Jean Seorang Gay?
Suara barang-barang yang di banting tumpang tindih dengan teriakan ganas dari seorang lelaki paruh baya. Nafasnya tersengal, matanya menyala, menatap seorang lelaki yang sedang duduk di depannya dengan tampang tanpa dosa.
Di sebelah lelaki paruh baya tersebut ada perempuan paruh baya yang sedang menenangkan lelaki itu dengan cemas. “Sudah, Pa. Jangan marah-marah. Nanti darah tinggi Papa bisa kumat lagi.”
Suara lembut dan merdu itu tidak menghalau kemarahan yang sudah jelas terlihat berkobar di mata lelaki itu. “Mau sampai kapan Jean? Mau sampai kapan kamu bikin Papa malu?”
Mendengar teriakan sang papa, Jean yang sedari tadi hanya duduk diam akhirnya memberanikan diri untuk menatap mata sang papa. “Bukankah sudah berulang kali Jean katakan kalau Jean tidak ingin dijodohkan?” Suara datar yang dikeluarkan Jean malah membuat sang Papa semakin mengamuk.
“Jean, jangan tidak sopan kamu terhadap orang tua,” bentak Margaret, dia memandang putra semata wayangnya itu dengan tatapan mengiba. Sudah cukup sakit kepala yang dia dan suaminya dapatkan hari ini.
Mendengar Margaret sudah turun tangan memarahi putra mereka, lelaki paruh baya yang biasa disapa ‘Tuan Angkasa’ itu hanya bisa mengatur nafasnya dengan perlahan. Mungkin jika dia masih sembrono melanjutkan kemarahannya maka bisa jadi saat ini dia sedang bercengkrama dengan raja neraka membahas dosa-dosa yang selama ini dia perbuat.
Putra semata wayangnya itu sudah membuatnya sangat malu tadi. Dia sedari seminggu yang lalu sudah mengingatkan putranya bahwa akan ada acara makan malam dengan keluarga Hambara malam ini. Bahkan tadi pagi Angkasa juga kembali mengingatkan Jean. Namun, Jean malah mempermalukannya dengan datang terlambat, bahkan sangat terlambat. Anak itu datang saat orang lain akan pulang. Dan dengan arogannya dia menolak perjodohan yang Angkasa dan Hambara susun untuk anak-anak mereka.
Bukan hanya sekali Jean menolak perjodohan yang dia lakukan. Namun, baru kali ini Angkasa merasa Jean melakukan sesuatu yang benar-benar keterlaluan. Masih jelas dalam ingatan Angkasa saa Hambara, istri, dan anak perempuannya melihat dia dengan pandangan kebencian. Jean benar-benar sudah membuang kotoran di wajah Angkasa dan istrinya.
Angkasa hanya bisa memandangi putranya itu dengan tanpa daya, mata yang mengeluarkan kilat kemarahan langsung redup. Kebimbangan selalu menguasai sudut hatinya, membuat Angkasa benar-benar tidak bisa tidur bahkan beraktivitas dengan tenang.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Angkasa mulai mengeluarkan suaranya yang penuh dengan kebijaksanaan. “Mau kamu itu apa, Jean? Umurmu itu bukan muda lagi. Teman seusiamu bahkan sudah ada yang memiliki anak dua bahkan tiga. Tapi lihat dirimu, jangankan anak, pasangan saja kamu belum punya.”
Jean hanya mendengus dalam hatinya. Di zaman modern seperti ini, mengapa papanya begitu kolot dan tidak pengertian. Dalam kamus Jean tidak ada yang namanya menikah di usia muda. Dia baru dua puluh tujuh tahun, dia seorang pria, bahkan ketika semakin tua umur seorang pria, maka semakin matang dan memiliki karismatik tersendiri untuk pria tersebut.
Jikalau Jean nanti akan menikah di usia tiga puluhan, dia rasa itu tetap normal. Hanya saja sampai saat ini belum ada wanita dari kalangan manapun yang mampu menarik perhatiannya. Belum ada yang bisa membuatnya jatuh cinta. Bahkan wanita-wanita yang telah papanya jodohkan kepadanya.
Tidak ada yang menarik. Mereka hanya menang cantik, tinggi, putih, terawat. Jean selalu melakukan penyelidikan tentang wanita yang akan dijodohkan dengannya sebelum menolak perjodohan yang dilakukan oleh papanya.
Termasuk anak dari Hambara tadi. Dia wanita kelas sosialita yang kerjaannya hanya membuang-buang uang. Bahkan kabar yang didapati Jean kalau anak perempuan Hambara itu sering pergi ke diskotik.
Yah, walaupun itu tempat nongkrong Jean juga, tetap saja dia ingin wanita yang kelak menjadi istrinya adalah wanita sholehah yang tidak mengerti maksiat, yang suci terbungkus rapi tanpa cela, walau namanya manusia itu tempatnya salah.
Tapi dia pikir dirinya sudah benar hanya menerapkan kriteria seperti itu terhadap calon istrinya kelak. Lelaki sebrengsek apapun pasti inginnya mempunyai istri baik-baik.
"Jawab Jean!" Bentakan sang papa mampu membuat Jean kembali ke kenyataan kalau saat ini dia sedang berhadapan dengan amukan sang papa.
"Apa yang harus aku jawab, Pa? Bukankah sudah berkali-kali Jean bilang kalau Jean tidak ingin dijodohkan." Hanya itu yang bisa dia katakan.
Dia takut kalau semakin menanggapi kemarahan papanya malah akan membuat dia menjadi anak yang durhaka.
"Ka-kamu …." Angkasa memegangi dadanya yang semakin terasa sesak karena ulah anak semata wayangnya ini.
"Sudah, Pa. Jean keras kepala sama sepertimu. Kamu marah seperti itu hanya sia-sia belaka. Bukannya membuat Jean menurut malah membuat kesehatan memburuk." Akhirnya Margaret ikut buka suara.
Dia sudah biasa setiap habis pulang dari tempat pertemuan yang menjodohkan anaknya. Pasti akan jadi seperti ini, Angkasa dan Jean akan berseteru, dan diakhiri oleh kekalahan telak Angkasa yang tidak akan bisa membuat Jean menurut.
Angkasa sendiri juga tahu hal itu. Tapi dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya dari pada dia pendam dan menjadikannya hilang kewarasan.
"Terserah mama saja, papa sudah lelah ngingetin di Jean." Ucapan Angkasa membuat lengkungan pada bibir Jean. Hanya mamanya yang bisa membuat sang papa menurut seperti ini.
Margaret memandangi putranya dengan tajam. Sedang yang dipandang langsung bergidik ngeri. Jean selalu tidak bisa berani untuk melawan mamanya.
Sama seperti Angkasa, Margaret adalah seorang yang sangat ditakuti dan disegani dalam rumah ini. Mereka tidak akan bisa membantah setiap perkataan yang dikeluarkan oleh Margaret.
"Jean," panggil Margaret pelan. Namun, suara yang Margaret keluarkan mampu membuat punggung Jean menjadi tegang dan berkeringat dingin.
"I-iya, Ma," jawab Jean dengan terbata.
"Papamu bermaksud baik ketika dia menjodohkanmu. Adapun kamu tertarik atau tidak itu keputusan mutlak berada di tanganmu. Kami sebagai orang tua tidak akan pernah memaksanya." Margaret menjeda ucapannya. Dia ingin melihat Jean, apakah mendengarkan atau tidak.
Dan melihat Jean yang menatapnya dengan patuh, barulah Margaret tersenyum puas lalu melanjutkan perkataannya.
"Tapi ada yang namanya etika dan adab. Walaupun kamu tidak senang dengan perjodohan ini atau tidak tertarik dengan wanita yang kami jodohkan kepadamu, kamu tetap harus datang dan bersikap sopan barulah nanti ketika acara berakhir kamu bisa mengutarakan pendapatmu dengan perkataan yang sopan pula."
Suara yang dikeluarkan Margaret sebenarnya tidaklah keras, suara itu sangat lembut namun penuh dengan ketegasan seolah Jean atau siapapun yang berada di ruangan ini harus menurutinya.
"Maafkan Jean, Ma." Hanya di hadapan Mamanya Jean akan bersikap patuh dan kembali menjadi anak-anak yang menurut pada ibu pada umumnya. "Tapi Jean tetap tidak suka dengan yang namanya perjodohan." Jean menatap lekat pada Angkasa dan Margaret dengan tegas.
Margaret menghela nafasnya perlahan, lalu dia membalas tatapan yang diberikan oleh sang anak. "Jean, apa kamu tahu apa berita yang tersebar di luaran sana? Itulah alasan kenapa Papamu selalu saja ingin menjodohkanmu."
Tenggorokan Jean tercekat. Dia tahu itu namun dia tidak peduli. Tapi siapa sangka sang Mama malah membahasnya dan orang tuanya ternyata sangat memikirkan tentang berita tersebut.
Walau Jean sudah tahu tapi dia tetap bertanya kepada Mamanya seolah dia tidak tahu apa-apa. "Apa, Ma?"
Margaret tahu kalau putranya sedang berpura-pura bodoh, akhirnya Margaret memberikan tatapan tajam kepada Jean sambil berkata dengan dingin, "Berita di luar sana mengatakan kalau kamu itu memiliki perilaku menyimpang. Mereka bilang kamu itu penyuka sesama jenis. Kamu seorang gay."