Menagih Hutang

1193 Kata
“Karena semuanya sudah berkumpul di sini. Maka saya akan langsung mulai saja.” Seiring dengan keluarnya kalimat tersebut dari mulut Farzan, maka dimulai juga lah, musyawarah penting yang bersifat serba dadakan itu. Ah, entah apa ini bisa disebut sebagai musyawarah atau tidak. Arum pun, tak tahu. Hanya saja, jika melihat bagaimana cara Farzan dalam menyelesaikan masalah ini, maka sepertinya bisa dibilang begitu. “Pak Rama, tolong berikan salinan berkasnya,” pinta Farzan. Terdengar sopan, tapi tak sedikitpun menghilangkan wibawanya. Diam-diam, Arum melirik ke arah Farzan. Juga ke arah pria yang duduk tepat di samping pria itu. “Silahkan, Tuan.” Rama menyodorkan berkas yang telah ia keluarkan dari map kepada Farzan dan langsung disambut oleh pria itu. “ini!” Farzan meletakkan berkas tersebut ke atas meja agar dapat dilihat oleh orang-orang, terutama Arum. “Waktu itu saya hanya memperlihatkan salinan berkasnya melalui ponsel. Itu pun, masih belum terlalu lengkap,” ujar Farzan kemudian. Ditatapnya wajah Arum yang ekspresinya mulai berubah. Dari yang semula tegang jadi berubah pucat pasi. Melihat hal itu, Farzan lantas tersenyum tipis. Bohong kalau dia bilang tak tahu apa alasan di balik perubahan ekspresi pada wajah wanita itu. Ia tahu. Tentu saja! Arum …, wanita itu pasti kaget saat melihat bukti-bukti yang ia lampirkan. “Kamu mungkin enggak percaya dan berpikir bahwa saya hanya sedang membual tempo hari.Enggak apa. Saya paham. Lagipula keadaan kamu masih belum stabil saat itu. Maka dari itu juga saya sengaja enggak datang ke rumah sakit ini selama beberapa minggu belakangan. Dengan harapan kamu bisa fokus pada proses penyembuhan terlebih dahulu." Farzan kembali membuka suara. Dengan tenang ia mengatakan hal-hal yang dinilai perlu untuk Arum ketahui. “Namun, sekarang, karena menurut dokter kondisi kamu sudah sangat membaik, saya rasa kita bisa membahas hal ini kembali." “Langsung saja, Pak. Enggak usah berbasa-basi,” gumam Arum pelan. Sangat pelan, tetapi masih mampu didengar dengan baik oleh Farzan maupun orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Farzan kembali tersenyum tipis ketika mendengar hal itu. Kemudian tanpa berbasa-basi lagi, dia membuka lembar demi lembar berkas tersebut hingga akhirnya tiba pada halaman terakhir. “Seperti yang sudah kamu lihat pada halaman sebelum-sebelumnya, pengacara saya sudah melampirkan bukti-bukti yang diperlukan. Mulai dari foto-foto, hingga nota-nota yang bisa dipastikan keasliannya. Kemudian pada halaman terakhir ini, pengacara saya juga sudah menotalkan, berapa nominal yang harus kamu keluarkan untuk mengganti kerugian yang saya alami,” jelas Farzan panjang lebar. "Kamu berhak untuk enggak mempercayainya, tapi ..., ada satu hal yang juga harus kamu ingat. Saya pun, siap membawa kasus ini ke pengadilan kalau memang kamu ingin membuktikannya di sana." Ya Tuhan …. Arum memejamkan matanya sesaat setelah mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang dikatakan Farzan dengan sopan, tetapi justru terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Ah, Arum tahu kalau tak sepantasnya ia bersikap seperti ini. Kesal pada orang yang bisa dibilang menjadi alasan dibalik kesembuhannya. Hanya saja …, hei! Mau dipikirkan bagaimanapun, tetap saja apa yang Farzan lakukan ini adalah tindakan yang sangat menyebalkan! Maksud Arum, untuk apa pria itu menyelamatkannya, bahkan sampai repot-repot menanggung seluruh biaya pengobatannya hingga sembuh, tetapi pada akhirnya malah meminta ganti rugi dengan cara seperti ini? “Baiklah.” Arum mengembuskan napas sebelum akhirnya membuka mata. “Sebelumnya terima kasih banyak atas kemurahan hati anda yang sudah berkenan menolong saya, tapi seperti yang anda sendiri ketahui, saya sama sekali enggak punya uang. Jangankan uang milyaran seperti yang anda totalkan di sini, bahkan satu rupiah pun, saya enggak punya!” terang Arum dengan nada yang cukup tegas. “Kira-kira, kemana saya harus mendapatkan uang sebanyak itu? Percaya enggak percaya, meski saya bekerja selama dua puluh empat jam sehari dalam waktu berpuluh-puluh tahun pun, saya enggak akan mungkin bisa melunasinya, Pak. Saya ini hanya lulusan SMA, enggak punya pengalam kerja. Di mana ada perusahaan yang mau menggaji orang seperti saya dalam jumlah besar?” tanya Arum bertubi-tubi. Entalah! Arum sendiri tak tahu apakah perkataannya ini bisa dikatakan benar atau tidak. Sopan atau tidak. Namun, yang jelas, memang inilah kenyataannya. Sampai kapan pun, dia tak akan mampu mengganti rugi uang milik Farzan! “Apa saya harus melakukan pesugihan terlebih dahulu supaya bisa dapat banyak uang, lalu mengganti semua uang Bapak?” tanya Arum frustrasi. “Atau saya harus pelihara tuyul? Jadi babi ngepet?” sambungnya kemudian. Gila! Dia pasti sudah gila! Arum merutuk di dalam hati. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu di depan orang-orang yang sangat ‘berpendidikan’ ini. Ah, persetan! Mau dibilang gila sekalipun, Arum tak peduli lagi. Justru bagus kalau dia dianggap gila, setidaknya dengan begitu dirinya bisa lepas dari tanggung jawab membayar hutang. Tunggu! Arum tertegun sebentar, sebelum akhirnya …. “Apa anda tahu di mana saya harus belajar ilmu pesugihan? Atau apa anda tahu di mana saya bisa mencari tuy—" “Tunggu! Tunggu! Sepertinya kamu sudah berpikir terlalu jauh ….” Farzan menginterupsi. Tak membiarkan Arum melanjutkan kalimat-kalimat randomnya. Berbeda dengan Farzan yang tampak frustrasi mendengar celotehan Arum, beberapa orang yang turut hadir di ruangan itu justru tampak menahan senyum. Merasa geli dengan tingkah wanita yang divonis mengalami amnesia tersebut. “Saya tahu kamu pasti kaget melihat nominal ini. Saya juga tahu kalau nominal ini terbilang sangat besar untuk kamu, tapi tenang saja. Saya akan memberi kamu waktu untuk melunasinya. Jadi, jangan—“ “Berapa lama, Pak? Seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun?” sela Arum cepat. “Pak Farzan yang terhormat, sudah saya bilang kan? Meski anda memberi saya waktu sampai berpuluh-puluh tahun sekalipun, saya enggak mungkin bisa mengganti uang itu. Bahkan sampai mati pun, enggak akan bisa!” sambungnya kemudian. Sungguh! Arum benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran pria di depannya ini. Maksud Arum …, jelas-jelas pria itu tahu sendiri kalau dirinya tak memiliki uang sepeser pun. Dia juga tahu kalau orang tuanya hanyalah buruh tani dengan upah harian yang tak seberapa. Lantas, bagaimana bisa dia membahas tentang ganti rugi sejumlah milyaran begini? “Sudahlah, Pak. Bawa saja kasus ini ke pengadilan. Biarkan saya masuk ke penjar—“ “Satu tahun. Kamu bisa melunasinya dalam waktu satu tahun.” Farzan kembali menyela perkataan Arum. Arum yang mendengarnya sontak mengerutkan kening. “Maksud anda apa?” tanyanya kemudian. “Saya punya solusi kalau memang kamu enggak mampu mengganti uang itu.” *** Di tengah gelapnya kamar yang lampunya sengaja ia matikan, Arum melihat keluar jendela. Memperhatikan keadaan taman rumah sakit yang seakan tak pernah sepi oleh pengunjung. Baik dokter, perawat, keluarga pasien, bahkan petugas keamanan pun, masih tampak berlalu lalang di area tersebut. Tatapan matanya kosong, seolah menyiratkan bahwa dirinya benar-benar tengah tak berdaya saat ini. ‘Saya punya solusi kalau memang kamu enggak mampu mengganti uang itu.’ Perkataan Farzan beberapa jam lalu kembali terngiang di telinganya. “Aaarrrgghhh!!!” Arum mengerang frustrasi. Merasa bingung sekaligus kesal pada keadaan yang seolah tak pernah berpihak padanya. “Aku harus apa?” tanyanya pada diri sendiri. Berahap akan segera mendapat jawaban. Entah dari mana. “Huh!” Arum membuang napas kasar. Baru berpikir untuk kembali ke ranjang rawatnya, pergerakan wanita itu tiba-tiba terhenti saat melihat kehadiran seseorang di area taman. Diperhatikannya gerak-gerik orang itu, kemudian entah datang dari mana ..., tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. “Aku tahu harus melakukan apa!” -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN