"Kenapa diam? Apa jangan-jangan dugaan saya benar?"
"Dari mana kamu bisa mendapat pikiran seperti itu?" tanya Farzan balik. Kali ini sembari mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Meski mengalami amnesia, tapi bukankah tebakkan kamu itu terlalu berlebihan? Kamu dan saya ..., bagaimana mungkin kita bisa menikah?" sambung Farzan kemudian.
Jika tadi Farzan yang dibuat terdiam. Maka kini sebaliknya. Arum lah, yang dibuat terdiam.
Benar juga. Bagaimana mungkin dirinya bisa menjadi istri dari orang seperti pria di depannya ini? Diam-diam Arum membenarkan perkataan Farzan.
"Kalau begitu, anda siapa? Dan kenapa anda bisa--"
"Sudah saya bilang, enggak penting saya siapa, yang penting sekarang kamu fokus pada proses penyembuhan terlebih dahulu."
"Dan ingat ..., seperti yang sudah saya bilang waktu itu, kedua orang tuamu telah menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada saya. Jadi, saya harap kamu enggak akan melakukan tindakan-tindakan yang akan merugikan mereka."
"Maksud anda apa?" tanya Arum dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Kamu pasti tahu apa maksud saya.”
***
Ivander Farzan Hutama, nama ini terdengar tak asing di telinga Arum. Entah ia pernah mendengarnya di mana.
Ya, setidaknya itu yang Arum pikirkan saat mendengar penjelasan dokter tentang pria yang berada di ruang rawatnya seminggu lalu.
Namun, tidak dengan sekarang. Lebih tepatnya, tidak setelah dirinya melihat berbagai macam berita yang menyiarkan tentang seorang pengusaha muda yang tengah berada di puncak kesuksesan.
“Jadi, apa rencana anda kedepannya? Setelah berpisah dari—“ Belum sempat mendengar kelanjutan dari perkataan seorang wartawan di balik layar kaca, suara pintu yang terbuka telah lebih dulu mengalihkan fokus Arum.
Sadar bahwa yang datang adalah pria yang sama dengan pria yang sedang diberitakan, membuat wanita itu dengan sigap menekan tombil off pada remot televisi.
“Sebegitu penasarannya kamu tentang saya?” cibir pria itu.
Arum hanya diam. Tak berniat mengiyakan ataupun mengelak cibiran Farzan. Percuma. Begitu pikir Arum. Mau mengelak bagaimanapun juga, dirinya sudah tertangkap basah.
"Bukannya sudah saya bilang untuk fokus dulu pad--"
“Sebenarnya anda siapa?” sela Arum cepat. Tak membiarkan pria di depannya bicara lebih banyak lagi.
Tidak, Arum bukannya ingin bersikap tak sopan kepada orang yang konon telah membiayai seluruh pengobatannya itu. Hanya saja …, ah! Dia tak bisa begini terus.
Maksud Arum, mau sampai kapan ia hidup dalam ketidaktahuan ini? Sudah satu minggu berlalu, tapi sampai sekarang dirinya masih tak tahu tentang apa yang telah terjadi dan siapa sosok Farzan sebenarnya.
“Kenapa anda bisa membawa saya ke rumah sakit? Dan kenapa anda bisa menanggung seluruh biaya pengobatan saya?" Arum mengulangi pertanyaannya tempo hari. Berharap kali ini akan segera mendapat jawaban dari pria itu.
Namun, masih sama. Tak ada jawaban dari Farzan. Hal ini tentu membuat Arum geram hingga akhirnya kembali membuat spekulasi.
"Apa jangan-jangan, anda adalah orang yang sudah menyebabkan saya jadi seperti ini? Anda orang yang sudah menabrak saya, kan?” tanya Arum bertubi-tubi. Terdengar ragu, tapi juga menuntut di saat yang bersamaan.
Jujur saja, Arum tak begitu yakin tentang pertanyaannya barusan. Namun, jika mengait-ngaitkan cerita dari dokter dan juga para perawat, bisa saja spekulasinya barusan itu benar, kan?
Ivander Farzan Hutama, mungkin saja pria kaya raya itu adalah orang yang telah membuatnya jadi seperti ini.
“Kenapa diam? Jangan bilang, apa yang saya—“
“Kalau bukan saya, lantas siapa lagi yang akan membayar biaya pengobatan kamu? Orang tuamu yang hanya sekedar buruh tani itu?” Jika tadi Arum yang menyela, maka kini sebaliknya. Farzan lah, yang menyela perkataannya.
Arum sempat tertegun selama beberapa saat ketika mendengar pertanyaan itu.
“Kalau begitu, berarti benar apa yang saya katakan tadi. Anda adalah orang yang sudah menyebabkan saya jadi seperti ini, kan?” tanya Arum kemudian. Mengesampingkan kenyataan bahwa Farzan tahu tentang pekerjaan kedua orang tuanya di kampung.
“Orang yang menabrak kamu sedang berada di dalam penjara sekarang,” ungkap Farzan cepat.
Arum sempat terkesiap selama beberapa saat. Sungguh! Ia benar-benar tak mengerti apa maksud Farzan sebenarnya.
Maksud Arum, kalau memang bukan Farzan yang menyebabkannya jadi seperti ini, lantas kenapa pria itu ….
“Kalau memang benar begitu, lalu kenapa anda mau repot-repot membayar biaya pengobatan saya? Anda bahkan menempatkan saya di ruangan VVIP, dan itu pasti memakan biaya yang sangat besar, kan?” tanya Arum to the point. “Ah, saya tahu kalau anda adalah orang kaya. CEO dari perusahaan retail nomor satu di negeri ini, tapi untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar secara cuma-cuma kepada orang asing, saya rasa itu bukan hal yang bisa dianggap wajar,” tambah Arum kemudian.
“Siapa bilang saya mengeluarkan uang dalam jumlah besar secara cuma-cuma?”
Arum kembali terkesiap.
A-apa katanya?
“M-maksud a-anda—“
“Kamu sendiri tahu kalau saya ini pengusaha. Jadi, harusnya kamu juga tahu kalau seorang pengusaha enggak akan melakukan sesuatu secara cuma-cuma. Terlebih untuk orang asing.”
GILA!
Arum mengumpat di dalam hati. Sudah dia duga!
Sejak pertama kali melihat Farzan, dia sudah tahu pasti ada yang tidak beres dengan pria itu. Dan sekarang, dugaannya terbukti. Pria yang diagung-agungkan oleh para dokter dan perawat karena kemurahan hatinya itu memiliki niat tertentu.
Ah, menyebalkan!
“Apa mau anda sebenarnya?” tanya Arum menuntut. Memutuskan untuk tak lagi berbasa-basi.
Sementara Farzan …, pria itu tampak tersenyum miring. Merasa lucu dengan sikap Arum yang terkesan tak sabaran.
“Mau saya? Sepertinya terlalu cepat untuk membicarakan tentang apa mau saya. Alih-alih menanyakan hal itu, kenapa kamu enggak menurut dan fokus pada kesembuhanmu dulu? Saya dengar kamu masih belum bisa berjalan dengan benar, kan?”
Benar juga. Lagi-lagi Arum membenarkan perkataan Farzan. Meski sudah sadar sejak seminggu lalu, tapi sampai sekarang dirinya masih belum bisa berjalan dengan benar. Tubuhnya terasa kaku dan sakit di sana-sini. Jangankan berjalan dengan benar, bahkan untuk sekedar berdiri sendiri pun, rasanya sangat sulit.
Ya Tuhan ….
Arum menghela napas pelan. Dia tahu jelas kalau menghadapi pria seperti Farzan bukanlah hal yang mudah. Terlebih, dirinya tak memiliki modal apa-apa untuk melakukan hal itu. Tak usah berbicara tentang uang terlebih dahulu, bahkan modal yang paling utama saja dirinya tak miliki.
Benar, ingatan! Itu adalah satu-satunya modal terpenting yang harus ia miliki untuk menghadapi Farzan. Namun, nyatanya ….
“Sudahlah, jangan berpikir terlalu banyak. Sekarang lebih baik kamu fokus pada proses penyembuhan dulu. Tentang apa mau saya, kita bisa bicarakan itu nanti.”
Mendengar hal itu, Arum lantas menatap pria di hadapannya dengan lekat. Entah kenapa, tapi perasaan seperti ‘ada sesuatu yang tak benar’ selalu saja mengganggu pikirannya.
“Terima kasih atas kemurahan hati anda, tapi mana bisa saya fokus pada kesembuhan kalau—“ Tanpa diduga-duga, Farzan mencondongkan kepalanya ke arah Arum. Membuat perkataan wanita itu terhenti seketika karena ulahnya.
“Kalau? Kalau apa?” tanya Farzan tepat di depan wajah Arum.
Arum menelan salivanya sendiri saat merasakan hembusan napas Farzan di kulit wajahnya.
“Ehm ….” Berdehem pelan, wanita itu lantas memundurkan wajah. “Tolong jangan terlalu dekat, Pak,” ujarnya kemudian.
Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, tapi Arum seperti melihat seringaian di bibir Farzan.
“Oke.” Farzan menggedikkan bahu sebelum kembali ke posisi semula.
“Saya masih ada urusan. Kamu bisa istira—“
“Tunggu, Pak!” tahan Arum cepat.
Tidak. Arum tak bisa membiarkan Farzan pergi begitu saja. Tidak, sebelum dirinya mendapat jawaban dari pria itu.
“Saya enggak tahu siapa anda dan apa yang membuat anda mau menolong saya. Saya juga enggak tahu apa maksud anda tadi, tentang enggak melakukan sesuatu secara cuma-cuma. Tapi terlepas dari apa pun, itu ….” Arum menjeda kalimatnya selama beberapa saat. Mencoba meyakinkan diri sebelum kembali berbicara.
“Saya sangat berterima kasih. Dan anda tenang saja, saya pasti akan membayar semua uang yang telah anda keluarkan untuk biaya pengobatan saya,” ujar Arum penuh percaya diri. "Maka dari itu, tolong beritahu saya, siapa diri anda sebenarnya? Dan apa yang sudah terjadi sehingga saya bisa berakhir di sini?" tambahnya kemudian.
Tidak. Arum tak hanya sekedar membual ataupun berbicara omong kosong. Dirinya benar-benar serius saat berkata akan membayar semua uang yang telah Farzan keluarkan. Yah, meski tidak sekaligus, tapi Arum yakin kalau dia bisa melunasinya dengan cara mencicil.
Berbeda dengan Arum yang tampak sangat serius, Farzan justru terlihat mendengus sebal.
‘Benar-benar keras kepala!’ batinnya mencibir.
“Baiklah. Kalau memang kamu kekeuh mau membahasnya sekarang, saya enggak bisa berbuat apa-apa.” Farzan mulai membuka suara setelah terdiam cukup lama.
Sepersekian detik kemudian, dikeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Lalu diberikannya benda tersebut kepada Arum, setelah membuka sebuah file di dalamnya.
Arum melirik sebentar ke arah Farzan sebelum memokuskan pandangannya pada ponsel tersebut. Dan …, betapa terkejutnya ia ketika melihat ….
“I-ini ….”
“A-apa-apaan ini?” tanya Arum tak percaya. Matanya melotot, napasnya memburu, tubuhnya pun, ikut bergetar saat melihat apa yang ditunjukkan oleh Farzan.
Gila! B-bagaimana mungkin bisa begini?
-Bersambung-