Tamu Tak Diundang

1588 Kata
“Bodoh!!!” Farzan menyentil kening Arum sebelum memegang erat kedua pundak wanita itu dan membantunya bangkit. “Jadi, kamu mati-matian menolak menikah dengan saya karena berpikir bahwa saya sudah memiliki istri?” tanya Farzan kemudian. Arum tak menjawab. Namun, pupil matanya yang membesar sudah cukup untuk dijadikan jawaban oleh Farzan. “Dengar, Arum. Saya tidak beristri. Jadi, jangan khawatir.” “T-tapi waktu itu—“ “Kamu percaya acara-acara gosip seperti itu?” *** “Saya terima nikah dan kawinnya, Arum Ganiya binti Wawan Winanto dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!” Suara lantang dan tegas milik Farzan menggema di seluruh penjuru ruangan. Benar, setelah melalui banyak drama, akhirnya Arum setuju untuk menikah dengan Farzan. Tentu setelah mengetahui fakta bahwa ternyata pria itu tidak beristri. “Allhamdulillah …, bagaimana para saksi? Sah?” “SAH!!!” Jika tadi suara Farzan yang terdengar menggema saat melafalkan ijab kabul, maka kini suara para saksi pernikahan mereka lah, yang menggema di seluruh penjuru raungan. Para saksi mengucapkan sepatah kata itu dengan sangat lantang. Ada binar kebahagiaan yang dapat Arum tangkap dalam raut wajah mereka. Setidaknya sebelum …. “Tunggu!!!” Perhatian semua orang tertuju ke arah sumber suara. Pun, dengan perhatian Arum dan juga Farzan. Kedua insan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri itu tampak mengerutkan kening. Merasa bingung karena kehadiran seseorang di ambang pintu ruangan, tempat akad dilangsungkan. Wajah orang yang membuat kekacauan itu tak terlihat jelas karena tertutup oleh beberapa petugas keamanan yang mencoba menghalanginya. Namun, entah kenapa, suara orang itu terdengar tak asing di telinga Arum. Seperti pernah mendengar, tapi tak tahu di mana. Di tengah kebingungannya, Arum melirik ke arah Farzan yang tampak ingin berdiri. Mungkin pria itu kesal karena hari pentingnya diganggu oleh orang tak dikenal. Begitu pikir Arum. “Mau ke mana, Pak?” tanya Arum penasaran. Ah, Arum tahu kalau ia tak seharusnya bertanya seperti ini. Hanya saja …, hei! Dia tak boleh diam saja kan, saat melihat gelagat aneh Farzan? Maksud Arum, bagaimana kalau ternyata Farzan berniat melakukan hal-hal aneh kepada orang yang mungkin saja memiliki kepentingan khusus itu? Atau yang terparah, bagaimana kalau ternyata Farzan berniat membuat keributan yang lebih parah dari ini lagi? Tidak, tidak. Arum tak ingin hal-hal seperti itu terjadi. Sudah cukup, begitu pikirnya. Ia ingin cepat-cepat mengakhiri acara ini. Dan tentunya, hal itu tak akan mungkin bisa terjadi jika Farzan ikut membuat keributan juga. “Menurutmu saya akan diam saja saat melihat keributan ini?” Farzan menatap Arum dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Sesaat setelah mengatakan hal itu, dia bergegas menuju ke tempat yang menjadi sumber keributan. Arum yang tersadar, lantas buru-buru mengejar Farzan. Berniat menghentikan aksi pria itu. Sudah Arum bilang kan, kalau dia ingin cepat-cepat mengakhiri acara ini? Kalau Farzan sampai nekat berbuat sesuatu juga, maka sia-sia lah, penantian panjangnya sejak tadi. “Tunggu, Pak! Jangan main—“ “Arum!” Perkataan Arum terhenti seketika saat mendengar panggilan tersebut. Langkahnya pun, sama. Bukan, bukan karena panggilannya, tetapi karena si pemanggil yang ternyata adalah …. “K-kak R-reza ….” Arum menatap tak percaya pada pria yang tengah berdiri di ambang pintu utama sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan para petugas keamanan. “Iya, Rum. Ini saya, Reza ….” Pria itu membenarkan. “Saya—“ Reza menghentikan kalimatnya selama beberapa saat sembari menyentak cekalan kedua pria berbadan tegap di sampingnya. “Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya kemudian. Tidak. Tidak bisa! Dia tak bisa bicara dalam keadaan seperti ini. Begitu pikir Reza. Jika memang tak bisa bicara empat mata dengan Arum, setidaknya mereka harus menjauh dari tempat ini terlebih dahulu. “Tidak bisa!” Bukan Arum yang menjawab. Melainkan …. “Saya tidak tahu anda siapa, tapi walau bagaimanapun juga, Arum adalah istri saya. Dan saya tidak mengizinkan dia bicara dengan laki-laki asing seperti anda.” Benar, orang yang berbicara dengan lantang dan penuh emosi itu adalah Farzan. Pria yang baru beberapa menit lalu mengikrarkan janji suci di hadapan penghulu dan juga para saksi pernikahannya. “Saya bukan orang asing! Arum jelas mengenal saya. Benar kan, Rum?” tanya Reza penuh harap. Arum masih diam. Tak tahu harus menyahut bagaimana. Memang benar kalau dia mengenal Reza. Ah, bukan hanya mengenal, dia bahkan sangat kenal dengan pria itu. Reza, dia adalah pria yang …. “Pak, tolong izinkan saya bicara dengan Kak Reza. Sebentar saja …,” pinta Arum kemudian. Terdengar sedikit memohon dari nada bicaranya. Farzan yang mendengar hal itu lantas menatap tak senang ke arah Arum. Sungguh! Benar-benar tak habis pikir Farzan dibuatnya. Maksud Farzan, bagaimana bisa permintaan seperti itu keluar dari mulut wanita yang baru beberapa menit lalu dipersuntingnya? “Jangan bermain-main dengan saya, Arum. Kamu tentu tahu kan, kalau saya bisa membuat—“ “Pak, sebentar saja. Saya mohon ….” Arum menyela perkataan Farzan yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman itu. “Saya janji, saya enggak akan berbuat nekat seperti tempo hari. Saya hanya ingin bicara dengan Kak Reza sebentar. Itu saja,” sambung Arum kemudian. Setelah mengatakan hal itu, Arum mengatupkan kedua tangannya di depan bibir sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar tengah memohon. Dan …. “Lima menit. Enggak lebih!” putus Farzan akhirnya. Arum sempat ternganga selama beberapa detik saat mendengar kalimat tersebut. ‘Lima menit? Cukup kemana?’ gerutunya dalam hati. Andai bisa, ingin sekali rasanya Arum protes. Namun, sayangnya ia tak seberani itu. “Baiklah. Kalau begitu saya keluar sebentar,” ujar Arum pasrah. Baru saja ingin menghampiri Reza yang telah lebih dulu menunggunya di ambang pintu, niat Arum terpaksa diurungkan saat melihat gelagat aneh Farzan. “Bapak mau kemana?” tanyanya penasaran setelah menghentikan langkah. “Kemana lagi? Tentu saja menemani kamu!” balas Farzan sewot. “Tapi, Pak, bukannya anda mengizinkan saya—“ “Saya izinkan kamu bicara dengan dia lima menit, tapi saya enggak mengizinkan kamu bicara berdua saja dengan dia!” sela Farzan cepat. Bahkan sebelum Arum sempat menyelesaikan perkataannya. Huh! Arum menghela napas berat. Dia salah karena sudah berekspektasi terlalu tinggi pada Farzan. “Kenapa? Keberatan?” tanya Farzan kemudian. Arum tak menjawab. Sebagai gantinya, wanita itu memutar bola matanya malas, kemudian berjalan menghampiri Reza yang tampak tersenyum ke arahnya. Senyuman ini …. ‘Sadar, Rum! Kamu sudah jadi istri orang!’ sesuatu di dalam diri Arum memperingati. Sadar bahwa dirinya sudah berpikir terlalu jauh, Arum lantas menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Arum ….” Reza menghentikan langkahnya setelah merasa cukup jauh dari tempat acara berlangsung. Arum ikut menghentikan langkah. Pun, dengan Farzan. Berbeda dengan Arum yang tampak tersenyum tipis, Farzan justru memasang raut wajah sangar. “Saya dengar kamu sempat sakit. Gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Reza penuh perhatian. Ada kekhawatiran yang terpancar jelas dalam raut wajahnya. Dan Arum sadar betul akan hal itu. “Seperti yang sudah Kak Reza lihat, saya sudah sehat,” jawab Arum seadanya. Reza tersenyum simpul. “Syukurlah,” ucapnya kemudian. “Saya ….” Reza menjeda kalimatnya selama beberapa saat. “Saya baru pulang satu minggu yang lalu, Rum. Dan saya—“ “Tiga menit lagi!!!” Farzan menginterupsi. Mendengar hal itu, sontak saja Reza melangkah sedikit lebih dekat ke arah Arum. Berniat membicarakan sesuatu yang bersifat sedikit privasi kepada wanita itu. Namun, belum sempat sepatah kata pun, keluar dari mulutnya, Farzan telah lebih dulu memberi peringatan. “Tolong jangan dekat-dekat dengan istri saya!” ujar Farzan memperingatkan. Meski mendengar, tapi tak sedikitpun, Reza ingin menggubris peringatan Farzan. Biar saja, begitu pikirnya. Selama bukan Arum yang memintanya menjauh, maka ia tak akan menjauh. “Saya kembali untuk kamu, Rum. Saya ingin menikahi kamu, tapi ternyata …, saya terlambat. Kamu sudah lebih dulu menikah dengan orang lain,” ungkap Reza kecewa. “Kak Reza tahu dari mana kalau saya menikah di sini?” Arum mulai membuka suara setelah sejak tadi hanya sibuk mendengarkan perkataan Reza. “Ibumu, Rum. Waktu saya datang bertamu lima hari yang lalu, beliau menceritakan semuanya. Tentang kamu yang sempat sakit parah dan tentang kamu yang akan segera menikah dengan lelaki dari kota.” “Awalnya saya sempat pasrah, Rum, tapi saya sadar, saya enggak bisa diam aja tanpa berbuat apa-apa. Saya harus berjuang, setidaknya sekali!” ujar Reza penuh tekad. “Saya ingin memperjuangkan kamu, makanya sampai nekat datang ke sini,” sambungnya. Arum tak menyahut lagi saat itu. Hanya tatapannya lah, yang menyiratkan bahwa dia tengah dilanda kebingungan saat ini. Bukan hanya bingung, sorot matanya juga menjelaskan kalau dia tengah dilanda rasa penyesalan yang teramat dalam. Benar, Arum menyesal. Menyesal karena sudah menerima lamaran Farzan. Andai saja dia berhasil kabur atau paling tidak berhasil membatalkan kesepakatan itu, mungkin semuanya tak akan jadi begini. Reza tak akan menatap penuh kecewa ke arahnya dan dia …, dia pasti bisa kembali bersama dengan pria itu ke kampung halaman mereka. Ya Tuhan …. “Waktunya habis!” “Ayo kembali ke dalam, Arum!” tegas Farzan dengan raut wajah tak senang. Ada kemarahan yang terpancar jelas dalam nada bicaranya. Dan lagi-lagi Arum sadar betul akan hal itu. Entah apa yang membuat Farzan semarah itu. Ia pun, tak tahu. Namun, yang jelas, kemarahan Farzan ini membuat Arum sadar kalau dirinya tak memiliki kesempatan untuk menyesal lagi sekarang. Semuanya telah terjadi. Jika ada yang harus dia lakukan maka itu adalah menerima keadaan dan menjalani pernikahan ini sesuai waktu yang telah ditentukan. Satu tahun. “Maaf, Kak, saya harus masuk,” pamit Arum. Sedikit tak enak hati pada Reza yang tampak sangat kecewa kepadanya. “Arum ….” “Arum, tunggu!” “Saya cinta kamu, Arum! Sejak dahulu! Saya sudah mencintai kamu sejak dahulu!” “Kurang ajar!!!” -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN