9. Percaya Dengan Gar

1282 Kata
Semalaman aku tidak bisa tidur. Entah kenapa aku terus memikirkan kedekatanku dengan Gar. Hanya berawal dari pertemuan di bus dan kami bisa sedekat ini. Mungkin benar tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah direncanakan Tuhan yang untuk kemudian hari dijadikan sebagai kenangan di masa yang akan datang. Kebahagianku karena kejadian tadi malam masih bersisa dan kini Gar akan kembali membuatku bahagia. Ya, seperti yang dikatakan Gar semalam bahwa pagi ini dia akan menjemputku dan kami akan berangkat sekolah bareng. Jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh tapi Gar belum juga muncul. Dia juga tidak ada menghubungiku. Aku memilih untuk menunggu Gar di teras rumah. Ketika aku membuka pintu, mataku terbelalak kaget lantaran melihat kehadiran Gar yang kini sedang duduk di salah satu kursi yang ada di teras sambil memainkan ponselnya. "Gar ..., kamu udah lama di sini?" Gar menatapku lalu tersenyum. "Pagi, Rhe ...." "Iya, pagi juga ..., kamu udah lama di sini?" "Emm ..., kurang lebih 20 menit." "Astaga, kamu kenapa gak bilang-bilang coba? Kan, aku bisa bukain pintunya." "Sengaja, Rhe. Saya gak mau buat kamu buru-buru, nanti bisa-bisa kamu gak sarapan atau barang kamu ada yang ketinggalan." "Astaga, Gar, justru aku udah siap dari tadi. Aku pikir kamu belum datang, makanya aku nunggu di dalam." Gar tersenyum. "Kangen banget, ya?" "Dih, pd'an kamu," jawabku sambil memalingkan wajah. "Ayah kamu mana?" "Di dalam." "Panggilin, gih, biar kita langsung pamit." Aku mengangguk dan berjalan masuk untuk memanggil Ayah, sementara Gar dia masih menunggu di luar. Setelah mengobrol dengan Ayah sebentar, aku mendorong kursi rodanya keluar. Dan, saat kami sampai di teras, Gar langsung berdiri dari tempatnya. "Om, saya boleh kan berangkat bareng anak, Om?" Ayah terkekeh pelan mendengar pertanyaan Gar dan setelahnya mengangguk. "Kalau gitu kami berangkat, ya, Om." aku mencium tangan Ayah, dan setelahnya disusul Gar. "Hati-hati, ya," ucap Ayah. Aku dan Gar mengangguk bersamaan, dan kami berjalan menuju motor Gar. Gar memberikanku helm, lalu memakai helm-nya juga. Setelahnya, ia menyalakan mesin motor. "Naik, Rhe, " ucapnya. Aku mengangguk dan naik ke atas motornya. Setelah dipastikan aku duduk dengan aman, Gar langsung melajukan motornya. "Rhe, tadi malam kamu tidur jam berapa?" "Apa?" aku bertanya dengan suara keras karena tidak dengar ucapan Gar. Sebenarnya wajar aku tidak mendengar ucapanya, karena suara motor Gar yang sangat nyaring ditambah suara dari kendaraan lain berhasil mengedapkan suara-suara  yang ada di sekitar kami. Alhasil, setiap kali Gar mengajakku berbicara aku hanya bisa ha ho saja karena tidak mendengar ucapannya. "Tadi malam kamu tidur jam berapa?" "Gar, aku gak dengar." "Kamu harus dengar, Rhe." "Apaan, sih, Gar. Aku cuma dengar akhir-akhirnya doang." "Rhe ...." "Iya?" "Nah, itu dengar." "Karena cuma satu kata Gar dan kepala aku juga udah dekat banget sama kamu." "Kalau ini dengar gak?" "Enggak apanya?" "Aku lagi jatuh cinta." "Ish, Gar, aku gak dengar." karena kesal aku memukul bahunya pelan. Bayangkan saja, dia terus berbicara di tengah hiruk pikuk kendaraan. Lalu bagaimana aku bisa dengar? Dia pikir aku dia, yang bisa mendengar isi hati orang lain. "Sama cewek yang udah lama aku kenal." Gar masih saja melanjutkan perkataanya. Malah suaranya makin kecil. Ah, dasar Gar tidak waras. "Bodo, ah!" kesalku. "Dia lagi aku boncengin sekarang." Aku tidak menjawab, karena yang kudengar hanya akhir kalimat yang suaranya sengaja diperbesar Gar. "Namanya, Rhe." "Apa, sih, Gar!" Aku dapat mendengar Gar tertawa, di tambah pundaknya yang naik turun. Entah apa yang ditertawakannya aku tidak tahu. Sungguh Gar sangat menyebalkan, sepertinya dia juga sengaja agar aku kesal padanya. Ah, bahkan sekarang semua perkataan yang tadi diucapkanya malah membuatku jadi penasaran. Motor Gar berhenti di parkiran sekolah dan aku langsung turun dari sana. "Gar, tadi kamu ngomongin apa, sih?" "Apa, ya? Saya juga lupa." Jawabnya sambil menggaruk-garukan tengkuknya. "Ih, ngeselin banget." Gar terkekeh lalu menarik tanganku agar berjalan bersamanya. "Kalau udah waktunya saya kasih tau, deh." "Apanya?" "Obrolan kita di motor tadi." "Obrolan kamu bilang? Yang ada kamu yang berbicara sendiri, aku saja tidak dengar." Gar terkekeh pelan. "Emang kamu nggk mau tahu?" Tanyanya dengan tatapan meledeknya. Aku berdecak kesal, ah dia selalu berhasil membuatku penasaran. "Mau Gar, yaudah buruan bilang." "Nanti kalau sudah waktunya aku bilang, Rhe ..." "Iss, kapan?" "Kalau udah waktunya." "Ya, iya, cuma waktunya kapan, Gar?" "Tunggu aja." aku menghela napas pelan. Keras kepala. Gar sangat keras kepala, selama beberapa hari mengenalnya aku terus saja mengalah setiap kali ada perdebatan seperti ini. Gar selalu berhasil membuatku mengalah dengan setiap perdebatan kami. "Woy, Garal." aku dan Gar menengok ke belakang untuk melihat siapa orang yang memanggil Gar tadi. "Eh, Rian. Apaan?" Gar bertos dengan lelaki yang bernama Rian itu. Aku tak tahu siapa lelaki itu yang pasti dia adalah kakak kelas, sama seperti Gar. "Tumben lo jalan sama cewek. Udah keluar dari zona nyaman, ni, ceritanya?" "Apaan, sih. Gak jelas lo."  "Kenalin ke gue, lah." "Ogah. Dah, gue duluan." Gar melambaikan tangan pada temannya tadi, lalu kembali menggenggam tanganku. Ketika kami berjalan menuju kelas, semua pasang mata menatap ke arah kami tanpa berkedip—terutama ke arahku. Aku gak tahu ada apa dengan mereka semua, yang penting aku merasa tidak ada yang salah denganku apalagi membuat masalah dengan salah satu di antara mereka. "Gar ...." aku berbisik memanggil Gar. "Iya, Rhe?" "Kenapa mereka pada liatin kita, sih?" "Gak usah di perduliin. Anggap aja patung." dan setelahnya aku gak bertanya apa-apa lagi pada Gar. Tapi, entah kenapa aku merasa ini semua ada hubungannya dengan Gar. Terlebih sampai sekarang aku tidak mengetahui persis siapa dia, yang aku tahu dia adalah Gar, lelaki yang aku temui di bus sewaktu pulang sekolah dan selebihnya aku belum tahu—mungkin sebentar lagi aku akan tahu. Kami menaiki tangga menuju koridor kelas sepuluh, Gar masih menggenggam tanganku yang jujur saja membuat aku risih. Tidak, bukan genggaman tangan Gar yang membuatku risih, tetapi pandangan setiap orang yang melihatku tampak sinis. "Gar, sampai sini aja," ucapku "Kenapa?" "Emm, gak papa." "Jangan bohong, Rhe." ah, aku lupa kalau Gar bisa mengetahui isi hatiku. "Aku risih, Gar, diliatin gitu sama siswa-siswi lain." "Kan, udah saya bilang gak usah dipedulikan. Anggap aja mereka patung." aku menunduk sambil menggigit bibir bagian bawah. "Rhe ...." panggil Gar lagi. Aku mendongak untuk melihatnya. "Percaya sama saya, ya. Gak usah perduliin tatapan sinis dari mereka, toh kamu nggak kenal dengan mereka, kan." Ucapnya, tatapan teduhnya menatapku dengan amat lekat. "Gar, aku bisa aja abain pandangan sinis mereka tapi kalau aku tahu masalahnya apa. Sekarang aku gak tahu aku punya masalah apa sama mereka, sampai mereka mandangin aku sinis kaya gitu." "Rhe—" "Gar, aku gak tahu siapa kamu, yang aku tahu kamu adalah Gar, cowok yang aku temui di bus sewaktu pulang sekolah dan selain dari itu aku gak tahu lagi apapun tentang kamu. Aku gak tahu bagaimana kamu di sekolah, aku gak tahu—" "Rhe, percaya sama saya. Perlahan kamu juga akan tahu semua tentang saya, pun dengan saya yang juga akan tahu semua tentang kamu." Aku terdiam. Entah kenapa setiap ucapan yang keluar dari mulut Gar selalu membuatku bungkam, membuatku seolah terhipnotis dan selalu menuruti setiap ucapannya. Ya, lagi-lagi aku meyakinkan diri, bahwa tak ada alasan untuk tidak mempercayai Gar. Hanya itu. "Sudah kan?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Nanti, saya akan beritahu ke kamu semuanya tetapi beri saya waktu ya, Rhe." "Gar, aku nggak tahu apa yang membuat kamu belum siap memberitahukan tentang dirimu ke aku, tapi kalau kamu belum siap untuk ngasih tahu semuanya yaudah nggak papa. Jangan dipaksa," jelasku. Lagian aku tidak ada hak memaksanya untuk memberitahukan tentang hidupnya padaku, toh aku juga bukan siapa-siapanya. Lagi-lagi aku juga harus ingat, kami bahkan baru mengenal beberapa hari. Jadi atas hak apa aku memaksanya untuk menceritakan tentang hidupnya padaku. Aku hanya bisa menunggu, dan jika Gar bersungguh-sungguh aku percaya perlahan dia akan memberitahukan segalanya. "Yasudah, sekarang kamu masuk ke kelas, belajar yang rajin ya, puan kecil." ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku. Aku tersenyum, entah hanya perasaanku saja atau tidak, aku merasa Gar memperlakukan ku berbeda dan sedikit spesial. Aku masuk ke kelas, baru beberapa langkah aku berjalan suara Gar menghentikan langkahku. "Rhe ..." Panggilnya. Aku menoleh untuk melihatnya, "iya, Gar?" "Jam istirahat jangan kemana-mana, ya, saya mau ngajak kamu jalan-jalan lagi," ucapnya dan setalah itu dia pergi begitu saja, sesekali ia juga berbalik untuk melihatku. Aku menatap kepergiannya, ah Gar selalu berhasil membuatku penasaran dengannya. Sungguh Gar adalah tuan penebak yang sangat misterius. :::::::::::::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN