Perdebatan

922 Kata
“Sayang! Tunggu dulu.” Axel berteriak, Ayunda benar-benar sulit sekali untuk dikendalikan, sudah jalan beriringan sama wanita itu pun, masih saja dia tertinggal dengan langkah kaki Ayunda yang sedikit berlari. “Nggak usah ganggu aku malam ini!” Ayunda tetap melanjutkan langkah kakinya. “Apa yang salah denganku! Kenapa kamu berubah kayak gini?!” Ayunda terpaksa menghentikan langkah kakinya, dia sudah tidak tahan dengan keadaan yang hampir membuatnya gila. “Oh, jadi kali ini kamu berpura-pura?” Ayunda bertepuk tangan, matanya berkaca-kaca. “Hebat sekali kamu, Tuan Axel.” Axel terlihat bingung dengan ucapan Ayunda, baru kali ini gadis itu berkata kasar kepadanya. “Kamu kenapa, Sayang?” Axel mendekati Ayunda, meraih tangan gadis itu, meskipun pada akhirnya dikibaskan oleh Ayunda. “Kalau aku punya salah, katakan. Jangan buat aku tersiksa seperti ini, aku mencintamu Yunda.” Ayunda tersenyum ketir, sengaja mendekatkan telinganya ke arah Axel. “Apa?! Aku nggak salah dengar?” Ayunda menatap Axel dengan tatapan penuh ejekan. “Cinta?” Ayunda mendorong d**a bidang milik Axel. “Sejak kapan? Pernikahan kita itu hanya untuk kepentingan bisnis!” Axel kembali menarik paksa tangan Ayunda, kali ini dia berusaha mencium paksa bibir Ayunda. Tanpa dia duga sama sekali, Ayunda dengan gesitnya langsung melayangkan sebuah tamparan di wajah tampan Axel. “Kenapa? Aku tidak boleh mencintai kamu?” Axel mengusap pipinya yang terasa panas. “Simpan saja cintamu itu!” ketus Ayunda. Axel tidak menyerah, dia dengan paksa menarik kembali Ayunda, kali ini dia mendekap erat tubuh langsing istrinya. “Kenapa? Bukannya kamu selama ini sangat mencintaiku? Kamu ingin rumah yang lebih besar? Kamu ingin mobil edisi baru? Kamu ingin perhiasan?” Axel mengangkat dagu Ayunda, hatinya bergetar saat melihat gadis itu begitu dekat, wajah itu sangat meneduhkan, paras cantik itu terlalu sempurna dan memabukkan. Kenapa baru kali ini dia menyadari pesona seorang Ayunda. Ayunda memberanikan diri menatap Axel, pandangan keduanya saling beradu, tidak ada lagi getaran di hati seperti dulu, air matanya meleleh begitu saja. “Kamu pikir aku menginginkan itu semua? Apa aku terlalu matre buatmu?” Ayunda berusaha melepaskan diri dari Axel. Axel menggeleng. “Bukan! Bukan seperti itu maksudku, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, aku hanya ingin kamu bahagia. Itu saja!” Kali ini Axel tidak menyerah, dia tetap berusaha untuk mencium Ayunda. “Aku akan memenuhi kewajibanku ...,” bisik Axel. Ayunda mendorong kuat tubuh Axel, karena tubuh kekar itu tidak bergeming, Ayunda dengan cepat kilat menginjak kaki Axel dengan sepatu hak tingginya. Pria itu refleks melepaskan Ayunda, dia nyengir karena kesakitan akibat ulah istrinya. “Aku nggak butuh semua itu, tunggu sampai kontrak pernikahan kita berakhir.” Dengan wajah yang terlihat begitu kesakitan. Axel terlihat bingung dan panik. “Kontrak apa? Itu nggak akan berlaku selama aku baik sama kamu, aku nggak akan pernah melepaskan kamu, denger itu Yunda!” Ayunda tersenyum sinis. “Hah! Baik sama aku?” Gadis itu kembali bertepuk tangan. “Kamu memang hebat, Tuan Axel. Terus tadi apa?!” Axel terlihat makin bingung. “Apa maksud kamu? Aku nggak ngerti.” “Oh, ya! Apa harus aku ingatkan?!” Wajah Axel semakin terlihat bingung, makin tidak mengerti dengan kata-kata Ayunda. “Ada apa sebenarnya?” Ayunda menatap Axel dengan tatapan penuh amarah. “Kamu tadi’kan yang menyuruh orang buat nakut-nakutin aku.” Wajah Axel terlihat cemas untuk kali ini. “Apa maksud kamu? Aku nggak segila itu. Untuk apa aku melakukan itu semua? Demi apapun aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu.” Ayunda menghela nafas, melihat ekspresi dari wajah Axel, sepertinya memang pria itu tidak terlibat. “Sudahlah, aku capek mau istirahat.” “Aku akan menyelidiki siapa yang melakukannya. Mulai besok aku suruh bodyguard menjaga kamu. Aku nggak akan pernah melepas orang itu, kamu tenang saja.” “Aku nggak butuh bodyguard!” kesal Ayunda. Axel tidak peduli, dia meraih ponselnya. Menelepon seseorang dengan wajah yang serius dan terlihat cukup menakutkan. “Cek CCTV! Temukan seseorang yang menyerang istriku!” Axel pergi begitu saja dari hadapan Ayunda. Gadis itu terlihat sangat kesal, kenapa juga harus memberitahukan kejadian tadi sore. Akibatnya dia sudah tidak bisa bergerak bebas, mau tidak mau dia harus bekerja di rumah. Baru saja Ayunda hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, gadis itu tersenyum saat melihat siapa si pemanggil itu. “Gimana, Mel?” “Ternyata gundik kamu yang menyuruh orang untuk menyerang kamu.” “Berani sekali dia, aku ingin tahu gimana reaksi suamiku.” “Baiklah kita bahas ini di kantor.” “Aku nggak bisa pergi, Axel menyuruh orang menjaga aku.” “Nggak masalah, aku yang datang ke sana.” “Baiklah, aku mau istirahat.” Ayunda mengakhiri panggilan ponselnya. Gadis itu tersenyum sinis. “Aku ingin tahu gimana reaksi kamu saat tahu wanita peliharaan kamu yang melakukanya.” *** Di ruang kerjanya Axel terlihat sibuk dengan ponselnya, ternyata cepat sekali dia memperoleh informasi dari orang kepercayaannya. “Katakan siapa pelakunya.” “Ternyata orang terdekat Anda, Tuan.” “Maksud kamu siapa?” “Dia sekertaris Anda sendiri, Nona Lina.” Axel langsung menutup panggilan teleponnya, wajahnya terlihat sangat emosi, pria itu menggebrak meja di depannya. “Apa mau kamu sebenarnya ...,” gumam Axel. Pria itu bangkit dari tempat duduknya, meraih kontak mobilnya, dia ingin Lina mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ayunda hanya bisa tersenyum sinis saat diam-diam dia mengawasi Axel dari atas lantai dua. Dia bisa melihat ekspresi wajah Axel yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Pria itu terlihat buru-buru berjalan menutu pintu keluar. “Aku ingin tahu seberapa cintanya kamu sama perempuan itu ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN