Keesokan harinya tentu saja aku menceritakan kejadian kemarin kepada Stefanie, Trisna dan yang terkahir Sharon. Tanggapan mereka? Tentu saja begitu senang. Aku sampai bingung apakah sebahagia itu mereka bila dijodohkan?
"Jadi, gimana?" Bisik Sharon di tengah jam pelajaran terakhir. Aku mengangkat bahu.
"Gak tahu deh."
"Diterima aja. Kan masih tahap perkenalan dua tahun. Kalau gak cocok lo putusin aja. Lagipula kan, ini janji orang tuanya dia. Kalau gak ditepatin nanti jadi dosa loh."
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata Sharon. Sejujurnya, aku pun berniat menerima lamaran orang tua Renji. Dengan pertimbangan seperti yang Sharon bilang. Aku masih punya waktu dua tahun untuk mengenal Renji lebih dalam lagi. Siapa tahu, Renji tidak se-menyebalkan itu.
Setelah jam pelajaran terakhir berakhir, dengan cepat aku segera mencari taksi untuk pergi ke sebuah Cafe, di mana aku akan bertemu dengan Tante Widya. Aku memutuskan untuk memberi tahu jawabanku satu hari lebih cepat. Aku takut apabila aku terlalu lama berpikir, aku akan menolak lamaran Tante Widya. Dan aku tidak mau menjadikan hal tersebut masalah untuk persahabatan orang tuaku.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar empat puluh lima menit, aku akhirnya sampai di depan sebuah cafe yang tidak terlalu ramai. Setelah membayar ongkos takis, ku langkahkan kakiku menuju ke dalam cafe tersebut. Setelah memastikan bahwa Tante Widya belum sampai, aku segera menuju sebuah kursi di depan kolam ikan yang indah. Aku memesan es coklat sambil menunggu Tante Widya.
Setelah tiga puluh menit aku menunggu, akhirnya aku melihat Tante Widya berjalan ke arahku. Tapi ia tidak sendirian. Di belakangnya, ada Renji yang berjalan begitu santai.
"Sorry, tadi jalanan macet banget. Kamu sudah nunggu lama ya?" Tanya Tante Widya sambil menarik kursi yang berada di depanku.
"Gak apa-apa, Tante. Saya juga baru datang kok."
"Kita pesan makan dahulu, ya." Kata Tante Widya sambil membolak-balikan buku menu.
Setelah memastikan pesanan kami tidak ada yang salah, kami bertiga kembali terdiam. Tante Widya masih fokus dengan layar ponselnya, begitu pula dengan Renji.
"Sorry, Tante harus terima telepon penting dahulu, ya. Kamu sama Renji ngobrol dahulu saja ya." Kata Tante Widya buru-buru bangkit dari kursinya.
Hening kembali datang. Akhirnya dengan keberanian yang sudah kukumpulkan, aku mulai membuka percakapan terlebih dahulu.
"Sejujurnya, gue mau..."
"Heh. Jangan pikir gue mau ya tunangan apalagi menikah sama lo. Masih cantikan juga pacar gue ke mana-mana. Kalau gue bisa, udah gue tolak mentah-mentah perjodohan ini."
Belum selesai aku berbicara, Renji sudah memotong perkataanku. Aku tercengang dengan apa yang baru saja Renji katakan. Aku hampir saja membalas perkataan Renji ketika aku lihat Tante Widya sudah kembali duduk.
"Sorry. Jadi gimana? Sudah kamu pikirkan?" Tanya Tante Widya tersenyum ramah.
Aku tidak mengerti dari mana asal sikap menyebalkan Renji itu. Padahal orang tuanya begitu ramah dan menyenangkan.
"Sudah, Tante. Jadi, maaf sebelumnya. Tapi saya rasa saya harus men..."
"Dia udah ok, Mam. Tadi dia udah bilang sama Renji." Mataku segera melotot ke arah Renji. Lagi-lagi ucapanku dipotong olehnya.
"Wah! Terimakasih banyak ya, Nak. Kalian selesaikan makan berdua ya. Tante harus buru-buru pulang untuk membicarakan keputusan ini sama Om dan orang tua kamu."
"Renji, nanti kamu antar Gigi ya." Lanjut Tante Widya.
"Mama pulang sama siapa?"
"Pak Yanto sudah nunggu di depan dari sejam yang lalu." Kata Tante Widya sambil mengedipkan mata sebelah.
"Ya sudah, Tante duluan, ya. Nanti biar Tante yang bayar ya. Enjoy." Kata Tante Widya segera berlalu.
Setelah memastikan bahwa Tante Widya sudah benar-benar pergi, aku segera melampiaskan emosiku pada Renji.
"Maksud lo apaan sih? Seenak perut lo banget. Tiba-tiba mutusin kalau gue setuju."
"Lo pikir gue mau?"
"Terus kenapa gak lo tolak sih? Gue jelas-jelas tadi udah mau nolak, tiba-tiba mulut menyebalkan lo itu langsung memotong perkataan gue."
"Lo ini b***k atau b**o sih? Jelas-jelas gue tadi udah bilang. Gue gak mau terima perjodohan ini, sayangnya gue gak bisa nolak." Kata Renji sinis.
"Udah, cepetan makannya. Gue udah ngantuk."
Sekali lagi aku melotot ke arah Renji. Dengan cepat kuhabiskan sisa kue cokelat di piringku. Setelah habis, Renji dengan cepat berjalan meninggalkanku. Aku sungguh benci orang ini! Aku harus menyadarkan pikiranku yang telah berpikir bahwa Renji mungkin tidak akan terlalu menyebalkan. Orang ini level menyebalkannya sudah paling atas, mentok.
Dari aku pertama masuk ke mobil super mewahnya, sampai aku turun di depan rumahku, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Aku pun malas kalau harus terus mengajaknya berbicara, tapi ia tidak mau menanggapi. Sial sekali hidupku, harus berurusan dengan manusia tembok itu selama dua tahun.
Setelah aku membersihkan diriku, aku kembali duduk di ruang tengah seperti biasa. Dan tentu saja kali ini pusat obrolan orang tuaku adalah aku. Mereka masih tidak menyangka aku akan menerima lamaran tersebut. Bahkan bertanya apakah tidak apa-apa? Apa mau dibatalkan saja? Kalau memang kalian tidak berniat menjodohkanku, bukankah harusny dari awal mereka yang menolak lamaran ini? Setelah jam menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh, aku memutuskan untuk masuk ke kamar dan mencoba tidur.
Keesokan paginya, tentu saja teman-teman dekatku begitu heboh ketika mendengar ceritaku. Mereka menertawakanku. Selama jam pelajaran, rasa kesalku mulai mereda. Hingga akhirnya bel tanda jam istirahat tiba berbunyi.
"Gi, mau ke kantin gak?" Tanya Sharon.
Belum sempat kujawab, ponselku bergetar. Ada dua pesan yang masuk.
From : Yudha
Hai, good morning. Aku udah bangun dong. Kamu udah bangun belum chay? Semalem maaf ya aku ketiduran.
Aku melongo melihat pesan yang masuk dari mantanku.
"Siapa?" Tanya Sharon.
“Mantan.” Jawabku singkat sambil menunjukan isi pesannya.
“Gila!” Kata Sharon kesal.
From : Yudha
Sorry, Gi. Gue salah kirim.
Begitu k****a pesan yang masuk, aku segera mengumpat pelan mantan gilaku itu. Begitu juga dengan Sharon ketika melihat pesan tersebut. Dengan kesal kubuka satu pesan lagi yang belum terbuka.
From : Renji
Morning Sasa. Hari ini pemotretannya jadi? Kabarin Renji ya. Saranghae, miss you so bad Sasa❤️.
Kenpa hari ini semua pesan yang masuk padaku semuanya bukan untukku. Dengan cepat kubalas pesan Renji.
To : Renji
Makanya bangun tidur itu melek! Bukan langsung main HP! Morning morning kepala lo!
From : Renji
Lo kenapa sih? Pagi-pagi udah marah-marah aja. Lo gak pernah salah kirim? Sirik?
To : Renji
Gak pernah! Males banget gue iri sama lo. Sok cakep lo!
From : Renji
Memangnya gue cakep! Kenapa? Hari ini pulang jam berapa?
To : Renji
Mau ngapain?
From : Renji
Jawab aja kenapa sih?
To : Renji
Lo mau jemput gue? No, thanks.
From : Renji
Jangan ke pede an deh lo! Kalau gue gak disuruh nyokap gue juga, gue gak mau harus jemput cewek jelek yang bisanya cuma marah-marah doang.
To : Renji
GUE BENCI SAMA LO!
From : Renji
Jangan telat keluarnya! Gue gak mau nungguin.
Aku sudah tidak mau lagi membalas pesannya. Segera ku masukkan ponselku ke dalam tas dengan kasar.
“Siapa sih? Marah-marah melulu. Mantan gila lo?” Tanya Sharon yang menyadari muka kesalku.
“Bukan. Ada orang gila baru.” Kataku ketus.
“Haha. Renji?”
Aku hanya mengangkat bahu dan segera membenamkan mukaku. Sungguh aku sangat benci Renji.
Jam pulang sekolah berbunyi. Dengan malas kulangkahkan kakiku keluar kelas. Aku tahu hari ini aku akan pulang bersama Renji setelah menerima pesannya. Baru satu anak tangga ku injak, ponselku bergetar. Ada telepon masuk. Tentu saja, dari Renji.
“Halo.” Kataku
“Lo di mana sih?” Tanya nya ketus.
“Di sekolah lah. Mau di mana lagi?”
“Lama banget sih! Cepetan gue tungguin di lapangan parkir sebrang sekolah lo. Kalau sepuluh menit lagi lo belum ada, gue pulang duluan. Biar gue bilang sama nyokap gue kalau lo pulang bareng cowok lain.”
“Ren!”
Seperti biasa, belum sempat aku berkata apa-apa, Renji sudah terlebih dahulu menutup teleponnya. Dengan kesal kupercepat langkah kakiku menuju lapangan parkir.
“Lelet. Kaya siput.” Kata Renji begitu melihatku datang sambil terengah-engah.
“Masuk.” Katanya sambil berlalu.
Sambil menghela napas kubuka pintu mobil mewah tersebut. Selama di perjalanan kami berdua hanya diam tanpa sepatah kata pun. Kata pertama dan terakhir yang aku ucapkan selama di mobil adalah “Thanks.” Ketika kami sudah sampai di depan rumahku. Sungguh aku berharap dua tahunku akan berjalan lancar.