Jangan Gugup, Sayang!

1139 Kata
“Arum!” Arum yang sempat terpaku ketika mendengar pengakuan Reza, lantas dibuat tersadar saat mendapat tepukan di pundaknya. “Ayo masuk!” ujar Farzan dengan raut wajah yang masih sama seperti tadi. Serat akan kemarahan. Arum yang melihat hal itu hanya bisa pasrah dan menuruti perintah Farzan. Tentu saja! Memangnya apa yang bisa dirinya lakukan selain menuruti perintah pria itu? Berbalik dan mengatakan kepada Reza bahwa dirinya ingin bersama pria itu? Tidak! Bahkan meski ingin sekalipun, Arum tak bisa melakukan hal itu. Tidak, selama dirinya masih terikat perjanjian dengan Farzan. Ah …. Arum menghela napas pelan, kemudian menyambut uluran tangan Farzan dan kembali ke dalam gedung tempat acara berlangsung bersama pria itu. “Arum ….” Meski samar, tapi Arum masih bisa mendengar suara Reza. Pria itu memanggilnya dengan lirih. Seolah menunjukkan kefrustrasiannya. Arum meringis di dalam hati saat mendengar panggilan tersebut. Andai bisa, ingin sekali ia berbalik dan mengatakan kepada Reza untuk menunggunya. Namun …. “Saya enggak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, tapi yang jelas, saya harap kamu ingat tentang status kita sekarang!” Farzan memperingatkan. Meski hanya berupa bisikan, tapi Arum sendiri dapat merasakan ada penekanan dalam nada bicaranya. “Selama kita menikah, jangan pernah berpikir untuk berhubungan dengan laki-laki itu. Saya enggak mau reputasi saya rusak hanya karena ulah kamu!” ujar Farzan lagi. Kali ini dengan nada bicara yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. “Tenang saja, Pak. Tanpa perlu diperingatkan pun, saya pasti enggak akan pernah melakukannya. Bahkan meski ingin sekalipun,” sahut Arum pelan. Sangat pelan, tetapi masih mampu didengar oleh Farzan. “Saya pegang kata-katamu, Arum!" titah Farzan tak terbantahkan. "Ah, satu lagi. Kamu juga harus tahu kalau saya bukan tipe orang yang akan diam saja ketika dihianati!” sambungnya kemudian. Setelah mengatakan hal itu, Farzan tak bersuara lagi. Sementara Arum …, wanita itu tampak mengerutkan alis. Entah kenapa, tapi ia merasa tak asing dengan suasana ini. Seperti pernah mengalami, tapi tak tahu kapan dan di mana. “Arum ….” Perhatian Arum teralihkan seketika saat mendengar suara wanita yang sangat dikenalinya. “Ibu …,” sapa Arum setelah sebelumnya sempat menghentikan langkah. Bukan hanya Arum yang berhenti, Farzan pun, sama. Pria itu bahkan langsung menyalimi tangan Rani, ibu Arum. Hal ini tentu membuat Arum bertanya-tanya di dalam hati. Entah benar atau tidak, tapi dia merasa kalau Farzan dan sang mama seperti dua orang yang sudah saling mengenal sebelumnya. “Selamat ya, Nak. Maaf ibu enggak bisa temani kamu di rumah sakit. Seperti yang kamu tahu, ibu dan bapak harus kerja setiap hari. Adik kamu juga enggak bisa ditinggal sendirian. Jadi—“ “Enggak apa-apa, Bu. Arum paham,” sela Arum cepat. Bahkan sebelum Rani sempat menyelesaikan perkataannya. Mendengar hal itu, sontak saja Rani menyunggingkan sebuah senyum tipis. “Terima kasih atas pengertiannya, Nak,” ujarnya. Arum mengangguk kecil sembari membalas senyuman sang mama. “Terima kasih juga karena sudah datang di hari pernikahan Arum, Bu.” Arum ikut berterima kasih. Yah, meski bukan pernikahan yang ia impikan, tapi jujur, Arum sedikit merasa lebih baik karena kedua orang tua serta adik satu-satunya hadir ke acara ini. “Jangan berterima kasih. Ini sudah kewajiban ibu sebagai orang tua kamu. Apalagi ini kan, pernikahan k—“ “Bapak di mana, Bu?” Entah karena hal apa, tiba-tiba Farzan menyela perkataan Rani. Dengan nada bicara yang terdengar sedikit tinggi serta raut wajah yang tampak sangat tegang, pria itu menatap lekat wajah sang ibu mertua. Seolah memberi peringatan. “B-bapak …, b-bapak di mana, ya? Kayaknya tadi lagi makan, deh,” jawab Rani terbata. Jelas sekali kalau wanita itu tengah sangat gugup saat ini. Arum sadar bahwa ada yang tak beres dengan sang mama. Namun, meskipun begitu, ia terlalu enggan untuk membahasnya sekarang. Biarlah. Nanti setelah mereka hanya tinggal berdua, ia akan bertanya. Begitu pikir Arum. “Arum ke toilet dulu ya, Bu,” pamit Arum pada sang mama. Namun, tidak pada Farzan. Setelah mendapat anggukan, wanita itu lantas melenggang, meninggalkan Farzan dan juga Rani yang tampak menarik napas lega. “Maafkan ibu, Nak Farzan. Ibu lupa,” ujar Rani tak enak hati. “Enggak apa-apa, Bu. Saya juga minta maaf karena sudah bersikap enggak sopan,” balas Farzan. Ikut meminta maaf karena sempat berbicara dengan nada tinggi kepada sang ibu mertua. “Kalau begitu saya ke dalam dulu. Ada beberapa hal yang harus diurus sebelum Arum datang,” pamit Farzan sebelum pergi menghampiri penghulu yang baru saja menikahkannya. *** “Tolong lakukan seperti yang sudah saya katakan.” “Baik, Pak.” Dari balik kerumunan para tamu undangan, samar-samar Arum mendengar suara Farzan. Jika didengar dari nada bicaranya, sepertinya pria itu tengah memberi perintah kepada seseorang yang cukup dia segani. Entah siapa. Merasa penasaran, akhirnya Arum memutuskan untuk diam-diam menghampiri pria itu. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, orang yang baru saja ingin didatangi telah lebih dulu muncul di hadapannya. “Mau kemana? Kenapa mengendap-endap begitu?” tanya Farzan dengan alis bertaut. Jelas sekali kalau pria itu tengah merasa keheranan saat ini. Ah, bagaimana tak heran kalau si tokoh utama wanita dalam acara ini berjalan dengan cara mengendap-endap seperti itu? “M-mana ada! Saya jalan seperti biasa, kok!” Arum mengelak. Berusaha terlihat biasa saja meski hatinya sendiri sedang ketar-ketir saat ini. Takut ketahuan. “Terserah, lah. Sekarang ayo ikut saya!” Tak ingin berpikir terlalu banyak, akhirnya Farzan memutuskan untuk mengajak Arum pergi dari tempat acara tersebut. Namun, bukannya menurut, wanita itu justru menepis tangannya. “B-bapak mau apa?” tanya Arum gugup. Meski hanya berbisik, tapi perkataan wanita itu sukses memancing perhatian para tamu undangan. Sebagian dari mereka tampak mengulum senyum. Sementara sebagiannya lagi sibuk mengomentari sikap Arum yang dinilai tak sopan. Seorang istri menepis tangan suaminya di hari pernikahan mereka. Terlebih, suaminya adalah seorang Ivander Farzan Hutama. Melihat adegan seperti itu, siapa yang tak akan tertarik untuk membahasnya? Tidak ada! Jangan kan, bersikap tak sopan seperti itu, bahkan meski Arum tak melakukan apa-apa saja, orang-orang telah ramai berkomentar tentangnya. Jadi …. “Jangan gugup, Sayang. Meski sangat ingin, tapi saya enggak akan melahap kamu sekarang, kok. Jadi, tenang saja,” ujar Farzan setelah sempat diam selama beberapa saat. Tidak. Farzan tak mengatakan hal menggelikan itu tanpa alasan. Semua kalimat yang keluar dari mulutnya saat ini, murni untuk membebaskannya dari komentar buruk para tamu undangan. Bukan hanya dia, tetapi juga Arum. “A-apa sih, P-pak. Jangan bicara sembarangan!” ujar Arum memperingatkan. Jika dilihat dari ekspresinya, sepertinya wanita itu masih belum sadar kalau mereka tengah menjadi pusat perhatian saat ini. “Saya serius, Sayang. Meski sangat ingin melahap kamu sekarang, tapi saya enggak akan—“ “Cukup, Pak!” “Kenapa? Kamu malu, ya? Enggak apa-apa, orang-orang pasti paham kalau kita ini pengantin baru. Jadi, wajar saja kalau—“ “Pak Farzan, cukup! Jangan buat saya berpikir untuk membata—“ “Mmmppphhh!!!” -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN