Hadiah

1459 Kata
Keesokan paginya aku bersekolah seperti biasa. Dengan tambahan berbagai macam pertanyaan dari Stefanie, Trisna dan Sharon. Aku sibuk menjawab pertanyaan mereka hingga lupa kalau hari ini tugas dari kelasnya Pak Adityo. Aku baru ingat ketika Pak Adityo menyuruh kami mengumpulkan tugas itu. Dengan malu aku maju ke depan. "Pak, maaf saya belum mengerjakan tugasnya." Kataku sambil tertunduk. "Nanti sepulang sekolah kamu ke ruangan saya ya." Kata Pak Adityo datar. Aku hanya menggangguk kemudian kembali duduk di kursiku. From : Renji Oi, hari ini lo pulang jam berapa? From : Renji Oi, di telepon di sms gak ada yang lo jawab satu pun. Terserah lo deh. Aku tersenyum membaca pesan dari Renji. Sungguh, tunanganku ini tidak punya rasa sabar sepertinya. Dengan cepat kubalas pesan Renji sebelum dia semakin marah. To : Renji Sorry, gue lagi kelas. Kenapa? Lo kangen ya sama gue? Hehe. Gue pulang jam dua belas. Kenapa? Mau jemput gue? From : Renji Kangen sama lo? Males banget. GR banget lo mau gue jemput. Gue bosen di rumah, nanti temenin gue jalan-jalan. Gak pakai telat keluar sekolahnya. To : Renji Tuh, kan. Lo kangen kan sama gue. Hehe From : Renji Terserah lo deh. Jadi lo mau temenin gue gak? To: Renji Iya-iya, gue temenin. From: Renji Keluarnya jangan telat ! Aku hanya menahan senyum melihat pesan Renji yang selalu marah-marah. Kutaruh kembali ponselku ke dalam tas. Berharap semua pelajaran hari ini akan berlalu dengan cepat. Akhirnya waktu yang aku tunggu tiba juga. Jam pelajaran terakhir sudah berbunyi. Itu artinya aku bisa segera keluar ruangan dan berlari menuju lapang parkir. Kemudian aku teringat kalau aku harus menemui Pak Adityo terlebih dahulu. Ada rasa kesal ketika tahu aku tidak bisa segera menemui Renji. Aku bergegas menuju ruang Pak Adityo, agar aku bisa segera menghampiri Renji yang aku tebak saat ini sedang kesal karena aku terlambat. "Silahkan masuk." Ada jawaban ketika aku mengetuk pintu yang cukup tebal itu. "Oh, iya Regina. Kemari, silahkan duduk." Kata Pak Adityo sambil mempersilahkan aku duduk.  "Jadi, Bapak cuma mau tanya saja, kenapa kamu tidak mengerjakan tugasmu?" "Oh, iya Pak. Maaf, minggu kemarin minggu yang cukup sibuk untuk saya, Pak. Ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggal. Maaf ya Pak sekali lagi." Pak Adityo mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. "Ya sudah kamu boleh pulang sekarang. Lain kali jangan lupa untuk mengerjakan tugas kamu ya." Lanjut Pak Adityo. "Baik, Pak." Kataku sambil beregegas keluar dari ruangannya. Dengan sedikit berlari aku menuruni anak tangga yang tidak terlalu banyak itu. Aku melihat punggung yang tidak lebar itu sambil mengatur nafasku. Kemudian aku berjalan perlahan mendekati Renji.  "Dor." Kataku sambil menepuk pelan punggung Renji. Renji menoleh kaget tapi kemudian raut mukanya berubah. "Hobi lo itu telat ya kayanya? Lo tahu gak gue nungguin berapa lama di sini?” tanyanya ketus seperti biasa. Aku hanya tersenyum mendengar ocehan Renji.  Kemudian Renji membukakan pintu untukku. Aku tercengang, karena ini  pertama kalinya Renji membukakan pintu untukku. "Cepet masuk. Gue tinggal nih." Dengan cepat aku segera masuk ke dalam mobil sebelum Renji kembali marah. Aku mulai terbiasa dengan sifat jutek renji. Awalnya aku takut tapi sekarang sudah tidak lagi. "Kita mau ke mana sih?" Tanyaku di dalam mobil. "BEC." Jawab Renji singkat sambil tetap fokus menyetir. Dia tidak mau mobil BMW barunya tergores  di tengah jalanan yang macet ini. Aku tidak lagi bertanya karena aku takut akan mengganggu konsentrasinya. Sesampainya di BEC, Renji segera berjalan ke sebuah counter HP. “Mbak, yang ini harganya berapa?” Tanya Renji sambil melihat sebuah ponsel. “Oh, yang itu harganya tiga juta mas.” Jawab pegawai toko tersebut.  Renji hanya mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih dan keluar dari sana. Aku bingung, karena ini sudah toko kelima yang ia masuki. "Sebenarnya lo mau ngapain sih? Beli HP? Dari tadi kok cuma keluar masuk doang." Aku memulai protesku pada Renji. Masalahnya kakiku sudah mulai lelah, dan perutku mulai berbunyi. “Sebenernya lo niat beli HP gak sih? Perasaan daritadi kita Cuma keluar masuk, keluar masuk.” Aku protes, soalnya cape pisan nemenin dia keluar masuk counter HP. Dan ujung-ujungnya HP itu ditaro lagi alias gak jadi dibeli. "Niat. Tapi belum ketemu yang cocok aja." Kataa Renji santai. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. "Makan yuk." Ajak Renji kemudian. Aku menyambut ajakan Renji tersebut dengan semangat. Selesai makan, kami kembali mencari ponsel yang ingin dibeli oleh Renji. Setelah tiga puluh menit mencari, akhirnya Renji membawa sebuah kantong yang berisi dengan dua ponsel. Kami pun bergegas pulang.  “Lo mau jualan HP? Banyak banget belinya.” Kataku di dalam mobil. “Gak apa-apa. Pas lagi murah.” Jawab Renji santai.  Akhirnya kami berdua kembali terdiam. Sampai akhirnya aku menyadari jalan yang dilewati bukan jalan menuju rumahku. "Loh, kita mau ke mana? Kok lo gak nganterin gue pulang?" Tanyaku curiga. "Pulang, ini kan lagi nganterin elo pulang." "Tapi kan.." Belum selesai aku menjawab Renji sudah memotong perkataanku. "Tuh, ini rumah lo kan." Kata Renji ketika mobilnya mulai memasuki gerbang besar dan mewah itu.  Aku menatapnya tak percaya. "Ini kan rumah elo." Kataku. Renji melihatku sambil tersenyum tipis. "Mulai sekarang lo tinggalnya di sini. Rumah gue rumah lo juga." Kata Renji sambil memarkirkan mobilnya itu. "Turun gak?" Tanya Renji ketika akan membuka pintu. "Renji jangan bercanda." Aku masih tidak percaya dengan kata-kata yang Renji ucapkan. "Gue gak bercanda. Terakhir lo ke sini kan itu udah jadi kamar elo dan rumah lo." Kata Renji sambil membuka pintu.  Aku masih tidak percaya dengan semua ini, tapi kemudian aku mengikuti Renji keluar dari mobil. Di depan pintu, sudah ada dua orang perempuan yang menyambutku dan Renji. Salah satunya menawarkan makanan yang kemudian ditolak Renji karena sudah makan di luar. Aku hanya tersenyum mengikuti Renji melewati dua orang perempuan tadi, yang aku tebak pelayan di rumah ini.  "Renji ini serius?" Tanyaku lagi ketika melihat Renjij akan memasuki kamarnya. "Kamar lo di sebrang gue." Kata Renji menunjuk sebuah pintu di sebelah kananku. Setelah itu aku sudah tidak bisa melihat Renji lagi, karena ia sudah menutup pintu kamarnya.  Dengan ragu-ragu aku buka pintu yang disebut sebagai kamarku. Aku melihat sekeliling semuanya tampak sama seperti terakhir aku ke sini. Rasanya memang kamar ini untukku. Kujatuhkan badanku ke atas kasur yang sangat empuk itu tanpa mengganti seragam sekolahku terlebih dahulu. Aku mencoba mencerna semua yang terjadi. Kemudian segera kuambil ponselku dan mulai mengetik pesan di grup teman-temanku. Guys, gue sekarang tinggal sama Renji. OMG Tak lama sebuah pesan masuk dari Stefanie  Serius lo? OMG pasti seneng banget ya lo, rumahnya gimana? Aku tersenyum membaca pesan dari sahabatku itu, kemudian segera kubalas dan kujanjikan akan mengajak mereka ke sini. Kemudian terdengar sebuah ketukan di pintu kamarku. Segera kubuka pintu kamarku dan mendapati Renji sedang berdiri di sana memegang sebuah kantung kertas. "Kenapa?" Tanyaku bingung. Renji menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak gatal. "Lo belum ganti baju? Jorok banget." "Suka-suka gue." "Nih, buat lo." Kata Renji sambil menyodorkan kantung kertas coklat itu. "Apa ini?" Tanyaku penasaran. "Hadiah buat lo." "Hadiah? Gue gak ulang tahun kok." Jawabku makin bingung. "Hadiah karena lo udah nemenin gue jalan-jalan tadi."  "Hah? Gak usah Ren. Lo kan tadi udah bayarin gue makan." Tolakku. "Ya terserah lo deh, mau diterima atau engga." Kata Renji sambil menaruh kantung itu di bawah kakiku, kemudian pergi kembali masuk ke dalam kamarnya. "RENJI!" Teriakku. Renji membuka pintu dengan tampang masamnya. "Gak usah teriak-teriak, gue masih bisa dengar." Kata Renji kemudian kembali menutup pintunya tanpa sempat aku mengucapkan terimakasih. Aku menutup pintuku dan membuka hadiah dari Renji. Aku terkejut mendapati sebuah ponsel keluaran terbaru yang Renji beli tadi. Aku segera keluar dan berniat mengetuk pintu kamar Renji. Tapi kuurungkan niatku. Aku kembali masuk ke dalam kamar, dan mulai mengetik pesan singkat berisi ucapan terimakasih kepada Renji.  Keesokan harinya, Sharon melihatku menggunakan ponsel baru segera bertanya. "Ganti ponsel lo? Tumben banget. Biasanya gantinya nungguin kalau sudah rusak. Hehe." "Iya, ini dibeliin Renji." Kataku sambil tersenyum. Sharon hanya menggodaku ketika aku menyebutkan ponsel itu dari Renji. Sebelum kelas dimulai, aku mulai mengetik pesan singkat untuk Renji. To : Renji Ren, gue masih penasaran. Kok lo beliin gue hp baru? Kan HP gue masih bagus. From : Renji Pagi-pagi ganggu gue tidur cuma buat nanya yang gak penting.  To : Renji Ya, kan gue masih penasaran. Lo kok tiba-tiba baik sih? Haha. From : Renji Geez. Dari dulu gue emang baik kali. Kenapa? Lo gak suka modelnya? Mau diganti? Aku mengnyeritkan kening ketika membaca pesan Renji yang tidak biasa. To : Renji Hello, ini Renji kan? From : Renji Lo pikir gue hantu? Udah deh, gue ngantuk. To : Renji Haha. Habisnya lo beda banget sih. Jadi kenapa alasannya? From : Renji Gue males liat hp lo yang udah ketinggalan jaman itu. Gue juga beli kok, jadi jangan GR gue sengaja beli buat lo. To : Renji Hehehe, ok deh. Thank you ya :) Aku tersenyum membaca pesan dari Renji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN