Pertunangan II

746 Kata
Renji POV Hari ini merupakan salah satu hari yang tidak pernah gue bayangkan dalam hidup gue. Hari di mana gue harus bertunangan dengan cewek yang bahkan bukan pacar gue. Kalau saja Mama merestui hubungan gue dengan Sasa, mungkin hari ini gue akan bertunangan dengan Sasa. Bukan dengan gadis SMA yang super cerewet dan menyebalkan itu. Gue gak bisa membayangkan yang akan jadi calon suaminya sesungguhnya. Pasti hidupnya menderita. Gue sudah bersiap dan menunggu sedari tadi. Gue mulai lelah harus menampilkan senyum lebar kepada tamu yang terus mendatangiku. Mana sih dia? Tak lama kemudian, gue melihat dia berjalan masuk ke dalam ruangan dengan gaun putih selutut dengan riasan yang tidak terlalu mencolok. Gue akui hari ini dia terlihat sedikit cantik karena riasannya yang simple itu. Sejujurnya gue bosan dengan gaya make up Sasa yang menurut gue terlalu berlebihan. Tapi apa boleh buat, gue gak bisa berkata apa-apa kepada Sasa. Sadar gue terdiam memandanginya, dengan cepat gue membuang muka. Tentu saja gue masih sempat sesekali melirik ke arahnya.  Sebenarnya sedari tadi, wajah cantik itu belum juga menampilkan senyumnya. Gue tahu dia pasti masih kesal karena cincin pilihannya gue tolak. Gue hanya bisa menahan senyum membayangkan bagaimana wajahnya nanti ketika tahu cincin yang dia pilih sudah siap melingkar di jari mungilnya. Acara berlangsung lancar sampai pada saat acara bertukar cincin. Kulihat ia kaget ketika melihat cincin pilihannya ada di depan matanya. Dengan cepat wajah kaget itu berubah menjadi wajah yang penuh dengan kebahagiaan. Gue tidak dapat menahan senyum ketika melihat matanya yang begitu berbinar-binar. Tidak salah pilihan gue untuk kembali ke toko mas itu dan membelinya. Setidaknya gue bisa lihat wajah bahagia itu. Selesai acara, kami semua menikmati hidangan yang disajikan. Gue tidak begitu berselera untuk makan. Akhirnya gue putuskan untuk keluar dari gedung dan mencari udara segar. Gue tidak suka berada di tengah keramaian.  Baru saja gue berjalaln tak lama, tiba-tiba saja ada yang berteriak memanggil nama gue. Kulihat, dia sedang sedikit berlari mengejar gue. Akhirnya gue berjalan menghampirinya, tepat di hadapannya, tiba-tiba saja ia hampir terjatuh. Dengan sigap gue tahan badan mungilnya itu. Gue bisa merasakan betapa cepatnya jantung gue berdetak waktu itu. Setelah itu kami berdua duduk menikmati suara bisingnya dari arah kolam angsa. Baru juga kami duduk, tiba-tiba saja ia berteriak mengagetkanaku. Ternyata ia baru ingat bahwa ia harusnya menyuruhku kembali ke dalam.  Setelah memastikan bahwa ia harus berhati-hati lagi, dengan sedikit kesal gue harus meninggalkannya duduk sendirian. "Renji, kamu ke mana saja? Itu ada Mas Adityo." "Tadi di luar, mam sama Gigi. Ok, aku temuin Mas Adityo dulu ya mam." Gue melambaikan tangan kemudian berjalan menuju meja di mana Mas Adityo sedang duduk "Hai,  bro!" Gue menepuk pelan lengan Adityo. "Hai. Dari mana aja, gue cariin." Katanya sambil menarik kursi menyuruhku duduk secara tidak langsung. "Tadi cari angin, biasa. Sumpek gue." Adityo menangguk-angguk kepalnanya. "Tunangan lo mana?"  "Ada di luar." "Cantik?" Gue tahu Adityo hanya menggoda gue saja. Karena ia tahu kalau gue masih berpacaran dengan Sasa. "Lelet kaya siput. Berisik pula."  "Haha.Tapi sayang?" Adtyo sukses mendapat pandangan tajam dari gue. Dia hanya tertawa. "Eh, tapi kok lo bisa kenal sama anak murid sekolah gue?" Tanya Adityo setelah puas tertawa. "Temen tunangan gue kali." "Kenapa?" Tanya gue. "Enggak, itu teman-teman kecengan gue." "Hah? Lo ngecengin anak SMA? Serius lo?" Gue ketawa mendengar kata-kata Adityo. Mengingat ia bukan lagi seorang perjaka ting-ting. Yes, dia seorang duda. Tapi perawakan dan mukanya tidak menampakkan bahwa ia pernah menikah dan memiliki seorang anak. Alasannya bercerai waktu itu karena sang isteri merasa belum siap menikah dan menjadi seorang ibu. Padahal, mereka bercerai setelah menikah selama enam tahun dan berpacaran selama sepuluh tahun. Kini Adityo tinggal bersama mamanya dan anak semata wayangnya. Sudah lima tahun sejak perceraian mereka. Kini umur Adityo sudah menginjak angka tiga puluh lima. Memang sudah sewajarnya ia mencari wanita lain yang siap untuk menerima ia dan anaknya. Tapi, gue gak pernah berpikir bahwa ia akan menyukai seorang gadis SMA. "Haha. Gak apa-apa dong, muka gue masih pantes ya disebut anak kuliahan." Katanya sambil tertawa. Melihatnya kini sekarang bisa bercanda dan tertawa gue sungguh merasa bahagia. Gue tahu ketika isterinya memutuskan untuk meninggalkannya dan menceraikannya, hidupnya hancur total. Tidak ada lagi semangat untuk hidup. Beruntung ia memiliki Andrew, anak semata wayangnya. Semenjak itu, hidupnya selalu untuk Andrew. Kini sudah saatnya ia untuk berbahagia. "Haha. Bebas, mas. Bebas. GImana lo aja. Mau sama nenek-nenek juga boleh asal lo bahagia, gue selalu dukung." "Sialan lo." Katanya bercanda. Akhirnya kami berdua terlibat obrolan seru setelah cukup lama kami tidak bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN