Pertunangan

1540 Kata
Keesokan harinya, Stefanie dan Trisna sudah duduk manis di kelasku. Alasannya? Pasti bertanya soal kemarin. Dan benar saja. "Jadi, gimana kemarin kencannya sama aa Renji?" Goda Trisna. "Kencan apaan? Cuma pulang ke rumah doang." "Tapi senang dong? Dijemput tunangan tercinta." Kali ini Sharon ikut menggodaku. "Senang apaan? Gue sama dia gak ngobrol apa-apa selama perjalanan." "Gi, kemarin yang jemput cowok lo?" Tiba-tiba Diela muncul.  "Bukan-bukan." Tentu saja aku mengelak. Mana mungkin aku mengakui Renji sebagai pacarku.  "Oh." Kata Diela sambil tersenyum kemudian berlalu.  "Kok malu sih? Bilang aja tunangan lo." Goda Stefanie. Belum sempat kubalas, tiba-tiba ada telepon masuk. Dari Renji. Ada apa pagi-pagi dia telepon? Salah lagi kah? "Halo." Kataku.  "Hari ini pulang jam berapa?" Tanyanya.  "Apa?" Aku sungguh tidak bisa mendengar suaranya. Stefanie, Trisna, dan Sharon sedang sibuk menggodaku.  "Hari ini pulang jam berapa?" Renji kembali mengulang pertanyaan dengan memperbesar suaranya. "Oh, jam tiga. Kenapa?" "Nanti gue jemput, jangan telat." "Apa?" Kali ini aku hanya menggodanya. Aku dapat mendengar dengan jelas perkataan Renji. "Perlu gue teriak?" Renji mulai kesal. "Haha. Ok, ok. See you." Kataku sambil tertawa. "Jangan telat." Kata Renji sebelum aku menutup telepon.  "Cie, cie. Yang baru selesai teleponan sama tunangan tercinta." Tentu saja kata-kata Sharon barusan mendapat tatapan tajam dariku.  "Mau dijemput ya?" Tanya Trisna. "Iya." "Mau ngapain sih?" "Ya nge-date lah. Ngapain lagi?" Belum aku sempat menjawab, Sharon sudah mendahuluiku.  "Ngaco." "Terus ngapain?" "Gak tahu." Kataku cemberut. Pura-pura cemberut.  Akhirnya mereka bertiga berhenti menggodaku sebelum aku benar-benar marah. Trisna dan Stefanie segera kembali ke kelas mereka masing-masing karena jam pelajaran pertama hampir di mulai. Waktu berjalan cepat. Aneh sekali, hari ini jantungku berdetak lebih cepat dibandingkan biasanya. Apakah karena aku akan bertemu dengan Renji? "Kenapa? Deg-deg an ya mau ketemu tunangan?" Bisik Sharon yang melihatku terus melirik jam di tanganku. "Ngaco." Kataku membantah.  Setelah jam pelajaran terakhir berakhir, aku segera berlari menuju sebuah salah satu restoran donat yang terkenal di Bandung, yang berada di sebelah sekolahku. Setelah ku atur nafasku, ku dorong pintu kaca itu, segera ku hampiri lelaki dengan rambut coklat terang itu. "Sorry telat." Kataku sambil menarik kursi di depannya. "Lama banget sih." "Iya, maaf. Tadi pelajaran terakhir gurunya lama banget selesainya. Sorry ya."  "Ya sudah. Mau pesan apa? Jangan lama. Acara kita masih banyak." "Acara apa?" "Cari cincin, fitting baju, ketemu sama wedding organizer." "Memangnya keburu? Sekarang sudah hampir jam empat sore."  "Makanya cepetan."  Akhirnya aku hanya memasan secangkir es coklat untuk menahan laparku.  "Masih lama gak?" "Sedikit lagi, Ren. Sayang kalau gak habis."  Renji sedikit tersentak mendengarku memanggil namanya untuk pertama kalinya. Aku yang tersadar pun segera memalingkan muka. "Gue tunggu di mobil. Lima menit belum beres, gue tinggal." Kata Renji sambil berlalu.  "Geez."  Dengan cepat ku kembalikan gelas yang masih belum habis sepenuhnya ke pramusaji yang memang sudah bersiap membersihkan meja kami.  Akhirnya aku masuk ke dalam mobil Renji dan duduk di sebelahnya.  "Kita udah membuang tiga puluh menit percuma." Baru saja aku duduk, Renji sudah mulai menceramahiku. "Gue gak mau pergi kalau lo masih marah-marah kaya gitu." Kataku ketika melihat Renji beranjak dari kursinya. Renji berbalik dan mendekatiku kemudian berkata, "Can you just speed up? We don't have time." Aku membeku mendengar nada sinis Renji. Tanpa membantah segera kukembalikan gelas yang masih belum sepenuhnya habis dan segera menyusul Renji yang sudah masuk ke dalam mobil mewahnya itu. Sepanjang perjalanan kami berdua hanya terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di sebuah toko mas di daerah Sukajadi, aku masih mengikuti Renji yang memilih-milih cincin. "Lo aja deh yang pilih cincinnya."  "Hah?" Aku kaget mendengar perintah Renji. "Cepetan, kita masih harus ke tempat desainer." Aku hanya mangut-mangut sambil memilih dengan hati-hati. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah cincin polos bermata satu berlian yang tidak terlalu besar. Aku segera menarik lengan Renji di belakangku tanpa sadar. "Ketemu. Gue mau yang..." Ketika berbalik kudapati Renji sedang menerima telepon dengan senyuman yang baru pertama kali aku lihat. Tanpa sadar kulepaskan tanganku pada lengan Renji.  Tak lama Renji menyudahi teleponnya kemudian menatapku. "Sudah ketemu?" Tanya Renji dengan ramah. Pertama kalinya ia berbicara dengan nada hangat seperti itu. "Yang ini." Kataku sambil menunjuk cincin yang kupilih tadi. Kulihat Renji  terkejut melihat cincin pilihanku. "Gak ada yang lain lagi? Ini terlalu polos buat acara pertunangan. Lo mau malu-maluin gue?" Renji kembali lagi dengan nada dinginnya.  Aku menghela napas, "Tapi gue maunya yang ini." "Not this one. Cari yang lain." "Gak mau." "Ya sudah. Kita pergi ke tempat desainer saja." "Terus cincinnya gimana?" "Biar gue yang beli dan pilih sendiri saja." "Tapi, Ren.." Belum selesai aku bicara, Renji sudah berjalan meninggalkanku menuju mobilnya. Setelah meminta maaf kepada penjaga toko, aku segera menyusul Renji dengan kesal. Lagi-lagi sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela dengan hati kesal. Pertunangan macam apa ini, pikirku. "Kenapa muka lo cemberut?" Tanya Renji sambil melirik ke arahku. Aku hanya mendengus kesal tanpa ingin menjawab pertanyaannya. "Gara-gara cincin tadi? Please, jangan yang itu ya. Lo  tahu kan, keluarga gue bakalan malu dilihat sama rekan bisnisnya kalau cincin pertunangan anak satu-satunya biasa gak ada something specialnya." Kata Renji lembu. Aku kesal mendengar nada lembut Renji. "Lo habis dapet telepo dari siapa sih? Nada bicara lo kaya bukan Renji yang gue kenal." "Sasa." Jawab Renji singkat sambil tersenyum kecil.  "Sasa?" Tanyaku bingung. "Oh iya, gue lupa bilang. Sasa itu cewek gue yang di Jepang." Aku semakin kesal mendengar nama itu disebut.  Setelah mengukur ulang untuk gaun pertunanganku dan Renji, kami berdua kembali pulang.  "Kok masih cemberut sih?" Tanya Renji di dalam mobil. Aku hanya terdiam. "Nih buat lo." Kata Renji sambil menaruh beberapa bungkus permen ke dalam tanganku. "Memangnya gue anak kecil?" Tanyaku pura-pura kesal. "Kalau bukan anak kecil apa dong namanya? Dikasih permen langsung hilang kan marahnya." Goda Renji. "Kata siapa?!" Kataku kesal. Akhirnya hari Minggu pun tiba, waktu di mana aku dan Renji akan bertunangan. Aku memakai baju berwarna putih sepanjang lutut yang tidak terlalu banyak hiasan. Riasanku pun tidak terlalu tebal. Hanya itu yang aku suka dari pertunanganku, gaun pilihanku, riasan yang tidak terlalu tebal. "Gigiiii." Stefanie dan Trisna masuk ke dalam ruang tungguku. Aku hanya tersenyum kepada mereka. "Kok yang mau tunangan lemes gini sih. Senyum dong. Hehe." Kata Trisna menghiburku. "Gimana gue mau senyum. Cincin yang bakalan gue pake aja gak tahu gimana bentuknya."  "Loh, bukannya kemaren lo milih cincin sama Renji ya?" Tanya Stefanie. "Iya dan ditolak mentah-mentah pilihan gue. Jadi akhirnya dia yang milih sendiri." Kataku sambil menghela napas. "Gi, sudah siap?" Seorang kru dari wedding organizer menghampiriku. Aku hanya mengangguk. "Yuk masuk." Kata kru tadi. "Gue masuk duluan ya." Kataku sambil melambaikan tangan ke arah Stefanie dan Trisna. Aku berjalan gontai menuju ruangan tempat acara pertunanganku diadakan. Ruangan tersebut sudah penuh dengan tamu undangan. Aku berjalan ke arah depan, ke tempat di mana Renji, orang tuanya dan orang tuaku duduk.  "Senyum dong." Kata Renji ketika melihatku duduk di sebelahnya. Aku tidak menanggapinya. Acara berjalan sesuai dengan rundown acara, sampai akhirnya acara tukar cincin. Renji membuka kotak cincin itu kemudian bersiap memasangkan pada jari manis kiriku. Aku terdiam sesaat ketika melihat cincin yang Renji keluarkan. Cincin yang aku pilih waktu itu ada di tangan Renji dan akan segera kupakai. Aku tersenyum lebar sambil menatap Renji, berharap ia akan memberi penjelasan. Tapi Renji hanya menatapku sambil menaikan sebelah alisnya. Akhirnya acara tukar cincin berlangsung dengan lancar, kini saatnya kami dan para tamu undangan menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh hotel tempat kami mengadakan acara pertunangan. Aku mencari sosok Renji di antara kerumunan tapi tidak menemukannya. Kemudian aku berpapasan dengan Tante Widya. "Gi, tolong panggilin Renji dong. Ada sepupu kesayangan dia datang nih." "Di mana Renji, Tante?" "Kok masih Tante? Hehe. Ayo, coba panggil mama." Kata Mama Widya tersenyum. "Oh, iya maaf, mam." Kataku canggung. Aku masih belum terbiasa memanggil mama kepada orang lain selain ibuku sendiri. "Hehe. Renji ada di luar, sayang. Tolong dipanggilkan ya." Kata Mama sambil tersenyum. "Iya mam. Gigi keluar dulu sebentar ya." Kataku sambil segera setengah berlari keluar ruangan. Aku sempat melihat Renji berjalan ke arah lorong menuju lobby hotel. Aku segera mengejarnya sambil berteriak. "Renji, tunggu!" Renji berbalik kemudian berjalan mendekatiku.  Ketika jarakku dan Renji sudah tidak terlalu jauh, kaki tanpa sengaja menginjak lipatan karpet dan aku mulai kehilangan keseimbanganku. Tapi kemudian, Renji menangkapku sebelum aku sempat terjatuh. "Geez, hati-hati dong." "Hehe. Thank you." Renji kemudian berbalik kemudian berjalan kembali. Aku mengikutinya sampai keluar dari lobby hotel. "Lo mau ke mana?" Tanyaku sambil menyamakan langkahnya. "Mau cari angin. Gue gak suka di tempat ramai begitu." Kata Renji. Aku hanya mengikutinya sampai ia berhenti di sebuah taman kecil di sebrang lobby hotel itu.  "Sini." Kata Renji sambil menepuk tempat kosong di sebelah tempat ia duduk. Aku segera duduk di tempat yang Renji suruh. Kami berdua hanya terdiam memandang sebuah kolam yang ramai dengan suara ikan di dalamnya. Kemudian aku baru saja teringat bahwa aku harus menyuruh Renji kembali ke dalam. "Ah!" Teriakku kecil. "Geez. Ada apa sih? Kenapa teriak-teriak." Kata Renji kaget. "Hehe, sorry. Gue lupa lo disuruh masuk ke dalam. Katanya ada sepupu kesayangan lo." Renji menghela napas, kemudian berdiri. "Mau ikut?"  Tanyanya sebelum ia pergi. Aku menggeleng, "Gue di sini aja. Sumpek." Kataku sambil tersenyum. "Ya sudah. Gue masuk duluan ya. Lo hati-hati jangan sampai jatuh lagi." Kata Renji sambil beralalu. Aku hanya mengangguk sambil menatap kembali ke arah kolam yang berisik itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN