Perkenalan

1482 Kata
Setelah melewati malam panjang dan tidur yang nyenyak, aku dengan tak rela harus beranjak dari kasur. Aku segera bersiap untuk berangkat sekolah. Aku sudah berencana akan bercerita pada Trisna dan Stefanie, dua sahabat dekatku, tentang kejadian kemarin. Dari awal sampai akhir. Dan aku sudah bisa menebak reaksi mereka akan seperti apa. Memikirkan hal tersebut sudah membuatku tersenyum senang. "Nanti pulang sekolah jangan ke mana-mana, ya. Langsung pulang ke rumah." Kata Ayahku sesaat sebelum aku berangkat. "Kenapa Yah?" Tanyaku bingung. "Om Chandra, Tante Widya, dan anaknya mau ke sini." Jawab Ibu. "Ngapain, Bu?" "Mau makan siang bersama katanya." Aku sungguh bingung. Mengapa pula mereka mau makan di rumah sederhana kami. Ya memang sih, Ibu dan Tante Widya serta Ayah dan Om Chandra sudah berteman lama. Tapi rasanya, ini pertama kalinya mereka mampir ke rumah hanya untuk makan siang. Biasanya, mereka akan mampir ke rumah hanya untuk menunggu Ibu atau Ayahku yang masih bersiap-siap. Kemudian akan pergi makan di restoran keluarga. "Sudah, pokoknya pulang sekolah langsung pulang ya. Kalau ada les, untuk hari ini dibatalkan saja. Bilang saja ada acara keluarga." Kata Ayah. Aku semakin bingung. "Acara keluarga?" "Sudah, nanti saja dibahasnya. Sudah sana cepat selesaikan sarapanmu. Mobil jemputan dari sekolah akan segera datang." Kata Ibu mengakhiri pembicaraan. Setelah berpamitan, kini aku sudah duduk manis di dalam mobil jemputan yang memang khusus untuk mengantar murid-murid di sekolahku. Aku sungguh sudah tidak sabar untuk bertemu Trisna dan Stefanie. Aku akan menambahkan cerita pagi ini. Setengah jam kemudian mobil yang kunaiki sudah sampai di sebrang sekolah. Aku bergegas keluar setelah mengucapkan terimakashi. Sedikit berlari, aku menaiki setiap anak tangga dengan tidak sabar. Hampir saja aku menabrak temanku, Desi. "Gi! Ada apa?" Tanyanya bingung.1 "Sorry, Des. Gue lagi buru-buru. Hehe." Kataku sambil segera berlalu. Akhirnya setelah menyimpan tasku, aku segera berjalan menuju kelas Trisna. Ah, iya. Aku dan mereka berbeda kelas dan jurusan. Mereka di kelas IPA, aku di kelas IPS. Dengan cepat ku duduk di bangku kosong, di depan tempat duduk Trisna. "Ada apa nih? Pagi-pagi udah sibuk banget." Tanya Trisna. "Jadi, lo inget gak sih waktu kita terakhir makan terus ada tante-tante yang ngeliatin gue terus." "Oh, yang si Ina cerita ya? Yang katanya anaknya ganteng banget." "Hah? Emangnya ada di sana anaknya?" Aku bingung. Karena seingatku hanya ada Tante Widya di sana. "Iya. Makanya gue bilang lo mau dijodohin sama anaknya yang super ganteng, ya karena ada dia di sana." "Kok gue gak lihat sih?" "Jadi gimana sama Tante itu? Bener lo mau dijodohin?" Trisna dan Stefanie sudah tidak sabar." "Iya, jadi tante yang waktu itu kita lihat di restoran itu, ternyata temannya Ibu gue." "Oh, iya?" Ina dan Ani satu suara. "Iya. Terus, hari ini gue gak jadi ikut kalian ke BEC. "Kenapa?" Lagi-lagi mereka kompak. "Katanya nanti siang Tante Widya dan anaknya yang kata lo super ganteng itu bakalan makan di rumah gue." "OEMJI! Lo bakalan dijodohin sama cowo ganteng itu??" Trisna begitu antusias. "Ogah banget." "Kenapa? Kan ganteng banget." Tanya Ani. "Soalnya kelakuannya jelek banget!" Kataku kesal karena kembali mengingat kejadian kemarin. "Kenapa sih, kenapa?" "Ya elo bayangin ya. Gue ditinggal berdua sama laki-laki tembok itu setelah kita berdua kenalan secara gak langsung. Nah, karena gue menghormati Tante Widya sama Om Chandra gue mencoba berteman nih sama dia. Gue ajak ngobrol tuh. Salah gue sih, gue ngebelakangin dia. Tau gak begitu gue balik badan, dia udah gak ada dong!" Kataku berapi-api. "HAHAHAHAHAHA." Mereka berdua kompak menertawakanku. "Kesel gue! Makanya males banget gue kalau harus sampe amit-amit dijodohin sama dia." "Jangan gitu, nanti lo jadi suka loh. Hahaha." "Amit-amit." Kataku sambil mengetuk meja sebanyak tiga kali. "Eh terus, ternyata ada baiknya juga kemarin gue ikut ke sana." Lanjutku. "Kenapa?" "Jadi, gue ketemu siapa coba tebak." Aku tersenyum ketika mengingat kejadian itu. "Siapa?" "Guru magang kita." Kataku sedikit berbisik. "Kok bisa?" "Gue juga gak tahu. Cuma sehabis si laki-laki tembok itu ninggalin gue, gak lama dia datang dong. Terus dia nemenin gue agak lama." "Pasti lo senang banget kan?" "Banget!" Kataku masih tersenyum. "Hati-hati loh, nanti kalau jadi fitnah di sekolah bahaya." Kata Trisna mengingatkan. "Siap." "Eh, terus gue jadi punya nomornya dia." Sambungku. "Jadi, lebih ganteng anak teman Ibu lo atau si guru magang?" Goda Stefanie. "Seribu persen lebih ganteng guru magang kita dong. Haha." Mereka hanya menggelengkan kepala mendengar jawabanku. "Ya sudah, gue balik ke kelas dulu ya. Jam pertama gue pelajarannya guru favorit gue nih. Bye." Kataku sambil melambaikan tangan segera kembali ke kelas. Dengan hati yang tidak karuan aku menunggu sambil menceritakan ulang kisahku pada teman sebangku ku. Namanya Sharon. Dia adalah orang ketiga yang tahu soal si guru magang dan si laki-laki tembok itu. Tanpa terasa mengobrol, tiba-tiba saja bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Sharon sudah menyenggol-nyenggol lenganku ketika ia melihat Pak Adit masuk. Selama pelajaran aku tidak bisa fokus. Padahal bukan pertama kalinya ia masuk untuk mengajar di kelasku. Apakah mungkin semua gara-gara kejadian kemarin. Tapi, setelah ku kirim pesan kemarin aku masih belum mendapat balasan darinya. Bahkan ia pun bersikap seperti biasa, seperti tidak pernah ada kejadian itu. Apakah hanya aku yang terlalu memikirkannya? Atau memang ia hanya ingin merahasiakannya? Seharian aku tidak bisa fokus memikirkan tentang Pak Adit dan soal kedatangan Tante Widya nanti siang. Tanpa terasa bel tanda pulang berbunyi. Dengan cepat aku menaiki taksi kosong yang melintas pertama. PIkiranku sudah tidak fokus, bahkan ponselku bergetar tanda ada pesan masuk pun aku tidak mengetahuinya. Setelah menempuh perjalan sekitar tiga puluh menit akhirnya aku sampai di depan rumahku. Di sana sudah ada sebuah mobil sedan mewah terparkir manis. Aku sudah bisa menebak siapa pemiliknya. "Geez. Gara-gara macet gue telat. Gimana kalau mereka jadi pikir kalau gue gak sopan karena datang telat." Kataku dalam hati. Dan semua pikiran khawatir lainnya menari-nari indah di kepalaku. Dengan perlahan kubuka pagar dan mengetuk pintu rumah. Begitu pintu rumah terbuka, ku lihat Om dan Tante tersenyum manis dan menyambutku begitu ramah. Terkcuali tentu saja satu orang. Si laki-laki tembok itu. "Maaf, saya terlambat. Tadi agak macet di daerah Pasir Kaliki." Kataku menjelaskan. "Gak apa-apa. Ayo kita makan." Kata Tante Widya. Akhirnya setelah makan siang bersama selesai, kami sekeluarga beserta keluarga Om Chandra sedang duduk lesehan di taman kecil belakang rumah. Semua asyik mengobrol kecuali aku dan Renji. Renji hanya diam dan hanya sesekali menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sangat singkat. Aku sendiri hanya diam memperhatikan Renji. Hingga aku tersadar ketika mendengar kata Pernikahan. Kualihkan fokusku, kembali mendengar obrolan kedua orang tua kami. "Jadi, kita sih terserah Gigi." Aku bingung mendengar kata-kata Om Chandra. "Maksudnya gimana, Om?" "Tadi kan sudah dijelaskan, kamu tidak mendengarkan?" Tanya Ayah. "Maaf, Yah." "Sudah, tidak apa-apa. Jadi, Om sama Tante sudah pernah janji sama Ayah dan Ibu kamu. Kalau nanti usaha kami yang dibantu oleh Ayahmu berhasil sukses, kami akan menjodohkan putra kami kepada kamu. Tapi, dengan catatan memang kalian berdua yang menginginkannya." Hening. Aku tidak bisa berkat apa-apa. Pikiranku kosong. Dijodohkan? Menikah dengan laki-laki tembok itu? Salah apa aku ya, Tuhan. Kenapa pula aku harus dijodohkan dengan laki-laki seperti tembok itu. "Gi?" Ibu membuyarkan lamunanku. "Ah, maaf." Kataku malu. "Jadi, kamu setuju?" Tanya Tante WIdya bersemangat. Aku melirik ke arah Renji. Ia acuh tak acuh, seakan tidak perduli denga perjodohan ini. "Tapi, saya kan masih sekolah, Om Tante." Kataku mulai mencari cara agar tidak dijodohkan dengan Renji. "Kami tahu kok. Oleh karena itu, kami harap selama dua tahun kalian bisa saling mengenal satu sama lain. Kalau kamu setuju, kita bisa melakukan acara pertunangan terlebih dahulu. Setelah itu, untuk pernikahan kami akan serahkan semua keputusannya kepada kalian." Kata Om Chandra sambil tersenyum. "Hmm... Boleh saya pikirkan terlebih dahulu?" Tanyaku. "Boleh dong, sayang. Kita mau semuanya berjalan tanpa terburu-buru." Kata Tante WIdya. "Jadi, dua hari cukup dong?" Tanya Om Chandra. Aku terdiam. Dan tanpa sadar aku menganggukan kepala. Begitu mereka melihatku mengangguk, semuanya bersorak seperti anak kecil. Terkecuali aku dan Renji. Aku hanya bisa menatapnya, memintanya bantuan. Tapi, sepertinya ia enggan membantuku. Akhirnya acara makan siang terselubung ini selesai. Om Chandra sekeluarga sudah pulang. Selesai membersihkan badanku, segera kubaringkan tubuhku di atas kasur. Ku pikirkan lagi kejadian tadi siang. Semuanya berjalan begitu cepat. Dua hari ke depan aku sudah harus menentukan jawaban, dan kemudian tak berselang lama aku mungkin sudah harus bertunagan. Kupejamkan mataku, kepalaku terasa pusing. Kucari ponselku dan mulai fokus menatap layar. Tiba-tiba muncul satu pesan baru, dari Pak Adit.                                                                 From : Mas Adityo                                 Hai, kok pesan saya gak di balas? Kamu gak marah kan? Mataku langsung membulat membaca pesan tadi. Segera kubuka pesan sebelumnya.                                                                                                             From : Mas Adityo                                 Hai hai. Maaf saya baru sempat balas. Maaf juga tadi di kelas saya acuh sama kamu.      saya cuma gak mau kamu jadi bahan omongan anak-anak lain. Kamu sudah pulang? Aku tercengang membaca pesan dari Pak Adit. Ada rasa senang yang kurasakan ketika aku membaca pesannya. Tanpa menunda lagi segera kubalas pesan dari Pak Adit, mengatakan bahwa tentu saja aku tidak marah dan tentu saja aku mengerti keadaanku dengannya. Tapi aku tidak menjelaskan persoalan aku yang dijodohkan oleh Renji. Karena aku pikir, aku tidak ingin salah tangkap perhatian Pak Adit kepadaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN