“A-apa-apaan ini?” Mata Arum membola sempurna saat melihat poin demi poin yang termuat dalam kontrak pernikahannya dengan Farzan.
“Kenapa? Ada yang membuatmu merasa keberatan?” tanya Farzan serius.
Mendengar hal tersebut diucapkan dengan raut wajah tenang Farzan membuat wanita berambut sepinggang itu mendengus sebal. “Semua yang ada di sini memberatkan saya, Pak!” akunya.
“Semua?”
“Tentu saja! Semua isinya jelas merugikan saya. Dan lagi, apa ini? Harus tidur di kamar yang sama selama satu tahun? Bapak gila, ya?!” sambar Arum berapi-api.
Sungguh! Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Farzan. Bisa-bisanya pria itu membuat kontrak seperti ini. Kontrak yang jelas-jelas berpotensi merugikan mereka berdua.
Maksud Arum …, ah, sudahah! Terlalu rumit untuk dijelaskan.
“Pokoknya saya enggak mau kalau isi kontraknya seperti ini!” ujar Arum tak mau tahu. Tak dipedulikannya raut wajah Farzan yang tampak mulai kesal.
Tepat saat Arum berniat pergi dari tempat tersebut, Farzan menarik pergelangan tangannya. Membuat wanita itu kembali terkesiap. Sama seperti beberapa waktu lalu.
“Ayo kita atur ulang isi kontraknya!” ajak Farzan dengan ekspresi yang tak dapat jelaskan.
Mendengar hal itu, mau tak mau, suka tak suka, Arum terpaksa menurut. Dalam waktu sepersekian detik, dia kembali duduk di sofa, kemudian mengambil pena beserta kertas yang Farzan berikan.
“Tulis apa yang kamu inginkan. Setelah itu saya akan pertimbangkan kembali,” kata Farzan dengan raut wajah yang masih sama seperti sebelumnya.
“Bukan cuma dipertimbangkan, tapi saya mau Bapak memasukkan semua syarat yang akan saya tulis nanti,” sahut Arum. Kemudian, tanpa berbasa-basi lagi, dia menulis hal-hal yang dinilainya perlu ada di dalam kontrak pernikahan mereka. Tentu saja hal-hal yang tak akan merugikan dirinya sama sekali.
“Sudah!” Arum meletakkan penanya secara sembarangan setelah memberikan kertas yang berisikan syarat-syarat pernikahan kepada Farzan.
“Gimana?” tanyanya kemudian.
Farzan tak langsung menjawab. Dia memilih fokus membaca poin-poin yang Arum tulis, sekaligus menimbang apakah harus menyetujuinya atau tidak.
“Untuk poin pertama sampai poin ketiga, saya bisa penuhi, tapi untuk poin-poin selanjutnya …, maaf, saya enggak bisa.”
“Tapi—“
“Enggak ada tapi-tapian, Arum Ganiya. Seharusnya kamu bersyukur karena saya masih mengizinkan kamu untuk tidur di kamar terpisah dan memiliki satu hari libur di setiap minggunya. Dan lagi, semua keputusan ada di tangan saya. Jadi, saya enggak peduli mau kamu setuju atau enggak dengan isi kontrak ini. Karena apa? Karena saya akan tetap pada keputusan saya!” jelas Farzan panjang lebar.
Arum tak menyahut lagi. Selain karena tak tahu harus menjawab apa, dia juga sedikit takut melihat raut wajah Farzan yang tampak diselimuti kabut tebal. Menyeramkan.
“Y-ya sudah, k-kalau begitu s-saya keluar dulu.” Arum perlahan berdiri. Mulai mengambil ancang-ancang untuk pergi dari ruangan tersebut.
Persetan dengan kenyataan bahwa dirinya lah, pemilik dari kamar ini. Persetan juga mau Farzan tidur di sini atau tidak. Yang penting dia pergi dulu. Begitu pikir Arum.
Baru saja berniat melangkahkan kaki, lagi-lagi pergerakannya dihentikan oleh Farzan dengan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Mau kemana?” tanya Farzan datar.
Arum sedikit mendengus di dalam hati saat mendengar pertanyaan tersebut. “S-saya? Tentu saja mau tidur. Ini sudah malam, Pak. Dan saya sudah sangat capek,” terangnya. Berusaha terlihat tenang meski raut wajahnya sama sekali tak terlihat begitu.
Huh, semoga saja Farzan tak mempersulitnya kali ini. Arum berdoa di dalam hati.
“Kalau beg—“
“Malam ini kita tidur di sini. Berdua.”
Telak! Baru saja dia berdoa agar tak dipersulit oleh Farzan. Namun, nyatanya ….
“Tapi, Pak, bukannya kita sudah sepakat tentang hal ini? Anda sendiri yang bilang akan menyetujui poin nomor satu sampai tiga, kan?” protes Arum cepat.
Tidak. Walau bagaimanapun juga, Arum tak mau tidur berdua dengan Farzan. Titik! Sekalipun status mereka sekarang adalah suami istri.
“Di rumah ini bukan hanya ada kita berdua, Arum, tapi juga ada kedua orang tua dan keluarga besarmu. Kamu pikir saya akan membiarkan orang lain tahu tentang situasi di dalam rumah tangga kita, ha?”
***
“Kamu benar baik-baik saja, Rum?”
Arum tak langsung menjawab pertanyaan dari pria di depannya. Sebaliknya, dia justru tampak mengunci mulut dengan rapat.
Tak peduli sebesar apa keinginannya untuk menceritakan tentang duduk perkara yang sebenarnya kepada Reza, dia harus bisa menahan diri. Karena walau bagaimanapun juga, ia telah berkomitmen dengan Farzan untuk merahasiakan hal ini dari orang lain.
“Arum ….”
“K-kak R-reza ….” Arum mendongak. Menatap pria yang tiba-tiba menggenggam tangannya yang terletak di atas meja.
Tidak. Mereka tak boleh begini. Arum sadar betul bahwa apa yang mereka lakukan saat ini salah. Reza …, pria itu tak seharusnya menggenggam tangannya. Dan dia, dia juga seharusnya langsung menjauhkan tangan. Namun ….
Ah, bagaimana ini?
Hingga satu menit kemudian, Arum tak kunjung berbicara. Matanya masih fokus menatap pria yang kini juga tengah menatapnya.
“Saya tahu, Rum, pasti ada sesuatu yang terjadi, kan? Sesuatu yang enggak bisa kamu ceritakan ke saya,” papar Reza penuh percaya diri. Entah dari mana rasa percaya diri itu dia dapatkan.
“Cerita sama saya, Rum. Saya pasti akan—“
“Kak! Cukup …,” sela Arum cepat. Tak dibiarkannya Reza bicara lebih banyak lagi.
Bukan hanya menyela perkataan Reza, di detik yang sama, Arum juga menarik tangannya dari genggaman pria itu.
“Saya enggak datang ke sini untuk membicarakan hal itu. Saya datang karena mau mengucapkan salam perpisahan.”
“Maksud kamu apa, Rum? Salam perpisahan apa?”
“Saya senang bisa ketemu lagi sama Kak Reza. Lebih senang lagi karena Kak Reza enggak hilang dari ingatan saya. Dan ….” Menarik napas dalam, Arum menjeda kalimatnya. Mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba datang menghampiri.
“Terima kasih untuk pengakuan Kak Reza waktu itu. Kalau boleh jujur, saya pernah sangat mengagumi Kakak dan berharap kalau suatu saat perasaan saya akan terbalas. Tapi itu dulu, Kak. Sekarang saya sudah menikah, sudah punya kehidupan baru. Jadi, saya harap Kakak pun, begitu. Lupakan saya, cari wanita yang jauh lebih baik dan lebih pantas untuk Kakak.”
“Arum, jangan seperti ini. Kam—“ Belum selesai Reza dengan permohonannya, tiba-tiba saja terdengar suara tepukan tangan di belakang tubuh Arum.
Hal ini membuat kedua insan yang tengah diliputi rasa gundah itu menoleh ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat ….
“BAGUS!”
“Bagus sekali, Arum!!!” tukas seorang pria penuh penekanan.
-Bersambung-