Kuingin bertanya, sungguhkah kau sayang aku
Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda tak seperti dulu
(Beda-Andity)
Dua bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Pak Adit. Meskipun tidak ada kata-kata resmi tentang berpacaran, tapi aku dan Pak Adit sama-sama tahu perasaan masing-masing. Tanpa sadar sudah lama aku tidak pernah lagi bertemu dengan Renji di rumah. Hari-hariku menjadi sepi karena tidak ada lagi pertengkaran antara aku dan Renji.
Hari ini, seperti biasanya aku akan mampir ke rumah Pak Adit hanya untuk membantu menjaga Andrew ketika Ibu Pak Adit sedang tidak ada di rumah.
"Mau makan apa Mas?" Tanyaku kepada Pak Adit. Iya, ketika di luar sekolah Pak Adit memintaku untuk memanggilnya Mas.
"Gak usah, kamu jangan repot-repot." Tolak Pak Adit tidak seperti biasanya.
Iya, sudah seminggu terakhir aku merasa Pak Adit berubah. Ia tidak lagi mau menerima masakanku, tidak lagi mengajakku pergi di hari Sabtu Minggu. Tidak lagi cepat membalas pesanku atau teleponku, seringkali melarangku untuk mendatangi rumahnya. Dan ketika itu pula aku segera mengesampingkan pikiran burukku. Aku meyakinkan diriku sendiri kalau Pak Adit hanya sedang sibuk dan tidak ingin diganggu.
"Gak repot kok hehe. Aku masakin nasi goreng mau?"
"Jangan, tadi saya sudah makan di luar."
"Oh, oke." Jawabku kecewa.
"Sorry ya." Katanya seakan menyadari kekecewaanku.
"Gak apa-apa hehe." Jawabku berbohong. Jelas aku kecewa.
"Kalau gitu saya pulang duluan ya." Lanjutku sambil bergegas mengambil tas sekolahku.
"Saya antar ya." Tawar Pak Adit.
"Gak usah, Mas. Makasih." Tolakku. Aku tidak ingin Pak Adit melilhat air mataku yang sudah tidak bisa kutahan.
Akhirnya hari itu aku pulang dan tidak lagi mendapat pesan dari Pak Adit yang hanya sekedar bertanya apakah aku sudah sampai di rumah atau belum.
Tiga hari kemudian aku berniat pergi ke rumah Pak Adit karena hari ini hari libur. Sebelum pergi aku mengirim pesan terlebih dahulu memastikan Pak Adit berada di rumah.
To : Mas Adityo
Mas, aku ke sana sekarang ya.
From : Mas Adityo
Sorry, jangan hari ini ya. Saya lagi sibuk.
To : Mas Adityo
Aku janji gak akan ganggu kok, boleh ya saya ke sana, kangen nih. hehe
From : Mas Adityo
Sorry, saya lagi ada tamu.
Aku menghela napas membaca pesan terakhir dari Pak Adit. Kemudian tiba-tiba saja hatiku terasa riang ketika memikirkan akan bertemu Renji hari ini. Mengingat ini hari libur aku yakin Renji masi tertidur pulas di kamarnya. Segera kulangkahkan kakiku keluar kamar. Jantungku berdetak dengan cepat, sambil kuhitung mundur kubuka pintu kamarku.
"Sembilan.. Sepu.."
"Heh! Ngapain lo pagi-pagi komat kamit baca mantra gitu." Belum selesai aku menghitung aku sudah mendengar suara yang sudah lama tidak pernah aku dengar lagi.
"Selamat pagi, Renjiii." Kubuka mataku untuk melihat laki-laki yang beberapa waktu terakhir menghiasi hidupku.
Renji menaikan sebelah alisnya, kemudian mendekatiku dan memeriksa dahiku.
"Gak panas." Kupukul pelan lengan Renji.
"Kurang ajar lo." Protesku.
"Mau pergi?" Tanya Renji setelah selesai tertawa.
"Enggak."
"Tumben, biasa jam segini lo udah gak ada di rumah."
"Renji mau ke mana?" Tanyaku dengan manja, aku tak sadar bahwa ternyata tidak ada dia di hidupku lebih menyebalkan.
"Mau pergi. Kenapa mau ikut?"
"Mau!!" Jawabku dengan semangat.
"Tapi gak jadi deh, males." Renji segera berlari menjauhiku.
"RENJI! LO NYEBELIN BANGET SIH." Teriakku. Renji sudah terlebih dahulu menutup pintu kamarnya.
Satu minggu berlalu, semenjak hari itu Pak Adit benar-benar menghilang. Tidak ada satupun telepon maupun pesan yang aku kirim dibalasnya. Di sekolahpun ia tidak ada. Sebenarnya aku mendengar cerita kalau Pak Adit sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Aku mencoba bertanya pada Renji tapi ia selalu berkata tidak tahu. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin Pak Adit sedang mempersiapkan kejutan untukku.
To : Mas Adityo
Mas, hari ini aku ke rumah ya. Kangen hehe.
From : Mas Adityo
Gak usah, kamu gak perlu datang lagi ke rumah saya ya. Maaf, tapi kita harus berpisah.
To : Mas Adityo
Mas, maksudnya apa ya? Pokoknya aku mau ke sana sekarang.
Tidak ada balasan lagi dari Pak Adit. Aku tidak menyangka bahwa Pak Adit akan minta berpisah. Aku tidak tahu salahku di mana, dan mengapa. Akhirnya dengan rasa penasaran aku mendatangi rumah Pak Adit.
Sesampainya di depan rumah Pak Adit, aku menyuruh supir yang mengantarku untuk pulang. Karena seperti biasanya aku akan diantar pulang oleh Pak Adit. Dengan tak karuan aku menekan tombol bel yang berada di rumah itu. Tak lama pintu terbuka dan keluarlah Pak Adit. Hampir saja aku memeluknya kalau saja wanita itu tidak berdiri di belakang Pak Adit.
"Siapa Dit?" Pak Adit tidak menjawabnya. Tentu saja, jawaban apa yang harus diberikan oleh Pak Adit.
Wanita tadi mengintip dari balik punggung Pak Adit. Setelah ia melihatku, senyumnya tersungging begitu lebar.
"Oh, hai. Tunangannya Renji ternyata." Kata wanita tadi.
"Masuk, yuk." Ajak wanita tadi sambil menarik lenganku melewati Pak Adit.
"Renji nya mana?" Tanyanya sambil mempersilahkan aku duduk.
"Err.. Iya, tadi Renji lagi ada urusan dulu." Kataku berbohong. Aku melihat ke arah Pak Adit meminta pertolongan.
"Oh iya, dia tadi aku suruh ke sini karena ada tugas yang aku mau minta tolong kasih ke dia." Seakan mengerti Pak Adit menerangkan kepadaku wanita itu.
Aku terluka mengetahui Pak Adit menggunakan kata aku kepadanya. Sedangkan denganku ia tidak pernah mengganti kata saya dengan aku.
"Oh, iya. Saya sampai lupa. Nama saya Sherin, mantan isterinya Adit yang sebentar lagi jadi isterinya lagi hehe." Katanya sambil melihat Pak Adit. Pak Adit hanya membuang muka. Tentu saja, keadaan macam apa ini. Aku pacarnya Pak Adit bertemu dengan mantan sekaligus calon isterinya Pak Adit.
"Pantas saja Sasa di sana kalang kabut. Saingannya cantik begini hehe. Tipe kesukaannya Renji sama Adit banget. Ya kan?" Tanya Sherin sambil tersenyum. Entah mengapa aku merasa ia tahu bahwa aku dan Pak Adit bukan sekedar guru dan murid. Aku masi terdiam tanpa berani menatapnya.
"Jangan takut dong hehe saya gak galak kok." Canda Sherin mencoba mencairkan suasana.
"Oh iya, tunggu sebentar ya saya ambil dulu tugasnya." Kata Pak Adit seakan ingin menyudahi pertemuan ini.
Pak Adit segera masuk ke dalam kamar dan dengan cepat kembali lagi. Ia membawa beberapa lembar kertas yang aku yakin isinya hanyalah kertas asal.
"Ini. Besok tolong diperbanyak ya, kemudian bagikan di kelas. Saya masih ambil cuti sampai minggu depan soalnya." Kata Pak Adit sambil menyerahkan kertas itu. Aku hanya mengangguk kemudian dengan cepat aku berpamitan.
"Saya pulang dulu kalau begitu."
"Eh, tunggu sebentar. Saya lupa ini saya bawa cemilan dari Korea, ini enak banget loh hehe. Kamu cobain sama Renji ya." Katanya sambil menyerahkan satu bungkusan.
"Terimakasih." Dengan cepat aku menerima bungkusan tersebut.
"Saya anterin pulang ya." Tiba-tiba Pak Adit berbicara.
"Iya, Renji nanti biar saya yang telepon aja." Kata Sherin.
"Gak usah, makasih. Saya pulang duluan." Kataku sembari keluar dari rumah itu.
Tapi ternyata Pak Adit berjalan mendahuluiku dan membuka pintu mobilnya, memaksaku untuk segera naik. Selama di perjalanan kami berdua hanya terdiam. Hujan turun cukup deras, sehingga yang terdengar hanyalah suara hujan. Mobil melaju dengan lambat sampai akhirnya berhenti di depan rumah Renji.
"Gi, saya.." Suara Pak Adit memecah keheningan.
"Terimakasih sudah mengantar saya pulang." Potongku.
"Gi, maaf." Kata Pak Adit menahan tanganku yang akan keluar dari mobil.
"Gak perlu." Kataku sambil melepas tangan itu.
"Saya benar-benar minta maaf Gi. Saya.."
"Pergi." Potongku cepat. Aku sudah tidak mau melihat muka Pak Adit. Aku takut air mata ini jatuh di hadapannya.
"Gi.."
"Kalau Pak Adit gak pergi sekarang, saya gak akan pernah bisa melepas Bapak." Kataku.
"Gi, sekali lagi saya minta maaf. Kamu boleh benci saya sebanyak yang kamu mau."
Aku segera keluar dari mobil itu, berjalan di tengah hujan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kulihat Renji sedang asyik menonton televisi.
"Oi, kok lo basah gitu sih? Kehujanan?" Tanya Renji ketika melihatku basah kuyup.
"Wah, bawa itu? Buat gue ya?" Tanyanya dengan riang.
"Lo udah tahu?" Tanyaku.
"Maksud lo?" Renji bingung.
"Lo udah tahu kalau Pak Adit mau menikah lagi?" Renji terdiam. Sudah kuduga tentu saja ia tahu.
"LO JAHAT! KENAPA LO GAK BILANG?? GUE GAK PERLU KE SANA." Teriakku marah.
"Gue pikir lo udah tahu, Gi." Kata Renji bersalah. Tanpa sadar, ini pertama kalinya ia memanggil namaku.
"GAK USAH BANYAK ALASAN. GUE BENCI SAMA LO." Setelah aku melempar bingkisan itu kepada Renji aku segera berlari masuk ke dalam kamarku dan menguncinya.
"s**t!!" Aku mendengar Renji mengumpat di luar.
Hari itu aku menangis tanpa henti.