Jatuh Cinta

1361 Kata
I catch myself thinking, why you are here? By my side Not knowing what you see in me I guess love can clear out the clouds Carry you in the wind to my heart (A Letter Written-MC.Mong ft.Lisa) Setelah semalam aku mengetahui bahwa Pak Adit menyukai seseorang, pagi ini aku memutuskan untuk berhenti menyukainya. Meskipun aku tidak yakin apakah aku bisa. Perutku berbunyi tepat setelah aku bangun. Mungkin karena semalam aku lupa mengisi perutku ini. Setelah menggosok gigiku, segera kubuka pintu kamarku. Dan detik itu juga jantungku rasanya akan lepas. Bagaimana tidak, aku mendapati seorang laki-laki sedang tidur di sofa yang biasa Renji duduki. Dengan cepat aku mengetuk pintu kamar Renji. Tanpa sadar ketukanku itu membangunkan orang tersebut. "Berisik banget, ada apaan sih?" Tanya lelaki tersebut. Aku mengenal suara itu, segera aku membalikan badanku dan mendapati Pak Adit sedang berdiri di sana. "Ups. Sorry saya kira tadi Renji." Aku hanya menganggukan kepalaku. Bodoh sekali, harusnya aku yang meminta maaf karena sudah membangunkannya. "Kamu lagi ngapain di sini?" Tanyanya lagi. "Eh, saya..." "Berisik banget sih." Belum sempat kujawab Renji sudah keluar dari kamarnya tentu saja dengan muka masamnya itu. "Wow, it's your lucky day girl." Kata Renji ketika melihatku dan Pak Adit. "Katanya minta dikenalin. Sekarang sudah ketemu langsung kenalan dong." Goda Renji yang sukses membuatku mencubit lengannya. "Jadi, kalian saling kenal?" Tanya Pak Adit. "Lo lupa ya kayanya semalem kan lo ketemu sama dia." Jawab Renji. "Serius? Sorry, sorry saya suka lupa kalau sudah kebanyakan minum hehe." Kata Pak Adit melihatku. Aku masih terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. "So, I guess it's my lucky day since both of you know each other." Kata-kata Pak Adit memecah keheningan. Jelas aku tidak mengerti maksud perkataan Pak Adit, begitu juga dengan Renji. Kulihat ia hanya menaikan sebelah alis pirangnya itu. "Dia yang gue maksud waktu itu. Lo inget kan?" Tanya Pak Adit kepada Renji seakan menyadari bahwa sepupunya itu tidak mengerti maksud perkataannya. "Hahaha." Renji tertawa dengan kencang. Aku semakin bingung. "Good luck to you deh." Sambung Renji. "Kenapa?" Kali ini Pak Adit yang tidak mengerti maksud perkataan Renji. "Iya, she is my fiancèe." Kata Renji sambil menahan tawanya. Kata-kata terakhir Renji sukses membuatku melotot. Aku tak habis pikir kenapa tiba-tiba dia menyebutku sebagai tunangannya. Bukankah kita berdua sepakat untuk hanya berpura-pura? "Haha. Betul itu? Kamu tunangannya Renji?" Tanya Pak Adit kepadaku, memastikan pendengarannya. "Iya." Jawabku pelan. "Do you love him?" Tanya Pak Adit lagi. Aku terkejut mendengar pertanyaan dari Pak Adit tersebut. "Err... No." Jawabku pelan. Sejujurnya aku takut menjawab pertanyaan dari Pak Adit tersebut. Aku takut Renji terluka kalau aku menjawab tidak. Aku juga tidak mau membuat Renji menjauhiku kalau aku mengatakan aku mencintainya. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya kepada Renji. "Good." Kata Pak Adit setelah mendengar jawabanku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua pembicaraan ini. Tanpa sadar aku melihat wajah Renji. Aku penasaran apakah dia terluka? Sayang, aku tidak bisa menebak wajahnya itu. "Well, sepertinya gue jadi mengganggu kalian. Gue tidur lagi aja deh, bye." Kata Renji kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Aku dan Pak Adit hanya terdiam. "Jadi, kamu sudah punya pacar?" Tanya Pak Adit tiba-tiba. "Hah?" Jelas saja aku kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba Pak Adit. "Belum." Lanjutku. "Kalau gitu, kamu mau jadi pacar saya?" Aku masih terdiam. "Sebenarnya saya sudah suka sama kamu dari pertama kamu masuk kelas saya." Sambung Pak Adit. "I know, kamu pasti kaget tiba-tiba saya bilang suka sama kamu. Tapi, saya takut begitu tahu kamu bertunangan sama Renji. Saya takut kamu jatuh cinta sama dia." Terang Pak Adit. "Amit-amit." Jawabku tanpa sadar. "Haha. Kenapa? Kan Renji ganteng, dulu di sekolahnya dia jadi idola satu sekolah loh." "Mereka gak tahu aja semenyebalkan apa Renji itu." Jawabku lagi. "Kamu tahu Renji punya pacar?" "Sasa?" "Iya, kamu tahu?" "Iya Renji pernah bilang. Makanya dia gak setuju sama pertunangan ini." "Kalau kamu setuju?" "Kalau dari awal tahu Renji menyebalkan aku sih gak akan mau setuju." "Haha." Pak Adit tertawa mendengar jawabanku. "Jadi, kamu mau jadi pacar saya?" Lanjut Pak Adit. "Saya bingung, Pak." Jawabku dengan jujur. "Haha. Ya sudah, kita jalani saja dulu ya. Siapa tahu nanti kamu mau jadi pacar saya." Kata Pak Adit sambil mengacak pelan rambutku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu aku berpamitan untuk kembali ke dalam kamar. Rasa laparku hilang seketika. Dengan cepat aku memberi tahu kedua sahabatku. Rasanya hari ini adalah hari terbaikku. Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan Segalanya berubah, dan rasa rindu itupun ada Sejak kau hadir di setiap malam, di tidurku Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku (Aku Jatuh Cinta – Roulette) Keesokan harinya sesampainya di sekolah aku mendapat pesan singkat dari Pak Adit. From : Mas Adityo Pagi, sudah sampai di sekolah? Saya lupa kemarin ada sesuatu yang saya belum bilang ke kamu. Nanti pulang sekolah ke ruangan saya dulu ya. Aku tersenyum mebaca pesan tersebut. "Pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri. Dapet pesan dari siapa sih?" Goda Trisna. "Eh, bikin kaget aja lo." "Cie, yang lagi seneng jadian sama ehemnya." Kali ini Stefanie yang menggodaku. "Hush. Gue belum jadian ya sama dia." "Kok belum sih? Katanya kemaren lo ditembak." "Ya gimana dong, gue juga bingung." "Bingung kenapa?" Tanya Trisna tidak mengerti. Karena ia sangat tahu kalau aku begitu menyukai Pak Adit. "Renji ya?" Tanya Stefanie asal. "Ngaco. Ngapain juga gue mikirin dia. Dia juga udah punya pacar di sana." Jawabku sebal. "Lo yakin bukan gara-gara Renji?" Tanya Trisna tidak yakin. "Yakin." Jawabku. "Ya sudah deh, siapa tahu lo bimbang gara-gara Renji." "Jadi, Renji udah tahu lo sama sepupunya itu?" Pertanyaan Stefanie seakan menyadarkanku. "Astaga. Gue lupa. Ya udah, gue balik ke kelas dulu ya. Bye." Kataku sambil berlari dengan cepat meninggalkan mereka berdua. Sesampainya di kelas aku segera mengambil ponselku. Aku mulai mengetik beberapa kata yang akan aku kirim ke Renji. Tapi, berakali-kali pula aku menghapus kembali pesan itu. Aku ragu. Haruskah aku memberi tahunya? Atau aku akan membiarkan Renji tahu dari Pak Adit. Saat sedang berpikir tiba-tiba sebuah pesan masuk. From : Renji Oi, katanya lo jadian ya sama Adit. Kok lo gak ngasih tau gue? Masa gue tahunya dari Shelica. Selamat deh ya. Jadi kita semakin gampang buat bilang ke mama pertunangan kita batal. Aku membaca kata-kata terakhir dari Renji. Entah mengapa aku merasa sedih kalau pertunanganku dan Renji harus batal. Apa yang harus aku lakukan ketika aku sudah mulai terbiasa bersama Renji. To : Renji Hehe, thank you. Aku sungguh tidak tahu harus membalas bagaimana pesan dari Renji tersebut. Apa aku sedih karena tidak bisa bertemu Renji lagi? Entahlah. Aku hanya berharap pilihanku ini tepat. Sepulang sekolah aku mampir ke ruang Pak Adit. Kebetulan di ruang tersebut hanya ada Pak Adit, aku dan guru fisikaku. Guru Fisikaku tentu saja tahu kalau aku menyukai Pak Adit, jadi begitu ia melilhatku masuk untuk bertemu Pak Adit, ia segera keluar tanpa berkata apapun. "Hai, sorry jadi manggil kamu dulu ke sini." Kata Pak Adit. "Gak apa-apa, kebetulan memang lagi gak ada pelajaran tambahan hehe." "Iya, jadi saya mau bilang sesuatu sama kamu. Mungkin setelah mendengar ini kamu gak mau lagi deket sama saya, atau mungkin kamu gak mau lagi ketemu sama saya. Tapi, rasanya kalau saya gak bilang sendiri ke kamu perasaan saya akan lebih gak enak lagi. Kalaupun setelah kamu mendengar ini kamu jadi benci sama saya gak apa-apa. Saya akan terima apapun keputusan dari kamu." Kata Pak Adit panjang lebar. Aku hanya mengangguk menunggu kata-kata selanjutnya dari Pak Adit. "Jadi, mungkin kamu pernah dengar dari teman-teman kamu, kalau saya sudah berkeluarga." Pak Adit berhenti untuk melihat mukaku. Aku mengontrol sebisa mungkin mukaku ini. "Tapi itu salah. Iya, saya pernah menikah dan sudah bercerai cukup lama. Saya memiliki seorang anak laki-laki yang tinggal bersama saya dan Ibu saya." Pak Adit berhenti berbicara. Akupun masih terdiam. Sesungguhnya aku sudah tahu hal tersebut dari Renji. Tapi aku tidak enak mengatakan bahwa aku mengetahuinya dari Renji. "Jadi?" Tanya Pak Adit. "Jadi apa, Pak?" Tanyaku pura-pura bingung. "Jadi, kamu tetap mau sama saya?" Aku mengangguk mendengar pertanyaan dari Pak Adit. Kulihat Pak Adit tersenyum lebar begitu bahagia. Ini pertama kalinya aku melihat Pak Adit tersenyum selebar ini. Aku hanya berharap Pak Adit akan terus tersenyum seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN