebih cepat dari biasanya, jadi berpegang lah," ucapnya.
Aku mematuhi ucapannya, dengan erat ku peluk tubuhnya dan setelah itu Gar langsung melajukan motor. Sore ini ia sedikit mempercepat laju motornya karena mungkin hari sudah sore ia tidak mau membuat ayah khawatir karena sudah menunggu lama.
Sore ini semesta menjadi saksi betapa bahagianya aku bisa bertemu dengan sosok lelaki seperti Gar. Lelaki yang bertanggung jawab dan selalu menganggap ku spesial. Entah untuk ke berapa kalinya aku merasa sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan Gar, dan entah dengan apa aku bisa membalas kebaikan semesta padaku.
Terima kasih semesta, karena engkau telah menghadirkan malaikat kedua di hidup ku setelah ayah.
::::