Maafkan seseorang yang telah membuat trauma panjang bukanlah suatu hal yang mudah untuk di lakukan.
~~~~~
Terkadang hal yang paling kita hindari seringkali malah menghampiri dan hal yang paling diinginkan malah beberapa kali memilih pergi.
Hidup bukan hanya tentang bagaimana sekarang kamu melewati untuk hari ini, atau besok kamu melewati untuk hari selanjutnya tetapi lebih dari itu. Sebab akan ada banyak kejadian yang harus melibatkan hari-hari yang akan datang walau dengan satu permasalahan yang sama. Dan hal itu tidak bisa kamu lewatkan.
Seperti saat ini, sesuatu yang sangat aku hindari dan tidak ku harapkan kehadirannya malah muncul lagi di hadapanku. Datang seolah tidak ada kejadian, muncul di depan mata seperti tidak pernah melakukan kesalahan sebelumnya.
"Apa kabar?" tanyanya dengan wajah tidak bersalah.
Tanpa menjawab apapun, aku memilih untuk segera pergi dari sana. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin mengingat potongan-potongan kejadian menyeramkan itu lagi.
Oh iya, ini sudah Minggu kedua aku dan Gar terpisah jarak. Berkomunikasi pun hanya melalui ponsel itu juga tidak terlalu sering karena aku mau Gar lebih fokus kepada Disty dulu dan setelahnya baru aku. Dan untungnya dia juga menuruti.
Ku akui awalnya terasa sangat berat untuk jauh dari Gar. Bayangkan saja selama ini selalu bersama, melewati semuanya bersama namun tiba-tiba harus di pisahkan jarak dan juga waktu, tanpa persiapan apapun.
Mungkin untuk beberapa orang ini bukanlah suatu masalah, tetapi berbeda denganku yang menganggap bahwa ini justru masalah besar. Namun, untungnya seiring berjalannya waktu aku sudah mulai terbiasa dan bisa menerima, pun sudah mulai berani untuk hidup jauh lebih mandiri dari sebelumnya.
Ternyata benar semuanya butuh proses, mau lama atau tidak itu tetap sebuah proses yang pada akhirnya membuat kita jadi terbiasa. Sebab untuk beranjak dari kebiasaan satu ke yang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Sama halnya seperti proses ku untuk melupakan kejadian buruk dan menghilangkan trauma yang bahkan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Melewati beberapa fase menakutkan hingga pada akhirnya aku berhasil melewati semua fase itu— berdamai lalu melupakan.
Tetapi harus digaris bawahi bahwa aku berdamai dengan kejadiannya bukan pelakunya, jadi jangan harap aku akan kembali berteman atau berhubungan baik layaknya seorang teman. Sebab aku bukan Tuhan yang gampang untuk memaafkan.
Hari ini, sewaktu pulang sekolah lelaki yang amat aku benci dan tak ingin ku temui malah muncul lagi di hadapan ku. Mukanya penuh lebam, pelipisnya sobek, bibirnya berdarah, rambut pun acak-acakan. Dengan menggunakan seragam sekolah yang kucel, ia menghampiri ku tepat di persimpangan sewaktu menunggu bus. Ini adalah kali kedua ia menemui ku— setelah yang pertama aku menghindar dan berhasil lolos darinya.
Kali ini aku justru tidak bisa menghindar karena dia sudah benar-benar di hadapanku, sorot matanya menatap manik mataku, dengan wajah tanpa ekspresi ia memandangi ku tak berkedip.
"Rhe, saya ingin berbicara denganmu," ucapnya tersendat-sendat, sesekali ia meringis kesakitan lantaran mukanya yang sudah penuh dengan lebam.
Aku tidak menjawab apapun, hanya terdiam sambil memandanginya penuh kebencian. Tetapi jujur, melihat mukanya yang penuh lebam membuatku tidak tega namun ketika mengingat apa yang telah ia lakukan kepadaku rasa iba itu justru berubah menjadi rasa benci.
"Rhea, aku cuma mau minta maaf sama kamu. Aku sangat meminta maaf atas kesalahan yang udah ku lakukan. Aku benar-benar tidak bisa menahannya, Rhea. Aku khilaf."
Mendengar ucapannya aku jadi ingin muntah, dengan gampangnya ia mengatakan bahwa dirinya khilaf. Jika benar dirinya khilaf kenapa ia mencoba melakukan hal yang sama pada pertemuan kedua kami setelah kejadian itu, kenapa dia tidak langsung meminta maaf dan malah meminta maaf setelah berminggu-minggu kejadian itu.
Tanpa mengatakan apapun, aku mencoba untuk pergi dari sana. Namun, baru saja aku ingin melangkah kan kakiku, dia malah menahan pergelangan tanganku.
"Rhea, aku mohon dengan sangat. Maafin, aku. Aku sangat tidak tenang jika tidak mendapat maaf dari kamu. Sungguh, Rhea. Ku akui pada saat itu nafsuku sedang sangat tinggi, terlebih beberapa hari yang lalu lagi-lagi aku mendengar orang tuaku melakukan itu sehingga membuatku sangat ingin melakukannya. Jujur saja Rhea, sebelumnya aku hanya menyewa perempuan-perempuan malam namun entah kenapa saat itu aku sangat menginginkan mu jadi aku berniat untuk melakukan itu. Maafkan aku, Rhea."
Mendengar ucapannya membuat emosiku semakin memuncak, refleks aku langsung menamparnya sehingga membuat ia meringis kesakitan, terlebih bagian yang ku tampar adalah lebam yang ada di wajahnya.
Bima tidak mengatakan apapun setelah mendapat tamparan dariku, ia malah tersenyum sambil memegangi wajah yang tadi telah ku tampar.
"Kurang Rhea? Kamu mau menamparku lagi? Tidak apa-apa Rhea tampar saja, jika dengan tamparan itu bisa membuatmu puas dan mau memaafkan ku tidak apa-apa Rhea. Kamu boleh menamparku lagi, Rhea. Ayo, Rhea tampar aku lagi.
Sungguh semakin hari Bima semakin tidak waras, ia seperti orang mabuk yang telah kehilangan kesadaran. Ntah apa yang terjadi dengan lelaki itu, yang pasti ku yakin bahwa ia sedang berada dalam sebuah masalah.
Sejujurnya aku tidak tega melihatnya seperti ini, terlebih ketika mengingat bahwa dulu ia adalah temanku— menggantikan sosok Gar untuk beberapa waktu, menjadi seorang sahabat yang menjagaku. Namun, ketika mengingat kejadian itu membuat rasa iba ku hilang begitu saja, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Bima karena kesalahan fatal yang telah ia lakukan padaku.
"Kamu sudah gila atau gimana? Sumpah ya, aku sangat bersyukur bisa tahu sifat kamu yang sebenarnya secepat ini. Mungkin kalau hingga detik ini aku masih percaya sama kamu, hidup aku sudah hancur karena ulah mu." aku menjeda kalimatku sambil terus melihat ke arah Bima dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu ingat, ya, Bim, sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan mu. Mungkin aku bisa melupakan kejadian itu, tetapi bukan berarti aku mau memaafkan mu. Mulai detik ini jangan pernah muncul di hadapan ku apalagi ganggu aku lagi!"
"Rhea, aku hanya ingin meminta maaf. Itu saja, Rhe. Setelah kamu memaafkan, aku janji tidak akan mengganggumu lagi."
"Nggak, Bim. Setelah semua yang udah kamu lakuin aku nggak bisa maafin kamu!"
"Rhea, aku mohon. Maafin aku, aku cuma ingin hidup tenang dan tidak di takuti oleh rasa bersalah seperti ini."
Aku sama sekali tidak menggubris omongan Bima. Untungnya tak lama setelah itu bus yang ku tunggu-tunggu datang, tanpa mengatakan apapun aku langsung naik ke bus itu. Meninggalkan Bima yang terus memanggil namaku sambil mengatakan maaf berulang kali.
Terkadang memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita bukanlah suatu hal yang mudah, karena jika sudah memaafkan sama saja seperti memberikan celah untuknya masuk kembali di hidupku. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi lagi.
[][][][]