Itu hanya angan-angan Ayunda. Mungkin kejadian tadi yang menimpanya adalah ulah Axel. “Baiklah,” jawab Ayunda singkat, tanpa menoleh sedikitpun Ayunda berkata, “Tapi mobil aku harus dibawa malam ini juga.”
Axel tersenyum puas, ada banyak rencana malam ini, dia harus bisa meluluhkan hati Ayunda, dia tidak ingin kebutuhan fisiknya tidak terpuaskan karena kehamilan Lina. “Kamu tenang aja Sayang, kalaupun mobil kamu belum sampai, masih ada mobil lain di rumah ‘kan. Atau kamu pengen yang baru, besok bisa langsung kamu pilih.” Inilah kelebihan Axel yang tidak perhitungan dengan Ayunda, ibarat kata semua hartanya bisa dia berikan untuk Ayunda, sedangkan hatinya entah pergi kemana.
Kedua orang tua Ayunda saling tatap, mereka tersenyum, berpikir mereka tidak salah mnjodohkan putri semata wayangnya ke Axel. “Axel emang baik banget sama kamu, Sayang.” Ini suara Dinda yang angkat bicara.
“Ah, Mama jangan terlalu memuji. Udah sewajarnya aku bersikap seperti itu untuk istri sempurnaku,” sahut Axel. Dan ini hampir saja membuat Ayunda muntah.
“Kamu bisa aja, Xel.” Hendra ikut menimpali.
“Oh, ya. Ayo makan, nanti keburi dingin,” ujar Dinda.
“Ayo, Ma. Aku juga laper banget.” Tanpa mempedulikan Axel, Ayunda berjalan menuju meja makan. Kemudian diikuti oleh yang lainnya.
Baru saja Ayunda ingin duduk di samping Mamanya, tiba-tiba saja Axel sudah dulu mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan dirinya. Meskipun Ayunda terlihat sangat kesal, dia dengan sangat terpaksa harus duduk di antara mamanya dan Axel. Pemandangan seperti ini tentu saja membuat Dinda dan Hendra tertawa bahagia.
“Sayang, ini kesukaan kamu.” Axel langsung mengambilkan sebuah makanan yang memang menjadi favorit istrinya.
“Terima kasih,” ucap Ayunda. “Dasar buaya buntung, apa sih maksudnya?” batin Ayunda. Makanan yang begitu dia sukai tiba-tiba saja membuatnya tidak berselera ketika Axel yang mengambilkannya, bahkan dia sempat berpikir tangan itu begitu kotor karena sudah menyentuh perempuan lain.
Obrolan yang begitu hangat terjadi di ruang makan itu, mungkin jika kemarin-kemarin Ayunda yang paling bersemangat tapi tidak untuk saat ini, bahkan dia merasa sesak sekali saat harus berdekatan dengan Axel. Ayunda benar-benar ingin segera menghilang dari ruanga itu.
Tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari kedua orang tuanya, gadis itu buru-buru pamit untk pulang setelah makanan yang dia santap habis. “Pa, Ma. Aku pulang dulu,” ucap Ayunda.
Dinda terlihat heran, sepertinya dia mulai curiga dengan sikap putrinya yang terlihat lebih banyak diam tidak seperti biasanya. “Kenapa buru-buru, kamu nggak enak badan?” tanya Dinda.
Ayunda mengangguk, dia tidak ingin mengambil pusing soal alasan kepulangannya, makanya dia langsung mengiyakan kata-kata mamanya. “Iya, aku pengin istirahat.” Ayunda mengucapkannya dengan ekpresi cuek.
“Ya, udah. Ayo kita pulang.” Axel ikut berdiri, pria itu mendekati Ayunda, meraih tangan Ayunda dan menggenggamnya erat.
Ayunda hanya bisa pasrah, dia bisa tahu jika mamanya mulai curuiga, makanya dia hanya diam saja ketika Axel menggenggam tanganya, bahkan gadis itu terlihat pasrah, dia berjalan mengikuti Axel menuju mobil mereka terparkir setelah dia berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Ayunda langsung menyandarkan kepalanya begitu dia masuk ke dalam mobil milik Axel, dia sudah terlalu lelah bersandiwara di depan kedua orang tuanya. Dia cukup terkejut ketika tiba-tia saja Axel memasangkan sabuk pengaman untuknya, jarak keduanya begitu dekat, dan ini membuat Ayunda semakin muak. Mungkin jika dulu dia merasa senang sekali diperlakukan seperti ini oleh Axel. Ayunda langsung mendorong tubuh kekar Axel ketika pria itu hampir saja mencium bibirnya.
“Kenapa?” tanya Axel heran. Ayunda yang begitu mengaguminya, sekarang secara terang-terangan menolak ciumannya.
“Aku ngantuk, kamu tadi nggak denger kalau aku nggak enak badan!” ketus Ayunda.
Axel kembali membetulkan posisi duduknya, dia melirik ke arah Ayunda yang memang terlihat cantik sekali malam ini. “Ya udah, kita langsung pulang aja. Nanti aku panggilkan dokter ya ....”
“Nggak perlu! Aku mau tidur aja.” Ayunda langsung pura-pura tidur, gadis itu langsung memejamkan matanya. Axel hanya merusak pandangannya saja.
“Sayang, kamu kenapa tadi berbohong kalau aku sibuk.” Axel yang tahu jika Ayunda hanya pura-pura tidur langsung menanyakan pertanyaan yang dari tadi terus mengganjal.
“Emang biasanya ’kan,” sindir Ayunda.
“Tapi sejak kapan aku menolak ajakan kamu,” protes Axel.
“Kamu nggak dengar kalau aku ngantuk?!” Ayunda mengucapkannya dengan mata tetap terpejam.
“Ya sudah, kamu tidur aja, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan.
“Hem!” Hanya itu kata-kata yang terucap dari bibir Ayunda.
Axel hanya bisa menghela nafas, meskipun dia sedikit kesal dengan sikap istrinya, dia berusaha bersikap lembut karena dia takut membuat Ayunda tersinggung. Tanpa banyak berkata, Axel langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Tidak butuh waktu yang begitu lama, mobil yang Axel kendarai sudah sampai di depan rumahnya, pria itu turun dari dalam mobilnya, berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil buat Ayunda. “Kita sudah sampai,” ucap Axel.
Ayunda masih saja cuek. “Aku tahu!” ucap gadis itu, keluar dari dalam mobil. Dia langsung berjalan menuju rumah mereka.
Axel tidak tinggal diam, dia langsung berjalan menyamai langkah kaki Ayunda. “Besok malam temenin aku ke rumah Mama ya ....,” ucap Axel tiba-tiba.
Ayunda mengernyit, dia dengan terpaksa meghentikan langkah kakinya, gadis itu menoleh ke arah Axel. “Apa aku harus datang?”
Axel tersenyum, dia dengan cekatnya langsung meraih tangan lembut milik Ayunda. “Harus. Ini acara makan malam keluarga, katanya kita harus datang.”
Ayunda menghela nafas, langsung menarik tangannya. “Baiklah.” Meskipun merasa muak, dia harus tetap bisa memainkan perannya sampai semua yang dia harapkan tercapai.