Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Gar masih berada di rumahku.
Tadinya dia mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun. Sepertinya semesta belum mengijinkan Gar untuk pulang atau semesta memang sengaja menahannya agar aku dan Gar bisa lebih dekat dan saling menenggak lebih dalam.
"Rhea, Gar, ayah ke kamar duluan, ya. Kalau kalian masih mau mengobrol, gak papa. Yang penting pintu jangan di tutup." Ucap ayah yang kelihatannya sudah mengantuk.
"Duh, gimana, ya, Om. Kalau gitu saya pulang aja, Om." Ucap Gar, mungkin dia merasa tak enak dengan Ayah.
"Eh, jangan, Nak Gar. Di luar masih hujan, nanti takutnya kamu kenapa-kenapa."
"Beneran gak papa, Om. Kalau Rhe tidur terlambat?"
"Kalau om, ya, gak papa aja. Tapi gak tau sama Rhe, nya ...."
"Gak papa, kok, Yah," Jawabku.
Ayah tersenyum dan setelahnya beranjak dari tempatnya menuju kamar.
Dan sekarang tinggal lah aku bersama Gar. Untuk beberapa saat kami saling diam. Tak ada yang bersuara, bahkan deru napas kami juga tak terdengar. Hanya suara hujan dari luar yang semakin deras dan suara kodok yang saling bersahutan-- seolah meminta agar semesta tidak berhenti menurunkan hujan.
"Rhe ...."
"Iya?"
"Keluar, yuk. Kayaknya seru ngobrol di antara hujan."
"Tapi, kan dingin."
"Kalau kamu gak tahan dingin, kamu pakai jaket aja."
"Kamu?"
"Saya, kan, cowok, Rhe. Kalau soal dingin kecil sama saya."
Aku terkekeh pelan. "Yasudah, aku ambil jaket dulu, ya."
Gar mengangguk.
Dan aku berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku langsung membuka lemari. Mengambil jaket berwarna biru muda dan langsung memakainya.
Tak sengaja pandanganku melihat sebuah jaket berwarna hitam yang tergantung rapi di lemari pakaian. Itu jaket Ayah. Dulu, sewaktu kelas enam SD, aku mengambil jaket ayah dari kamar mama. Menjadikan jaket itu penghangat ketika ayah tidak ada. Entah kenapa, ketika memakai jaket itu aku merasa ayah memelukku. Tapi itu dulu, sewaktu ayah bekerja di luar kota. Berbeda dengan sekarang, aku bisa memeluk ayah kapan pun aku mau.
Tanganku bergerak mengambil jaket itu. Tiba-tiba aku teringat akan Gar. Jika kami duduk di luar pasti dingin dan Gar tidak membawa jaket.
Aku menyayangi jaket ini. Tapi tidak ada salahnya kan kalau aku memberikannya pada Gar. Sebab saat ini, aku merasa juga menyayangi Gar. Sama halnya dengan jaket ini. Tetapi bedanya, sekarang aku sudah tidak membutuhkan jaket ini, karena ayah sudah berada di dekatku. Berbeda dengan Gar, aku masih membutuhkannya dan mungkin akan terus membutuhkannya.
Jadi tidak salah kan, kalau aku memberikan barang yang ku sayang untuk orang yang juga ku sayang?
Tak mau membiarkan Gar menunggu lama. Aku langsung melangkahkan kakiku keluar kamar.
"Gar, kamu pakai ini, ya." Aku menyodorkan jaket tadi tepat di depan Gar.
"Ini jaket siapa?"
"Jaket ayah. Tapi udah lama gak dipakai, aku sengaja nyimpannya supaya bisa kupeluk sewaktu ayah gak ada."
"Kalau kamu pinjami ke saya, ntar kamu gak bisa meluk jaketnya lagi, dong."
"Sekarang kan ayah udah ada di sini. Jadi, gak usah meluk jaketnya lagi."
Gar terkekeh pelan lalu mengambil jaket itu dari tanganku. Dia memakainya.
"Hangat, Rhe. Mungkin bekas pelukan kamu masih bersisa."
"Gombal kamu."
Gar terkekeh pelan. Lalu kami berjalan menuju teras. Hujan masih turun, tapi tidak sederas sebelumnya. Semilir angin membuatku sesekali memeluk tubuh lantaran hawanya yang membuat tubuhku menggigil kedinginan.
Untuk beberapa detik kami saling diam. Sibuk menikmati suara hujan dan semilir angin yang bergerak bebas.
"Rhe ...."
"Iya?"
"Saya tadi dengar isi hati kamu, loh."
"Isi hati yang mana?"
"Yang tadi. Sewaktu kamu ngintip di balik pintu kamar."
Aku terdiam sejenak. Bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau Gar bisa mendengar isi hatiku.
*Tuhan, kembalikan waktu beberapa menit ku yang lalu. Biar aku bisa menarik batinku tadi.*
"Gak ditarik juga gak papa."
"Apanya?"
"Batinan kamu tadi."
Aku terdiam sejenak. Tak tahu harus merespon apa.
"Rhe ...."
Entah kenapa aku menyukai jika Gar memanggilku seperti itu.
"Iya?"
"Yang tadi beneran?"
"Apanya, Gar?"
"Suara hati kamu tadi."
"Emm ..., itu--"
"Kalau beneran juga gak papa."
Aku masih diam.
"Tapi kalau bisa, jangan hanya dititipkan. Karena kalau dititipkan kapan saja kamu bisa mengambilnya. Lebih baik diberikan aja, karena nantinya akan jadi milik saya sepenuhnya. Jadi gak ada yang bisa mengambilnya lagi."
"Gar, apaan, sih. Udah, ah, bahas yang lain aja."
Gar terkekeh pelan. "Maunya bahas apa?"
"Apa aja. Yang penting jangan yang tadi."
"Kalau gitu tentang kita aja."
"Gar ...." aku mencubit lengan Gar karas, tapi lagi-lagi dia tak kesakitan. Malah tertawa terbahak-bahak.
"Geli, Rhe."
"Ih, apaan, dicubit kok malah kegelian."
"Cubitan kamu gak ada rasanya."
"Ih, jahat banget." Aku berhenti mencubit Gar. Lalu menatap lurus ke jalanan yang masih dituruni hujan.
"Ngambek?"
"Enggak."
"Tapi mukanya, kok jelek gitu."
"Is, Gar ...."
Gar tertawa keras, diiringi suara petir yang datang tiba-tiba.
Sontak aku mendekatkan tubuhku pada Gar. Dan tanganku mengapit lengannya. Mataku terpejam karena suara petir yang membuatku benar-benar merasa takut.
Tak lama suara petir berhenti dan aku langsung melepaskan kaitan tanganku dari lengan Gar.
"Dih, pegang-pegang."
"Is, tadi aku kaget, Gar."
Gar tertawa pelan. "Rhe, mana handphone kamu?"
"Untuk?"
"Siniin dulu."
Aku mengambil handphone di saku jaket dan langsung memberikannya pada Gar.
Gar langsung menerimanya. "Rhe, kamu cuma ada aplikasi candy crush saga? Gak ada aplikasi lain gitu?"
"w*****d juga ada," jawabku sambil menyengir kuda.
"Bukan itu maksud saya, Rhe. Kamu gak ada aplikasi media sosial? Setidaknya, w******p, gitu?"
"Gak ada."
Kudengar kekehan pelan dari Gar. "Saya installin, ya?"
"Untuk apa? Gak usah, deh, Gar. Gak penting juga."
"Jadi untuk apa kamu punya handphone kalau gak ada nomor yang bisa dihubungin?"
"Handphone aku cuma untuk hubungin ayah aja. Jadi gak perlu pakai aplikasi media sosial."
"Tapi sekarang yang kamu hubungi bukan cuma Ayah, tetapi saya juga."
Aku memalingkan wajahku ke arah lain, mendadak jadi malu.
"Yasudah, kalau gitu gak usah install aplikasi, deh. Biar saya simpan nomor kamu aja. Kita SMS-an sama teleponan aja, ya." lanjutnya lagi.
Lagi-lagi aku tersipu malu dibuatnya.
"Yaudah Gar instal aja, kalau telepon atau SMS nanti kamunya ribet harus beli-beli pulsa."
"Nggak usah, deh, Rhe. Kita SMS dan telepon aja, biar berbeda dari yang lain."
"Tapi ntar kamu ribet beli-beli pulsanya lagi."
"Aku senang, Rhe, dan aku tidak merasa diribeti."
Aku menghela napas pelan, ah, Gar selalu punya jawaban dari setiap perdebatan kami. Dia selalu menang dan aku akan tetap kalah. Dia sungguh laki-laki aneh.
"Nih. Terima kasih, ya." Gar menyodorkan handphoneku.
"Iya."
Kini kami kembali diam. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membatin, karena aku gak mau Gar mendengarnya.
"Rhe ...."
"Iya."
"Besok, berangkat sekolahnya jangan naik bus."
"Kenapa?"
"Kita berangkat bareng, naik orange." Gar melirik vespa orangenya dan aku hanya tersenyum.
"Gak ngerepotin?"
"Gak ada kata repot untuk kamu."
Tuhan, kenapa Gar selalu bisa membuatku tersipu malu kaya gini.
"Gombal," ucapku.
Gar terkekeh pelan.
"Rhe, hujannya udah mulai reda."
"Iya."
"Saya pulang, ya?"
"Kamu yakin? Nanti kalau hujannya turun lagi gimana?"
"Enggak, kok." Gar bangkit dari tempatnya. "Saya pinjam jaketnya, boleh?"
"Yaudah bawa aja."
Gar berjalan ke arah motornya. Setelah berada di dekat motor, dia tidak menyalakan mesin. Malah mendorongnya.
"Loh, Gar, kok didorong?"
"Bising. Nanti ayah kamu keganggu."
"Astaga, Gar, enggak kok."
Gar tetap mendorong motornya, hingga berada tepat di depanku.
"Kamu masuk dulu."
"Kamu yang jalan dulu."
"Kamu dulu. Saya harus memastikan kalau kamu masuk rumah dengan selamat."
"Gar, yang perjalanan jauh itu kamu. Jadi, aku yang harus memastikan kamu selamat."
"Insya Allah saya selamat, Rhe."
Aku menghela napas pelan. "Yasudah, deh. Aku masuk, ya?"
"Iya."
"Kamu hati-hati."
"Iya, puan kecil."
Aku tersenyum, lalu berjalan masuk ke rumah.
"Jangan lupa kunci pintunya," ucap Gar lagi.
Aku mengangguk. Begitu sampai di depan pintu, aku tidak langsung masuk. Melainkan menatap Gar lagi.
"Kenapa gak masuk?" tanyanya.
"Iya ini mau masuk, Gar." aku melambaikan tangan ke arahnya, lalu menutup pintu dan tak lupa mengunci.
Setelahnya pun aku tidak langsung masuk ke kamar, tetapi menintip Gar dari balik jendela. Kulihat di kembali mendorong motornya-- ntah sampai sejauh mana hanya Gar lah yang tahu.
Tepat di tikungan dekat rumahku, Gar berbalik. Melihat ke arah rumahku lagi, sontak aku bergeser sedikit ke arah dinding-- takut Gar melihatku. Dan setelah beberapa detik, aku kembali menintip dari balik jendela. Namun, Gar sudah tak ada. Mungkin dia sudah berbelok.
Entah kenapa ada rasa tidak rela melihat Gar pulang begitu cepat, rasanya masih ingin dekat dengannya padahal sudah hampir seharian kami bersama. Ah, Gar benar-benar bisa menjadi tempat ternyaman untuk aku pulang, dia kini menjadi rumah kedua untukku dan menjadi tempat ternyaman dalam hidupku.
Tiba-tiba handphoneku bergetar dan berhasil membuatku terlonjak kaget. Aku mengambil benda pipih tersebut dari saku jaket dan kulihat ada satu pesan masuk.
Garganteng
Masuk ke kamar. Jangan ngintip terus.
Dan lagi-lagi Gar berhasil memergokiku.