Tak Berniat Meniduri

1162 Kata
Gila! Mungkin hanya kata inilah yang mampu mendefinisikan keadaan saat ini. Bagaimana tidak, pasalnya menikah dengan Farzan saja Arum lakukan dengan terpaksa. Jika bukan karena hutang milyaran serta memikiran nasib kedua orang tuanya, mungkin dirinya tak akan pernah mau menerima tawaran pria itu. Lalu sekarang, entah kenapa Farzan justru bertindak seolah-olah mereka adalah pasangan yang menikah atas dasar saling mencintai. “Apa-apaan sih, Pak!” protes Arum sembari mendorong keras tubuh Farzan. Dengan wajah memerah menahan amarah, wanita itu menatap nyalang ke arah Farzan sembari menggosok bibirnya dengan kuat. Sementara pria yang ditatap seperti itu hanya tersenyum tipis. Bersikap seolah-olah tindakannya barusan bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Mencium bibir istri sendiri, apa salahnya, kan? Mungkin begitu pikir Farzan. “Kenapa? Saya cuma cium bibir istri sendiri, apa salahnya?” tanya Farzan dengan raut wajah tanpa dosa. Arum menggeram pelan. Andai mereka benar-benar pasangan, mungkin dia tak akan semarah ini. Namun, masalahnya …. Ah, sudahlah! Tak ingin meladeni kegilaan Farzan lebih lama lagi, akhirnya Arum memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Sebenarnya bukan hanya karena Farzan, tapi juga karena ia muak menjadi pusat perhatian orang-orang. “Sayang, mau kemana?” tanya Farzan dengan nada yang dibuat-buat manja. Mendengar panggilan tersebut, bukannya berhenti ataupun berbalik, Arum justru semakin mempercepat jalannya. Tak peduli apa pun, dia harus segera pergi dari tempat ini. Begitu pikirnya. Setelah tak lagi mendengar suara pria yang baru saja resmi menjadi suaminya itu, barulah Arum menghentikan langkah. Namun, belum sempat menarik napas lega, dirinya sudah dihadapkan dengan sesuatu yang membuat jantungnya kembali berpacu. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. *** “Arum, kamu ngapain di sini?” “Astaga!” Arum terkesiap saat merasakan sebuah tepukan di pundaknya. Tidak, tepukan yang dia dapat bukanlah tepukan keras. Hanya jenis tepukan ringan yang biasa digunakan saat menegur seseorang. Reaksi Arum berlebihan. Dia sendiri sadar betul tentang hal itu. Orang yang menegurnya pun, pasti berpikir sama. “Kamu kenapa, Rum? Ada yang dipikirkan?” tanya orang yang tak lain adalah Rani, ibu Arum. Benar, orang yang menepuk pundak Arum barusan adalah Rani. Tadinya, dia berniat mengajak Arum masuk ke dalam rumah, saat melihat sang putri duduk di teras sendirian. Namun, melihat reaksi tak biasa yang diberikan oleh putrinya itu, mau tak mau ia mengurungkan niat. “Cerita sama Ibu, Nak. Jangan dipendam sendirian.” Rani kembali membuka suara saat tak mendapat jawaban dari Arum. “Enggak ada apa-apa kok, Buk,” balas Arum setelah sekian lama. Tidak, Arum bukannya tak memiliki cerita yang ingin dibagikan kepada mamanya sama sekali. Kalau ditanya apakah ada yang dipikirkan, tentu saja jawabannya ada. Bukan ada lagi, tapi sangat ada! Dan dirinya juga bukannya tak mau bercerita. Dia mau, sangat! Hanya saja …, sepertinya bercerita bukanlah pilihan terbaik. Setidaknya untuk saat ini. Begitu pikir Arum. “Jangan bohong, Nak. Ibu tahu, kamu pasti lagi mikirin sesuatu, kan? Kalau enggak, mana mungkin kamu kaget sampai segitunya cuma karena ditepuk pelan.” “Arum beneran enggak lagi mikirin apa-apa, Bu. Arum cuma lagi keenakan ngelamun tadi, makanya bisa sampai sekaget itu waktu Ibu negur,” elak Arum cepat. Jelas sekali kalau wanita itu sedang mencoba berkelit. Mendengar hal itu, meski rasa tak percaya masih terus bersarang dalam dirinya, Rani mau tak mau menghela napas pelan. Memutuskan untuk tak lagi memberondong sang putri dengan berbagai pertanyaan. “Ya sudah, kalau begitu sekarang masuk ke dalam, ya. Suamimu pasti sudah nunggu,” ujar Rani kemudian. “Tap—“ Arum baru berencana menolak. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, sang mama telah lebih dulu mengatakan hal yang membuat wanita itu terpaksa mengurungkan niat. “Enggak baik meninggalkan suami terlalu lama, Nak.” Begitu kata Rani. Rani memang merupakan tipe wanita yang sangat patuh pada suaminya. Jadi, dia pasti menginginkan Arum berperilaku sama sepertinya. Yah, setidaknya itu yang dapat Arum artikan dari sikap sang mama saat ini. “Kalau begitu Arum masuk duluan ya, Bu,” ujar Arum sebelum berlalu lebih dulu dari mamanya. Rani hanya mengangguk sembari menyunggingkan sebuah senyum tipis. Meski merasa lega karena putrinya bersikap patuh, tapi jauh di dalam lubuk hati yang terdalam ada sesuatu yang mengganggu wanita paruh baya tersebut. “Maafkan Ibu, Nak,” gumamnya sembari menyeka sebelah sudut mata yang telah digenangi cairan bening. Di tempat lain, seorang pria tampak tengah duduk di sebuah sofa panjang yang terletak di sudut kamar. Matanya menatap fokus pada beberapa lembar kertas yang tengah ia pegang. “Enggak ada pilihan lain. Mau enggak mau, suka enggak suka, saya harus melakukan ini, Arum.” “Demi kamu, demi saya dan demi …, rumah tangga kita yang sudah sempat hancur karena—“ Farzan mengatupkan kedua bibirnya secara spontan saat melihat pintu kamar yang terbuka. Benar. Ada seseorang yang masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dan orang itu adalah Arum, wanita yang membuatnya bertindak sampai sejauh ini. “Maaf. Saya enggak tahu kalau Bapak ada di sini,” ujar Arum. Tampak salah tingkah saat menyadari kehadiran Farzan di dalam kamar pribadinya. Bukannya apa, Arum tahu kalau mamanya barusan berkata bahwa Farzan menunggunya, tapi …, hei! Ia tak pernah berniat menghampiri pria itu. Terlebih di malam pernikahan mereka. Lagipula, ia pikir mereka tak akan tinggal di kamar yang sama malam ini. Bukan hanya malam ini, tapi juga malam-malam selanjutnya. Sementara Arum sibuk dengan isi pikirannya sendiri, Farzan justru tampak menarik napas lega karena sepertinya Arum tak mendengar apapun. “Astaga!” Arum terkesiap saat merasakan sentuhan seseorang di pergelangan tangannya. Benar. Farzan yang menyentuh pergelangan tangan Arum. Entah sejak kapan pria itu telah berpindah tempat. “P-pak F-farzan, B-bapak mau apa?” tanya Arum terbata. Tampak panik dari raut wajahnya. Namun, alih-alih menjawab, Farzan justru terus berbalik, menuju tempat yang sempat ia tinggalkan beberapa detik lalu. “P-pak, jangan! S-saya enggak mau melakukan hal itu!” tolak Arum sembari melepaskan cekalan Farzan di lengannya. Mendengar hal itu, sontak saja mata Farzan dibuat terbelalak. Sedikit kaget mendengar pernyataan sang istri yang dinilai cukup …, percaya diri? “Apa maksud kamu, Arum?” Farzan perlahan membuka suara setelah mati-matian mencoba menahan gelak tawa. Sangat lucu rasanya, melihat ekspresi wanita yang tampak sangat ketakutan itu. “Saya enggak berniat meniduri kamu, asal kamu tahu,” ujar Farzan geli. “Seenggaknya untuk malam ini,” sambung pria itu dengan nada yang jauh lebih pelan dari sebelumnya. Mendengar hal itu, sontak saja Arum membuang muka ke arah lain. Merasa malu karena sudah sempat salah paham. “Terus ngapain Bapak narik tangan saya ke arah tempat tidur?” balas Arum sewot. Sebisa mungkin menutupi rasa malunya. “Siapa bilang? Saya cuma mau narik kamu ke sofa, kok,” elak Farzan cepat. “Saya mau kita bicarakan tentang kontrak pernikahan,” sambungnya kemudian. Ah, jadi hanya tentang kontrak …. Arum menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali setelah mendengar penjelasan Farzan. Benar-benar bodoh! Batinnya menggerutu. “Maaf, saya—“ “Atau kamu mau kita menjalani pernikahan ini tanpa kontrak saja? Saya siap kok, memenuhi tanggung jawab saya sebagai suami yang baik. Memberikan nafkah secara lahir maupun bat—“ “Pak!!!” -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN