19. Permintaan Maaf Gar

1464 Kata
Hari demi hari telah ku lalui bersama Gar, banyak yang sudah kami lewati mulai dari senang, sedih, suka mau pun duka telah ku lewati bersamanya dan tanpa bisa ku elak kan semakin kesini aku semakin nyaman dengannya. Gar selalu berhasil membuatku bahagia dengan hal-hal yang tidak terduga. Tetapi ada hal yang hingga saat ini masih ku pikirkan, yaitu kenapa hingga sekarang Gar tidak pernah lagi mengungkapkan perasaannya padaku. Dia tidak lagi mengatakan cinta atau sayang seperti dulu, ya walau aku tahu dari perlakuan padaku saja telah mengisyaratkan bahwa ia menyayangiku tetapi jujur saja ada hal lain yang aku inginkan. Bukan hanya perlakuan spesialnya saja, ada hal lain yaitu kepastian. Ya, aku butuh itu. Sudah hampir tiga bulan kami saling mengenal, Gar juga selalu memberikan perhatiannya padaku tapi hingga kini ia tidak pernah memberi kejelasan tentang hubungan kami. Jika di tanya pacaran atau tidak, jawabnya ya tidak, karena hingga kini kami tidak pernah meresmikan hubungan ini, namun jika dikatakan sebagai seorang teman banyak orang yang tidak percaya lantaran kedekatan kami sudah seperti orang pacaran. Ah, aku juga tidak tahu kejelasan hubungan kami, yang terpenting saat ini kami masih berkomunikasi baik dan Gar masih menjadi seseorang yang spesial untukku dan juga yang menspesialkan ku. Beberapa hari ini Gar juga tampak berbeda, ia jadi lebih banyak diam, dan jarang memberi kabar. Aku mencoba mengerti karena mungkin ia sedang banyak tugas jadi aku mencoba untuk mengerti saja. Ya walau sejujurnya aku tidak bisa memakluminya, tetapi ya mau bagaimana lagi, Gar juga mempunyai kehidupan sendiri, kehidupan yang mungkin tidak ada aku di dalamnya. Sudah beberapa kali juga aku melewati jam istirahat sendirian, tanpa adanya Gar. Jujur rasanya sangat sulit, aku takut kejadian beberapa bulan lalu kembali terulang namun syukurnya tidak. Aku bisa menikmati jam istirahat sendiri tanpa ada yang menggangu. Ya walau masih terasa kurang karena tidak ada Gar bersamaku. Tadi pagi Gar mengatakan pulang nanti ia akan mengajakku pergi ke rumah pohon, ada yang mau dikatakan katanya. Rasanya aku sangat bahagia, sudah beberapa hari ini aku tidak menghabiskan waktu dengannya dan jujur saja aku sangat rindu. Mataku terus melirik jam, sangking tidak sabarnya menunggu bel pulang. Ah, rasanya aku sangat bahagia tidak sabar lagi untuk bertemu Gar. Tak lama waktu yang di tunggu tiba, bel berbunyi seantero sekolah. Sontak aku langsung bersemangat, tanpa menunggu lagi aku langsung menyiapkan barang-barang ku, memasukkan ke dalam tas lalu segera keluar kelas. Aku pikir Gar telah menunggu di depan kelas ku, ternyata dugaan ku salah. Gar tidak ada. Tapi tidak papa, aku akan menunggu. Mungkin aku yang terlalu cepat makanya Gar belum tiba, atau mungkin dia masih dalam perjalanan ke sini. Aku menunggunya sembari melihat-lihat keadaan sekitar, koridor yang semulanya ramai kini menjadi sepi. Semua siswa sudah pada pulang, tetapi anehnya Gar tidak kunjung datang. Jujur aku takut. Kemana Gar? Tidak biasanya ia seperti ini, biasanya ia selalu tepat waktu bahkan datang lebih awal tetapi hari ini tidak. Aku memutuskan untuk meneleponnya, namun tidak ada jawaban. Gar tidak mengangkat telpon dariku. Semesta ada apa dengan Gar, kenapa dia begitu berubah. Sudah tiga puluh menit aku menunggu, tetapi Gar tidak kunjung datang. Sekolah semakin sepi, bahkan sudah tidak ada lagi siswa siswi. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, berlama-lama disini tanpa kejelasan yang ada bisa membahayakan ku. Jujur saja rasanya aku sudah ingin menangis, sungguh aku sangat kecewa. Semesta ada dengannya, kenapa dia begitu berubah. Tanpa sadar air mataku terjatuh, dadaku terasa sesak. Ini kali pertama aku merasakan hal itu, rasanya sangat sakit. Aku mencoba untuk tetap kuat, aku tidak bisa nangis seperti ini, aku harus segera pulang. Menumpahkan segala tangis ku di kamar. Ya itu jauh lebih baik. "Rhe ..." Belum sempat aku melangkah, suara itu terdengar dari belakang ku. Suara yang sedari tadi ku tunggu, suara yang selalu berhasil membuatku tenang. "Rhe, maafin saya. Saya sudah membuat kamu menunggu." Gar kini telah berada di depan ku, ia mengatakan itu tepat di depan ku. Tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya, aku hanya bisa menunduk-- menahan tangis yang sudah ingin tumpah. "Rhe, maaf." Diangkatnya wajahku, Dan saat itu juga air mataku terjatuh. Aku menangis sesenggukan, tepat di depan wajahnya. "Rhe, kenapa nangis? Maaf Rhe, maaf jika saya membutmu harus menunggu lama, saya tau kamu pasti takut kan, saya tahu Rhe. Maaf. Tadi ada suatu hal yang harus saya kerjakan, tapi kamu harus tahu saya tidak pernah melupakan janji saya, saya ingat kalau kita akan pergi. Saya ingat Rhe, saya tidak mungkin melupakan janji saya sama kamu." Ia tak henti meminta maaf. Sementara aku tak sanggup untuk mengatakan apa pun, aku hanya bisa melihat matanya, melihat pengelasan di wajahnya dan perlahan tangannya bergerak menghapus air mataku lalu menarik ku ke dalam pelukannya. Saat itu juga tangis ku pecah, air mataku keluar dengan derasnya. Jatuh tepat di pundak Gar dan di dalam pelukannya. Gar tidak mengatakan apa pun selain kata maaf yang entah sudah berapa kali keluar dari mulutnya. Aku tahu ia sangat menyesali hal ini dan aku pun mengerti itu tetapi saat ini aku sama sekali tidak bisa mengatakan apa pun. Hanya air mata yang bisa mewakili semuanya. "Rhe, saya janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Saya janji Rhe," ucapnya. Perlahan aku melepas pelukan kami, ku tarik napas ku dalam-dalam lalu perlahan membuangnya. "Tidak papa, Gar, aku ngerti kok." "Maaf sudah buat kamu menangis." "Nggak perlu minta maaf, Gar, karena kamu nggak salah. Aku nangis karena aku takut sendirian, maaf kalau aku cengeng." "Tidak Rhe, kamu tidak cengeng. Wajar kamu nangis karena kamu sudah menunggu lama, di tambah sekolah yang semakin sepi. Dan itu semua karena saya, Rhe. Maaf Rhe, saya sangat menyesal." "Gar sudah, kamu nggak perlu minta maaf lagi. Kamu nggak salah," ucapku. Aku menggenggam tangannya erat. "kita jadi perginya?" Tanyaku lagi berusaha mengalihkan pembicaraan. "Iya, Rhe, jadi. Ayo kita pergi." Aku mengangguk. Gar meraih tanganku, kemudian menggenggamnya. Genggaman yang sangat aku sukai dan selalu menjadi favorit ku. Kami berjalan beriringan, sesekali Gar melirik ke arahku, mungkin masih menyesali kejadian tadi. Aku berusaha meyakinkannya bahwa ini bukan sebuah masalah besar dan dia tidak perlu menyesali hal itu. Kami berjalan menuju rumah pohon, seperti biasa kami melewati roof top sekolah. "Gar, boleh berhenti dulu?" "Kenapa Rhe, kamu capek?" Tanyanya terlihat cemas. "Tidak, Gar. Aku hanya ingin diam disini sebentar saja, aku rindu suasana ini. Sudah lama kita tidak kesini kan?" Kulihat Gar tersenyum. "Jadi kita duduk disini dulu?" Tanyanya. "Kalau kamu nggak keberatan." "Saya nggak pernah keberatan selama itu sama kamu." Ia duduk lebih dulu, lalu menyuruhku duduk di sebelahnya. "Kamu ingat pertama kali kita ketemu?" Tanyanya. Matanya menyorot jalanan yang tampak jelas dari tempat kami. "Pasti ingat dan nggak akan pernah lupa." "Saya nggak nyangka akhirnya bisa ketemu sama kamu disini. Padahal saya sudah mencari kamu di halte bus dekat SMP, tapi saya nggak menemukannya. Dan ternyata kamu ada di dekat saya." "Kejutan semesta memang nggak pernah diduga, Gar. Dia selalu punya rencana baik untuk kita." "Ya kamu benar, Rhe. Semesta memang seadil itu." Aku tersenyum, tak lagi mengatakan apa pun. Masing-masing dari kami fokus dengan pikiran sendiri, Gar entah apa yang di pikirannya aku tidak tahu, tetapi Gar ia pasti tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ah, ini sama saja dengan curang. Aku sama sekali tak bisa merahasiakan apa yang sedang aku pikirkan tentangnya, sementara ia bisa bebas memikirkan apa pun tanpa bisa ku ketahui. "Rhe ..." Panggilnya. Aku menengok ke arahnya. "Iya, Gar." "Saya juga tidak mau ada di posisi ini, Rhe." Aku mengerutkan dahi, tak mengerti apa maksudnya. "Maksud kamu?" "Saya juga nggak mau mengetahui apa yang sedang kamu pikirkan, tetapi ya mau bagaimana lagi itu memang sudah ada di diri saya. Jika bisa dihilangkan saya juga mau, sangat mau, tetapi nyatanya tidak bisa." Tuh kan, dia mengetahui pikiran ku. "Tidak apa-apa, Gar, itu nggak perlu dihilangkan karena itu sudah menjadi kelebihan kamu." "Tapi kadang saya juga nggak enak, Rhe, karena dengan begini kamu nggak bisa merahasiakan apa-apa dari saya yang seharusnya menjadi privasimu." "Nggak papa, Gar, toh aku juga tidak keberatan dengan itu. Kamu tidak perlu merasa nggak enak kayak gini." Ku lihat dia tersenyum, tetapi aku merasa senyumnya beda. Tidak selepas biasanya, seolah ada suatu hal yang ia pendam. "Gar ..." "Iya, Rhe?" "Kamu sedang ada masalah, ya?" "Enggak, kok, Rhe. Kenapa?" "Beberapa hari ini kamu beda dan seperti banyak pikiran." "Enggak, kok, Rhe, tenang aja." "Bagus lah kalau begitu." "Jadi ke rumah pohonnya? Kalau terlalu lama disini takutnya pulang kesorean lagi." "Oh iya, yasudah, sekarang kita ke rumah pohon saja." Gar mengangguk lalu berdiri dari tempatnya, tangannya menjulur ke arahku dan aku menyambutnya. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah pohon. Tempat di mana banyak kenangan tersimpan antara aku dan Gar. Ah, sungguh aku sangat merindukan kebersamaan ku dengan Gar di sana. Semoga saja semuanya tetap sama, baik itu rumah pohonnya mau pun pemiliknya-- yang tidak lain adalah Gar. Ya semoga saja begitu. ::::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN