Pria Tak Dikenal
“Bagaimana perasaan anda?”
“Nyonya? Apa yang anda rasa—“
“S-sa-ya …, d-di m-mana?”
Bukan jawaban. Saat mendapat pertanyaan dari pria berjas putih di hadapannya, Arum justru balik bertanya. Suaranya kecil, nyaris tak terdengar oleh siapa pun di ruangan itu. Sang dokter yang berada di sampingnya bahkan sampai harus mendekatkan telinga agar dapat mendengar dengan jelas.
“S-saya k-kenapa?” tanya wanita itu lagi.
Untuk beberapa saat, pria yang berprofesi sebagai dokter itu langsung melirik ke arah beberapa orang rekannya yang juga berada di ruangan tersebut.
Arum tak tahu apa arti dari tatapan mereka, dan ia juga tak peduli pada hal itu. Baginya, yang terpenting saat ini adalah jawaban. Tentang di mana ia berada dan kenapa ia bisa berada di sini.
“Anda di rumah sakit, Nyonya. Anda mengalami kecelakaan, dan terbaring koma selama enam bulan,” jelas dokter tersebut hati-hati.
Arum tertegun. Kecelakaan? Terbaring koma selama enam bulan? Benarkah? Bagaimana mungkin ia bisa mengalami hal setragis itu? Batinnya dibuat bertanya-tanya.
Di tengah-tengah kebingungannya, Arum melirik ke sekitar. Berniat mencari keberadaan orang lain yang mungkin dirinya kenali. Namun, nihil. Tak ada siapa pun, kecuali para dokter dan juga perawat.
Ah, tidak. Tak hanya mereka, di ruangan itu masih ada orang lain. Namun, Arum juga tak tahu siapa dia.
“O-orang tua s-saya di mana?” tanya Arum lirih. Mencoba mengabaikan kehadiran pria lain yang entah kenapa terus melihat ke arahnya.
“Orang tua anda? Beliau—“
“Biar saya yang jelaskan, Dok.”
Perhatian para dokter tertuju ke arah pria yang sejak tadi hanya bergeming. Pun, dengan Arum. Wanita itu menatap pria yang kini mulai berjalan, menghampirinya.
“Anda bisa tinggalkan kami jika memang pemeriksaan telah selesai,” ujar pria itu lagi.
Bagai mendapat titah dari sang raja, para dokter yang mendengar hal itu langsung mengangguk. Kemudian pergi meninggalkan Arum sendiri. Bersama dengan pria yang sama sekali tak ia kenali.
"A-anda s-siapa?" tanya Arum sedikit terbata.
"Enggak penting siapa saya. Yang penting sekarang adalah kesehatan kamu. Jangan pikirkan apa pun, dan fokus saja pada proses penyembuhan," ujar pria itu menegaskan.
Arum terdiam. Tak tahu harus merespons bagaimana saat mendengar perkataan pria yang terlihat seolah-olah peduli pada dirinya.
"Tentang orang tuamu, mereka sudah menyerahkan semua urusan kepada saya. Jadi, jangan khawatir."
Lagi-lagi Arum dibuat terdiam. Entah apa maksud dari kalimat pria itu barusan. Ia pun, tak tahu. Namun, yang jelas, sekarang dirinya malah semakin dibuat bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi dan siapa pria itu sebenarnya.
"Sekarang istirahatlah! Setelah ini akan ada perawat yang bertugas khusus untuk kamu. Jadi, kalau butuh apa-apa, kamu bisa beritahu dia."
Tepat setelah berbicara, pria yang sama sekali tak Arum ketahui identitasnya itu pergi. Meninggalkannya yang sampai sekarang masih diselimuti dengan sebuah tanda tanya besar.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Arum pada dirinya sendiri.
Merasa pening, akhirnya Arum memutuskan untuk tak memikirkan hal itu lagi. Baru saja mencoba memejamkan mata, pergerakan Arum sudah lebih dulu terhenti karena ....
"Tunggu!"
***
"Ada apa, Nyonya?"
"Itu ...." Arum menunjuk ke arah televisi yang berada di ruang rawatnya.
"Orang itu ..., dia yang ada di sini waktu itu, kan?" tanya Arum penasaran.
Ditatapnya wajah sang perawat dengan penuh tanda tanya.
"Benar, Nyonya. Beliau adalah Tuan Farzan, orang yang sudah membawa anda ke rumah sakit ini. Juga merupakan orang yang sudah menanggung seluruh biaya pengobatan anda."
"Suster kenal sama orang itu?" tanya Arum lagi.
Dia tahu kalau orang yang sedang berada di televisi itu adalah orang yang sudah membawanya ke rumah sakit. Juga merupakan orang yang sudah menanggung seluruh biaya pengobatannya. Tentu saja! bagaimana tak tahu kalau para perawat dan para dokter terus-terusan mengungkitnya?
"Tentu saja! Memangnya siapa yang tak kenal pada Tuan Farzan? Lagi pula, kalau tak kenal, bagaimana mungkin saya bisa ditugaskan di sini?" tanya sang perawat balik.
“Maksud saya …, dia itu siapa? Kenapa dia bisa membiayai seluruh pengobatan saya?” Arum memperjelas pertanyaannya beberapa waktu lalu.
"Kalau penasaran, anda bisa mencari informasi tentang beliau melalui internet ataupun televisi, Nyonya,” ujar sang perawat kemudian. “Tentang alasan kenapa beliau yang membiayai pengobatan anda …, maaf, saya tidak tahu. Saya hanya diberi tugas untuk merawat anda saja,” tambahnya.
Mendengar hal itu, Arum lantas menghela napas pelan. Meski yakin bahwa wanita yang tengah merawatnya ini pasti tahu sesuatu, tapi dia tak ingin memaksa.
Biar saja. Nanti dia akan bertanya langsung pada pria itu kalau mereka bertemu. Begitu pikir Arum.
"Ivander Farzan Hutama, siapa sih, yang enggak kenal dengan sosok pengusaha muda yang satu ini?" Suara pembawa acara gosip ternama di salah satu stasiun televisi swasta memenuhi telinga Arum.
Mendengar nama lengkap yang disebutkan oleh wanita yang berada di balik layar kaca itu membuat fokus Arum teralihkan seketika.
"Seperti yang kita tahu, Tuan Farzan ini telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun dengan salah satu model cantik Rachel Isvara, tapi …, tepat satu tahun lalu, kabar keretakan hubungan mereka tercium oleh media. Dan kabarnya, enggak sampai satu bulan setelah kabar miring itu berhembus, Tuan Farzan ini melangsungkan acara pernikahan secara tertutup di kediamannya.”
"Sayangnya--"
"Sudah menikah, rupanya ...," gumam Arum tanpa sadar.
“Sus, boleh saya pinjam handphone suster?” Beralih dari televisi, Arum menatap wanita di sebelahnya. Berniat meminjam ponsel untuk mencoba menghubungi seseorang.
“U-untuk apa, N-nyonya?” tanya sang perawat. Tampak gugup dari nada bicaranya. Entah karena hal apa.
"Saya mau hub--" Belum selesai Arum berbicara, tiba-tiba saja pintu ruang rawatnya terbuka. Menampilkan sosok seseorang yang sejak tadi sibuk wara-wiri di televisi.
'Panjang umur.' Arum membatin. Baru saja dibicarakan, orang yang tengah menjadi topik pembahasan di seluruh negeri muncul di hadapannya.
"Sudah saya bilang, fokus pada proses penyembuhan terlebih dahulu!"
Bukan salam ataupun sapaan, yang keluar dari mulut pria itu pertama kali adalah kalimat penegasan. Entah apa maksudnya.
"Apa sesulit itu menuruti perintah saya?" tanya pria itu lagi. Terdengar tak senang dari nada bicaranya.
Arum tertegun. Lagi-lagi merasa bingung harus berbuat apa saat melihat sikap pria yang terkesan sangat memedulikannya itu.
"Saya hanya menyuruh kamu ber--"
"Sebenarnya anda ini siapa?" sela Arum cepat. Bahkan sebelum pria itu sempat menyelesaikan perkataannya.
"Enggak penting saya siapa. Yang penting--"
"Apa hubungan anda dengan saya? Kenapa anda membawa saya ke rumah sakit ini dan menanggung seluruh biaya pengobatan saya?" tanya Arum bertubi-tubi. Berharap akan segera mendapat jawaban dari pria yang tampak bergeming di depannya. Namun ....
Hening. Tak ada jawaban.
Menghela napas pelan, akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali melayangkan tanya. "Saya enggak tahu anda siapa, dan saya juga enggak tahu apa yang sudah terjadi pada saya sebelum mengalami kecelakaan. Tapi ..., saya dengar anda sudah menikah. Jadi, apa mungkin saya adalah wanita yang anda nikahi, makanya anda bisa bersikap seperti ini?"
-Bersambung-