Selepas kau pergi
Tinggallah disini ku sendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang t’lah hilang di dalam hidupku
(La Luna - Selepas Kau pergi)
Keesokan paginya baru saja aku membuka mataku, telingaku sudah menangkap suara manja seorang wanita. Entah mengapa aku membenci suara itu.
"Ayo dong, temenin Sasa jalan-jalan. Kita kan udah lama gak ketemu." Rengek Sasa.
Aku membuka pintu kamarku dan mendapati Sasa sedang menarik lengan Renji yang tampak kusut itu. Jelas, ini masih jam tujuh pagi, Renji tentu saja seharusnya masih tidur.
"Loh, kok ada dia di sini?" Sasa menunjukku ketika melihatku keluar dari kamar.
"Iya, dia tinggal di sini." Jawab Renji.
"Kok gitu? Sasa juga mau tinggal di sini sama Renji, yang pacar Renji kan Sasa bukan dia."
Aku benci sekali disebut dia dia dia terus oleh Sasa, aku punya nama.
"Ya coba lo tanya aja sama Tante Widya." Kata-kataku sukses membungkam mulut Sasa. Dan tentu saja aku pun sukses mendapat lirikan tajam darinya. Perutku yang tadinya lapar kini sudah hilang melihat Sasa. Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar. Sebelum aku benar-benar masuk aku masih dapat mendengar pekikkan suara Sasa mengumpatku.
"RENJI SASA BENCI BANGET LIAT CEWEK ITU. SOK CANTIK." Aku hanya merutukinya dalam hati. Aku penasaran apa yang membuat Renji menyukainya.
Hari Senin pagi aku kembali masuk sekolah. Ponsel yang kupadamkan semenjak aku berpisah dengan Pak Adit kembali kunyalakan. Aku menerima tiga pesan. Dua dari Renji, satu dari Pak Adit. Aku membuka pesan yang pertama, dari Renji.
From : Renji
Sorry, ya. Please keluar dong, makan ya.
Kulanjutkan dengan membuka pesan yang kedua, dari Pak Adit.
From : Mas Adityo
Gi, kata Renji kamu gak mau keluar kamar ya? Maafin saya ya. Saya tahu permintaan maaf saja tidak cukup. Saya sudah sangat bersalah dan tidak bertanggung jawab kepada kamu. Saya tidak pernah berniat untuk mempermainkan kamu. Semua terjadi begitu saja. Saya pikir, enam tahun cukup untuk melupakan mantan isteri saya, tapi ternyata saya salah. Kamu jangan maafin saya ya. Meskipun saya akan terus meminta maaf sama kamu, tapi kamu gak boleh gampang memaafkan saya. Saya selalu beroda untuk kamu supaya kamu selalu bahagia. Maafin saya ya, Gi.
Btw, kamu harus keluar kamar ya, makan. Renji tadi datang marah-marah sama saya. Dia bilang kalau kamu gak bisa bahagia setelah ini Renji gak mau lagi jadi sepupu saya hehe. Egois memang ya permintaan saya. Tapi saya yakin Renji bener-bener tulus ingin kamu bahagia. Mungkin buat Renji saya yang bisa bikin kamu keluar dari kamar, padahal itu gak mungkin hehe.
Gi, terimakasih banyak buat dua buulan ini, dua bulan ini saya benar-benar menemukan lagi rasanya hidup setelah berpisah dari Sherin. Semoga kamu selalu bahagia ya.
Aku menghela napas membaca pesan panjang dari Pak Adit. Rasa sakit itu masih ada. Tapi aku sudah berjanji akan melewati semua ini dan kembali mencari kebahagiaanku. Kulanjutkan membaca pesan terakhir yang baru saja masuk beberapa menit lalu, dari Renji.
From : Renji
Hai, sorry ya kemarin pagi jadi ganggu tidur panjang lo. Gue beneran gak tahu kalau Sasa bakalan datang sepagi itu hehe. Maklum mungkin dia kangen ya sama gue. Sebagai permohonan maaf gue, gue mau ngajakin lo hari ini makan siang ya. Di cafe deket sekolah lo itu. Jangan telat ya, gue paling gak suka nunggu. See you
Aku menghela napas kemudian mulai membalas pesan dari Renji terlebih dahulu
To : Renji
Iya, gue juga minta maaf karena udah sinis sama cewek lo. See you
To : Mas Adit
Pak, maaf saya baru buka ponsel. Selamat ya Pak untuk pernikahannya :) Kali ini jangan berpisah lagi ya hehe.
Aku kembali menghela napas. Aku masih tidak percaya bahwa kini aku dan Pak Adit sudah tidak akan bisa bersama lagi selamanya.
Setelah pelajaran terakhir selesai, aku memeriksa ponselku. Ada pesan singkat yang masuk dari Renji.
From : Renji
Sorry, ya. Gue kayanya sedikit telat nih. Jalanannya agak macet. See you.
Aku membaca pesan singkat tersebut dan memutuskan untuk menunggu Renji di cafe tempat aku dan Renji akan bertemu. Aku tidak mau menunggu di sekolah karena takut aku akan bertemu dengan Pak Adit.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, aku masih tidak melihat Renji akan datang ke sini. Beberapa kali aku mengecek ponselku tapi tidak ada pesan singkat baru dari Renji.
Sedetik menunggumu di sini, seperti seharian
Berkali kulihat jam di tangan demi membunuh waktu
Tak kulihat tanda kehadiranmu
Yang semakin meyakiniku, kau tak datang.
(Kecewa-B.C.L)
Sekarang, sudah hampir satu jam setengah aku menunggu Renji. Aku mulai kesal dengannya. Aku memutuskan untuk mengirimnya pesan singkat.
To : Renji
Lo di mana sih? Masih lama?
From : Renji
Sebentar-sebentar, sebentar lagi gue datang. Janji gue pasti datang. Tunggu ya.
Aku menghela napas. Perutku kini tak lagi lapar. Aku memutuskan untuk mempercayai pesan dari Renji tersebut. Kupesan kembali segelas jus jeruk untuk menemaniku.
Dua jam berlalu, jus dalam gelasku pun sudah habis. Dan Renji masih tidak terlihat batang hidungnya. Ponselku bergetar, ada pesan singkat yang masuk, kulihat dari Renji.
From : Renji
Oi, sorry nih. Kalau hari ini batal gak apa-apa kan? Sorry banget Sasa tiba-tiba minta dinner di Dago. Ini gue lagi di jalan ke sana. Sorry banget ya. Besok aja ya kita ketemuannya
Aku yang sudah terlanjur kecewa segera membalas pesan dari Renji dengan marah.
To : Renji
Gak usah, udah males gw.
From : Renji
Jangan marah dong, maklum Sasa kan kangen sama gue hehe. Gue telepon Pak Asep ya buat jemput lo.
Aku yang benar-benar kecewa setelah membaca pesan singkat dari Renji memutuskan untuk mengabaikan pesan dari Renji, karena aku tahu ia tidak bersungguh-sungguh saat ia menawarkan untuk menyuruh supir pribadinya menjemputku.
Setelah membayar pesananku aku segera keluar dari cafe tersebut. Sungguh hari ini hari yang buruk untukku. Hujan deras tiba-tiba saja datang di hadapanku. Tepat ketika aku akan melangkahkan kakiku mencari taksi. Akhirnya dengan terpaksa aku menelepon Pak Asep untuk menjemputkku. Tapi, ponselnya tidak aktif. Aku kembali menunggu di luar sampai waktu menunjukkan pukul delapan malam. Hujan masih terus turun tanpa bermaksud berhenti sebentar. Sudah terlalu malam untuk naik angkotan umum sendirian, apalagi aku seorang perempuan.
Dengan ragu aku menekan angka di ponselku yang sudah kuhapal di luar kepala. Setelah menutup telepon tersebut, sekitar tiga puluh menit datang sebuah mobil yang aku kenal. Dengan tergesa seorang laki-laki turun sambil membawa payung dan menghamapiriku.
"Maaf, jalan agak sedikit macet, jadi saya telat. Kamu sudah nunggu lama ya?" Tanyanya lembut.
"Enggak kok, Pak. Makasih ya sudah datang, maaf karena saya lagi-lagi merepotkan bapak." Kataku sambil menahan tangis.
Pak Adit menggelengkan kepalanya kemudian menarik lembut tanganku dan mengajakku masuk ke dalam mobilnya. Pak Adit menanyaiku bagaimana bisa aku sampai di sana tanpa Renji. Pak Adit hanya diam mendengarkan ceritaku. Ya, aku tidak perlu seseorang yang akan berkomentar tentang ceritaku, aku hanya butuh seseorang yang akan diam mendengarkan ceritaku sampai selesai.
Setelah berkendara selama empat puluh lima menit, kami berdua sampai di depan rumah Renji. Aku mengucapkan terimakasih kepada Pak Adit karena sudah mau datang dan menjeputku. Ketika aku turun, Pak Adit pun ikut turun. Dengan cepat kubuka pintu rumah, dan aku mendapati Renji yang sedang berdiri di depan pintu.
"Loh, kok lo ada di sini?" Tanya Renji yang melihat Pak Adit beridiri di belakangku.
"Iya, gue ada di sini buat nganterin tunangan lo." Renji terdiam
"Kok lo gak telepon gue?" Tanyanya padaku.
"Gimana gue mau minta jemput ke elo. Lo aja gak datang." Kataku marah dan segera meninggalkan mereka berdua.