Tiba-tiba saja seseorang menahan linggis yang sudah siap untuk dihantamkan ke arah mobil Ayunda. Dengan gesitnya, pria misterius itu menangkis setiap serangan demi serangan. Ayunda terus memperhatikan pria bermasker yang saat ini tengah menolongnya. Tidak butuh waktu lama, segerombolan orang jahat itu berhasil pria itu tumbangkan. Ayunda berusaha keluar dari dalam mobilnya, sedangkan para penjahat langsung kabur dengan mobil mereka setelah tidak berdaya melawan pria misterius itu.
Ayunda yang sudah keluar dari dalam mobilnya berjalan menghampiri pria itu. Wanita cantik itu mengulurkan tanganya ke arah si pria. “Terima kasih banyak atas pertolongan, Tuan.”
Pria itu hanya mengangguk, bahkan dia tidak membalas uluran tangan Ayunda. “Hati-hati! Dia menginginkan nyawamu.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir si pria misterius, bahkan tanpa mempedulikan Ayunda yang masih terbengong, dia pergi begitu saja dari hadapan Ayunda, menaiki motor gedenya yang terparkir di tempat itu, pria itu tampak memakai helmnya, pergi dengan motornya melewati Ayunda yang masih diam terpaku.
Ayunda buru-buru menarik uluran tangannya, baru kali ini ada seseorang yang menolak uluran tangannya. “Siapa dia sebenarnya ...?” gumam Ayunda. Buru-buru dia mengeluarkan ponselnya, ternyata dia menghubungi Meli, sahabatnya.
“Mel, tolong selidiki siapa yang berusaha nyerang aku.”
“Apa! Kamu diserang?!”
“Nggak usah heboh, cari aja orangnya.”
“Kamu terluka?!”
“Aku baik-baik saja, selidiki saja siapa yang berani nyerang aku.”
Ayunda langsung mengakhiri panggilan teleponnya,dia tidak peduli dengan Meli yang terdengar masih ingin berbicara dengannya. Perempuan cantik itu kembali masuk ke dalam mobilnya, dia masih saja memikirkan pria misterius itu, terkenang dengan ucapan pria tadi. “Siapa kira-kira yang menginginkan nyawaku ...?” guman Ayunda. “Atau jangan-jangan ....” Tangan Ayunda menepis angin. “Ah, nggak mungkin!” Tidak ingin berprasangka buruk lagi, Ayunda kembali melanjutkan mobilnya menuju kediaman orang tuanya, beruntung sekali mobilnya tidak mengalami kerusakan sedikitpun, sehingga dia bisa kembali melajukan mobinya tanpa harus kembali pulang.
Hanya beberapa menit kemudian, mobil yang Ayunda kendarai sudah terparkir di depan halaman rumah mewah milik keluarganya, wanita cantik itu langsung keluar dari dalam mobilnya, dia sempat mengernyit heran dengan sebuah mobil yang tidak asing baginya. “Axel ...?” Ayunda paham betul jika mobil itu milik Axel, suaminya. Wanita itu terlihat cukup kesal. “Mau apa dia kemari.” Batin Ayunda.
Ayunda menghela nafas, berusaha meredam emosinya tiap kali menyebut nama pria itu. “Tenang Yunda, kita hadapi ‘’buaya darat’ dengan sikap yang elegan, ikuti aja alurnya, kamu sendiri yang bakal nentuin endingnya.” Wanita cantik itu menyunggingkan senyumnya, kembali berjalan ke dalam rumah milik orang tuanya.
Baru saja dia sampai di depan pintu, seseorang sudah membuka pintu itu, dengan senyum khas yang dulu sangat Ayunda sukai, orang itu yang ternyata adalah Axel berjalan menghampirinya. “Hai, baru sampai Sayang?”
Ayunda memejamkan mata sebentar, kembali mereda emosinya, sepertinya dia harus punya stock kesabaran yang melimpah untuk malam ini. Ayunda dengan terpaksa menyunggingkan senyumnya. “Iya, awas aku mau lewat,” ucap Ayunda, berusaha menghindari Axel yang ingin meraih tangannya.
Pria tampan itu terlihat heran. “Ada apa denganya? Padahal dia suka sekali bergelayut manja di lenganku?” batin Axel. “Oh, iya. Silahkan Sayang,” ucap Axel lembut, meskipun isi kepalanya penuh dengan beribu pertanyaan, dia tetap berusaha bersikap lembut kepada istrinya. Pria itu bergeser sebentar, mempersilakan Ayunda masuk ke dalam rumah. Kemudian berjalan mengikuti Ayunda menuju ruang tengah keluarga tempat ke dua orang tua Ayunda menunggu mereka.
Ayunda langsung menghampiri mamanya, wanita cantik itu sengaja mengambil tempat duduk di sebelah mamanya, sedangkan Axel dengan sangat terpaksa sekali duduk di samping ayah mertuanya.
“Ada apa suruh Yunda ke sini?” tanya Ayunda setelah melihat semua orang duduk kembali di tempat itu.
Diana Wicaksono membelai lembut rambut putri semata wayangnya. “Nggak papa, Sayang. Hanya ingin makan malam bersama kalian.”
Meskipun terlihat sangat kesal, Ayunda bersikap manis. “Oh, kirain ada apa-apa.”
“Tadi kenapa kamu bilang kalau Axel sibuk.” Ini Hendri Wicaksono, Ayah dari Ayunda yang bersuara.
Ayunda melirik ke arah Axel. “Dia memang sibuk terus,” jawab Ayunda cuek.
Axel berusaha tersenyum, menatap istri cantiknya dengan tatapan yang cukup berbeda untuk kali ini. “Memang sibuk, tapi kalau untuk ‘Sayang’ mana mungkin aku sibuk.”
Ayunda hampir saja muntah mendengar jawaban Axel, jika dul dia bisa tertipu degan setiap kata-kata manis yang terucap dari bibir Axel, tidak untuk kali ini, dia tidak akan pernah tertipu lagi dengan ucapan manis Axel. “Sayang ...?” batin Ayunda, dia menyunggingkan senyumnya. “Cuih! Najis sekali. Di sini sayang, di sana tukang naikin orang.” Lagi-lagi Ayunda mengumpat dalam hati.
“Tuh, ‘kan. Axel itu sayang banget sama kamu. Jangan tiba-tiba bilang ‘dia sibuk’,” ucap Diana. Tersenyum kearah putrinya, menepuk-nepuk tangan Ayunda.
Ayunda kembali menghela nafas, memaksakan senyumnya. “Iya, deh. Kok dia bisa di sini,” ucap Ayunda penasaran, dengan terpaksa menunjuk ke arah Axel.
“Tadi Papa yang telepon, mastiin kalau dia nggak sibuk. Ternyata dia menyempatkan diri ke sini,” sahut Hendra.
Ayunda mengangguk, rasanya dia ingin sekali segera menghilang dari dunia yang di mana ada Axel. “Oh ... biasanya dia ‘kan meeting terus.” Ayunda mengucapkannya dengan cuek, untuk kali ini dan seterusnya tidak ingin memuji dan mengagungkan nama Axeldi depan orang tuanya.
“Enggaklah, kapanpun kamu minta, aku akan batalkan semua meeting aku.” Kedua orang tua Ayunda tersenyum sangat puas saat mendengar ucapan menantu kesayangan mereka, tidak sia-sia menjodohkan Axel dengan putrin semata wayang mereka. Kira-kira itu lah isi pikiran mereka.
“Oh nggak perlu, lagian cari duit yang banyak itu perlu. Kebutuhan kamu ‘kan makin banyak.” Wajah Axel memerah saat mendengar ucapan Ayunda. Dia mulai curiga jika perselingkuhannya sudah tercium oleh Ayunda.
“Kamu bisa aja,” ucap Diana. Melirik ke arah Ayunda. “Jangan-jangan kamu udah isi.”
Ayunda melotot, hampir saja tersedak oleh air liurnya sendiri. “Hamil? Idih ngerasain dia aja belum.” Ini batin Ayunda yang berbicara.
Axel tersenyum. “Mama bisa aja, bentar lagi keknya cucu mama bakalan hadir.” Axel mengerling genit ke arah Ayunda. Benar-benar membuat Ayunda muak.
“Terserah kalian lah.” Daripada pusing, Ayunda mengikuti pembicaraan gila mereka.
“Oh, ya. Nanti mobil kamu tinggal saja di sini, pulangnya bareng sama Axel” usul Hendra.
Ayunda terkejut, tidak terpikir sama sekali dengan ucapan papanya. “Nggak bisa, besok aku ada janji sama Meli.”
“Sayang, ini malam lho! Jangan sampai ada sesuatu terjadi sama kamu, mobil kamu bisa di bawakan sopir.” Dinda ikut protes.
“Iya, lagian aku nggak bakalan biarin kamu nyetir sendirian malam-malam.” Axel ikut angkat bicara.
Ayunda tersenyum sinis. “Kamu pikir, kamu bisa ngabisin aku malam ini.”