After Party

1182 Kata
Keesokan harinya aku terbangun di sebuah kamar yang asing bagiku. Kamar yang luasnya dua kali lipat dari kamar milikku ini tertata dengan rapih. Seakan kamar ini memang dipersiapkan  untuk diriku. Aku melihat sekeliling dan mencoba mengingat kembali mengapa aku terbangun di kamar ini. Kulihat aku masih mengenakan gaun yang aku pakai saat acara kemarin. Kemudian aku segera berlari  menuju kaca besar di kamar itu. Benar kan, aku belum menghapus riasanku dari kemarin. Segera kubuka pintu yang aku yakini itu adalah kamar mandi. Baru saja aku berpikir aku tidak membawa peralatan mandiku, aku sudah menemukan berbagai brand terkenal yang berjejer rapih sesuai dengan tempatnya. Kupilih salah satu brand yang memang sering aku pakai.  Setelah selesai membersihkan muka dan badanku, aku tersadar aku tidak membawa pakaianku. Dengan ragu kubuka lemari besar di hadapanku. Aku terperangah ketika melihat berbagai macam jenis baju ada di sana. Disusun dengan rapih membuatku enggan mengambilnya karena takut akan membuatnya berantakan. Dengan terpaksa kupilih baju tidur dengan kaus berwarna putih dan celana pendek berwarna pink. Aku kaget ketika mendapati ukuran baju itu pas di badanku. Milik siapa semua ini? Apakah ini memang dipersiapkan untuk diriku? Siapa yang menyiapkan semua ini? Banyak pertanyaan di benakku.  Setelah berdiam cukup lama di dalam kamar, aku memutuskan untuk keluar dan mencoba bertanya pada Renji atau orang tuaku. Kulihat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Aku tak yakin apakah mereka sudah bangun sepertiku? Tapi karena banyak pertanyaan di benakku dan kebetulan perutku lapar, aku putuskan untuk keluar dari kamar. Kulihat sekeliling, tak jauh dari hadapanku ada sofa dan televisi besar yang aku yakini ini adalah ruang tamu, kemudian di sebelah ruang tamu tersebut ada sebuah ruangan yang aku tebak adalah sebuah kamar. Aku berjalan ke sebrang kamarku tersebut. Belum juga kuketuk pintu, ada seorang perempuan menyapaku. "Selamat pagi, non." Aku terkejut mendapati seorang perempuan paruh baya berdiri sambil tersenyum ke arahku. "Perkenalkan, saya Sri, yang bertugas membersihkan rumah serta yang akan membantu Non dan Den Renji." Aku mangut-mangut mendengar penjelasan Ibu Sri. "Ada yang bisa dibantu Non?" Tanyanya lagi. "Oh, iya Bu. Saya mau tanya kalau kamar orang tua saya yang mana ya?" "Oh, kalau ini kamarnya Den Renji. Kamar orang tua non ada di depan." "Di depan yang mana Bu?" Aku bingung karena kamarku  sudah berada paling depan di rumah ini. "Di rumah depan, Non. Dari sini lima menit aja kok, Non. Mau diantar Pak Sugeng, Non?"  "Oh, enggak usah, Bu." Aku masih bingung dengan penjelasan Ibu Sri. Mungkin nanti Renji bisa menjelaskannya lagi kepadaku. "Non mau sarapan dahulu? Atau mau tunggu den Renji bangun?" Aku berpikir sejenak. "Saya tunggu Renji bangun aja deh, Bu. Kalau gitu saya ke kamar lagi ya, Bu. Terimakasih." Kataku kemudian segera kembali ke kamarku. "Oh, iya Bu. Ini baju siapa ya?" Tanyaku sebelum masuk ke dalam kamar. "Bajunya pas, ya Non? Itu baju punya Non. Den Renji yang beli sendiri semuanya." Kata Ibu Sri sambil tersenyum. "Oh, iya Bu." Kataku kemudian kali ini aku benar-benar masuk ke dalam kamar. Aku masih memikirkan semua yang terjadi padaku, sampai tak sadar aku kembali tertidur. Aku merasa baru saja aku memejamkan mata, tak lama kemudian pintu kamarku sudah diketuk dengan keras dan terus menerus. "Oi. Bangun! Bangun." Teriak Renji dari luar sana. Dengan mata yang berat, kubuka pintu kamarku. Kulihat Renji sudah berdiri dengan pakaian yang rapih. "Mau ke mana?" Tanyaku sambil menyadarkan diriku sendiri. "Ckck. Oi, ini sudah jam berapa? Lo baru bangun. Ayo, cepat. Nyokap gue minta dianterin pergi bareng sama lo dan nyokap lo." "Hah?" "Lo gak bisa dengar barusan gue ngomong apa? Sudah, cepat. Gue tunggu satu jam di sini." Kata Renji sambil berjalan ke arah ruang tamu.  Dengan cepat aku kembali ke kamar. Mencuci muka dan menggosok gigiku lagi dengan cepat. Kubuka kembali lemari besar itu. Kuperhatikan satu-satu baju yang tergantung dan terlipat dengan rapih di sana. Hampir semua baju tersebut berwarna kuning dan pink serta putih. Tidak banyak celana jeans panjang maupun pendek di sana. Dengan bingung kupilih kemeja kuning yang cukup panjang dan bisa kujadikan sebuah dress. Kemudian kubuka lemari lainnya yang berisi berbagai macam jenis sepatu dari salah satu lokal brand kesayanganku. Kupilih sepatu kets berwarna putih. Kemudian kubuka lagi lemari lainnya, penuh dengan berbagai macam tas dari berbagai brand terkenal. Kupilih sebuah sling bag kecil berwarna hitam. Kulihat diriku kembali di cermin. "Rasanya bukan melihat diriku yang sebenarnya. Dari atas hingga bawah, semuanya merupakan barang mahal." Kataku sendiri. Kupastikan sekali lagi bahwa yang kupakai ini tidak memalukan diriku sendiri dan orang tuaku.  Kemudian dengan perlahan kubuka pintu kamarku. Kulihat Renji sedang duduk membaca koran membelakangiku.  "Mmm.. Gue sudah siap." Kataku perlahan. Kemudian Renji berbalik menatapku cukup lama. "Renji?" Panggilanku meyadarkan Renji dan membuatnya berdehem. "Ayo. Dari tadi gue tungguin. Lelet, kaya siput." Katanya sambil berjalan mendahuluiku. Aku hanya bisa mengelus dadaku. "Sabar, Gi." Kataku dalam hati. Kemudian kami berdua menaiki sebuah mobil yang cukup besar menuju sebuah rumah yang cukup besar yang berada tak jauh dari rumah yang baru saja kutinggalkan. "Itu rumah lo juga?" Tanyaku dengan polos. "Bukan. Itu rumah orang tua gue. Rumah gue yang tadi." "Beneran punya lo?" "Iya. Hadiah ulang tahun dari bokap."  "Wah.." Aku hanya bisa terperangah mendengar penjelasan Renji. Tak lama kami sampai di sebuah rumah mewah dan besar itu. Kami berdua turun dan menunggu di sebuah ruang tamu yang besarnya tiga kali lipat dari kamar tidurku. "Hai. Sorry kalian tunggu lama ya?" Ibu dan Mama Widya turun dari tangga melingkar nan mewah itu. "Ayo, kita pergi sekalian makan siang."  "Papa mana?" Tanya Renji. "Masi main catur dengan Ayah." Kata Mama Widya. Ayah yang dimaksud tentu saja ayahku. Akhirnya kami berempat pergi ke salah satu mall yang cukup besar di Bandung. Aku dan Renji menemani mama kami keluar masuk berbagai toko. Kami berdua sudah lelah, aku ingin pulang, muka Renji sudah kusut. Akhirnya mereka menyadari bahwa aku dan Renji sudah lelah dan memutuskan untuk segera mencari sebuah restoran untuk makan siang yang sudah cukup telat. Aku dan Renji berjalan di belakang ibu dan mama yang terus asyik mengobrol. Sedangkan Renji sedari tadi selalu fokus dengan ponselnya. Mungkin ia sedang berkomunikasi dengan pacarnya. Aku berjalan sambil melihat-lihat ke sekeliling. Tiba-tiba saja mataku terpaku pada sepasang kekasih yang berjalan ke arahku. Kakiku tiba-tiba saja terasa berat, jantungku berdetak dengan cepat. Aku masih berdiri mematung ketika sepasang kekasih itu hanya tinggal beberapa langkah dariku. "Gue pasti lebih baik dari mantan lo itu." Kata Renji sambil merangkulku ketika mereka melewatiku.  Aku menoleh dan mendapati Renji sedang menatapku sambil menaikkan alisnya sebelah. "Kesempatan lo." Kataku salah tingkah ketika menyadari tangan Renji berada di pundakku. "Lo pasti senang kan gue rangkul." Goda Renji dengan wajah datarnya.  Aku melayangkan tanganku bermaksud memukul pelan punggung Renji. Tapi kemudian, orang tua kami berbalik. "Kalian lagi ngapain?" Tanya Ibu. "Oh, enggak Bu. Hehe." Kataku sambil mengelus-elus punggung Renji. "Ayo, cepat." Kata Ibu kemudian mereka berdua kembali berjalan di depan kami.  "Kesempatan lo." Kata Renji sambil berjalan mendahuluiku. "RENJI!" Kataku geram. Akhirnya setelah menikmati makan siang yang telat, kami berempat memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Renji. Dan semenjak hari itu aku tinggal bersama Renji di rumah milik Renji. Aku hanya berharap aku akan baik-baik saja bersama Renji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN