56. Pelajaran Baru

1110 Kata
Dewasa bukan hanya perihal umur yang semakin bertambah, tetapi cara berpikir, beban, dan tujuan hidup yang akan semakin memenuhi isi kepala ~~~~~ Setelah kemarin Bima mencoba menemuiku lagi, membuatku lebih berhati-hati ketika berpergian. Bukannya menganggap Bima orang jahat atau pelaku kriminal lainnya, aku hanya tidak ingin kembali memutar kejadian itu sebab untuk melupakannya saja membuatku harus berdiam diri selama berhari-hari. Hari ini juga tepat seminggu aku dan Gar tidak bertemu, karena posisi Gar yang saat ini masih berada di Kanada sehingga membuat kami harus menjalani hubungan jarak jauh. Aku belum menceritakan hal ini pada Gar, sebab aku tidak mau membuatnya cemas dan tidak tenang di sana. Alhasil, aku berusaha untuk menguatkan diriku sendiri agar tidak lagi takut jika berhadapan dengan Bima. Jujur saja sebenarnya aku tidak tega melihat Bima yang seperti mengemis maaf padaku, ia terlihat sungguh-sungguh meminta maaf tetapi entah mengapa aku belum bisa memaafkannya sebab rasa takut itu masih berputar-putar di kepalaku. Hari ini aku mau pergi ke Indomaret sejenak, selain karena bosan di rumah saja aku juga mau membeli beberapa makanan untuk menemani ku selama di rumah. Tadi aku telah meminta izin kepada Gar dan ia mengatakan hati-hati dan jangan lama-lama. Ketika di perjalanan, aku tidak sengaja bertemu dengan kakek tua penjual es tebu di pinggir jalan. Kakek itu terlihat sangat rentan, keriput di dahinya seolah menggambarkan bahwa selama ini ia telah membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Melihat kakek tersebut membuatku teringat pada ayah, selama ini di usia ayah yang sudah tua dan keadaannya yang tidak mendukung untuk bekerja membuat ayah tidak menyerah begitu saja. Ayah masih berusaha sekuat tenaga untuk dapat menghasilkan uang, walaupun itu harus membuatnya lebih ekstra lagi dalam bekerja. Dengan keadaan seperti ini aku berpikir untuk mencari pekerjaan agar bisa membantu ayah, namun ayah tidak mengijinkan begitupun dengan Gar yang juga melarang. Alhasil aku tidak jadi bekerja dan untungnya ada Gar yang sering membantu perekonomian keluarga ku. Sungguh, sebenarnya aku tidak enak jika harus terus-menerus bergantung pada Gar, hal itu tidak seharusnya aku lakukan karena saat ini aku dan Gar masih berstatus sepasang kekasih dan Gar tidak memiliki kewajiban untuk membiayai hidupku dan ayah. Tetapi setiap kali aku mengatakan hal itu Gar selalu saja membantah, ia selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa terbebani, bahkan ia pernah mengatakan bahwa ini sebagai latihan jika suatu saat nanti kami benar-benar berjodoh. Semesta, sungguh aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Gar itu, dia benar-benar manusia berhati malaikat. Aku mencoba untuk mendekat ke arah kakek tersebut, dagangannya masih banyak sepertinya baru terjual sedikit. "Hallo, Pak, es nya berapa, ya?" tanyaku. "Eh, iya, Neng. Per-bungkusnya cuma tiga ribu, kok, neng." "Saya mau tiga, ya, pak." "Baik, neng, tunggu sebentar, ya." Sang bapak terlihat sangat senang ketika aku membeli dagangannya, hal itu terlihat dari senyumnya yang tidak pudar dari kedua sudut bibir. Sambil membuatkan es sang bapak juga bercerita kepadaku mengenai hal random yang di alaminya hari ini. "Neng, orang sini, ya?" tanyanya. "Iya, pak, hehe." "Tapi, kok, saya jarang lihat, ya." "Iya, pak, karena saya jarang keluar terus kan sekarang juga masih sekolah dan pulangnya sore jadi lebih banyak di rumah aja untuk istirahat," jelasku. "Oh, begitu ... saya senang banget loh neng mau beli di tempat saya. Karena dari tadi pagi saya masih laku satu bungkus, untungnya neng-nya beli jadi ada penambahan," ucap sang bapak. Aku tersenyum miris, merasa tidak tega dan bapak itu. Bayangkan saja sejak pagi hingga menjelang sore dagangannya hanya laku satu saja. Ah, ternyata sesulit itu ya mencari uang. "Yang sabar, ya, pak kalau rezeki kan tidak akan kemana." "Iya, neng. Itulah yang membuat saya semangat terus berdagang, karena saya percaya bahwa Allah telah menetapkan rezeki saya." Aku tersenyum, sang bapak terlihat sangat sabar dan tabah. Disaat seperti ini ia masih bisa tersenyum dan tidak mengeluh. "Bapak punya anak?" tanyaku lagi. "Tidak ada, neng. Saya hidup hanya berdua dengan istri, dulu sewaktu setahun menikah kami sempat punya anak cowok tetapi ketika umurnya dua tahun dia meninggal karena terkena penyakit TBC." "Umm, maaf, ya pak saya tidak tahu," ucapku merasa tidak enak. "Tidak apa-apa, kok, neng. Saya dan istri juga sudah ikhlas, mungkin itu sudah takdir Allah, agar di akhirat kelak anak kami itulah yang menolong kami." Sungguh mendengar ucapan sang bapak membuatku merasa sangat sedih, di usianya yang sudah rentan ternyata ia tidak memiliki anak dan itulah penyebab ia harus terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan istri. Ternyata benar, ya, nasib setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang hidup dengan bergelimang harta tetapi ia justru merasa kesepian, ada yang hidup sederhana tetapi ia memiliki anak yang menjadi penyemangat di keluarga, dan ada yang hidup serba terbatas, tidak memiliki anak namun tetap merasa bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah padanya. Rezeki setiap orang memang berbeda-beda namun rezeki itu pasti akan tetap ada. Begitulah cara Tuhan menetapkan sesuatu untuk umat-Nya. Ia tidak memberikan kesulitan di luar batas kemampuan umat-Nya sebab ia tahu bahwa kita mampu melewati semua cobaan itu. Lagi-lagi aku teringat dengan ayah, pikiran ku membayangkan ketika ayah semakin menua nanti sementara aku belum bisa memenuhi kebutuhannya. Sungguh, aku sangat takut dengan hal itu. Aku tidak mau melihat ayah harus bekerja dengan keadaannya seperti sekarang. Ternyata dewasa sesulit itu, ya. Banyak yang harus di pikirkan, bukan hanya masa depan sendiri tetapi masa depan orang tua yang bahkan harus jadi fokus utama seorang anak di usianya yang semakin dewasa. "Sedang melamun ya, neng?" tanya sang bapak yang membuat ku sedikit kaget. "Eh, umm ya gitu, pak," ucapku kikuk. "Hidup ini jangan terlalu di pikiran, ikuti saja alurnya. Tetap berusaha semampu kita, karena yang namanya rezeki akan datang dari mana saja. Yang terpenting jangan berhenti untuk berdoa dan berusaha. Pernah dengar ungkapan usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, kan?" Aku mengangguk. "Nah, ungkapan itu benar. Selama kita terus berusaha dan berdoa, hasil itu akan datang dengan sendirinya. Jadi nggak perlu takut menjalani hidup, karena sebelum kita di lahirkan di dunia Allah sudah menetapkan bagiamana hidup kita. Maka ikuti saja alurnya." "Iya, pak. Terima kasih atas sarannya ya, pak." Sang bapak tersenyum lalu menyodorkan es yang telah selesai di buatnya. Aku tersenyum memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepada bapak tersebut. "Kembaliannya, neng—" "Udah, pak, enggak papa, anggap aja itu tip dari saya untuk bapak karena sudah mau bercerita banyak hal dengan saya." ucapku. Sang bapak tersenyum, "Terima kasih ya, neng." "Terima kasih kembali, pak." Setelahnya aku melanjutkan perjalanan ku, bahkan yang tadinya aku ingin ke Indomaret malah tidak jadi. Setelah aku pikir lebih baik aku membeli makanan di kedai kecil saja, selain biayanya lebih murah, aku juga bisa membantu perekonomian mereka walau tidak begitu besar. Hari ini aku mendapatkan pelajaran baru, pelajaran yang tidak akan pernah aku dapatkan di sekolah yaitu mengenai kehidupan. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN