Menuntut

1338 Kata
“Nggak tahu!” jawab Ayunda. Memberi isyarat kepada sahabatnya untuk diam sejenak. “Iya. Ada apa Pa?” “Kamu bisa datang ke rumah?” “Bisa, Pa. Tapi agak sore.” “Emang kamu kemana?” “Aku keluar sebentar.” “Bisa ajak Axel juga?” “Nggak bisa, Pa. Dia sibuk.” “Ya udah, yang penting kamu nanti datang ke sini.” Panggilan pun ditutup, Ayunda menghela nafas, dia merasa bingung dengan situasi saat ini. “Ada apa?” tanya Meli penasaran. “Papa nyuruh aku ke rumah.” “Terus ...” “Terus apanya?” ucap Ayunda cuek. “Si Axel lah! Aku denger tadi kamu suruh ke sana sama Axel.” Ayunda pasang wajah jijiknya. “Idih! Najis amat datang sama dia.” “Lebih baik kamu jujur sama orang tua kamu.” Meli memberi saran. “Nggak! Ini belum saatnya, kalau aku jujur saat ini, yang ada keluarga aku akan dihancurkan sama Axel.” “Sumpah! Rasanya aku pengen nyatet itu orang!” ucap Meli penuh dengan emosi. “Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Ayo kita fokus sama kerjaan kita,” ucap Ayunda. Meli mengangguk. “Siap, Bos!” ucap Meli penuh semangat. Mereka pun kembali serius dengan pekerjaan mereka. *** Rumah Lina Bukannya pergi ke kantor, Axel malah sengaja pergi ke rumah Lina setelah mereka berdua pulang dari rumah sakit. Pria itu terlihat sangat bahagia, dia tidak pernah menyangka jika pada akhirnya Lina hamil anak pertamanya. Axel terus mengusap perut Lina, wanita duduk bersandar di pangkuan Axel. “Akhirnya kamu hamil juga, Sayang ....” Lina tersenyum. “Iya, ini anak pertama kamu. Pokoknya aku pengen yang terbaik buat dia, jauhkan perempuan itu dari hadapanku, aku pengen rumah yang lebih gede,” ucap Lina manja. Axel mengecup lembut kepala perempuan itu. “Tenang saja, aku bakalan beliin rumah yang besar untuk anak kita,” ucap Axel. Lina membalikkan badannya, kali ini dia berhadapan begitu dekat dengan Axel. “Kamu nggak bohong?” Axel tersenyum, pria itu mengangguk. “Tentu saja tidak.” Lina memegang pipi Axel. “Kamu mau berjanji lagi untuk sesuatu?” tanya perempuan itu penuh harap. “Apa?” “Ceraikan perempuan sombong itu!” Axel melotot. “Aku akan menuruti semua permintaanmu kecuali itu!” ucap Axel emosi. Lina ikut berdiri, menatap Axel dengan tatapan penuh kekesalan. “Suatu saat kamu harus memilih di antara kami! Aku lelah, Xel. Sejak dari SMA aku seperti wanita bayanganmu. Kenapa?” Air mata perempuan itu meleleh. “Kenapa kamu selalu merusak momen kita? Bukankah dari awal ini yang kamu pilih, padahal jelas-jelas kamu tahu aku juga menikahi Ayunda.” Axel ikut berdiri, kali ini dia mencengkeram kedua lengan Lina. “Kenapa baru sekarang kamu permasalahkan. Jawab!” bentak Axel. Lina mendongak, menatap pria yang begitu dia cintai tapi kadang membuatnya cukup lelah. “Kenapa?” Wanita itu tersenyum ketir. “Wajar ‘kan. Nggak ada seorang wanita manapun yang ingin diduakan, termasuk istri pajanganmu itu!” Axel mengangkat satu tangannya, hampir saja dia menampar Lina, kemudian dia hanya bisa mengepalkan tanganya dan hanya memukul angin. “Sudahlah ....” Pria itu berusaha bersikap lembut. “Kenapa? Nggak jadi?” Lina tiba-tiba saja mendorong tubuh kekar Axel. “Kamu sudah berubah! Aku benci kamu!” teriak Lina. “Aku hanya ingin kamu mengerti posisi aku, kita jalani ini seperti biasanya, toh selama ini kamu bisa memiliki hati dan ragaku, apalagi yang kurang?!” ungkap Axel. Lina nyengir, tiba-tiba saja perutnya terasa tegang, wanita itu memegang perutnya yang terasa sakit. “Auw!” Axel terlihat khawatir, mau tidak mau dia harus menurunkan egonya. “Sayang! Kamu kenapa?” pria itu membungkukkan badannya, berusaha memegang perut Lina tapi langsung ditepis oleh wanita itu. “Pergi sana! Aku pengin istirahat!” usir Lina. “Nggak! Aku akan di sini untuk jagain kamu.” Axel langsung membobong tubuh wanita itu, tidak peduli dengan wanita itu yang terus berontak. “Aku mau turun!” “Nggak! Ngerti!” Axel berusaha menenangkan Lina, mencium lembut kening wanita itu. “Aku mencintaimu ... sampai sekarang pun tetap sama ...,” lirih Axel. Lina tertunduk, hanya dengan kata-kata seperti itu, hatinya mulai luluh lagi, dia hanya bisa pasrah, merangkul leher Axel dengan kedua tangannya. Meskipun terlihat diam, di hatinya sudah penuh dengan segala rencana busuknya. *** Kediaman Axel Saat waktu hampir saja menjelang senja, Ayunda terlebih dahulu pulang ke rumah. Dia sengaja pulang untuk membersihkan diri terlebih dahulu, dia tidak ingin orang tuanya merasa curiga karena dia masih mengenakan setelan blazer untuk bekerja. Belum sempat dia menaiki tangga untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai dua, langkah kakinya terhenti, seseorang memanggilnya dari arah belakang. “Non Yunda, sudah pulang?” tanya seseorang yang ternyata asisten rumah tangganya. Ayunda menoleh ke arah suara itu, tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya. “Iya. Ada apa, Bi Ima?” Wanita paruh baya yang dipanggil ‘Bi Ima’ terlihat ragu, perempuan itu menggigit bibir bawahnya. “Emm, itu—eh, anu ....” Perempuan paruh baya itu menabok mulutnya sendiri. “Aduh! Gimana ngomongnya ...,” gumam perempuan itu. Ayunda mengernyitkan keningnya, cukup penasaran dengan ART-nya. “Ada apa sih, Bik?!” Ayunda terlihat semakin penasaran. “Kalau nggak ada apa-apa aku mau cepetan.” “Tunggu dulu, Non. Tadi pagi ....” Perempuan paruh baya itu masih terlihat ragu. “Kenapa?” tanya Ayunda lagi. “Itu ... Bapak sama perempuan itu—“ Perempuan itu terlihat ketakutan. Ayunda tersenyum. “Mereka bermesraan?” Perempuan paruh baya itu terkejut. “Non sudah tahu?!” Ayunda mengangguk, wanita cantik itu tersenyum getir. “Sudah.” “Non diam saja?” “Tolong rahasiakan ini dari siapapun, jangan sampai ada orang yang tahu, termasuk keluarga aku. Aku percaya sama Bibi,” ucap Ayunda tulus. Mata perempuan paruh baya itu berkaca-kaca, hatinya sakit saat anak majikannya yang sudah dia rawat dari kecil dihianati oleh pasangannya. “Tapi, Non. Bibi nggak kuat lihatnya, bibi nggak rela Non disakiti seperti ini.” “Bi Ima tenang saja, aku sudah punya rencana untuk pria b******k itu,” ucap Ayunda kesal. “Maaf, Non. Aku tidak akan tinggal di sini lagi kalau Non Yunda bercerai,” ucap Bi Ima. Ayunda tersenyum, menatap wanita paruh baya yang dengan setianya mengikuti Ayunda kemanapun. “Tentu saja aku Bibi akan selalu bersama aku.” Perempuan paruh baya itu menitikkan air matanya, di hari tuanya dia tidak punya siapa-siapa lagi selain keluarga Ayunda yang selalu memperakukannya dengan baik. “Terima kasih, Non. Bibi kebelakang dulu,” pamit perempuan itu. Ayunda mengangguk, cukup terharu dengan kesetiaan ART-nya. “Silahkan ....” Ayunda tersenyum puas, wanita itu menghela nafas, sempat terpikir gimana suaminya bermesraan dengan perempuan lain di rumahnya sendiri, dia buru-buru menghapus hayalannya. “Huh! Pokoknya harus semangat, bersihkan sampah dari hidupmu!” Ayunda menyemangati dirinya sendiri. Dia kembali menlanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Tidak butuh waktu yang begitu lama, Ayunda sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya, perempuan cantik itu berjalan menuju mobilnya yang masih terparkir di depan rumah. Meskipun selama ini Axel menyediakan sopir untuknya tapi Ayunda lebih nyaman menyetir sendiri. Perempuan itu masuk ke dalam mobil, perlahan mobil mulai meninggalkan halaman rumahnya. Ayunda tidak pernah menyadari jika ada sebuah mobil warna hitam yang sudah membuntutinya sejak dari rumah, hingga pada sebuah jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Perempuan itu menghentikan mobilnya secara mendadak sampai keningnya terbentur kemudi yang dia pegang. Seseorang turun dari dalam mobil, menggebrak mobil yang Ayunda kendarai. “Turun, lo!” teriak seorang pria yang bertubuh tegak. Ayunda terlihat cukup panik. Dia tetap berada di dalam mobil, berusaha menghubungi Meli. “Woi! Turun!” Tidak hanya satu orang, ada tiga orang pria yang berbadan tegap, dan kali ini dia membawa sejata tajam yang di arahkan ke arah Ayunda. “Cepat turun!” bentak pria itu. Wajah Ayunda terlihat pucat, dia tetap berada di dalam mobilnya. “Lo nggak mau turun?” Tiba-tiba saja seorang pria sudah membawa sebuah linggis, dia menghantamkan linggis itu tepat pada kaca depan mobil Ayunda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN