7. Senja dan Setelahnya

1247 Kata
jika ditanya kebahagiaan  apa yang pernah kutemukan dalam hidup, maka akan kujawab, dipertemukan dengan Gar. Jika ditanya, anugrah apa saja yang telah kudapatkan selama hidup, maka Gar adalah salah satu dari anugrah itu. Jika ditanya, hal apa yang membuatku merasa bahagia, maka Gar jugalah jawabanya. Dengan Gar aku merasa menemukan separuh dari diriku. Separuh yang tersembunyi di dalam diri. Separuh yang tak terlihat lantaran aku yang tak mau mencari tahu. Yaitu, berteman dengan semesta. Ya, selama ini aku tak perduli dengan semesta, sebab terlalu banyak luka yang diciptakan padaku. Dan, saat ini Gar, lah yang berhasil merubah segala mindset-ku selama ini. Gar berhasil merubah pola pikirku. Jika kemarin aku merasa sedikit menyesal, karena Tuhan baru mempertemukanku dengan Gar. Maka saat ini, aku justru bersyukur. Walaupun terlambat yang penting Tuhan mempertemukanku dengannya. Bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Bersama Gar aku menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak hanya itu-itu saja. Lebih berwarna. Matahari sudah mulai tenggelam. Warna jingga juga sudah mulai terlihat. Aku menatap Gar yang sedang sibuk mengukir sebuah pohon ketapang dengan menggunakan paku yang didapat entah dari mana. Pohonnya lumayan tinggi. Mungkin, lebih sepuluh meter dari tinggi badan Gar. "Gar.... " "Iya?" "Kalau aku meminta agar kita tetap di sini, sampai senja terlihat. Kamu mau, gak?" "Menurutmu alasan apa yang membuat saya harus menolak?" "Gar, jangan menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan." "Itu bukan pertanyaan, Rhe. Justru jawabannya." "Jawaban macam apa itu?" "Makanya jawab dulu. Karena cuma kamu yang tahu jawabannya." Aku membuang napas pelan. Baru beberapa hari mengenal Gar, aku sudah tahu bagaimana keras kepalanya dia. "Karena aku yang mengajak, jadi aku gak mau kamu mencari alasan untuk menolaknya." "Yasudah." "Yasudah apanya?" "Kita akan pulang sampai kamu melihat senja." Sebuah senyum tercetak di bibirku. Sekarang aku paham mengapa Gar menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan; karena jawabannya ada padaku. "Kamu suka senja?" "Tidak." "Trus, kenapa mau nungguin sampai senja datang?" "Karena aku pengen lihat senja..., seumur-umur aku gak pernah lihat senja." "Alasannya?" "Terlalu panjang untuk dijelaskan. Intinya, setiap sore menjelang, dan sampai malam, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu ayah." Gar tampak diam sebentar. Matanya menatapku lekat, tapi tangannya terus saja bergerak. Mengukir entah apa. "Kamu nulis apa, sih, dari tadi?" "Nama kita." "Untuk apa?" "Biar pohon ini jadi saksi kalau kita pernah ke tempat ini." Aku tersenyum mendengar ucapan Gar. Entahlah, segala sesuatu yang ada di pikirannya sama sekali tidak bisa ku tebak. "Oh iya, kamu gak papa pulang malam? Ayah kamu gimana?" "Semalam aku udah izin, kok. Dan udah titip ayah juga sama bu Santi, tetangga depan rumah." Gar menganggukkan kepalanya. "Saya boleh bertemu ayahmu?" "Ngapain?" "Cuma mau kenal aja. Gak papa, kan?" "Emm..., boleh aja, sih." Gar tersenyum ke arahku. "Rhe, itu senjanya udah muncul," Ucap Gar semangat. Sontak aku melihat ke arah barat. Mataku berbinar tatkala warna jingga di atas cakrawala terpampang dengan indahnya. Beberapa burung tampak terbang di angkasa, berbaris layaknya kumpulan prajurit. Sedari tadi bibirku terus melengkung. Menampilkan sebuah senyum penuh pesona. Tuhan, terima kasih telah mempertemukan ku dengan, Gar. Entah, untuk ke berapa kalinya aku berterima kasih kepada Tuhan, karena telah mempertemukan ku dengan ciptaannya yang bernama, Gar. Dengan Gar hidup ku yang monoton kini menjadi lebih berwarna, Gar mengajarkan banyak hal pada ku padahal kami baru mengenal, tetapi anehnya Gar selalu berhasil meyakinkan ku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu bisa membuat ku luluh dan mau menurutinya. Lagi-lagi aku berpikir bahwa Gar itu aneh, tetapi lebih aneh denganku yang menerima kehadirannya begitu saja. 《》《》《》 Vespa orange milik Gar berhenti tepat di depan rumahku. Aku turun dari motor antik itu, melepas helm dan memberikannya pada Gar. "Beneran mau ketemu ayah?" Tanyaku memastikan. Gar menjawab dengan anggukan kepalanya. Diletakkan helm yang ia gunakan tadi di atas bangku motor. "Bener banget malah." Jawabnya. Gar langsung berjalan di depanku, seolah lupa bahwa aku lah pemilik rumah ini. Tapi dengan santainya dia berjalan duluan, lalu langsung duduk disalah satu bangku yang ada di teras. "Langsung masuk aja, Gar. Ayah pasti di dalam." "Gak papa?" "Gak papa." Kami berjalan masuk, dan setelahnya ku persilahkan Gar untuk duduk di ruang tamu. "Kamu tunggu sini, ya. Aku mau manggil ayah dulu."  Gar mengangguk beberapa kali.  Ku langkahkan kakiku menuju kamar ayah. Di sana kulihat ayah yang tengah berdoa, mungkin selesai shalat isya.  Dadaku terasa sesak melihatnya. Selama ini ayah tak pernah lalai dalam shalatnya, walaupun kondisinya yang tidak bisa berdiri, ayah tetap menunaikan kewajibannya. Walaupun tidak sempurna. "Rhea, kamu sudah pulang?" Ayah menyadarkan ku dari lamunan panjang.  "Baru kok..., ayah baru selesai shalat?"  "Iya. Kamu udah shalat?" "Emm..., belum, Yah." "Yasudah shalat dulu sana." "Tapi itu, Yah. Teman Rhea datang, katanya mau kenal sama ayah." "Cowok?" Aku mengangguk pelan. "Ternyata anak ayah sudah besar, ya." "Hah? Emm..., itu teman Rhea, kok." Ayah tersenyum. "Yasudah, yuk. Kasihan teman kamu nunggu lama."  Aku mengangguk dan langsung mendorong kursi roda ayah, menuju ruang tamu. Di sana, Gar masih dalam posisi awalnya. Duduk tenang. Ekor matanya bergerak ke arah aku dan ayah, lalu tersenyum. Dia juga bangkit dari tempatnya, kemudian mencium tangan ayah. "Malam, Om. Saya Gar, teman Rhe," ucapnya. Ayah tersenyum ramah. "Silahkan duduk lagi, Nak Gar." Gar duduk di tempat semula.  Sementara aku permisi ke dapur untuk membuatkan secangkir teh dan kopi untuk Gar dan Ayah. "Gar, diminum dulu. Maaf cuma ada teh," ucapku sembari meletakkan secangkir teh dan kopi di meja. "Makasih, ya." Aku menjawab dengan senyuman. "Yah, Rhea ke belakang lagi, ya. Mau bersih-bersih." "Teman kamu ditinggal gitu aja?" "Emm.... " "Gak papa, kok, Om. Saya ke sini kan mau ngobrol sama om," ucap Gar. Ayah terkekeh pelan. Dan setelahnya aku berjalan menuju kamar. Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, aku dapat melihat Gar berbincang dengan ayah. Mereka tampak sudah akrab, dan Gar sama sekali tidak canggung.  Dari sorot matanya aku dapat melihat ketulusan di dalamnya. Ia terlihat sangat menghargai ayah. Tatapannya begitu teduh dan penuh dengan ketenangan, Gar adalah satu-satunya lelaki yang bisa menghargai ayah setelah penyakit ini menimpa ayahku. Tanpa kusadari air mataku terjatuh karenanya. Selama ini-- semenjak ayah sakit dan ibu pergi tanpa kabar, orang-orang selalu menyepelekan kami. Tak jarang ayah jadi bahan ledekan anak-anak tetangga lantaran suara ayah yang tidak jelas ketika berbicara, dan itu karena storke yang diderita ayah selama enam tahun terakhir ini. Selama itu aku mencoba untuk kuat, aku bahkan tidak membiarkan ayah untuk keluar rumah karena aku tidak mau melihat ayah di ledekin oleh anak-anak yang bahkan umurnya berbeda jauh dari ayah. Bukankah orang tua harus di hargai sekali pun ia dalam kondisi yang teramat buruk? Kenapa sekarang nilai moral itu sudah tidak ada lagi di dalam diri remaja zaman sekarang? Ah, rasanya sangat miris.  Zaman sekarang nilai moral itu sudah amat jarang dipunyai oleh anak remaja, semuanya terganti oleh kelakuan barat yang sangat bertentangan dengan norma di negara. Tetapi saat ini, di depan mataku. Seorang lelaki yang baru saja kukenal beberapa hari yang lalu, lelaki yang awalnya ku anggap lelaki aneh. Kini ia sedang berbincang hangat dengan ayah. Dia sama sekali tidak keberatan dengan kondisi ayah. Bahkan ia sangat menghormati lelaki yang amat ku cintai di hidupku. Saat itu juga aku semakin yakin untuk menitipkan seluruh hatiku pada Gar. Menjadikannya pelabuhan pertama dan terakhirku, titik akhir dari segala pencarian ku, dan rumah terakhir untuk tempat pulangku.  Aku jatuh cinta dengan Gar. Rasa tak percaya itu ada. Mungkin terlalu dini untuk menganggap bahwa ini adalah cinta. Dan jujur aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Tapi ku yakini, ini bukanlah rasa terima kasih semata, tapi ini rasa yang benar adanya. Dan ku yakini perlahan aku pasti tahu rasa apa ini sebenarnya. *Tuhan, jika Gar adalah malaikat yang kau kirim untuk mengisi hari-hariku, maka akan ku terima dia dengan amat lapang. Kumohon, jangan biarkan hari yang ku lalui dengannya berakhir dengan air mata. Sebab, saat ini telah ku titipkan segalanya pada ciptaan mu itu. Bukan hanya hati, melainkan hidup ku juga.  *Tuhan, aku percaya rencanamu teramat baik untuk ku dan ku harap setelah semua ini tidak ada lagi tangis yang tumpah, hati yang rapuh, dan jiwa yang tak utuh.  >
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN