20. Ucapan dan Kecupan

1213 Kata
Dari sekian tempat yang aku kunjungi bersama Gar, rumah pohon ini adalah tempat yang menjadi favorit ku. Tempat pertama yang ditunjukkan Gar padaku, tempat pertama yang menjadi saksi kedekatan ku dengar Gar. Disini aku bisa merasakan ketenangan yang tak bisa ku dapatkan dari tempat mana pun, ketenangan yang hanya bisa kudapatkan disini. Suasana yang damai, sejuk, tenang, di temani burung-burung, kupu-kupu, dan hewan-hewan kecil yang sangat lucu. Ah, sungguh suasana yang sangat menenangkan. Kini aku dan Gar kembali lagi kesini, sudah sangat lama kami tidak mengunjungi tempat ini, dan sekarang rasanya semakin berbeda. Entah apa itu aku juga tidak tahu. Kami berdua hanya saling diam, berusaha menikmati alam yang sudah lama tidak kami rasakan. "Rhe..." Setelah beberapa saat diam, Gar akhirnya memulai obrolan terlebih dahulu. "Iya, Gar," jawabku. "Kita sudah berapa lama dekat?" Ia bertanya dengan pandangan yang lurus menatap ke depan. "Kurang lebih tiga bulan." "Nggak terasa ya, Rhe." "Hmm." "Selama tiga bulan kita terus bersama-sama dan kamu juga sudah terbiasa dengan saya, kan?" "Iya, Gar." "Tapi kamu tahu kan, Rhe, saya tidak bisa selamanya ada bersama kamu." "Maksudnya?" Entah kenapa mendengar perkataan Gar membuatku merasa sedih, ada suatu hal yang mengganjal di hatiku dan sebuah pertanyaan 'ada apa dengan Gar' memenuhi isi otakku. "Ada saat di mana saya tidak ada di samping kamu, tidak mengantar jemput kamu, tidak membantu kamu ketika kamu di bully, tidak mengajak kamu berjalan-jalan, tidak menemani kamu ke rumah pohon atau markas lainnya." Gar menjeda kalimatnya, matanya beralih menatapku. Tatapan yang terlihat sendu, entah apa yang membuatnya sendu seperti itu yang jelas ia pasti mempunyai masalah. "Dan saya harap kamu bisa melewatinya sendiri, pergi kemana pun sendiri, berani mengatakan tidak untuk hal yang enggak kamu sukai, berani melawan jika ada orang yang ingin berbuat jahat kepada mu, bisa kan Rhe?" "Gar, apa kamu mau pergi? Kamu mengatakan ini karena kamu mau meninggalkan ku?" "Nggak, Rhe, saya akan pernah pergi. Tapi seperti yang saya bilang tadi, akan ada saat di mana saya nggak ada di samping kamu jadi kamu harus bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu harus bisa menjadi gadis yang mandiri." "Bagaimana kalau aku nggak bisa?" "Kamu pasti bisa Rhe, saya tahu bahkan sebelum mengenal saya kamu adalah gadis yang mandiri." Aku hanya diam, tak sanggup lagi untuk mengatakan apa pun. Mataku bahkan sudah tidak tahan untuk menumpahkan air dari dalamnya. "Rhe ..." Aku diam. "Berjanji sama saya kalau kamu bisa melakukan itu." Aku menggeleng. "Rhe ..." "Aku tahu kamu mau pergi kan, Gar, kamu mau ninggalin aku sendiri kan. Aku tahu Gar." Tanpa bisa tertahan lagi, air mata yang sedari tadi ku tahan kini tumpah tepat di depan Gar. "Enggak Rhe, saya enggak akan pernah ninggalin kamu. Kamu percaya kan sama saya." "Terus kenapa kamu bicara seperti itu?" "Rhe, saya sudah bilang kan kalau saya nggak bisa selamanya ada untuk kamu karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya dan karena itu kamu harus bisa tumbuh menjadi gadis yang mandiri, menjadi gadis yang bisa hidup tanpa tergantung kepada orang lain. Kamu ngerti kan, Rhe?" "Terus gimana kalau aku nggak bisa." "Kamu bisa, Rhe, saya tau itu." "Gar--" "Janji sama saya, ya?" Aku diam. "Rhe ..." "Oke, aku janji sama kamu. Aku bisa tumbuh menjadi gadis mandiri, aku bisa melakukan semuanya tanpa kamu, aku bisa mengatakan enggak untuk hal-hal yang tidak aku suka, aku bisa melawan orang yang ingin berbuat jahat ke aku. Gitu kan Gar?" Ku lihat bola matanya yang terlihat bening-- seperti ada yang keluar dari sana. Dan benar saja, perlahan setetes demi setetes air matanya terjatuh. Gar menangis, tepat di depan ku. "Gar--" tiba-tiba tangannya bergerak untuk memelukku, membawa ku ke dalam pelukkannya. "Maafin saya ya, Rhe," ucapnya terdengar gemetar. "Maaf untuk apa Gar?" "Untuk hal yang tidak bisa saya berikan ke kamu." "Tapi kamu sudah memberikan semuanya ke aku." "Nggak, Rhe, aku bahkan belum memberikan apa-apa untuk kamu." "Gar, dengan kehadiran kamu di hidup ku saja itu sudah lebih dari cukup." "Terima kasih, Rhe." Aku mengangguk. Setelah itu Gar melepaskan pelukan kami dan perlahan menyandarkan ku di pundaknya. Untuk beberapa saat kami saling diam, mencoba menikmati semesta yang terbentang indah di depan kami. Tangan Gar mengelus rambutku, menyisir dengan jari-jarinya dan setelah itu mengikatnya. "Rhe ..." "Iya, Gar." "Boleh saya ngomong?" Aku mengangguk sebagai jawaban. "Untuk besok dan beberapa hari ke depan saya tidak bisa mengantar jemput kamu. Untuk sementara kamu pergi dan pulang naik bus saja, ya." "Kenapa begitu Gar?" "Karena ada hal yang harus saya urus, dan ini sangat penting. Kamu mau mengerti kan?" "Hm, iya aku mengerti Gar." "Ingat sama janji kamu yang tadi kan?" "Iya Gar aku ingat." Ku lihat ia tersenyum. Setelah itu Gar bangkit. "Tidak mau naik ke atas?" Tanyanya. "Mauuu." "Yaudah ayo." Aku naik terlebih dahulu, dan Gar menunggu di bawah. Seperti biasa ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sifat yang selalu ku suka darinya. "Gar, sudahh," teriak ku. Ia melihat ke atas, tersenyum, lalu langsung naik untuk menyusul ku. "Kok tumben pintunya ditutup?" Tanyaku ketika Gar sudah sampai. "Sebentar lagi kamu juga akan tahu. Tutup mata kamu, Rhe." "Ha, kenapa begitu?" "Tutup saja." "Hm iya deh." Aku menyetujuinya lalu menutup mataku. Dengan pelan Gar menuntunku, dan tak setelah itu kami berhenti. "Sudah Rhe buka." Aku membuka mata dan saat itu juga sebuah senyum terukir indah di bibir ku. Balon, bunga, lilin, dan juga beberapa origami yang dibentuk menyerupai hati dan burung tertata rapi di setiap sudutnya. Semuanya terlihat begitu indah di tambah dengan pemandangan yang terpampang nyata di depan kami. Sungguh Gar selalu berhasil membuatku terkagum dengan semua kejutannya. "Gar--" "Kamu suka?" "Sangat suka." Gar menggandeng tanganku lalu membawaku menuju meja yang juga telah dihiasi. Lalu ia menyodorkan sebuah botol kaca yang di dalamnya terisi beberapa kertas. "Ini apa Gar?" "Buat kamu. Di dalamnya ada beberapa kata yang tulis untuk kamu. Jangan di buka sekarang ya Rhe, nanti saja. Jika kamu rindu dengan saya." "Hm iya, Gar. Terima kasih, ya." Dia tersenyum. "Saya ingin menghabiskan waktu bersama kamu di sini, sampai senja datang." "Tapi Gar aku belum bilang--" "Tenang saja saya sudah minta izin ke ayah kamu." "Kamu serius?" "Iya, Rhe." Seperti yang pernah ku katakan tidak ada alasan untuk tidak mempercayai Gar. Aku menerima ajakannya, dan jujur saja moment seperti ini adalah yang paling ku tunggu. Kami menghabiskan waktu bersama, Gar menyanyikan ku beberapa lagu diiringi petikan gitar darinya. Suaranya sangat merdu, bahkan burung-burung pun ikut mendengar nyanyiannya. Sungguh saat ini aku sangat bahagia. Kami menghabiskan waktu bersama, rasanya begitu bahagia. Kebahagiaan yang terbilang sangat sederhana. "Rhe ..." Aku menengok ke arahnyabdan saat itu juga, Cupp Sebuah kecupan mendarat di keningku, hanya beberapa detik namun berhasil membuatku terdiam kaku. "Saya menyayangi mu." Ucapnya yang berhasil membuatku bungkam. Aku tidak menjawab apa pun, bahkan tidak berani menatap wajahnya. Saat ini pun jantungku berdetak tidak normal. Ah semesta ada apa dengan diriku. Gar terlihat sangat biasa, ia bahkan kembali melanjutkan nyanyiannya sambil terus menatap ku. Sore ini, untuk kesekian kalinya tempat ini menjadi saksi atas semua yang terjadi antara aku dengan Gar. Kecupannya di keningku, setiap perkataannya, dan alunan suaranya. Tempat ini menjadi saksi bahwa aku pernah sebahagia itu melewati hari bersama Gar. Gar sungguh aku tidak mengerti ada apa dengan mu, tapi aku harap kamu baik-baik saja di dimana kamu berada. Ya, semoga semesta mau mengabulkan permintaan ku. ::::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN