Semua kejadian semalam masih terngiang di pikiranku, ketika Gar mengecup keningku ku, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya pun masih teringat jelas. Andai saja waktu bisa di hentikan aku pasti akan menghentikannya karena aku tidak ingin moment bersama Gar lenyap begitu saja.
Pagi ini bahkan aku merasa tidak bersemangat karena tidak ada Gar, ia tidak menjemput ku juga tidak mengantar pulang. Entahlah rasanya seperti ada yang kurang dan ini sangat lah tidak enak.
Ternyata begini ya jika sudah nyaman dengan seseorang, rasanya ingin terus dekat saja bahkan jika tidak bertemu sehari hidup jadi terasa sepi. Ah, sungguh aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.
Jam masih menunjukkan pukul setengah lima dan itu tandanya aku masih bisa bersantai sejenak sebelum bersiap-siap untuk ke sekolah.
Tiba-tiba aku teringat dengan Gar, semalam setelah mengantarkan ku pulang ia juga langsung pulang tidak sempat untuk singgah, mungkin karena hari sudah malam jadi ia harus segera pulang.
Ia juga tidak ada menelpon ku, hanya mengirim sebuah pesan bahwa dia telah sampai rumah dan setelah aku membalasnya, ia tidak membalas lagi. Bahkan pesan dari ku pun tidak di bacanya. Aku berpikir mungkin dia ketiduran karena capek dan aku memaklumi itu.
Tangan ku bergerak mengambil ponsel yang berada di meja, mungkin Gar sudah bangun dan ia pasti membalas pesanku semalam. Namun teryata dugaan ku salah, Gar sama sekali tidak ada menghubungiku bahkan pesan semalam masih belum di bacanya.
Semesta kenapa Gar berubah seperti ini, selama aku mengenalnya ia tidak pernah sekali pun lupa untuk mengabariku. Apa mungkin Gar sudah berubah, apa perasaannya padaku sudah tidak lagi sama. Hanya Gar dan semesta lah yang tahu, karena aku tidak sepertinya yang bisa mengetahui isi hatiku tanpa perlu aku kasih tahu.
Sungguh pagi ini adalah pagi yang tidak pernah aku inginkan selama hidupku.
Tetapi mau bagaimana lagi ada atau tidaknya Gar bersamaku, hidupku tetap harus berjalan, aku ke bersekolah untuk membuat ayah bangga, aku harus bangun pagi untuk menyiapkan ayah sarapan. Ya, memang seperti itu harusnya, toh juga Gar tidak pergi, ia hanya sedang sibuk dan aku harus bisa memaklumi itu.
Aku bergegas untuk bersiap-siap, mulai dari mandi, sholat, menyiapkan sarapan ayah, dan setelah itu baru lah berangkat ke sekolah.
"Yah, Rhea pergi, ya," ucapku setelah selesai semuanya.
"Loh, nggak sama Gar?"
"Hm, enggak, Yah. Gar lagi ada urusan jadi nggak bisa berangkat bareng."
"Oh, begitu."
"Yasudah, Rhea pergi ya, Yah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku berjalan gontai menyusuri g**g untuk segera sampai ke halte. Dari rumahku ke halte bus memang tidak terlalu jauh tetapi sama saja semuanya jadi terasa tidak enak tanpa Gar.
Aku bahkan masih berharap Vespa orange Gar muncul dari depan g**g, dengan senyum yang melengkung di kedua sudut bibirnya, lalu berkata 'naik, Rhe.' sungguh aku sangat mengharapkan itu.
Tetapi ternyata tidak, Gar tidak muncul. Bahkan setelah bus yang kutunggu sampai, Gar juga tidak muncul. Ya bagaimana lagi mau tidak mau aku harus naik bus.
Gar benar aku harus bisa mandiri, tidak bergantung dengannya. Karena mau sekeras apa pun aku dan Gar bertahan, jika semesta mengatakan tidak ya pasti tidak. Balik lagi, semuanya adalah rencana semesta.
"Boleh duduk disini?" Seseorang dari sampingku meminta izin untuk duduk dan seperti dia satu sekolah denganku.
"Iya, silahkan."
"Terima kasih."
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Pandangan ku sama sekali tidak melirik ke arahnya, aku fokus melihat jalanan sembari mendengarkan alunan musik dari headset ku.
"Anak Pelita Harapan juga ya?"
Aku melirik ke arahnya, lalu dengan sangat malas melepas headset yang aku gunakan.
"Hehe iya," jawabku sekenanya.
"Kelas berapa?"
"Sepuluh IPA-2."
"Oh, kenalin aku Bima kelas Sebelas IPA -4." Ia menjulurkan tangannya di depan ku, dengan agak sedikit malas aku membalas sambutan tangannya sambil menyebutkan namaku.
"Jadi aku panggilnya Rhea aja?"
"Boleh, karena biasanya orang-orang juga memanggilku begitu."
Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Baru pertama kali naik bus?"
"Enggak, kok, udah lama malah. Cuma beberapa bulan terakhir ini berangkat bareng temen jadi nggak naik bus lagi."
"Oh gitu, pantas nggak pernah kelihatan."
"Hehe iya."
Selesai hanya itu, kami tidak ada mengobrol lagi. Dia fokus pada handphone nya dan aku fokus melihat jalanan yang tampak sangat ramai. Hingga tanpa terasa bus telah sampai, aku langsung turun karena takut terlambat.
"Ongkosnya sama aku aja." Bima, ya namanya Bima, tanpa mengatakan apa pun ia malah membayar ongkos ku, bahkan kami baru bertemu tadi. Tetapi dia sudah bisa melakukan hal seperti itu.
"Ini ongkos tadi." Aku menyodorkan selembar uang lima ribuan ke arahnya, jujur saja aku tidak enak seperti ini apalagi posisinya aku tidak saling mengenal, hanya tidak sengaja bertemu di bus.
"Nggak papa, simpan aja."
"Nggak, aku nggak mau. Ini ambil saja."
"Nggak papa, Rhea, aku ikhlas."
"Iya aku tahu, tadi jujur saja aku tidak suka seperti ini. Jadi ambil saja lagi ongkos tadi."
"Aku nggak mungkin mengambil apa yang udah aku kasih."
"Tapi kan aku nggak ada memintanya."
"Tapi aku ikhlas."
"Tapi aku nggak mau, Bima."
"Oke begini saja, ongkos tadi kamu gantikan saja sama sebotol es yang harganya sama kayak ongkos tadi. Gimana setuju?"
"Tapi--"
"Kalau tidak setuju yaudah, nggak usah kamu kembalikan."
"Oke aku setuju. Tapi di mana aku ngasih es nya ke kamu."
"Nanti kita ketemu aja di kantin, sewaktu Jan istirahat. Sekalian istirahat bareng. Gimana?"
"Hm okey." Dia tersenyum ke arahku, jika diliat-liat senyumnya manis juga.
Ah, Rhe ada apa dengan kamu. Kenapa sekarang kamu jadi genit seperti ini. Kamu lupa kalau kamu sudah memberikan hatimu pada Gar. Aku mengutuk diriku sendiri lantaran bisa sampai sebodoh itu.
"Rhea, kalau gitu saja duluan ya."
"I-iya."
"Sampai jumpa di kantin." Ia melambaikan tangannya ke arahku, dan tanpa sadar aku membalas lambaian tangannya.
Setelah tubuhnya tidak terlihat lagi, aku habis-habisan mengutuk diriku. Kenapa bisa aku menerima ajakannya untuk makan di kantin, padahal ke kantin saja aku sangat jarang. Sungguh tidak mengerti dengan diriku.
Aku memilih untuk segera masuk ke kelas, memulai pelajaran dan fokus mendengar penjelasan guru. Tapi ternyata tidak bisa, aku bahkan tidak bisa fokus mendengar penjelasan guru. Pikiran ku terus saja memikirkan lelaki yang bernama Bima itu. Entah ada apa dengan lelaki itu sehingga ia bisa berhasil memenuhi pikiran ku.
Waktu terus berjalan dan tanpa terasa bel istirahat sudah berbunyi. Semua teman sekelas ku sudah berhamburan keluar kelas, tetapi tidak dengan ku. Aku bahkan masih merasa bingung akan pergi ke kantin atau tidak.
Perjanjian ku dengan Bima tadi masih terngiang tanpa henti, tetapi jujur saja aku tidak suka ke kantin. Di sana ramai, terlalu banyak orang, dan aku tidak suka itu.
Setelah sekian lama berdebat dengan dua pilihan, akhirnya aku memutuskan untuk tidak ke kantin. Mungkin rooftop adalah tempat terbaik untuk ku beristirahat. Biarkan saja Bima menunggu di sana, dan perihal uang ongkos tadi bisa ku bayar lain waktu.
Aku memutuskan ke rooftop secepatnya, takut Bima malah menyusul ku disini. Tak lupa aku membawa headset agar bisa merasakan ketenangan seperti biasanya.
"Ehemm."
Baru beberapa langkah aku keluar dari kelas, suara deheman seseorang berhasil membuatku terdiam di tempat.
"Kantin bukan ke arah situ," ucapnya.
Aku berbalik dan menyengir tak berdosa ketika melihat Bima telah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Maaf, aku nggak bisa ke kantin," ucapku sedikit gugup.
"Kenapa?"
"Nggak papa."
"Nggak papa itu tandanya ada apa-apa."
"Ha, eh, emm emang nggak papa."
"Jadi sekarang kamu mau kemana?" Tanyanya lagi.
"Aku mau ke rooftop, mungkin di sana lebih bagus untuk beristirahat."
"Oke, kita ke sana."
"Ha, kita?"
"Iya, kita. Karena kamu nggak mau ke kantin jadi kita ke rooftop aja. Tenang aja, aku udah bawa makanan juga." Ia menunjukan sebuah kantong keresek yang di tentengnya.
"Tapi--"
"Sudah ayok." Dengan santainya ia menarik tanganku, lalu membawaku ke rooftop sekolah.
Sungguh lelaki ini sangat aneh, ia sama sekali tidak merasa canggung dengan ku padahal kan kami baru saja kenal tetapi dia bersikap seolah sudah mengenalku lama.
"Wahh, enak juga ya di sini, suasananya tenang banget. Malah anginnya sejuk banget lagi." Ia tampak begitu antusias seolah belum pernah ke sini sebelumnya.
"Emang kamu belum pernah ke sini?" Tanyaku.
"Belum."
"Kenapa? Padahal disini suasananya tenang banget."
"Banyak yang bilang rooftop itu angker, dan yang kesini itu biasanya orang yang pemberani."
"Angker gimana? Selama sekolah disini aku justru malah kesini terus."
"Serius?"
"Iya serius."
"Sendirian ke sini?"
"Awalnya sendirian, tapi beberapa bulan yang lalu aku kenal sama kakak kelas disini dan akhirnya kami selalu ke sini bareng-bareng."
"Wih berani banget kamu, aku aja yang udah dua tahun sekolah disini sama sekali ga pernah berani pergi ke sini sendirian."
"Haha dasar penakut."
"Heh apa kamu bilang."
Aku tertawa melihat ekspresi Bima yang terbilang lucu.
"Malah ketawa lagi."
"Suka-suka dong."
"Dih dasar ya, adik kelas yang nggak sopan."
Lagi-lagi aku tertawa dibuatnya. Ternyata Bima ini lucu, ya walau kadang menyebalkan.
"Makan Rhea." Ia menyodorkan sebungkus keripik untukku. "Maaf ya cuma bisa ngasih kamu ini," ucapnya lagi.
"Nggak papa, ini udah enak kok." Aku mengambilnya lalu memakan keripik tersebut.
"Oh iya ini ongkos tadi dan ini yang keripiknya." Aku menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan ke arahnya.
"Sudah lah Rhea, aku ikhlas. Anggap aja itu hadiah untuk perkenalkan kita."
"Haha hadiah perkenalan gimana?"
"Ya, pokonya hadiah. Dan mulai sekarang kita resmi menjadi teman. Gimana deal?" Ia mengacungkan jari kelingkingnya di depan ku. Untuk beberapa saat aku hanya menatapnya, bagaiman mungkin aku bisa memiliki teman lelaki selain Gar. Ah, mungkin jika Gar tahu dia juga akan marah.
"Woy Rhea!"
"Eh, iya."
"Malah melamun lagi. Gimana ni, deal?"
Aku tersenyum. "Deal," ucapku mantap sambil menautkan kedua jari kami.
Mungkin ini adalah salah satu rencana semesta yang mulai terlaksana dari sekian banyaknya rencana. Disaat Gar tidak ada di samping ku, semesta menghadirkan Bima untuk menggantikan sosok Gar.
Bima memang berbeda dengan Gar, tapi setidaknya dia bisa membuatku tertawa sama halnya seperti aku bersama har.
Semesta memang seadil itu.
::::