Tubuhku ada di sini, tetapi tidak jiwaku
Kosong yang hanya kurasakan
Kau yang telah tinggal di dalam hatiku
(Kosong-Mahadewi)
Sudah sejak kemarin aku tetap di dalam kamar. Aku tidak ingin bertemu siapapun apalagi Renji. Aku begitu kecewa kepadanya. Dari kemarin hingga hari ini aku tidak merasa lapar sama sekali, tapi tiba-tiba saja malam ini aku merasa lapar. Menyebalkan rasanya kalau aku harus keluar sekarang. Aku takut bertemu dengan Renji, tapi perutku tidak mau mengikuti kepalaku. Akhirnya dengan sangat pelan aku membuka pintuku, berharap aku tidak akan bertemu dengan Renji.
Aku menemukan nampan berisi makanan dan secarik kertas.
Makan ya? Gue bener-bener minta maaf ya sama lo, kalau lo gak mau maafin gue gak apa-apa. Asal lo makan makanan ini ya, please.
Pesan tersebut dari Renji. Aku menghela napas. Kemudian aku melihat sekitar dan tidak kudapati siapapun. Dengan cepat aku berlari ke dapur dan mengambil satu kotak bekal yang kuisi dengan makanan dari Renji tersebut. Aku tidak ingin makan di sini.
Aku berjalan keluar rumah menuju taman yang berada di seberang rumah. Kucari bangku kosong dan mulai memakan bekalku itu.
Rasanya hambar.
"Oi, makan itu di meja makan, bukan di taman." Sebuah suara terdengar dari belakangku. Kulihat Renji sudah berdiri di belakangku sambil merapatkan jaketnya.
"Lo gak dingin? Keluar malem gak pake jaket." Tanya Renji. Aku masih terdiam.
"Lo masih marah ya sama gue?"
"Maaf ya. Gue bener-bener gak tahu kalau lo belum tahu. Gue pikir lo ke sana karena Adit udah cerita sama lo. Maaf ya." Kata Renji tulus. Aku masih terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Hatchi." Suara bersinku memecah keheningan. Aku merutuki hidungku. Kenapa ia harus bersuara sekarang. Aku sudah berpikir Renji akan mengejekku atau bahkan memarahiku. Tapi ternyata perkiraanku salah. Renji melepas jaketnya kemudian menaruhnya di bahuku.
"Jangan nolak. Kalau lo sakit gue juga yang repot." Kata Renji tak ingin dibantah.
"Kapan acaranya?" Tanyaku tiba-tiba.
"Hah?"Renji tak mengerti maksud pertanyaanku. Tapi kemudian ia seakan mengerti maksudku.
"Sabtu ini."
"Lo datang?" Tanyaku lagi.
"Kalau lo gak datang gue juga gak akan datang."
"Lo mau nemenin gue?"
"Kalau lo ada di samping gue, gue rasa gue bakalan sanggup datang." Kataku tanpa sadar.
"Gue bakalan selalu ada di samping lo." Kata Renji yang kubalas dengan senyuman.
Aku dan Renji akhirnya pulang. Aku tidak pernah tahu kalau ternyata Renji panik karena mendapatiku tidak ada di kamar.
Mau tak mau kuharus
Melanjutkan yang tersisa
Meski semua telah berbeda
Dan tak akan pernah ada yang sama
(Mau Tak Mau-Jagostu)
Hari Sabtu pun tiba. Aku sudah belajar untuk tidak terus menerus terpuruk. Aku mencoba bangkit kembali.
"RENJI... Cepet!!" Teriakku sambil menggedor pintu kamar Renji.
"Iya iya, sabar. Kenapa sih gak bisa sabar." Kata Renji sambil membuka pintu kamarnya.
Aku tertawa melihatnya. Kuperhatikan baik-baik Renji. Ia mengenakan jas berwarna biru tua, rambut pirangnya sudah berganti warna menjadi coklat. Kemarin aku memaksanya untuk mengganti warna rambutnya yang norak itu. Tentu saja awalnya ia marah-marah menolak. Tapi setelah kupaksa akhirnya ia menyerah. Senang rasanya melihat rambutnya menjadi gelap.
Selama acara berlangsung Renji terus berdiri di sampingku. Ke manapun aku pergi ia akan mengikutiku tanpa banyak bicara. Aku sungguh berterimakasih kepadanya, karena kalau tidak mungkin aku tidak akan sanggup berdiri tegar seperti ini.
Setelah aku memaksakan makanan di piringku habis, aku segera berjalan keluar dari ruangan itu. Renji saat itu sedang mengobrol dengan Arnold sepupunya. Aku tidak enak kalau harus mengganggu obrolan mereka.
"Gue cariin ke mana-mana, taunya di sini." Kata Renji mengagetkanku. Kemudian ia duduk di sampingku. Kami berdua hanya berdiam diri sambil melihat langit yang begitu cerah.
"Kalau mau nangis, nangis aja." Kata Renji sambil menarikku ke dalam pelukannya. Aku bersandar padanya masih menahan tangisku. Renji mengusap pelan kepalaku tak lama air mataku tumpah kembali. Aku begitu membenci Pak Adit.
Setelah puas menangis aku menarik diriku dari pelukan Renji.
"Thank you." Kataku.
Renji hanya mengangguk. Kami kembali terdiam.
"Renji?" Tiba-tiba sebuah suara perempuan terdengar.
Aku membalikan badan begitu juga dengan Renji. Kulihat seorang gadis cantik memperhatikan Renji dengan seksama.
"Bener Renji, kan?" Tanyanya lagi.
"Sasa?" Renji ikut bertanya.
Aku menoleh ke arah Renji. Tentu saja Renji menolak bertunangan denganku. Pacarnya begitu sempurna dan sangat cocok bersama dengan Renji. Sasa berlari kecil ke arah Renji kemudian memeluk dan mencium pipinya. Ada perasaan tidak suka ketika aku melihat interaksi mereka berdua.
"Udah lama gak ketemu kok makin ganteng sih?" Tanya Sasa manja.
"Kamu tunangan bohongannya Renji ya? Makasih sudah jagain pacar aku ya." Katanya manis. Aku tidak suka itu. Apalagi ia menyebutku dengan sebutan tunangan bohongan.
"Masuk yuk, temenin Sasa." Kata Sasa sambil menarik Renji menjauhiku.
Aku menghela napas melihat Renji yang semakin jauh dariku. Lagi-lagi aku sendirian.
"Katanya mau temenin gue, tapi kabur." Kataku sendiri. Aku kembali menatap langit dengan perasaan kosong.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pelan kepalaku. Kulihat Renji sedang tersnyum jahil.
"Loh?" Aku bingung melihat Renji berdiri di belakangku.
"Hehe." Ia hanya tertawa.
"Lo lagi ngapain di sini? Bukannya tadi lo bareng sama pacar lo ya?"
"Sst. Gue kabur nih hehe."
"Kenapa?"
"Gue kan udah janji sama lo mau nemenin elo." Kata-kata Renji sukses membuatku melayang.
"Pacar lo gak marah liat lo di sini sama gue?"
"Enggak. Dia lagi foto keluarga sama Adit." Aku bingung.
"Oh iya, gue lupa bilang ya? Sasa itu adiknya Sherin. Makanya dia sengaja datang ke sini."
"Pantas saja. Mukanya mirip sama Sherin." Kataku sambil memaksakan senyum.
"Nih." Kata Renji sambil menyodorkan sebuah permen kesukaanku.
"Wa! Makasih Renji." Kataku girang.
"Dasar anak kecil." Kata Renji sambil tersenyum.