Pertemuan Keluarga

1319 Kata
Satu bulan sudah berlalu semenjak aku bertunangan dengan Renji. Aku tentu saja sudah terbiasa tinggal "bersama" Renji. Setiap hari rumah ini tidak pernah sepi karena teriakanku. Tentu saja aku berteriak pada Renji yang menurutku masi sangat menyebalkan. Kemarin aku mengundang sahabatku untuk membantuk memilih baju yang akan aku pakai nanti malam. Iya, nanti malam aku dan Renji akan bertemu dengan sebagian dari keluarga besar Renji. Karena mereka tidak berada di Indonesia saat aku dan Renji bertunangan, jadilah malam ini aku, Renji dan orang tua Renji akan bertemu mereka untuk makan malam. Sesampainya di sana, aku melihat sudah cukup banyak keluarga Renji yang datang. Tapi aku tidak melihat satupun sepupu Renji yang aku tahu cukup banyak itu. "Wah, ternyata tunangannya Renji lebih cantik daripada di foto ya." Kata mereka ketika aku menjabat tangannya. "Tapi galak." Bisik Renji ketika aku akan duduk di sebelahnya. Aku tentu saja mendengar ucapan Renji tersebut. Dengan cepat aku mencubit pelan lengan Renji yang tertutup meja. Setelah selesai makan, ternyata orang tua Renji masih ingin mengobrol dengan keluarganya. Aku sebeneranya mengantuk dan ingin pulang, tapi aku tidak berani untuk berbicara. Aku hanya berharap acara ini akan segera selesai. Sepertinya Tuhan menjawab doaku. Tiba-tiba saja Renji berdiri untuk pamit pulang. "Mam, Pap Renji sama Gigi pulang duluan ya. Mari om, tante kami pamit duluan." Kata Renji sambil menggandengku keluar dari restoran tersebut. "Terimakasih." Kataku ketika kami berdua sudah duduk di dalam mobil. "Ya." Kata Renji sambil fokus melihat ponselnya. "Minggu depan kita ada acara makan-makan lagi." "Hah?" Sejujurnya aku cukup lelah untuk bertemu dengan keluarga Renji yang banyak itu. "Tenang, ini sama sepupu gue. Jadi gue yakin acaranya bakalan menarik." "Baiklah." Kataku sambil menghela napas, kemudian aku kembali melihat ke arah luar jendela. Waktu berlalu, akhirnya malam ini aku dan Renji akan pergi bertemu dengan sepupu-sepupu Renji. Acara malam ini diadakan di sebuah private club milik salah satu sepupu Renji. Jadi, aku tidak akan ditolak masuk ke dalam, karena ini milik sepupu Renji yang juga kini menjadi sepupuku. Benar kata Renji, malam ini begitu meriah. Bahkan Renji yang biasanya tidak banyak bicara, malam ini dia seperti menggila bersama sepupu-sepupunya. Aku hanya duduk melihat Renji dan sepupunya asyik mengobrol. Aku tidak terlalu canggung seperti minggu kemarin karena sepupu Renji yang begitu ramah kepadaku. Aku begitu senang rasanya seakan mereka memang sepupuku. "Sayang si Adit gak bisa datang." Kata Arnold ketika mereka semua kembali duduk bersamaku. "Iya. Kenapa sih?" Tanya Shelica. "Sakit katanya si Bryan." Jawab Renji. Ketika nama Adit disebut, pikiranku segera mengingat Pak Adityo. Apakah mereka orang yang sama? Tapi segera kutepis pikiran itu tidak mungkin rasanya guruku adalah sepupu Renji. "Gi, kok gak ikut minum?" Tanya Tere sepupu Renji yang aku tebak umurnya sama denganku. "Thank you. Tapi gue masih tujuh belas tahun hehe." Seketika mereka semua tertawa dengan jawaban polosku. Kulihat Renji, dia sedang menegak gelasnya. "Ren, bisa-bisanya lo naksir cewek SMA polos gini. Haha, udah bosen ya sama Sasa?" Pertanyaan dari Tere sukses membuat mereka kembali tertawa, tapi tidak dengan Renji. Sejujurnya akupun tidak suka ketika aku harus dibandingkan dengan Sasa. "Tapi, gak apa-apa. Gue lebih suka dia daripada Sasa." Lanjut Tere. Aku segera tersenyum mendengar kalimat tersebut. "Ren, tapi lo gak niat balik ke sana?" Tanya Arnold. "Tahun depan kayanya gue balik ke sana. Gue udah terlanjur ambil cuti." Jelas Renji. "Terus, kabar Sasa gimana?" Tanya Rendy. "Ya, gitu deh. Dia lagi sibuk sama kerjaannya." Jawab Renji malas. Setelah Renji selesai mengobrol bersama sepupu-sepupunya aku dan Renji akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. "Ren.." Panggilku pelan. "Mmh." Renji hanya bergumam. Kulihat ia sedang memejamkan matanya, mungkin kepalanya pusing karena terlalu banyak menegak minuman. "Mau tanya, boleh?" Kulihat Renji hanya mengangguk. Dengan hati-hati aku bertanya padanya. "Kalau Adit itu siapa?" Renji melihatku sebentar kemudian memejamkan matanya kembali. "Sepupu kesayangan gue. Kenapa?" "Namanya Adit atau Adityo? Orangnya gimana?" "Ya gitu deh." Jawab Renji malas. Aku hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Renji. "Memangnya kenapa?" Tanya Renji lagi. "Engga. Namanya mirip sama nama orang yang gue taksir." Jawabku jujur. Renji hanya mengangguk-angguk kemudian kembali memejamkan matanya. Sepanjang perjalan aku dan Renji hanya saling terdiam. Dalam hati aku berharap Adit sepupu Renji bukanlah Adit guru di sekolahku. Tuhan seperti memberi jawaban padaku. Lusa aku dan Renji akan kembali berkumpul bersama sepupu Renji dan dipastikan kali ini Adit akan datang. Jantungku sudah berdetak tidak karuan. Aku sangat penasaran siapa Adit ini. "Ren, mana sepupu lo?" Tanyaku sambil memperhatikan setiap wajah yang ada di situ. "Sabar. Penasaran banget lo sama sepupu gue haha." Aku hanya mendengus mendengar perkataan Renji. "Tenang, gue yakin sepupu gue lebih ganteng dari kecengan lo itu. Awas lo ya kalau naksir dia." Ancam Renji yang aku tahu ia sedang bercanda. Aku dan Renji kembali terdiam di antara musik yang begitu kencang. Di kursi ini hanya ada aku dan Renji. Sepupu-sepupunya sedang asyik menari di lantai dansa. Renji menolak ajakan sepupunya itu saat tahu aku tidak terbiasa dengan suasana ini. Lama terdiam, mataku menangkap sesosok lelaki yang aku kenal. Segera aku menepuk lengan Renji. "Ada apa sih?" Tanya Renji kesal. "Itu, lihat." Kataku sambil menunjuk lelaki tadi. Renji melihatnya kemudian segera melambaikan tangannya. "Oi!" Kulihat lelaki tadi semakin mendekat ke arahku dan Renji. "Hai, bro." Sapanya ketika sudah sampai di hadapanku dan Renji. "Loh, kok ada kamu di sini." Tanyanya ketika melihatku ikut berdiri bersama Renji. "Iya, ini tunangan gue." Jawab Renji cepat. Aku menoleh kepadanya memprotes perkataanya tersebut. "Oh, hai. Gak nyangka saya ternyata kamu tunangannya Renji hehe." Katanya sambil tersenyum manis. "Yang lain ke mana?" Tanyanya lagi. "Lagi di bawah." Jawab Renji lagi. "Ya sudah, gue ke bawah dulu deh. Ikut gak lo?" Tanyanya yang kemudian dijawab dengan gelengan Renji. "Ya sudah, saya duluan ya." Katanya sambil tersenyum manis. Setelah kepergiannya aku masih terpaku menatap punggung itu yang semakin menjauh. "Oi." Kata Renji menyadarkanku. "Ya?" Jawabku. "Ganteng kan sepupu gue. Awas lo kalau naksir." "Ren.." "Dia kecengan gue Ren. OMG gue mimpi apa semalem bisa ketemu dia tadi." Sambungku. "Udah, lo nyerah aja." "Kenapa?" "Dia udah punya anak." Kata Renji. "Gue tahu kok. Tapi kan gue gak bisa ngatur perasaan gue." "Haha. Bercanda." Renji tertawa melihat mukaku yang kecewa ini. "Hah? Jadi dia belum nikah?" "Sudah. Tapi udah divorce." Kata Renji lagi. Aku yang mendengar hal tersebut tentu saja merasa bahagia. "Kenalin dong, Ren." Pintaku pada Renji. "Males. Kasian sepupu gue kalau sama lo jadi downgrade." Tentu saja kata-kata Renji barusan sukses mendapatkan satu pukulan dariku. "Bilang aja lo cemburu, ya kan." Aku tak mau kalah. Renji hanya mendengus kesal. "Oi." Panggil Renji ketika kami sudah cukup lama saling terdiam. "Apa?" Jawabku tanpa menoleh kepadanya. "Gue lupa mau bilang sesuatu sama lo." Kata-kata Renji kali ini sukses membuatku menoleh kepadanya. "Apaan?" "Iya, mending lo nyerah aja sama sepupu gue." "Iya deh iya." "Engga, gue serius." "Gue duarius." "Geez terserah lo deh. Cuma gue udah bilang ya sama lo, sepupu gue lagi naksir cewe dari sekolah lo." "Hah? Siapa?" "Gak tahu." "Ren, please. Kasih tahu gue dong, siapa ceweknya?" "Serius gue gak tahu orangnya siapa, namanya siapa. Cuma gue tahu dia lagi naksir sama cewek di sekolah lo itu." Aku menghela napas sedih. Kenapa pula harus di sekolahku. "Ren, tolong dong lo tanyain sama sepupu lo itu." "Males. Lo aja tanya sendiri." "Nyebelin banget sih lo." Aku kesal padanya. "Pulang yuk." Ajakku tiba-tiba. "Hah? Yang bener aja lo, ini masi jam sebelas." "Gue ngantuk kepala gue pusing." Sejujurnya aku ingin lebih lama di sini, tapi ketika tahu Pak Adit menyukai wanita lain, rasanya aku tidak bisa berlama-lama bersamanya. "Serius lo? Bukan akal-akalan lo kan?" Tanya Renji tidak percaya. "Serius, gue pusing banget." "Oke, oke. Tunggu sebentar di sini gue pamit sama yang lain ya." Kata Renji sambil berdiri. Sebelum sempat melangkah, tanganku menahan lengannya. "Gue takut sendirian." Kataku memohon padanya. Bukannya aku tidak tahu, tapi beberapa laki-laki di meja sebelah terus menatapku sedari aku datang tadi. "Geez." Akhirnya Renji memanggil salah satu pelayan di situ untuk menitipkan pesan kepada sepupunya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN