Dilema

1158 Kata
“Kamu bisa tinggal di rumah ini untuk sementara waktu. Akan ada beberapa asisten rumah tangga, serta satpam yang saya tugaskan untuk menjaga kamu,” ujar Farzan menerangkan. “Nanti setelah akad nikah dilangsungkan, kita akan pindah ke rumah keluarga besar saya,” tambahnya kemudian. Setelah mengatakan hal itu, Farzan melepas sabuk pengamannya. Lalu, turut melakukan hal yang sama kepada Arum. Melepaskan sabuk pengaman untuk wanita yang tampak tak bergeming itu. “Ayo turun,” ajak Farzan setelahnya. Tanpa berbasa-basi lagi, pria itu bergegas turun dari mobil, kemudian langsung membuka kan, pintu untuk wanita yang tampak masih betah duduk di dalamnya. “Kenapa? Enggak mau turun?” tanya Farzan saat tak melihat tanda-tanda bahwa Arum akan segera turun, meski sudah dibukakan pintu olehnya. Arum mendongak, menatap pria yang beberapa jam lalu masih sibuk mengancam dan membujuknya. Ah, entah apa yang dia pikirkan saat itu hingga bisa membuat keputusan segila ini. Arum meringis di dalam hati. Menyesali keputusan yang telah dirinya buat beberapa jam lalu. Benar. Arum memutuskan untuk menyetujui permintaan Farzan. Menjadi istri dari pria arogan tersebut sebagai jalan penebus hutang. “Hanya satu tahun, Pak! Enggak lebih!” Begitu katanya tadi. Entah karena terbuai pada sikap Farzan yang tiba-tiba berubah atau karena takut pada ancaman pria itu, Arum pun, tak tahu. Namun, yang jelas keputusan itu ia buat tak sampai satu menit setelah Farzan melamarnya. “Selain itu, saya juga punya beberapa syarat yang harus anda penuhi.” Ini merupakan kalimat kedua yang Arum katakan pada Farzan setelah membuat keputusan itu. Beruntung Farzan menyanggupinya tanpa berpikir panjang. “Arum?” Perhatian Arum teralihkan seketika saat merasakan sebuah tepukan di pundaknya. Sadar bahwa dia mungkin sudah membuat Farzan menunggu terlalu lama, wanita itu lantas menghela napas pelan, sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil. “Terima kasih.” “Ayo masuk, biar saya tunjuk—“ “Tunggu, Pak!” Arum menarik tangannya yang sebelumnya digenggam oleh Farzan. Hal ini tentu membuat Farzan keheranan, hingga memutuskan untuk bertanya. “Kenapa?” “Tentang keputusan saya tadi, sebenarnya ….” Arum terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya. Di sisi lain, dia ingin segera membahas hal itu. Namun, di sisi lain ia juga tak ingin dianggap terlalu banyak mau. “Pertama-tama masuk dulu. Kita bisa bicarakan tentang itu di dalam,” ujar Farzan sebelum kembali meraih tangan Arum dan melanjutkan aksinya yang sempat tertunda. Membawa wanita itu masuk ke salah satu rumah yang dimilikinya. Kali ini Arum tak menolak ataupun menginterupsi seperti sebelumnya. Dia menurut, mengikuti langkah Farzan meski dengan perasaan berkecamuk. Jujur saja, sampai saat ini dia masih ragu, bahkan jadi semakin ragu saat melihat sikap Farzan yang entah kenapa jadi sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. “Ini kamar kamu.” Farzan berhenti tepat di depan salah satu pintu, setibanya mereka di dalam rumah. Berbeda dengan Farzan yang tampak tersenyum samar, Arum justru menghela napas berulang kali saat melihat pintu besar yang berdiri kokoh di hadapannya. “Kenapa?” tanya Farzan. Entah sudah keberapa kalinya pertanyaan ini keluar dari mulut Farzan, ia pun, tak tahu. Namun, yang jelas, pria itu bertanya begini juga bukan tanpa alasan. Masalahnya, sejak mereka masih berada di rumah sakit beberapa jam lalu, Arum terus saja menunjukkan sikap aneh. Sikap yang cukup menyebalkan, menurut Farzan. “Kamu menyesal sudah menerima tawaran pernikahan dari saya?” tanya Farzan to the point. Mendengar hal itu, sontak saja Arum mendongak. Menatap lekat-lekat wajah pria yang juga tengah menatapnya. “Kalau benar, apa anda akan mengizinkan saya untuk menarik kembali keputusan itu?” tanya Arum kemudian. Sungguh! Dia benar-benar menyesal telah membuat keputusan itu. “Saya menyesal, Pak. Saya ingin menarik kembali ucapan saya tadi. Saya enggak bisa menikah dengan anda. Enggak setahun, sebulan, bahkan sehari, sekalipun,” ujar Arum bertubi-tubi. Ah, Arum tahu kalau ia tak seharusnya bersikap plin-plan begini. Menarik kembali perkataan yang jelas-jelas sudah dirinya ucapkan. Namun, hei! Apa yang bisa dia lakukan kalau hati nuraninya terus saja memberontak? Maksud Arum …, dia ini wanita. Lantas, bagaimana bisa dia menyakiti hati wanita lainnya hanya agar dapat terbebas dari hutang? Tidak. Arum tak bisa! “Pak Farzan, saya mohon, tolong batalkan kesepakatan kita. Saya enggak bisa menikah dengan anda. Saya—“ “Enggak akan ada yang berubah meski kamu menyesali keputusanmu, Arum!” sela Farzan cepat. Tak dibiarkannya Arum bicara lebih banyak lagi. Tentu saja! Mana mau dia membiarkan usahanya selama ini sia-sia hanya karena celotehan wanita itu. Tidak, Arum tak diizinkan untuk berubah pikiran. Begitu pikir Farzan! “Kita akan tetap menikah, dengan ataupun tanpa persetujuan kamu!” titah Farzan tak terbantahkan. “Tapi, Pak, saya—“ “Kamu tentu enggak lupa kan, kalau nasib kedua orang tuamu di kampung berada di tangan saya?” Arum terpaku saat Farzan menyinggung tentang nasib kedua orang tuanya. “Ingat, Arum. Bukan hanya kamu, tapi kedua orang tuamu pun, akan masuk penjara kalau kamu berani—“ Jika tadi Farzan yang sibuk menyela perkataan Arum, maka kini sebaliknya. Arum lah, yang melakukan hal itu. Dengan nada bicara yang terdengar sangat getir, dia berkata,“Kenapa anda harus menyelamatkan saya waktu itu, Pak?” “Kenapa anda harus menyelamatkan saya? Harusnya biarkan saja saya mati. Seenggaknya dengan begitu anda enggak perlu kehilangan banyak uang, dan saya enggak perlu terjebak di dalam keadaan yang tak menyenangkan ini,” sambung Arum. Masih dengan nada bicara yang terdengar sangat getir. Farzan sempat tertegun selama beberapa jenak. Jujur saja, ada rasa sesal yang turut hinggap di dalam dirinya saat mendengar pengakuan Arum. Namun …. Tidak. Farzan tak akan mengubah keputusannya. Dia dan Arum harus tetap menikah, seperti yang sudah direncanakan. “Masuk dan beristirahatlah. Besok pagi saya akan datang lagi untuk menjemput kamu,” ujar Farzan tanpa menggubris pengakuan Arum beberapa saat lalu. Biar saja. Lebih baik wanita itu marah padanya, dari pada ia harus mengacaukan rencana yang telah dibuat sejak jauh-jauh hari. Begitu pikir Farzan. “Saya pergi dulu. Lima belas menit lagi orang-orang yang saya tugaskan akan datang. Kalau butuh sesuatu, kamu bisa bilang pada merek—“ “Tolong, Pak ….” Arum berlutut di hadapan Farzan sambil menunduk dalam. Tidak, Arum bukannya ingin merendahkan dirinya di hadapan orang lain. Tidak sama sekali. Sebaliknya, dia melakukan ini justru karena ingin mempertahankan harga diri. Menikah dengan pria beristri, ini merupakan hal yang sangat melukai harga diri Arum. Sungguh! Dia merasa jahat dan tak pantas disebut sebagai wanita jika sampai melakukan hal kejam seperti itu. “Tolong, Pak. Batalkan kesepakatan ini. S-saya …, s-saya benar-benar enggak bisa menikah dengan anda dan menyakiti hati istri anda, hiks.” Luruh sudah. Air mata yang selama ini selalu Arum tahan, akhirnya luruh, bersamaan dengan permohonan yang ia layangkan kepada Farzan. Demi Tuhan, Arum benar-benar tak bisa melakukan hal itu. Ia tak bisa menyakiti hati …. “Apa maksud kamu?” tanya Farzan keheranan. “Hati istri saya yang mana, yang takut kamu sakiti?” Arum tertegun. Tangisnya pun, spontan berhenti saat mendengar kalimat terakhir yang Farzan ucapkan. “A-anda …, b-bukannya anda sudah menikah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN