“T-tante ….“ Suara lembut yang menyiratkan kesedihan menyapa indera pendengaran Erina. Entah benar-benar lembut atau hanya sekedar dilembut-lembutkan saja. Tak ada yang tahu selain wanita itu sendiri. Erina tak langsung menjawab sapaan yang ditujukan kepadanya. Sebaliknya, wanita paruh baya itu justru melangkah mundur, berniat menghindari wanita yang pernah sangat ia sayangi. Dahulu. “Tante …, maksud kedatangan saya—“ “Cukup!” sela Erina cepat. Tak dipedulikannya tatapan sedih wanita yang pernah menjadi kekasih sang putra. “Saya enggak peduli apa maksud kedatangan kamu ke sini. Jadi, jangan berpikir untuk menjelaskan apa pun!” ujar Erina penuh penekanan. “Pada saya, apalagi pada anak saya!” sambungnya kemudian. Setelah mengatakan hal itu, Erina membalikkan badan. Memilih untuk per

