Kecewa Lagi

1125 Kata
You did it againYou did hurt my heartI don’t know how many timesOh you...I don’t know what to sayYou made me so desprately in loveAnd now, you let me down..(You-Ten 2 Five) Tok.. Tok.. Pintu kamarku diketuk. Aku masih marah dengan Renji. Aku tahu yang mengetuk pintu adalah Renji. Kubiarkan saja dia terus mengetuk. "Gi, keluar dong. Maaf ya." Kata Renji tulus. "Lo boleh marah sama gue, tapi jangan diemin gue ya." Lanjut Renji. Aku masih terus mendengarkan kata-kata darinya. Setelah terdiam cukup lama, aku kira Renji sudah pergi, jadi aku membuka pintu. Kaget, aku melihat Renji masih berdiri di depan pintuku. "Sorry ya." Kata Renji ketika melihatku membuka pintu. "Lo boleh minta apa aja deh." Lanjut Renji. "Temenin gue seharian besok sabtu." Kataku tiba-tiba. Entah setan dari mana yang masuk ke dalam pikiranku. Tiba-tiba saja aku tidak suka kalau Renji harus pergi seharian dengan Sasa. Kulihat Renji sedikit kaget mendengar permintaanku. "Gak mau? Ya sudah." Kataku sambil kembali masuk ke dalam. Belum sempat aku menutup pintu, Renji sudah menahanku. "Jangan seharian ya." Kata Renji. "Besok Sasa minta ditemenin dinner." Lanjutnya. "Ya sudah, pagi ke siang lo gak ke mana-mana kan? Temenin gue." "Siap bos." Kata Renji sambil tersenyum manis. Aku segera kembali ke kamar dan memutuskan untuk segera tidur. Aku tidak mau besok mukaku terlihat bengkak karena kurang tidur. Keesokan harinya, di pagi buta aku sudah bangun. Aku berencana mengajaknya sarapan di taman depan rumah. Aku hanya ingin berdua dengan Renji. Tanpa Sasa, tanpa siapapun. Hanya aku dan Renji. Aku segera menyiapkan bekal dengan semangat. Setelah itu aku segera mandi dan bersiap-siap pergi. Aku sudah bilang kepada Renji untuk bertemu di taman jam delapan pagi. Kulihat langit sedikit mendung, tidak ada matahari. Aku berharap agar tidak turun hujan. Aku tidak mau rencana hari ini pun batal. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Sementara di rumah, Renji baru bangun pukul tujuh pagi. Ia ingat hari ini dia berjanji akan menemani Gigi untuk sarapan di taman. Masih ada waktu satu jam sampai waktu bertemu. Renji segera bersiap-siap. Sebelum pergi, Renji mengecek ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Sasa From : Sasa Hai sayang, hari ini kita jadi dinner kan? Renji segera membalas pesan tersebut To : SasaJadi dong hehe. Aku pergi dulu ya. From : Sasa Mau ke mana? To : Sasa Pagi ini Renji harus nemenin Gigi dulu sebentar hehe. From: Sasa Emangnya dia minta ditemenin ke mana? To : Sasa Sarapan doang di deket rumah hehe. Renji pergi dulu ya. From : Sasa AKU MAU KE SALON SEKARANG. KALAU KAMU GAK TEMENIN AKU DINNER KITA BATAL. Renji sempat membaca pesan dari Sasa sebelum ia benar-benar pergi. Renji menghela napas. Lagi-lagi Sasa seperti ini. Tidak pernah berubah. Selalu mementingkan dirinya sendiri. Tidak suka kalau perintahnya dibantah atau pesannya diabaikan. Dengan terpaksa Renji segera mengirim pesan untuk Gigi dan meminntanya menunggu sebentar. Dengan cepat Renji pergi menemui Sasa sebelum pacarnya itu mengamuk tidak karuan. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Di taman, aku sudah menunggu hampir satu jam. Setelah aku membaca pesan dari Renji yang memintaku menunggu sebentar karena Sasa minta ditemani ke salon, aku masih duduk sambil sesekali mengecek ponsel, takut Renji tiba-tiba menghubungiku. Satu jam, dua jam, Renji masih belum datang. Perutku sudah sangat sakit karena kelaparan. Aku takut kalau aku makan bekalku dan Renji datang batal sudah acara makan bersama Renji. Aku menahan haus dan laparku. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Pesan masuk dari Renji, ia sebentar lagi akan selesai dan segera ke mari. Tapi sampai jam dua pun Renji tidak datang sama sekali. Aku mencoba menelponnya tapi tidak ada jawaban. Aku menghela napas, dan memutuskan menunggu sebentar lagi. Jam tiga langit sudah sangat gelap. Aku takut hujan akan turun. Kalau aku pergi, Renji tidak akan menemukanku di sini. Aku percaya Renji akan menepati janjinya. Tidak lama aku merasakan awalnya setetes kemudian menjadi banyak dalam sekejap. Aku mengerjap mataku di tengah hujan tidak percaya, bahwa hujan turun dengan deras. Dengan cepat aku berlari ke bawah pohon untuk berlindung. Tapi kemudian aku kembali lagi duduk di tempat tadi. Aku takut kalau Renji ke sini dia tidak menemukanku di tempat kami janji bertemu. Entah berapa lama aku duduk di bawah hujan dengan perut kosong. Kepalaku terus saja berputar. Rasanya ngantuk sekali. Dan tanpa sadar aku sudah memejamkan mataku. Aku hanya berharap Renji akan segera datang. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Renji yang datang terlambat segera mencari Gigi di tengah hujan dan menemukannya pingsan di tengah hujan. Dengan cepat Renji membawa Gigi ke rumah sakit dengan perasaan bersalah. "Kok bisa sampai begini sih, Ren?" Tanya Rini mama Renji. Renji hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa. "Kapan dia bisa sadar, dok?" Tanya Rini kepada dokter yang sedang mengecek Gigi. "Seharusnya pasien bisa sadar setelah botol infus ini habis ya. Kalau masih belum sadar, bisa segera kabari suster jaga ya. Kalau begitu saya permisi dahulu." Kata dokter tadi sambil pergi dari ruangan itu. "Halo sayang. Eh, ada tante. Halo tante." Suara seorang wanita yang tidak asing terdengar. Mereka melihat ke arah suara tersebut dan mendapati Sasa sedang berdiri dengan senyum lebar di sana. "Saya pulang dulu. Jaga Gigi jangan sampai dia sendirian, mengerti Renji?" Kata Rini sambil bergegas pergi. Ia tidak suka melihat kehadiran Sasa di sana. "Gimana keadaanya sekarang?" Tanya Sasa kepada Renji. "Dia harusnya bisa sadar kalau botol infus sudah habis." Kata Renji masih menatap Gigi yang terbaring di sana. "Ini semua gara-gara gue. Kalau gue datang gak terlambat mungkin dia gak akan seperti ini." Kata Renji kesal. "Jadi kamu nyalahin Sasa?" Sasa juga kesal mendengar perkataan Renji. "Sa, please. Gak ada yang nyalahin kamu di sini." Renji lelah mendengar kata-kata sinis dari Sasa. "Terus maksud kamu bilang kaya tadi itu apa kalau bukan nyalahin Sasa." Sasa terus menaikkan nada suaranya. "Cukup, Sa. Gue capek denger omongan lo." Renji akhirnya tidak bisa menahan amarahnya. "Jadi sekarang kamu lebih milih ngebela cewek gatel ini daripada Sasa?" "Mending lo keluar deh sebelum gue panggil satpam buat ngusir lo." Sasa geram mendengar perkataan terakhir Renji. Renji menghela napas. Suara tepuk tangan terdengar menggema di dalam ruangan tepat setelah Renji menghela napas. Renji menoleh dan mendapati sepupu kesayangannya berdiri di daun pintu sambil bertepuk tangan. "Hebat banget sepupu gue sekarang." Katanya sambil tersenyum. "Maksud lo?" Renji masih kesal. "Iya, biasanya kan lo takut banget sama Sasa. Haha." "Gue gak takut sama dia." Kata Renji tambah kesal. "Haha. Iya deh iya." Katanya sambil tertawa. "Jadi lo apain nih putri kesayangan gue?" Katanya sambil menatap Gigi. "Gak gue apa-apain." "Jangan nyakitin dia ya. Gue yang maju loh kalau lo sampai nyakitin dia." Katanya sambil menepuk pundak Renji. "Cepet bangun ya, princess." Katanya sambil mengelus lembut kepala Gigi. Kemudia setelah berpamitan ia pergi meninggalkan Renji berdua dengan Gigi. "Cepet bangun dong. Gue minta maaf. Gue janji gak bakalan kaya gini lagi. Gue janji bakalan nemenin lo selamanya." Kata Renji sambil menggenggam tangan Gigi dengan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN