“Sialan!!!” Sambil meremas selembar kertas yang ia temukan di atas ranjang rawat Arum, Farzan mengumpat.
‘Maaf. Bukan maksud saya ingin lari dari tanggung jawab, tapi saya benar-benar enggak bisa menerima solusi yang anda berikan, Pak. Kalau anda benar-benar enggak terima, silahkan laporkan saya ke polisi. Saya pasti akan menjalani hukuman tersebut dengan lapang d**a jika memang dinyatakan bersalah oleh pengadilan.’ Begitu isi surat yang Arum tulis.
“Bodoh!” Kali ini Farzan mengumpati dirinya sendiri.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Farzan telah memperhitungkan segala hal secara matang sebelum bertemu dengan Arum kemarin. Tentang reaksi yang akan wanita itu berikan, penolakan yang mungkin juga akan dirinya dapatkan dan ..., pelarian.
Benar, Farzan sudah menduga kalau hal-hal seperti ini akan terjadi di kemudian hari. Arum melarikan diri karena tak ingin memenuhi tuntutannya. Hanya saja …, sungguh! Ia tak tahu kalau Arum akan senekat ini. Pergi di saat kondisinya sendiri bahkan belum pulih benar.
Maksud Farzan, dia tahu kalau hari ini Arum sudah diperbolehkan pulang, tapi tetap saja, kan? Diizinkan pulang, bukan berarti wanita itu diperkenankan bertindak sesukanya.
Huh! Farzan menghela napas panjang. “Ada-ada saja!” gerutunya sebelum mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.
Setelah menemukan kontak seseorang di sana, pria itu lantas menekan tombol ‘call’ dan langsung mengarahkan ponselnya ke depan telinga.
“Lakukan seperti yang saya perintahkan kemarin!” titahnya kepada orang yang berada di balik sambungan telepon. “Ingat, jangan sampai ada kesalahan!” titahnya lagi.
Setelah mengatakan hal itu, buru-buru Farzan mematikan sambungan teleponnya. Kemudian mengembalikan ponsel ke dalam saku celana dan bergegas pergi dari ruang rawat Arum yang telah kosong.
Di tempat lain, Arum yang masih mengenakan baju rumah sakit, tak henti-hentinya menengok ke kanan dan ke kiri. Persis seperti seorang buronan yang tengah dikejar oleh polisi.
Bukan tanpa alasan, pasalnya sejak nekat kabur dari rumah sakit tadi malam, dia selalu saja dihantui dengan rasa takut. Takut kalau-kalau ada orang yang mengenalinya. Dan takut kalau ternyata Farzan benar-benar melaporkannya ke polisi seperti yang ia tuliskan dalam surat.
Tidak, Arum bukannya tak ingin bertanggung jawab ataupun mengingkari janji. Ia mau bertanggung jawab, hanya saja tidak sekarang. Pertama-tama, dirinya ingin kembali ke kampung halaman terlebih dahulu. Bertemu dengan kedua orang tua dan meminta maaf karena telah membuat mereka khawatir.
“Arum mau pulang, Bu, Pak, tapi gimana caranya? Arum enggak punya uang. Arum juga enggak tahu harus pergi kemana.” lirih Arum di bawah teriknya sinar matahari pagi.
Merasa pening, serta kelelahan setelah berjalan selama berjam-jam, membuat Arum memutuskan untuk beristirahat sebentar di belakang halte bus. Bergabung bersama beberapa orang yang juga tampak tengah beristirahat di sana.
Arum memperhatikan orang-orang dengan pakaian yang sedikit compang-camping itu. Hatinya meringis, membayangkan betapa sulitnya hidup mereka. Namun, sepersekian detik kemudian, wanita itu justru tersenyum getir.
‘Bisa-bisanya mengasihani orang lain, sementara hidupmu sendiri lebih menyedihkan!’ Sesuatu di dalam diri Arum berbicara. Entah berbicara atau justru menyindir. Arum pun, tak tahu. Namun, yang jelas semua itu benar adanya.
“Mau jadi pengemis juga, Mbak?”
Pertanyaan itu membuat tawa getir di bibir Arum menghilang seketika. Tak hanya menghentikan tawa, wanita itu juga turut mendongak, menatap ke arah sumber suara.
Di sana, tepat di bawah pohon yang terletak di samping halte bus, tampak seorang wanita muda tengah memangku seorang balita.
“Kalau mau, saya bisa ajarkan caranya, Mbak,” ujar wanita itu setengah berbisik.
Arum tak merespon. Hanya saja, sorot matanya menyiratkan keraguan.
"Mau, Mbak?" tanya wanita itu lagi.
“Saya eng—“
“Mbak ke sini karena enggak punya uang, kan?” sela wanita itu cepat. Bahkan sebelum Arum sempat menyelesaikan perkataannya.
Diam-diam, Arum membenarkan perkataan wanita itu dari dalam hati. Ia memang duduk di sini karena tak memiliki uang sepeserpun. Hanya saja ….
“Jangan takut, Mbak. Saya enggak minta bagian, kok,” bisik wanita itu. Kali ini sembari terkekeh pelan.
Sepersekian detik kemudian, dia mendekat ke arah Arum. Bukan dengan berjalan, tetapi dengan cara mengesot.
“Baju yang Mbak pakai sudah cocok, kok. Tinggal dirobek sedikit, terus dikasih tanah biar kotor.” Wanita itu memberi saran. “Nanti bilang aja kalo Mbak diusir dari rumah sakit, terus enggak punya uang buat bayar biaya operasi. Bilang juga kalau Mbak harus bayar hutang. Pasang ekspresi sememelas mungkin. Pasti banyak yang kasihan, Mbak!” sambung wanita itu penuh percaya diri. Persis seperti seorang pengusaha yang tengah mengajarkan strategi bisnis.
“Minggir dulu, Nak,”
Setelah menurunkan balita dari pangkuan, wanita itu mengorek tanah di bawahnya menggunkakan tangan kosong.
Setelah merasa cukup kotor, tanpa berbasa-basi lagi, diusapnya wajah Arum. Mulai dari pipi kanan, pipi kiri, kening, hingga leher. Tak ada sedikitpun yang terlewat.
Arum merasa risih, ia berusaha menolak. Namun, perkataan wanita itu membuat mulutnya bungkam seketika. Tak bisa berkata-kata karena kisah pilu yang dibagikannya.
“Hidup di kota besar gini susah, Mbak. Kalo enggak pintar-pintar memanfaatkan keadaan, kita enggak akan dapat uang. Terus kalo enggak punya uang, mau makan pakai apa? Saya tahu kok, Mbaknya pasti enggak pengen ngemis. Sama, saya juga. Tapi ya mau gimana lagi? Saya enggak bisa kerja karena enggak ada yang jaga anak saya.”
“Memangnya suami Mbak kemana?” tanya Arum tanpa sadar. Entah kenapa, meski tak berniat menanyakan hal ini sedikitpun, tapi mulutnya tetap saja terbuka.
“Saya ditinggalin suami, Mbak. Dia lebih milih pergi sama mantan pacarnya. Katanya dia juga enggak pernah cinta sama saya,” jawab wanita itu cepat. Seolah tak keberatan membeberkan masalah pribadinya kepada Arum.
“Huh! Laki-laki memang begitu, enggak ada yang bisa dipercaya. Mereka maunya seneng terus. Kalau sudah bosan sama satu cewek, tinggal bilang sudah enggak cinta lagi. Padahal itu cuma alasan yang dibuat-buat aja supaya enggak perlu repot-repot bertanggung jawab!"
"Lagi pula, kalau memang enggak pernah cinta, ya harusnya jangan menikah dari awal, kan? Buat apa menikah kalau ujung-ujungnya cuma mau menyakiti?”
Arum terdiam cukup lama setelah mendengar kalimat demi kalimat yang menyiratkan kekecewaan itu. Entah kenapa, tapi hatinya serasa ikut teriris, seolah-olah dirinya pun, pernah mengalami hal yang sama. Ditinggalkan dengan kejam.
Tidak! Mana mungkin, kan? Jelas-jelas dirinya tak pernah menikah. Ah, jangankan menikah, bahkan berpacaran pun, ia tak pernah. Lantas, bagaimana mungkin bisa ditinggalkan dengan kejam?
Ya Tuhan ….
Arum menggeleng-gelengkan kepalnya pelan saat tersadar dari lamunan.
“Maaf, Mbak. Saya enggak bermaksud—“
“BAGUS!!!"
Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Arum membeku seketika saat mendengar suara itu.
I-ini ….
Ini suara Farzan, si penagih hutang. Arum yakin betul akan hal itu.
‘Mampus kamu, Rum!’ batin Arum mengejek.
“Di sini rupanya, kamu!” seru Farzan dengan nada tak senang.
Arum meringis pelan. Ia tak ingin tertangkap. Namun, juga tak tahu harus melakukan apa agar bisa menghindar dari Farzan. Mau berlari, tapi kakinya terlalu lemas. Mau berteriak pun, sepertinya akan percuma.
“Ayo!” Tanpa berbasa-basi lebih lama lagi, Farzan meraih sebelah pergelangan tangan Arum. Berniat menarik wanita itu dan membawanya pergi sebelum dilihat oleh banyak orang.
“Lepaskan saya, Pak!” tolak Arum pelan. Berusaha memberontak, meski tubuhnya masih terlalu kaku untuk digerakkan.
Melihat hal itu, pengemis wanita yang sebelumnya mengotori wajah Arum lantas berdiri. Kemudian membawa tubuh sang anak ke dalam gendongannya.
“Jangan macam-macam kalau enggak mau saya panggilkan polisi!” ancam wanita itu. Berusaha menyelamatkan Arum yang ia pikir tengah diganggu oleh pria jahat.
“Silahkan saja! Tapi sebelum kamu melakukan itu, saya akan lebih dulu memanggil Satpol PP untuk menangkap pengemis yang mengganggu ketertiban umum seperti kamu ini!” balas Farzan sengit.
“Saya juga bisa panggilkan polisi untuk menangkap kamu karena sudah mengajarkan tindakan buruk kepada istri saya!” sambung Farzan penuh penekanan.
Merasa terancam, akhirnya pengemis wanita itu memutuskan untuk pergi bersama sang anak tanpa memedulikan Arum lagi.
Sementara itu, Arum yang sebelumnya sempat memberontak, kini hanya dapat terdiam bisu sembari menatap Farzan dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
“Apa maksud anda, Pak?”
“Istri? Sejak kapan saya menjadi istri anda?” tanya Arum bertubi-tubi.
Farzan tak langsung menjawab. Sebagai gantinya, pria itu membalas tatapan Arum dengan sorot mata tajam dan menusuk.
“Apa maksud anda, Pak?” tanya Arum lagi. Kali ini terdengar lebih menuntut dari sebelumnya.
“Alih-alih bertanya tentang itu, bukankah harusnya sekarang kamu menjelaskan tentang tindakan gila yang kamu lakukan ini?” tanya Farzan balik.
“Kabur dari rumah sakit dan berniat lari dari tanggung jawab. Enggak cukup dengan hal itu, sekarang kamu bahkan berniat menjadi pengemis di jalanan. Apa yang ada di pikiran kamu sebenarnya, Arum?!”
“Apa kamu enggak memikirkan nasib kedua orang tuamu di kampung?” Suara Farzan melemah saat menyinggung tentang kedua orang tua Arum.
Hal ini tentu membuat Arum bertanya-tanya. Memang apa hubungannya ia lari dari tanggung jawab dan menjadi pengemis dengan nasib kedua orang tuanya di kampung?
“Maksud anda?”
“Kamu pikir saya akan melepaskan orang tuamu, meski kamu menghilang ataupun masuk penjara, ha?”
Arum terkesiap. “A-apa—“
“Enggak, Arum! Meski kamu masuk penjara sekalipun, saya enggak akan melepaskan mereka! Hutang tetaplah hutang!”
“Jadi, lebih baik kamu pikirkan tawaran saya kemarin." Farzan kembali memelankan suara.
“Berhenti melakukan hal yang sia-sia! Kalau enggak bisa membayar dengan uang, maka bayarlah dengan tubuhmu!”
-Bersambung