Tawaran Gila

1406 Kata
“Ini adalah solusi terbaik yang bisa saya berikan ke kamu.” Farzan menatap wanita di depannya dengan perasaan bercampur aduk. Ada rasa heran, kesal dan kecewa dalam dirinya saat melihat penampilan Arum yang jauh berbeda dengan yang terakhir kali ia lihat. Wajah kotor, serta baju yang tampak sangat lusuh. Ya Tuhan …. Farzan memejamkan matanya sesaat sembari mengatur napas. Berusaha meredam emosi yang sejak tadi tak kunjung menghilang dari dalam dirinya. “Terima saja tawaran saya. Itu jauh lebih baik dibandingkan menjadi pengemis seperti ini!” ujar Farzan penuh penekanan. Arum mendengus sebal. Merasa kesal pada perkataan Farzan yang terkesan sangat merendahkannya. “Saya enggak pernah berniat menjadi pengemis, Pak!” elak Arum tak terima. “Oh, ya? Lalu apa yang kamu lakukan tadi? Enggak berniat menjadi pengemis, tapi terima-terima saja saat diperlakukan seperti itu oleh pengemis lainnya.” Farzan menyindir. Masih dengan rasa kesal yang membuncah. Arum kembali mendengus. Sungguh! Benar-benar menyebalkan rasanya mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Farzan. “Terserah anda mau percaya atau enggak. Lagipula, mau saya menjadi pengemis atau enggak, apa urusannya dengan anda?” tukas Arum dengan nada tak senang. Berbeda dari sebelumnya, Farzan yang semula tampak memberengut kesal, kini justru tersenyum sinis saat mendengar kalimat Arum. “Apa hubungannya dengan saya, kamu bilang? Jelas saja berhubungan, Arum! Kamu itu calon istri saya. Apa kata orang nantinya kalau mereka sampai tahu bahwa Ivander Farzan Hutama memiliki istri seorang pengemis?” tanya Farzan bertubi-tubi. Sengaja ia menekan beberapa kata dalam kalimatnya. Berharap dapat memberikan penegasan kepada wanita yang berpenampilan tak ubahnya seorang gelandangan itu. “Ingat, Arum, kamu masih berhutang dengan saya. Sebelum hutang itu lunas, maka jangan berpikir untuk melarikan diri lagi!” Farzan kembali menegaskan beberapa hal kepada Arum. “Karena percaya lah, bahkan meski kamu melarikan diri ke ujung dunia sekalipun, saya pasti akan tetap mengejar kamu! Jadi, berhenti melakukan tindakan yang sia-sia!” Farzan mengakhiri kalimatnya setelah merasa cukup memberi peringatan kepada Arum. Tidak, apa yang dia katakan barusan tentu belum cukup untuk membuat Arum berhenti berusaha melarikan diri darinya. Farzan tahu betul akan hal itu. Hanya saja ..., ah, ia tak ingin terlalu terburu-buru. Lagipula, dia yakin betul kalau Arum tak akan berani berpikir untuk melarikan diri lagi selama beberapa hari ke depan. Itu yang Farzan pikirkan, setidaknya sebelum …. “Ayo kembali bersama saya!” titah Farzan sembari meraih sebelah tangan Arum. Berniat membawa wanita itu kembali ke mobil dan pergi bersamanya. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, Arum justru telah lebih dulu memberontak. “Anda mungkin berpikir kalau apa yang saya lakukan ini sia-sia, tapi percaya lah, Pak, saya akan lebih merasa bahwa hidup saya jadi sia-sia jika menerima tawaran gila yang anda berikan!” tegas Arum setelah berhasil melepaskan tangannya dari cekalan Farzan. “Apa kamu bilang?” Farzan menatap tak percaya ke arah Arum. Sungguh! Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita di depannya ini. Maksud Farzan, bagaimana bisa Arum berpikir bahwa hidupnya akan jadi sia-sia jika menerima tawaran yang dirinya berikan? “Jadi, kamu lebih memilih menjadi pengemis dibanding menikah dengan saya?” tanya Farzan kemudian. Arum tak menjawab, tetapi juga tak langsung mengelak. Sebagai gantinya, dia menatap mata Farzan dengan lekat. Berusaha menegaskan bahwa dirinya tak takut sama sekali pada ancaman pria itu. “Sebegitu buruknya kah, saya di mata kamu, sampai kamu membuat keputusan seperti ini?” tanya Farzan lagi. Kali ini dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih pelan dibanding sebelumnya. Entahlah! Arum tak tahu apa maksud Farzan hingga bisa berbicara dengan nada seperti itu. Namun, yang jelas, ia tak akan terkecoh. “Ini bukan tentang buruk atau baiknya anda, tapi tentang hati nurani, Pak! Bukan hanya saya, tapi semua wanita normal pun, pasti akan lebih memilih menjadi pengemis dibanding menikah dengan pria yang jelas-jelas sudah beristri!” sahut Arum setelah sempat terdiam cukup lama. Seperti yang Arum bilang, ini bukan tentang siapa Farzan dan bagaimana sifat pria itu, tetapi tentang hati nurani. Maksud Arum, hei! Jelas-jelas semua orang juga tahu kalau Farzan telah melangsungkan pernikahan satu tahun lalu. Lantas, bagaimana mungkin pria itu memberikan tawaran pernikahan kepadanya sebagai jalan penebus hutang, di saat dia sendiri sudah beristri? Ini gila! Mau dipikirkan bagaimana pun juga, tetap saja ini gila! Andai Farzan memintanya menjadi pembantu seumur hidup di kediaman pria itu, mungkin Arum akan terima-terima saja. Bahkan meski tak digaji sekalipun. Namun, pernikahan? Ah, Arum tak segila itu! Walau bagaimanapun juga, dia adalah wanita. Dan ia sendiri tahu betul bagaimana sakitnya dihianati. Dihianati …. Arum tertegun selama beberapa saat. Entah kenapa dia merasa tak asing dengan sepatah kata ini. “Jangan bermimpi! Aku enggak pernah mencintai kamu, Arum!” “Ssshhhh!!!” Arum meringis kesakitan saat sebuah kalimat melintas di kepalanya. Kalimat yang terdengar sangat nyata, tapi tak tahu datang dari mana. Hal ini tentu tak luput dari perhatian Farzan. Sadar bahwa kondisi Arum sedang tak baik-baik saja, dia lantas menggendong Arum dan membawanya ke mobil tanpa memedulikan pemberontakan yang wanita itu berikan. Persetan dengan penolakan! Begitu pikir Farzan. “Turunkan saya, Pak!” Arum terus memberontak di tengah rasa pening yang melanda. Bukan hanya pening, tetapi juga …. “Pak Farzan! Tolong turunkan saya!” Kembali Arum memberontak saat tak melihat tanda-tanda bahwa Farzan akan menurunkannya. “Pak—“ “Diam atau saya akan bertindak lebih kurang ajar dari ini lagi!” sela Farzan cepat. “Patuh lah, Arum! Semakin kamu patuh, semakin tenang juga hidupmu," sambungnya kemudian. Arum tertegun. I-ini …. *** “Bagaimana?” “Tidak apa, semua hasil pemeriksaan normal. Hanya saja, saya sarankan agar Nyonya Arum tidak melakukan aktifitas yang terlalu berat dulu. Mengingat beliau belum lama pulih dan kondisi tubuhnya tidak sekuat orang-orang kebanyakan,” jawab Dokter Arman hati-hati. Arum tak menjawab, wanita itu hanya mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dirinya berterima kasih. “Kamu dengar itu kan, Arum? Kondisi kamu belum pulih benar. Jadi, tolong berhenti melakukan tindakan-tindakan seperti tadi!” Farzan menimpali. Memutar bola matanya malas, Arum lantas membuang pandangan ke arah lain. Tak ingin melihat wajah Farzan, bahkan meski pria itu terus melihat ke arahnya. “Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan, Nyonya,” pamit Dokter Arman. Selepas kepergian Dokter Arman, Farzan meraih sebelah tangan Arum yang terletak di atas paha wanita itu. “Jangan mengabaikan saya,” ujar Farzan kemudian. Nada bicara terdengar jauh berbeda dari biasanya. Jika biasanya Farzan akan berbicara dengan nada ketus, sinis ataupun mengintimidasi, maka kini berbeda. Pria itu berbicara dengan lembut, seolah-olah Arum adalah wanita yang sangat ia puja-puja. Hal ini tak luput dari perhatian Arum. Tentu saja! Walau bagaimanapun juga, dia sudah hapal bagaimana cara Farzan berbicara. Jadi, menyadari perubahan seperti ini, tentu bukan lah, perkara yang sulit. “Lihat wajah saya, Arum.” Jika tadi Farzan meraih tangan, maka kini pria itu meraih dagu Arum dan menariknya sedikit agar wanita itu menghadap ke arahnya. “Saya tahu, mungkin ini terlalu tiba-tiba untuk kamu. Dipaksa menikah oleh pria yang tak dikenal memang bukan hal yang bisa diterima dengan lapang d**a, tapi meskipun begitu, saya harap kamu percaya kalau saya enggak memiliki niat buruk sedikit pun,” ujar Farzan. Berusaha meyakinkan Arum bahwa dirinya tak memiliki niat buruk kepada wanita itu. “Saya akui, saya memang memiliki tujuan khusus, makanya meminta kamu menerima tawaran itu, tapi percayalah, ini enggak akan merugikan kamu ataupun orang lain sedikit pun, Arum!” ujar Farzan lagi. Masih berusaha meyakinkan Arum. “Satu tahun. Saya hanya perlu waktu satu tahun. Setelah itu, kamu bisa bebas dan semua hutang-hutangmu akan saya anggap lunas. Bukan hanya itu, saya juga akan memberikan tunjangan kepada kamu dan kedua orang tuamu setelah pernikahan itu berakhir.” “Jadi ….” Farzan menjeda kalimatnya selama beberapa saat. Mencoba mengatur napas serta detak jantungnya yang entah kenapa jadi berdebar tak karuan. 'Gila! Bisa-bisanya seperti ini!' Farzan menggerutu di dalam hati. Sementara Farzan sibuk menormalkan detak jantungnya, Arum justru menatap pria itu dengan perasaan berkecamuk. Bingung. Itu lah, kata yang paling mendeskripsikan perasaan Arum saat ini. Di satu sisi, Arum masih sama seperti sebelumnya, tak ingin menerima tawaran gila Farzan. Namun, di sisi lain, ia juga merasa kalau tawaran pria itu adalah solusi terbaik untuk permasalahan yang tengah dirinya hadapi saat ini. Ah, entahlah! Arum tak tahu! Permasalahan ini terlalu pelik untuk dirinya hadapi sendiri. “Saya—“ Arum baru berencana menolak lagi saat itu. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, Farzan telah lebih dulu menyela perkataannya. “Mau kah, kamu menikah dengan saya?” Arum kembali tertegun beberapa jenak. I-ini …. -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN