"A-apa ini?" Arum menatap pria serta ponsel di depannya secara bergantian.
"Ini adalah jawaban yang kamu minta sejak minggu lalu," jawab Farzan enteng.
Mendengar hal itu, Arum lantas menelan salivanya dengan susah payah.
"J-jangan bercanda! M-mana bisa ini dijadikan jawaban atas pertanyaan saya!" ujar Arum tak terima.
"Bagian mananya yang enggak bisa dijadikan jawaban?" tanya Farzan balik.
Lelah berdiri, pria itu memutuskan untuk menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang rawat Arum.
"Coba perhatikan. Ini adalah mobil saya yang rusak akibat ulah kamu. Dan ini ...." Farzan menunjukkan bukti pembayaran rumah sakit yang telah ia susun dengan rapi di dalam sebuah file khusus.
"Ini adalah jumlah uang yang telah saya keluarkan untuk biaya rumah sakit kamu selama enam bulan belakangan. Semua tercatat lengkap, bahkan bisa dibuktikan keasliannya," jelas Farzan panjang lebar.
Arum terdiam. Tak bisa berkata-kata, lebih tepatnya.
Gila! Benar-benar gila! Begitu pikir Arum. Bagaimana bisa Farzan menunjukkan hal-hal seperti ini kepadanya?
Maksud Arum ..., dia tahu kalau Farzan sudah menolongnya. Dia juga tahu kalau dirinya wajib mengganti semua uang yang telah pria itu keluarkan. Namun, hei! Apa harus sampai seperti ini?
Dan lagi, apa katanya? Mobil yang rusak karena ulahnya?
"Ini bahkan belum termasuk biaya perbaikan mobil serta biaya tambahan untuk membayar perawat dan dokter spesialis yang saya pekerjakan khusus untuk merawat kamu."
Gila! Kembali Arum mengumpat di dalam hati.
"Kenapa diam? Kaget?" tanya Farzan setelah menarik ponselnya kembali.
Arum tak langsung menjawab. Wanita itu hanya menatap pria di depannya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Berarti benar. Anda yang sudah menabrak saya, kan? Anda juga orang yang sudah--"
"Kamu ini bodoh atau bagaimana? Sudah saya bilang kan, kalau orang yang menabrak kamu sekarang sedang berada di penjara!"
"Tapi mobil ini--"
"Mobil saya ada di lokasi saat kecelakaan terjadi. Sialnya, orang yang menabrak kamu melarikan diri dan saya yang harus membawa kamu ke rumah sakit. Bukan hanya membawa, saya juga harus menjadi penjamin dan membayar seluruh biaya pengobatan kamu." Kembali Farzan menjelaskan.
'Tidak. Ini pasti bohong! Mana mungkin ada kejadian sekebetulan itu, kan?' Sebisa mungkin Arum mengelak di dalam hati.
"Kalau enggak percaya, kamu bisa tanyakan pada dokter. Mereka tahu semuanya!" ujar Farzan penuh percaya diri.
Arum menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
Tidak, Arum masih tak percaya. Sungguh!
"Jangan harap saya akan percaya pada cerita anda, Pak!" elak Arum kemudian.
"Enggak masalah. Saya juga enggak peduli mau kamu percaya atau enggak, tapi yang jelas ..., semua ini benar adanya. Dan kamu ..., kamu memiliki tanggung jawab untuk mengganti seluruh kerugian yang saya alami."
Arum terkesiap. Demi Tuhan, ia benar-benar tak menyangka kalau pria itu akan memintanya mengganti rugi secara terang-terangan begini.
'Enggak. Jangan terkecoh, Arum! Dia pasti cuma sedang mencoba menipu kamu! Ingat! Pengusaha sepertinya itu pasti licik!' Sesuatu di dalam diri Arum memperingati.
"Saya memang akan mengganti rugi, tapi saya enggak akan mengikuti apa yang ada di dalam file itu. Saya akan tanya langsung pada pihak rumah sakit!" sahut Arum kemudian.
Entah datang dari mana kepercayaan dirinya itu hingga bisa berbicara dengan lantang soal mengganti rugi. Padahal, sepeser pun, dirinya tak ingat pernah memiliki uang.
Huh! Tak apa! Yang penting percaya diri dulu! Urusan ada atau tidaknya uang, biarkan lah, itu dipikirkan nanti. begitu pikirnya.
"Silahkan! Kebetulan saya juga enggak mau repot-repot meyakinkan kamu," balas Farzan cuek. Tak ada sedikitpun keraguan dalam nada bicaranya. Dan percaya tak percaya hal ini membuat Arum jadi ketar-ketir sendiri.
Apa benar semua yang dikatakan oleh pria itu? Arum bertanya di dalam hati. Kalau benar, betapa malang nasibnya. Tak hanya mengalami kecelakaan dan menderita amnesia, sekarang dia bahkan memiliki hutang dalam jumlah luar biasa besar.
"Kalau begitu saya pergi dulu. Tentang masalah ganti rugi ini, biar pengacara saya yang berurusan dengan kamu."
Sama seperti biasanya, tanpa banyak berbasa-basi, Farzan meninggalkan ruang rawat Arum setelah merasa cukup berbicara dengan wanita itu. Namun, sebelum benar-benar keluar, pria itu menghentikan langkahnya untuk beberapa saat.
"Ingat, orang tuamu sudah menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada saya. Jadi, saya berhak melakukan apa pun, kalau kamu berani lari dari tanggung jawab," ujarnya mengintimidasi.
Tidak, ini bukan hanya sekedar perasaan Arum seperti biasanya. Arum yakin. Sangat yakin bahwa Farzan sengaja berbicara begitu untuk membuatnya merasa terintimidasi.
***
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa Arum telah menjalani masa pemulihan di rumah sakit selama lebih kurang tiga minggu. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahkan, terbilang sangat baik untuk ukuran orang yang sempat mengalami koma selama berbulan-bulan.
"Kalau keadaannya seperti ini, mungkin besok anda sudah bisa pulang, Nyonya," ujar seorang pria yang sangat Arum kenali.
Dokter Arman, pria berusia sekitar empat puluh tahun itu tersenyum tulus kepadanya setelah melakukan pemeriksaan.
Arum balas tersenyum. "Terima kasih, Dok. Saya enggak mungkin bisa pulih secepat ini kalau bukan karena bantuan dokter," ujarnya sungkan.
Seperti kata Arum, ia tak mungkin bisa pulih dengan cepat kalau bukan karena bantuan pria itu.
Tidak. Arum tak bicara begini tanpa alasan. Selama masa pemulihan, menurutnya Dokter Arman lah, yang paling banyak membantu. Mulai dari memberi motivasi untuk sembuh, hingga memberikan perawatan dengan cara yang sangat berbeda dari dokter-dokter kebanyakan.
"Anda tak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi tugas saya. Oh, ya. Berbicara tentang kepulangan, sepertinya hari ini Tuan Farzan akan datang untuk menyelesaikan administrasi."
Senyum yang semula terpatri di bibir Arum, seketika hilang saat mendengar nama Farzan disebut oleh dokter Arman.
"Maksud Dokter ...."
"Ah, tidak. Saya tidak bermaksud apa-apa." Belum selesai Arum berbicara, Dokter Arman telah lebih dulu menyela. Memberi tahu maksud dari perkataannya beberapa waktu lalu.
"Sepertinya sudah lama sejak terakhir kali saya melihat Tuan Farzan datang. Jadi, saya pikir anda perlu tahu tentang hal ini," ujar Dokter Arman lagi.
Tentu saja jawaban yang Dokter Arman berikan tak sepenuhnya benar.
"Maaf kalau perkataan saya kurang berken--"
"Dok!" Arum menyela perkataan Dokter Arman.
Sambil menatap pria yang tampak salah tingkah itu, Arum berusaha mengatur napas. Berusaha meyakinkan diri untuk bertanya tentang sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya selama beberapa minggu belakangan ini.
"Ya?"
"Kalau boleh tahu, berapa biaya yang harus dibayar Tuan Farzan untuk perawatan saya? Apa jumlahnya mencapai milyaran?"
Akhirnya ....
Arum menarik napas lega saat pertanyaan itu lepas dari mulutnya.
"Saya tidak tahu berapa pastinya, tapi kalau dibilang mencapai milyaran ..., tentu saja! Mengingat perawatan yang diberikan kepada anda adalah perawatan terbaik. Tak hanya dari segi fasilitas, tapi juga dari segi tenaga medis."
"Percaya tak percaya, biaya yang harus dikeluarkan satu malam saja bisa mencapai puluhan juta. Jadi, bisa anda kalikan, berapa biaya yang harus dikeluarkan dalam kurun waktu tujuh bulan ini."
Ya Tuhan ....
Arum menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya serasa tercekat saat mendengar penjelasan dokter. Sungguh!
Rupanya Farzan tak main-main tentang perkataannya tempo hari. Pikiran Arum mulai kacau. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi tuntutan pria itu.
Mengganti rugi dalam jumlah milyaran ....
Dari mana dia bisa dapat uang sebanyak itu?
Ah, gila!!!
"Nyonya?"
Perhatian Arum teralihkan seketika saat merasakan tepukan di pundaknya.
"Ada apa?" tanya Dokter Arman.
Arum menggeleng cepat. "Enggak, Dok. Enggak ada apa-apa," ujarnya sambil tersenyum kikuk.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Arman baru akan bersiap pergi saat itu. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, pergerakannya telah lebih dulu terhenti karena ....
"Baguslah. Kebetulan sekali anda ada di sini."
I-ini ....
Arum menahan napasnya sekarang. Sungguh! Andai bisa memilih, mungkin dirinya akan lebih memilih mati saat kecelakaan itu terjadi daripada hidup, tetapi harus menghadapi situasi seperti ini.
-Bersambung-